Politik Bakul

sumber: www.foto.news.viva.co.id

Pekerjaan apa yang oleh Kanjeng Nabi dijamin kehalalannya? Berdagang! Karena berdagang ada akad yang jelas dan disetujui oleh kedua pihak. Perkara barang dagangannya hasil dari nimbun, nylundup, ngentit atau nipu, itu sudah di luar wilayah dagang. Jadi kalau sampeyan bakulan mangga hasil dari nyolong punya tetangga, perbakulan sampeyan halal, tapi sampeyan kena penalti dosa karena nyolong tadi. Bakulnya barokah, nyolongnya yang penjara.

Nah, dalam metode dagang, iklan adalah bagian yang tidak pernah terpisahkan. Minimal iklan contong pake TOA lalu teriak-teriak di depan lapak, lebih canggih mempengaruhi orang-orang sambil jagongan kopi, tingkat di atasnya pasang spanduk, sampai pada tingkat paling nggilani mempengaruhi  pengambil kebijakan untuk menambah kuota impor sapi, garam, kedelai atau sempak. Lalu biaya beli TOA, kopi, spanduk dan beberapa mobil mewah itu akan diformulasikan dalam rumus dagang sehingga harga yang sampeyan pasang tidak merugikan bakul pun pembeli tidak merasa kemahalan. Simple.

Siapapun yang beriklan, pasti keluar duit. Sehingga setiap pedagang harus pinter-pinternya pasang harga supaya bakulannya tidak merugi. Lalu gimana kalau yang pasang iklan ini adalah calon gubernur, calon presiden, DPR atau calon Kades? Gimana mereka mau menghitung untung rugi dari strategi yang seharusnya hanya berlaku dalam logika jual-beli?

Sekalipun pada akhirnya kalau kita harus mengkonversi logika politik mereka menjadi logika dagang maka sudah pasti hitung-hitungannya adalah praktik mengeruk modal sebesar-besarnya supaya tidak rugi lapak politiknya. Sialnya, modal yang dikeruk adalah sumber daya yang seharusnya dibagi rata dan adil untuk ratusan juta rakyat Indonesia! Sialnya lagi, dan yang lebih parah, terminologi “rugi” dalam ekonomi liberal itukan bukan penjualan lebih kecil dari modal? Tapi rugi adalah ketika keuntungan sampeyan hanya sedikit! Itu sebabnya korupsi tidak akan pernah ada habisnya. Karena politik bakul itu tidak bisa menerima fakta tombok.

Sebentar lagi akan ada banyak pilihan kepala daerah. Lalu dipuncaki oleh Pemilu untuk memilih wakil rakyat dan presiden. Saya tidak sedang mengajak sampeyan ngGolput. Pun kalau akhirnya harus golput setidaknya saya menawarkan alasan sederhana pekok-pekokan. Pilihlah calon yang kere hore yang bahkan untuk beli spanduk saja tidak kuat. Supaya akad politik kita jelas, halal dan insyaAllah barokah.

[masih edisi nulis ra sah mikir]

4 thoughts on “Politik Bakul

  1. Golput pun adlh sbuah pilihan. Pilihan utk tdk memilih.hehehee…
    Pertanyaannya…yg tdk memilih aja namanya golput = golongan putih…terus apa yg memilih namanya golhit dong…= golongan hitam. Hahahahhaaa….tambah parah brarti lek…Hidup Rakyat!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s