Insang Manta, Mitos Konyol Pengobatan Tradisional Cina

manta

Membicarakan keindahan dan kekayaan hayati bawah air tidak bisa dilepaskan dari membuka mata bahwa dunia bawah air juga memiliki sisi lain yang rapuh, terintimidasi bahkan nyaris musnah. Baik ekosistemnya maupun komposisi jenis penyusun sampai masing-masing individu. Mari kita ambil satu kasus bagaimana rapuhnya dunia bawah air dari tekanan manusia. Adalah Pari Manta, salah satu spesies paling menakjubkan dari bawah laut, namun sedang menghadapi ancaman sangat serius terhadap status populasinya di dunia.

Pari Manta dan Mobula yang banyak kita ketahui sebagai Pari Manta terdiri dari 2 genera, yaitu Manta (2 spesies) dan Mobula (9 spesies). Kemungkinan akan bertambah satu lagi hasil dari pemisahan spesies yaitu Manta cf. birostris. Semua spesies masuk dalam redlist IUCN. Untuk klasifikasi Near Threatened antara lain Mobula eregoodootenkee, M. japanica, M. munkiana dan M. thurstoni. Klasifikasi Vulnerable antara lain M. birostris, Manta alfredi, M. japanica (khusus di Asia Tenggara), M. rochebrunei dan M. thurstoni (di Asia Tenggara). Klasifikasi Endangered adalah Mobula mobular. Sedangkan klasifikasi Data Deficient adalah M. hypostoma, M. kuhlii dan M. tarapacana.

Bayi Manta di perairan Raja Ampat. Sumber: www.asiasociety.org

Bayi Manta di perairan Raja Ampat. Sumber: http://www.asiasociety.org

Dengan demikian, bisa jadi kelompok ikan yang dinamai devil rays ini akan menyusul menjadi salah satu satwa laut yang paling terancam di muka bumi, setelah –seperti- Penyu Sisik, Hiu Kepala Palu, Singa Laut Steller, Paus Biru, Paus Bungkuk atau Fraser’s Dolphin. Penyebab utama keterancaman pari pemakan plankton itu tidak lain adalah perburuan besar-besaran demi mendapatkan insang yang berfungsi sebagai penyaring makanan ini.

Tidak dapat dipastikan berapa populasi global anggota famili Mobulidae ini. Tapi perkiraan populasi terbesar terdapat di Republik Maldives yaitu M. alferdi sebanyak 5-6 ribu ekor, sedangkan kelompok terbesar pernah ditemukan di Mozambik pada tahun 2009 sebanyak 600 ekor. Lambatnya laju reproduksi kelompok ini menjadi penyebab sulitnya mengestimasi populasi. Untuk sampai umur matang, seekor manta memerlukan waktu 8-10 tahun dari usia maksimal sekitar 40 tahun. Di setiap kelahiran, mereka hanya menghasilkan 1 anakan dalam kurun waktu per 2-5 tahun!

Lambatnya laju reproduksi itu lalu diperparah dengan penangkapan besar-besaran di seluruh dunia demi mendapatkan insangnya yang konon punya kasiat menyembuhkan kanker dalam ilmu pengobatan tradisional China. Satu ekor Manta, seperti M. Birostris, berat kering insangnya bisa mencapai 7 kg yang dijual seharga USD. 500 per kg di pasaran China. Itu sebabnya, peredaran terbesar insang manta ini berada di Guangzhou, China, yang menguasai pasar global sebesar 99%, disusul berurutan Singapura, Hong Kong, Macau dan Taiwan. Menurut hasil investigasi yang dilakukan oleh Manta Ray of Hope, setidaknya 69.696 kg insang manta diperjualbelikan di pasar-pasar Guangzhou dalam setahun! Atau kalau ditotal, ada sekitar 94.000 ekor manta (dari semua spesies) yang ditangkap dan diekstrak insangnya di seluruh dunia.

Tumpukan bangkai Manta yang siap dijual di sebuah pasar ikan di Sri Lanka. Sumber: www.mantatrust.org

Tumpukan bangkai Manta yang siap dijual di sebuah pasar ikan di Sri Lanka. Sumber: http://www.mantatrust.org

Seorang pembeli di Tanjung Luar, Lombok, mengeluarkan uang sebesar Rp. 5 juta untuk satu ekor manta utuh! Lalu dia akan mendapatkan sekitar Rp. 5,5 juta dari hasil penjualan insang kering Rp. 5 juta dan Rp. 500 ribu dari sisanya (kulit dan tulang rawan)! Betapa melegenda insang makhluk ini.

Ya, meskipun pasaran insang manta banyak berada di negara-negara yang didominasi oleh suku tionghoa namun penangkapan terbesar manta berasal dari negara-negara non-chinese. Negara terbesar penyuplai bagian tubuh manta justru berasal dari India, Srilanka, Peru dan Indonesia! Sialnya lagi, dari keempat negara itu tidak satupun yang mempunyai regulasi yang mengatur tentang penangkapan manta.

Kebanyakan laporan tentang keberadaan kelompok (agregation) manta justru diperoleh dari operator wisata bawah laut yang menjadikan manta sebagai salah satu atraksi wisata bagi para wisatawan selam. Di Indonesia sendiri, laporan-laporan keberadaan manta baru diperoleh dari perairan Komodo, Raja Ampat dan Nusa Penida. Padahal lokasi penangkapan manta bisa jadi lebih dari itu, termasuk Tanjung Luar, Lombok.

Benda berharga yang bernama Peng Yu Sai sebutan masyarakat China itu dikenal mampu meningkatkan kekebalan tubuh melalui pembersihan darah dari racun dan meningkatkan sirkulasinya. Beberapa menyebutkan bisa juga menyembuhkan penyakit kulit dan alat pernafasan, meningkatkan kejantanan dan kesuburan suami-istri.

Yang menarik, menyedihkan atau mungkin secuil harapan bagi spesies ini adalah ternyata tidak ada justifikasi resmi, terutama ilmiah yang membenarkan adanya kandungan obat dalam insang manta. Bahkan dalam daftar jenis bahan obat dalam ilmu pengobatan tradisional China atau TCM (Traditional Chinese Medicine) tidak ditemukan nama insang manta sebagai salah satu bahan obat dari 6400 jenis bahan berdasarkan referensi resmi TCM. Terakhir, dan harus diketahui banyak orang, Peng Yu Sai ternyata tidak merujuk kepada “insang manta” tapi lebih tepat “insang ikan”.

Anggota tubuh Manta yang paling melegenda: insang. Sumber: www.sharksavers.org

Anggota tubuh Manta yang paling melegenda: insang. Sumber: http://www.sharksavers.org

Jika tidak ada kandungan obat dalam tubuh manta, kenapa satwa ini terus diburu? Sepertinya perdagangan insang manta ini seperti tidak kehilangan akal untuk menyebarkan isu menyesatkan demi keuntungan pribadi. Saya jadi teringat fenomena meledaknya jual beli tanaman hias Anthurium di Jawa beberapa tahun lalu. Bagus juga nggak, tapi semua orang pada ingin membeli!

Harapan

Selain kampanye dan penyadartahuan yang terus dilakukan di seluruh dunia oleh para aktivis pecinta satwa, terutama manta, demi menyelamatkan populasi manta, banyak orang harus disadarkan bahwa nilai ekonomi terbesar dari spesies ini bukan dari hasil jual beli bagian tubuhnya! Ternyata perputaran uang dari bisnis 1 bangkai manta hanya 0,05% jika dibandingkan kalau dia masih hidup!

Ya, ekowisata adalah salah satu alasan paling masuk akal saat ini kenapa spesies ini harus dipertahankan. Jika umur manta adalah 40 tahun, maka dalam seumur hidupnya dia akan menyumbangkan USD 1 juta. Sangat signifikan jika dibandingkan dengan harga bangkainya yang hanya USD 500!

Indonesia, sebagai salah satu negara terbesar penangkapan manta, menerima pemasukan USD 18 Juta per tahun dari bisnis ekowisata manta. Bandingkan dengan USD 475 ribu per tahun jika manta itu ditangkap! Wisata selam di Yap mendapatkan pemasukan USD 4 juta per tahun, Maldives USD 8,1 juta per 2006-2008. Jika ditotal, dari tujuh lokasi penyelaman yang menjadikan manta sebagai salah satu atraksi wisata diperoleh pemasukan sebesar USD 27 juta per tahun! Tujuh lokasi itu antara lain Maldives, Kona (Hawaii), Yap, Palau, Socorro (Meksiko), Nusa Penida dan Ningaloo (Australia).

Kira-kira ada nggak ekowisata manta di Cina?😀

***

Judul asli: Nasibmu Manta, dipublikasikan di majalah Biodiversitas Indonesia vol. 02/no.03/2012 oleh penulis yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s