Nothing is Irrational

DNA molecules

Coretan ini sebenanya sudah kelar sebulan yang lalu. Tapi, mau saya pasang di blog rasanya kok males terus. Adalah pada suatu hari, dalam dua hari saya dihipnotis oleh 2 film fiksi ilmiah yang luar biasa asu-nya! Pertama Predestination. Ide utamanya sangat sederhana, yaitu untuk menjawab pertanyaan bedek-bedekan semasa kita kecil dulu: duluan mana ayam atau telor? Sampeyan gak akan menyangka kalau ternyata si ayam ini lahir dari telor yang keluar dari vaginanya sendiri setelah dibuahi oleh dirinya sendiri! Asu to? Benar-benar film yang tidak bisa ditebak alur dan akhir ceritanya.

Film kedua, yang membuat saya terus berpikir sampai ketiduran adalah Lucy. Saya yakin sumber inspirasi si penulis naskahnya diambil dari kebudayaan timur yang kaya nuansa mistik-religius yang bahkan masih terjadi sampai hari ini!

Mendengarkan percakapan semut, berkomunikasi dengan makhluk astral, melihat masa depan seseorang sejelas menonton tv, berada di dua tempat secara bersamaan, memasukkan sel kanker ke dalam telur tanpa memecah cangkangnya, nguntal bara api, dan masih buanyak lagi.

Dalam literatur teologi, hal-hal semacam itu disebut sihir, karomah, ma’rifat sampai mukjizat. Sesuatu yang  tidak mudah dijelaskan cukup degan verbal atau tekstual. Itu sebabnya dulu 9 wali harus mengeksekusi Syeh Siti Jenar karena pencapaian level Manunggaling Kawulo Gusti belum siap diterima oleh masyarakat Jawa yang baru memulai garis syari’at. Bahkan sampai sekarang, setelah masjid dan madrasah bertebaran dimana-mana, konsep manunggaling kawulo gusti masih dianggap tahayul. Apalagi ideologi modernitas semakin kuat memenuhi nadi kehidupan.

Tapi, film ini, Lucy, sangat cerdas menjelaskan dengan pendekatan ilmiah bahwa semua klenik dan tahayul itu sangat mungkin terjadi kalau manusia bisa meningkatkan potensi fungsi otak kecilnya (cerebral) lebih dari 10%! Meskipun harus diakui visualisasi Lucy untuk menunjukkan kebolehannya terlalu kartun.

Manusia umumnya baru memanfaatkan fungsi otaknya kurang dari jumlah itu. Contoh yang paling gamblang dan terbukti secara ilmiah adalah lumba-lumba. Mamalia laut paling cerdas ini bahkan sampai 20% memanfaatkan otaknya. Dari situ dia memiliki kecerdasan navigasi yang tiada duanya. Kira-kira melihat samudra sudah seperti melihat Google Map di smartphone yang bisa di-zoom in-out.

Nah, dalam film ini, si Lucy secara kecelakaan memiliki akses untuk memanfaatkan otaknya lebih dari 10%. Seketika dia mampu melihat proses metabolisme pohon sama seperti kita melihat semut yang berbaris di kulit kayunya. Dia bisa mengingat rasa ASI semasa bayi, melemparkan benda-benda tanpa menyentuhnya, melihat akhir dunia, bertemu dengan manusia purba pertama, menyaksikan terjadinya Big Bang dan berbagai hal yang tak terbayangkan oleh manusia normal. Dan di akhir cerita, setelah Lucy berhasil memompa sampai 100% fungsi otaknya, dia mengucapkan hal yang sama persis yang diucapkan Syeh Siti Jenar di salah satu percakapannya dengan Sunan Kalijaga ratusan tahun yang lalu: I’m everywhere.

Yang membuat saya terus berpikir sampe ketiduran adalah “I’m everywhere” itu lo! Meskipun agak takut digetak sama para malaikat, saya tetap harus memberanikan diri untuk menarik kesimpulan “Jangan-jangan yang disebut mukjizat dalam sejarah kenabian tidak lain adalah Tuhan membuka kunci bagi para nabi untuk meningkatkan fungsi otak kecilnya lebih dari 10%?” Setidaknya dengan kemampuan itu mereka bisa berkomunikasi langsung dengan malaikat untuk menerima wahyu dari Allah.

Isro’ Mi’roj, dalam sejarah kenabian itu serasa terasa batul nuansa ilmiahnya. Saya yakin itu bukan semata-mata perjalanan psikologis, tapi benar-benar pengalaman fisik-biologis menembus lapisan 7 langit, keluar dari konstelasi ruang-waktu alam semesta. Itu sebabnya, sebelum Kanjeng Nabi berangkat, dalam literatur disebutkan bahwa beliau dibersihkan dulu hatinya. Lha Rasululloh itu manusia yang paling bersih jiwanya e? Sesempurna-sempurnanya manusia! Masak masih harus dibersihkan? Jangan-jangan itu hanya kiasan!

Pikiran saya langsung tertuju sama sosok Khidir. Khidir adalah salah satu nabi yang disebutkan dalam Al-qur’an tapi tidak termasuk dalam 25 Nabi-rasul yang wajib diimnani oleh pemeluk Islam. Bagi para penempuh jalan tarekat, guru nabi Musa ini diyakini masih hidup sampai sekarang. Bedanya dengan Isa, Khidir tidak diangkat ke kahyangan. Dia bertebaran di muka bumi. Tidak satupun riwayat yang menyebutkan Khidir meninggal dunia. Nabi yang diceritakan sebagai manusia yang berjakan di atas cakrawala (tepi dunia) ini adalah simbol ilmu dan pengetahuan sufistik yang gak ada buku panduannya.

Mungkinkah Khidir menjelma menjadi materi non-fisik-biologis, mungkin semacam gelombang atau partikel cahaya, karena dia sudah mencapai 100%? Sama seperti nasib si Lucy? Saya ndak berani mensejajarkan Khidir dengan Lucy. Tapi, visualisasi ilmiah Lucy benar-benar menjelaskan bahwa tidak ada yang tahayul di muka bumi ini. Meskipun pada akhirnya kita harus menerima fakta bahwa belum ada bukti ilmiah yang bisa menjelaskan pemenfaatakan fungsi otak kecil lebih dari 20%!

Sedangkan di sisi lain, ketika ilmu modern mandeg di angka 20, nenek moyang kita yang dianggap klenik dan tahayul itu, bukan hanya membuktikan bahkan mereka sudah sangat akrab dan hidup kesehariannya.

Ketika Belanda datang ke Indonesia, dengan membawa kerangka modernitasnya, bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa buta huruf. Konotasi buta huruf pasti berarti bodoh, bodoh karena tidak punya ilmu! Padahal bukti sejarah menyebutkan Dinasti Syailendara sudah membuat kitab hukum negara tertulis! Candi Borobudur atau Prambanan sangat mustahil dibuat tanpa perhitungan matematis dan ilmu arsitektur. Nenek moyang jauh sangat luar biasa, sodara-sodara.

Tapi kita dengan gelap mata mengiyakan ucapan Belanda akan kebuta-hurufan kita. Mentah-mentah kita telan modernitas yang dibawa Belanda. Dan akhirnya, apa yang hita hasilnya sejak kita keluar dari era “buta huruf” versi penjajah? NOTHING! Nama-nama ikonik macam Gadjah Mada, Majapahit, Sriwijaya, Ronggowarsito, Diponegoro, Bandung Bondowoso, Empu Sendok sudah tidak ada penerusnya sejak kita menjadi bangsa “modern”! Modernitas akhirnya hanya berdefinisi mengkonsumsi habis produk asing sambil bersorak gembira mengagung-agungkannya.

Ilmu pengetahuan modern harus kita pelajari dan kuasai, tapi kita tidak boleh lupa akar bangsa kita yang dipelihara oleh nenek moyang. Mistisisme: sihir, karomah, mu’jizat adalah ilmu yang sangat rasional tapi tidak terjangkau oleh logika modernitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s