Ambon Part 1: Feels Like Home

DSCN6031-smaller

Cerita pembuka bagian pertama blusukan saya ke Ambon ini agaknya terlalu naif kalo langsung saya penuhi dengan foto keindahan alam Maluku, atau burung-burung anehnya. Atau cerita sok adventurous di pulau tak berpenghuni ala Tom Hanks di film Cast Away. Karena ada bagian paling penting dalam perjalanan saya ke Ambon yang kali ketiga ini.

Tidak seperti 2 kunjungan sebelumnya yang hanya mampir, kunjungan kali ini saya akan menghabiskan 5 hari saya di sini, dan ditemani salah satu partner blusukan terbaik yang pernah saya kenal: Nurdin!

Lelaki flamboyan berwajah ndeso ini bukan kepalang senangnya begitu saya tawari menemani saya ke Ambon. Dengan senyuman lebar mirip-mirip Jokowi, satu kalimat yang selalu saya dengar darinya “Siap Kang!” adalah kode bahwa dia siap dengan segala resiko untuk sampai ke Ambon. Resiko pertama dia rela beli kamera baru tapi bekas. Nikon D90 + Sigma 150-500mm adalah yang akan menjadi senjata andalannya menjelajahi pulau-pulau kecil yang akan kita kunjungi nanti. Resiko kedua, dia rela membayar taksi dari terminal Bungurasih ke Juanda yang hanya butuh 15 menit itu sebanyak Rp. 250.000! Tapi sepertinya bukan karena rela, tapi murni diapusi habis-habisan sama sopir taksi suroboyoan. Modaro!

Gak popo, sing penting anjok Ambon aku wes seneng, Kang” begitulah pembelaan dia.

Sesuatu yang tidak pernah berubah setiap kali saya berkunjung ke Ambon adalah sambutan hangat kawan-kawan seperjuangan yang juga staff BKSDA Maluku. Adalah Wawan, boleh dibilang kepala suku anak-anak perantauan di yang tinggal di mess belakang kantor KSDA yang menjadi promotor kunjungan saya kali ini. Lalu mas Dwi, bapak PPK baik hati yang sangat dermawan. Hampir tiap malam kita pesta, kalo gak karaokean, beli makan-minum sebanyak-banyaknya untuk dimakan bersama. Birawa, manusia antik yang selalu membuat suasana menjadi hidup. Mas Wiwin yang ramah. Dan yang tidak bisa saya lupakan, Arifin, orang Manusela yang selalu menyisihkan waktunya tiap kali saya ngeluyur ke sana.

Ada kalanya menjadi kelompok minoritas di sebuah masyarakat adalah hal yang sangat menyesakkan dada: terintimidasi, di-su’udzon-i, atau bahkan didzalimi. Apalagi Ambon, kota yang pernah membara akibat kerusuhan berdarah paling mengerikan yang pernah terjadi. Meskipun aroma konflik sudah nyaris hilang, namun nuansa SARA masih terasa. Ambon-non-ambon, muslim-non-muslim, dan lain sebagainya. Namun, di dalam internal kelompok minoritas inilah justru rasa persaudaraan dan kekeluargaan seperti mboyong rumah saya bawa sekalian ke sana.

Nurdin sampe nggumun, begitu keluar dari bandara, jauh-jauh ke Ambon ngomongnya tetap saja bahasa Jawa. Sepeser uangpun tidak keluar dari kantongnya karena semua keperluan dia sampai rokok pun dibelikan, bahkan sampai turah-turah nyangu sampe rumah. Sampai di mess, orangnya juga Jawa semua, kalaupun ada yang bukan dari Jawa, ngomongnya tetap pake bahasa Jawa. Bener-bener deh, orang Jawa itu invasif! Kayak Akasia di Baluran! Hihihihihi…

Maaf kalau malah saya yang jadi chauvinisme.

Sebenarnya saya tidak mau bercerita tentang kesukuan. Namun saya juga tidak bisa memungkiri bahwa kesamaan nasib karena gen suku inilah yang membuat saya begitu nyaman berkunjung ke Ambon. Pun saya harus akui juga, bahwa watak asli orang Maluku sangat ramah. Seperti cerita saya saat ke Seram beberapa bulan yang lalu. Dari semua tempat yang pernah saya kunjungi, di sinilah saya benar-benar krasan layaknya sedang berada di rumah. Ada waktunya nanti, insyaAllah, saya akan melunasi budi baik para perantau bujang ini😀.

DSCN6226-edd

Tuan rumah terbaik yang pernah saya kenal:
Arifin (baju loreng), Wawan (kaos kuning), Seto (kaos oranye), Birowo (di atas jendela perahu), Mas Win (kaos biru) dan mas Dwi (muntug ginuk-ginuk).
**Perjalan menuju pulau Kasa**

Jadi, sodara-sodara sekalian. Jika biaya nglencer ini saya konversi ke rupiah, setidaknya saya harus menjual si Wiwin (bahkan masih kurang) supaya bisa mblusuki keindahan Maluku. Namun untungnya, Rasulullah memberi rumus praktis dan dijamin tokcer buat fotografer kere macam saya ini kalau mau ngluyur ke tempat-tempat yang tidak semua orang bisa mengunjunginya. Rumus itu adalah: Allah akan mempermudah rejeki seseorang yang gemar bersilaturrahmi.

Coming soon:

Ambon Part 2: Lukisan Tuhan Tiada Tara

**Best soundtrack Surabaya-Ambon: Canon Flamenco

3 thoughts on “Ambon Part 1: Feels Like Home

  1. Setil nek jare Praja,. hehe,. dalam rangka buku manuk Wallacea-mu tah kangbro?
    **salah sijine iku gan, tapi sing utama: ngejak nurdin mlaku2 ben ngerti Endonesah..😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s