Karena Ilmu Itu Harus Murah Kalau Tidak Bisa Gratis

IMG_0194_resize_resize

Sudah satu bulan lebih kami memiliki kesibukan baru. Sesuatu yang sebenarnya sudah saya inginkan sejak waktu yang lama. A long, long ago: mengasuh sebuah kelompok belajar. Hmmm… biasa ya? Ya memang biasa. Kelompok belajar di mana-mana juga ada, dan banyak. Dengan berbagai macam metode, mata pelajaran, fasilitas, tarif, kompetensi pengajar atau modal di belakangnya.

Tapi kenapa kami, saya, istri saya, dan istrinya teman saya, Nida namanya, begitu bersemangat dengan kelompok ini? Tidak lain adalah karena kami tidak punya modal apa-apa! Ruang belajar kita masih numpang di Visitor Center Taman Nasional Baluran. Jam belajar kadang masih berubah-ubah, tergantung dengan sisa energi para fasilitator hari itu, kalau pas hujan otomatis belajar libur. Peralatan yang mampu kami beli baru 4 buah spidol board maker, 2 white board, penghapus, 4 lembar manila putih dan 21 sempoa Jepang. Tapi siswa kami sudah mencapai 50an anak. Dari kelas PAUD sampai SMP!

Sebenarnya kelompok ini sudah lama diinisasi oleh istri saya. Sekitar Agustus 2011 lalu. Tapi karena jadwal kami yang serba tidak menentu, nasib kelas pun juga tidak jelas. Masuk sekali, libur sebulan. Tapi semangat belajar anak-anak di kampung ini sungguh luar biasa! Setiap kali bertemu istri saya, mereka selalu menanyakan kapan belajar lagi. Bahkan mereka mau menunggu istri saya yang sedang tidur siang, demi belajar bersama! Sebagai kampung yang “agak terbelakang” saya benar-benar kagum melihat semangat belajar mereka.

Kami menyebut kampung ini Batangan. Formalnya, dusun Randu Agung, desa Wonorejo, kecamatan Banyuputih, Situbondo.

Kenapa “agak terbelakang”? Karena tidak ada yang lebih penting dari warga kampung ini selain mencari uang! Apapun pekerjaannya, yang penting dapat uang. Kuli bangunan, buruh tani, ngojek, menggembalakan ternak, pergi ke hutan, dan macam-macam lainnya. Pendidikan rendah adalah fakta nyata di kampung ini.

Sampeyan boleh percaya boleh tidak, yang namanya seorang anak memiliki ayah atau ibu tiri itu sangat biasa! Seorang ibu memiliki empat anak dari empat suami yang berbeda itu bukan hal yang mengherankan! Kawin, cerai, selingkuh adalah sandiwara yang harus dilihat banyak anak di kampung ini. Lalu dimana fungsi keluarga sebagai sekolahan paling dasar dan penting dalam sejarah hidup setiap anak?

Kalau saja sekolah tidak dibuat sangat murah atau gratis oleh pemerintah, berani taruhan akan ada banyak anak yang tidak sekolah. Bahkan kalaupun mereka bisa terus sekolah, yang namanya pekerjaan rumah ngarit rumput, mencari kayu bakar di hutan atau memunguti rosokan masih umum dilihat.

Profesi paling “ideal” dan “terpandang” di kampung ini, dan mungkin seluruh desa atau bahkan kecamatan di sekitar Baluran tidak lain adalah TKI dan TKW! Pada suatu ketika istri saya bertanya kepada salah satu murid, Lia namanya. Dia bertanya, “Kalau sudah besar nanti mau jadi apa?” Dan anda tahu jawabannya?

“Saya mau pergi ke Saudi!” jawab dia sangat polos. Tentu, yang dimaksud Saudi adalah menjadi TKW di Arab Saudi! Luar biasa!

Lia adalah seorang gadis manis dari keluarga tidak mampu. Keseharian dia membantu neneknya mencari kayu bakar atau hasil hutan lainnya di hutan Baluran. Atau terkadang juga mengumpulkan gelas atau botol aqua bekas untuk dijual di juragan rosokan. Bisa jadi Lia adalah satu potret anak-anak di kampung ini.

Sejak itu, kami mulai menimbang-nimbang untuk menseriusi rencana ini: anak-anak kampung ini harus dibekali ilmu yang bermanfaat! Dan pertimbangan-pertimbangan itupun kami bulatkan menjadi kelompok belajar yang sekarang sudah memiliki siswa 50an anak, dengan tenaga pengajar 3 orang.

Kelompok belajar yang belum punya nama

Kelompok belajar yang belum punya nama. Si Lia, baris nomor 2 dari depan 3 dari kiri. Si anak polos yang membuat kami memutuskan menseriusi kelompok belajar ini. Eh, bu guru Nida mana nih fotonya?

Dua mata pelajaran balajar yang ada di kelompok ini adalah bahasa Inggris dan sempoa. Pinginnya mau ngajarin yang lain, tapi untuk dua mata pelajaran itu saja sudah sangat kerepotan kita. Kenapa kita pilih dua mata pelajaran itu? Karena sepertinya itulah ilmu paling aplikatif yang bisa kami ajarkan saat ini.

Untuk bahasa Inggris, kami tidak ingin mereka banyak tahu tentang grammar, structure atau apapun yang lainnya. Yang penting bagi kami adalah mereka kaya vocabulary, bisa bicara dan berani bicara bahasa Inggris. Untuk sempoa yang penting bisa melatih kemampuan aritmatika mereka. Sapa tahu di antara mereka nanti jadi ekonom, ahli matematika atau programmer. Amiin.

Kelompok belajar kami sangat bebas. Tidak ada PR, kecuali kewajiban menambah perbendaharaan vocab, tidak ada hukuman, tidak harus mencatat, boleh datang dan pulang kapan saja dan yang penting tidak ditarik biaya. Dan itulah alasan kedua yang membuat kami bersemangat.

Mungkin kami capek mendengar tingginya biaya sekolah. Meskipun sudah banyak sekolah negeri yang sangat murah bahkan gratis namun kenyataannya masih saja ada tarikan biaya ini itu. LKS yang dibisniskan, dan lain-lain. Atau mungkin kami bosan melihat kurikulum pendidikan kita yang super aneh. Usia anak SD yang harusnya adalah usia bermain sudah dijejali dengan kurikulum yang sulitnya minta ampun. Ujian nasional yang seharusnya menjadi tantangan malah menjadi momok yang harus dihindari atau dilewati dengan berbagai macam cara.

Atau yang lebih parah, mungkin kami sudah bingung mencari sosok guru dalam arti yang sebenarnya. Guru sang pahlawan tanpa tanda jasa itu mungkin sudah sangat sedikit di negeri ini. Karena yang ada adalah PNS di bawah dinas atau kementerian pendidikan yang dipaksa menjadi tenaga fungsional yang bernama guru.

Saya rindu sosok guru SD saya dulu, Bu Sinto dan Bu Sun. Bu Sinto adalah guru sewaktu saya SD, beliau adalah seorang katolik yang sangat taat dan diberkahi kesabaran luar biasa. Terakhir saya melihat wajah beliau 23 tahun yang lalu, lalu bertemu lagi tahun kemarin, wajah beliau masih sama! Serius! Lalu saya tanya kenapa beliau awet muda? Jawab Bu Sinto, “Karena di sekolahan, hati saya selalu gembira melihat anak-anak dengan segala polah tingkahnya.”

Sedangkan Bu Sun, tidak jauh berbeda dengan Bu Sinto, beliau mendidik murid-muridnya dengan penuh ketelatenan. Beliau adalah orang pertama yang menemukan bakat luar biasa pada kakak beradik Krisdayanti dan Yuni Shara. Dan membuat banyak penonton di balai kelurahan waktu itu menitikkan air mata karena terhanyut suara Yuni Shara yang masih memakai seragam putih-merah saat pertama kali menyanyi. Perjumpaan terakhir saya dua tahun silam menunjukkan betapa energi beliau masih sama dengan kira-kira 19 tahun yang lalu.

Kok saya malah curhat ya? hehehe…

Suatu ketika, Pak Ezen, bapaknya Damar salah satu murid kami bertanya kenapa kok belajarnya gak ditarik iuran? Saya bingung untuk menjelaskan alasan-alasan di atas. Tapi kemudian saya paksakan dengan sebuah jawaban diplomatis: karena ilmu itu harus murah kalau tidak bisa gratis.πŸ™‚

Semoga kami selalu diberi energi, ikhlas dan jodoh untuk meneruskan kelompok belajar ini. Amiin.

7 thoughts on “Karena Ilmu Itu Harus Murah Kalau Tidak Bisa Gratis

  1. modal awal e piye lek?
    bukan berapa, tapi bagaimana?
    aku ki sedang (dan parahnya masih tetap saja) observasi, byuhhh bahasaku, hahaha
    aku pengen bgt bikin semacam ngene ki untuk anak-anak pantai (istilahku untuk anak2 nelayan) sekitaran dermaga nelayan blakang kantor.
    kendala ku :
    1. cara menyusup, secara aku warga baru di gresik.
    2. pola/ konsep belajar.
    3. cara menjaga semangat.

    jajal, nek iso njawab tepak, berarti ampuh tenan kwe lek !πŸ˜€
    **
    1. cara menyusup: jadi orang yang menyenangkan buat anak2. bukan ente yang menyusup, tapi mereka yg harus terpancing. pake kamera lah, komik lah, atau apapun. buat mereka datang ke rumah ente.
    2. konsep belajar: identifikasi apa yang ente mampu dan apa yang mereka butuhkan. jangan paksa memberi sesuatu yang ente tidak punya/mampu, dan jangan ngeyel ngasih sesuatu padahal mereka tidak butuh. so, konsep belajarnya tanyakan pada anak2 mereka sukanya apa. lebih baik yang terapan atau keluar dari kurikulum sekolah.
    3. menjaga semangat: buat pada hari tertentu yang belajarnya bebas, materinya bisa apa saja, gurunya bisa orang mana saja. jangan lupa selalu jadi guru yang menyenangkan. jangan menghukum dan jangan melarang kecuali memang melanggar norma bersama. menyelipkan permainan dalam teknik belajar juga lumayan efektif untuk membuat anak2 penasaran kira2 pelajaran minggu depan permainannya apa ya?

    selamat mencobaπŸ™‚

  2. senang baca blog nya terutama ga sabar pengen liat buku underwater balurannya. Tapi sekaligus miris banget baca anak2 cita2 pengen kerja ke saudi (mudah2 an jadi staf ahli bukan asisten rumah tangga ya;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s