Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (III): Organisasi: Leadership Adalah Kunci, Kebersamaan Anggota Adalah Pemegang Saham Terbesar

supayakami

Merampok ayamnya Siswo lalu dibakar rame-rame di Labuhan Merak. Oh guys, I'll always miss this moment.

Merampok ayamnya Siswo lalu dibakar rame-rame di Labuhan Merak. Oh guys, I’ll always miss this moment.

Dalam bab ini saya minta maaf kepada bapak-ibu sekalian jika saya terlalu emosional membahas betapa pentingnya peran leadership dalam tubuh organisasi. Emosional yang pertama adalah apresiasi setinggi-tingginya untuk koordinator kami, Pak Yusuf Sabarno. Sebagai seorang pemimpin ia sudah komplit! Cakap berkomunikasi, rendah hati, lembut, visioner, dan memiliki akhlak yang –menurut penilaian saya- sudah sampai pada level ahlaqul karimah. Sedangkan para pemandu sorak lainnya, termasuk saya, juga berakhlak tapi ahlaqul usilah dan ahlaqul guyoniyah! Dan yang paling usil itu siapa lagi kalau bukan Agus Yusuf, Nanang Dwi dan kalau katanya kawan-kawan berikutnya adalah saya! Tentu saya menyangkal tuduhan kejam itu.

Satu hal yang paling saya ingat dengan baik dalam ingatan, ketika memberi perintah kepada anggotanya, ia tidak pernah berlaku layaknya sedang memerintah. “Maaf Pak Swiss, saya bisa mengganggu nggak? Saya boleh minta tolong dibantu menyelesaikan laporan bulanan?” Ya Allah, beruntunglah Bu Yusuf yang telah mendapatkan hatinya.

Ia hampir tidak pernah menyuruh anggotanya ke lapangan kecuali turut serta kecuali jika memang ada keperluan di kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Ia tidak pernah mengambil keputusan kecuali didiskusikan dulu dengan anggotanya. Tiap rapat bulanan PEH, ia selalu mempersilahkan siapa saja kawan-kawan PEH yang bersedia memimpin rapat. Atau hal yang sangat sepele, di setiap sms koordinasi yang dikirim ke semua anggotanya hampir selalu dibuka dengan kalimat: “Assalamu’alaikum. Teman-teman PEH yang baik…” atau “Teman-teman PEH yang cakep-cakep…” atau “Teman-teman PEH yang selalu bersemangat…” dan masih banyak lagi.
Di saat kawan-kawan PEH, apalagi saya, kalau bicara selalu dibumbuhi kosakata pisuhan terminal, tidak pernah sekalipun saya dengar kata-kata kasar terucap dari mulutnya. Atau di saat kawan-kawan PEH, siapa saja, hobi mengusili orang lain dengan segala macam teknik dan metode, saya tidak pernah melihat beliau melakukan hal yang sama. Yang bisa beliau lakukan hanya beristighfar melihat akhlak umatnya yang usilah-nya keterlaluan itu.

Pernah suatu ketika beliau sedang ulang tahun. Dan kebetulan waktu itu berbarengan dengan kegiatan transplantasi karang. Kami mulai merancang rencana jahat untuk “menghabisi”-nya. Rencananya adalah, karena ini kegiatan di laut, setelah naik dari laut biarkan Pak Yusuf mandi dulu. Usai berganti baju kering, baru kita hajar. Dan rencana itupun berhasil dilaksanakan dengan baik tanpa ada perlawanan yang berarti. Tepung terigu, telor ayam, kecap, kopi, rendaman ikan semuanya ditumpahkan di atas kepala nya. Dan anda tahu apa responnya? Ia hanya berkata, “Sudah? Kalau sudah bolehkah saya mandi lagi?” yang diucapkan bersama dengan senyuman yang sangat ramah dan tanpa terlihat sedikitpun rasa marah. Selesai mandi, jabat tangan dan pelukan menghujaninya. Ia begitu sabar, bahkan ketika marah, kami yang dimarahi ini tidak pernah sekalipun merasa sakit hati atau setidaknya tersinggung.

Akan sangat panjang kalau saya harus menceritakan siapa koordinator kami dan bagaimana ia memposisikan diri di tengah-tengah keluarga PEH Baluran. Satu kata yang semoga bisa menampung segala persepsi dan deskripsi gaya kepemimpinannya adalah TAULADAN! Ya, ia adalah koordinator yang berhasil menjadi tauladan bagi kami semua.

Lalu dimana peran dan tanggung jawab personil PEH lainnya sebagai pemegang saham terbesar organisasi ini? Pak Yusuf mengatakan, “Ternyata mengawali sesuatu yang belum ada menjadi ada adalah suatu hal yang penuh tantangan, baik berasal dari dalam maupun luar organisasi.” Dari dalam organisasi, tantangan internal yang pertama kali harus diselesaikan adalah belum terbiasanya kawan-kawan dengan pola pengorganisasian yang baru sehingga menyebabkan tugas dan tanggung jawab yang diemban belum berjalan semestinya. Tentu, ini membutuhkan proses pembiasaan yang terus menerus.

Metode teknis proses pembiasaan yang paling mujarab itu adalah bersama-sama ke lapangan di setiap jadwal kegiatan yang sudah direncanakan. Saya diterima bekerja di Taman Nasional Baluran tahun 2008. Tidak lama setelah itu, saya langsung diajak jalan ke lapangan. Kebetulan waktu itu adalah kegiatan survey mangrove di SPTNW II Karangtekok. Hampir seharian –selama dua hari -kami berjalan menyisir hutan mangrove. Diserbu nyamuk dan berendam di air laut setinggi dada adalah catatan pertama saya sebagai PEH Baluran. Dan perlu diketahui, ini bukan kegiatan yang didanai DIPA. Tidak ada lunsum, atau uang transport. Hanya jatah makan siang yang itupun diperoleh dari uang hasil iuran kawan-kawan yang dikelola dalam bentuk kas PEH.

Sambil mengulur pita meter, mencatat data, sesekali kami ngobrol-ngobrol ringan atau saling ngledekin satu dengan yang lainnya. Saat istirahat makan siang, kami selingi dengan bersenda gurau sambil saling mengingatkan siapa yang belum buat laporan, menyetorkan data kegiatan sebelumnya atau sharing informasi terbaru. Kegiatan lapangan yang dikerjakan bersama-sama menjadi media komunikasi yang paling penting. Selain itu juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekompakan sehingga dengan sendirinya menjadi self-reminder terhadap jatah tugas dan tanggung jawab.

Metode pembiasaan lainnya, yang sama pentingnya, adalah rapat rutin bulanan. Sejak tahun 2005 PEH Baluran sudah memiliki program kegiatan tahunan yang pada tiap bulan berjalan diadakan diskusi tentang hal-hal teknis pelaksanaannya. Penyusunan program kerja tahunan itu dilakukan setiap akhir tahun periode sebelumnya atau awal tahun berjalan. Perlu saya garis bawahi di sini bahwa semua peserta forum rapat punya hak yang sama untuk mengusulkan kegiatan. Juga kewajiban dan tanggung jawab yang sama pula untuk menjalankannya. Pun seorang koordinator tidak punya wewenang untuk membatalkan usulan anggota atau memaksakan usulannya sendiri. Dengan adanya program kerja yang berasal dari masing-masing personil akan menjadikan kami tidak punya alasan melarikan diri dari program yang sudah disusun dan sepakati bersama.

Proses learning by doing yang dulu dijalani kawan-kawan ini lambat laun menunjukkan dampak positif. Masing-masing personil PEH dengan sendirinya menemukan ketertarikan pada beberapa bidang -meskipun ada juga yang sudah membawa modal pengetahuan dan skill ketika kami masuk ke Baluran. Kalau bicara tentang Banteng maka Pak Yusuf-lah orang pertama yang harus ditodong. Memang kalau namanya bos ya urusannya harus dengan sesama Bos (javanicus). Bu Arif Pratiwi (Tiwi) membidangi kelautan beserta semua yang ada di dalamnya sesuai dengan disiplin ilmu nya semasa kuliah. Lain halnya dengan Pak Widyantoro sang pawang ular. Pak Nanang dan Pak Yusuf Hernawan (Ucup) para pendekar flora. Pak Toha dan Pak Sutadi (Tedi) sebagai pengamat burung yang piawai. Ada lagi Mochammad Iqbal memilih dunia digital, fotografi dan membidangi sosial masyarakat. Bahkan Pak Siswo yang sempat desersi menjadi informan utama tentang segala sesuatu yang terjadi di SPTNW II Karangtekok. Jeng Nia yang pawai dalam managemen base camp bersama Bu Arif Pratiwi menjadi tukang tagih laporan. Dan Agus Yusuf yang sejak punya lisensi menyelam menahbiskan dirinya sebagai “Gurita Membabi Buta”. Eureka!

Tahun berganti tahun, rejeki bertambah nasib berubah. Pak Yusuf dikaruniai rejeki beasiswa S2 dari PHKA. Pembentukan divisi-divisi baru tahun 2010 oleh Pak Indra Arinal selaku kepala balai membuat stok tenaga PEH harus didistribusikan lebih merata. Bu Tiwi, dan Bu Nia menempati pos baru yaitu Divisi Pelayanan Pengunjung. Pak Iqbal yang sebelumnya nyambi sebagai PPK (Petugas Penarik Karcis) mau tidak mau harus ngepos di Visitor Center sebagai kantor divisi ini. Pak Ucup dinaikkan “derajatnya” menjadi Kepala Resort Labuhan Merak. Pak Siswo menjadi “wakil” Kepala Seksi SPTNW II Karangtekok. Lainnya tetap bertahan di posnya masing-masing. PEH sendiri secara tidak langsung diidentikkan sebagai Divisi Pengelolaan Sumber Daya Alam Hayati.

Kekosongan kursi koordinator dan perubahan peta personil harus disikapi segera dengan restrukturisasi. Perubahannya sederhana: mencari pengganti Pak Yusuf atau lebih tepatnya mencari korban yang tepat sebagai koordinator.

Organisasi PEH yang sudah terbentuk pada hakikatnya lahir secara organis dari keinginan kawan-kawan PEH. Dari kejumudan hari-hari mereka oleh sistem manajerial yang status quo, dan optimisme serta harapan besar menemukan jati diri sebagai seorang Pengendali Ekosistem Hutan. Tidak ada perintah, SPT ataupun SK pimpinan tertinggi waktu itu untuk membentuk organisasi PEH Baluran. Saya sendiri terus memprovokasi kawan-kawan untuk segera mengadakan pemilu agar kursi kepemimpinan jangan kosong terlalu lama. Dan yang lebih penting lagi, tampuk koordinator harus orang-orang PEH yang menentukan. Jangan sampai koordinator yang baru lahir oleh keputusan dari “langit” yang pada akhirnya mencederai sejarah bagaimana proses organisasi ini dulu dibentuk. Maka duduklah kami ber-sebelas pada Oktober 2010 untuk memilih koordinator baru secara demokratis.

Singkat kata, koordinator baru itupun terpilih. Adalah Nanang Dwi Wahono yang menjadi “korban” untuk memegang kursi Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Baluran. Terpilihnya Pak Nanang sebagai koordinator yang baru adalah simbol egalitarian dalam tubuh PEH Baluran, bahwa kami punya hak yang sama dalam berkarir, berekspresi, beraktualisasi dan memilih istri atau suami.

Pak Nanang adalah PEH Pelaksana golongan IId. Adakah koordinator PEH di jagad Kementrian Kehutanan yang bergolongan II? Bukannya kami kekurangan stok golongan yang lebih tinggi untuk dikorbankan menjadi koordinator seperti layaknya koordinator-koordinator PEH di banyak UPT, tapi itulah PEH Baluran dengan segala kesetaraan dan mainset out of the box. Bahkan nama besar UGM yang saya bawa tidak berarti apa-apa di sini. Karena kualifikasi kami untuk koordinator bukan dari pangkat, golongan apalagi nama besar kampusnya, tetapi lebih pada kompetensi, komitmen dan kemampuan kerja di lapangan. Dan yang lebih penting lagi diridhoi oleh kawan-kawan seperjuangannya. Saya pribadi sangat senang dan bangga menjadi bagian dari proses yang sangat demokratis ini.

Sedikit tentang koordinator baru ini. Pak Nanang adalah salah satu contoh PEH yang murni menjalani proses belajar di lapangan. Lulusan SKMA yang masuk ke Taman Nasional Baluran tahun 2000 ini menjalani proses pembelajaran di sela-sela waktu piket jaga di Resort Bama. Mendalami seluk-beluk flora adalah pilihannya. Tidak jarang buku-buku tebal dibawanya berangkat piket ke resort yang berjarak 15 km dari pintu gerbang kawasan itu.

Berikutnya, perjalanan PEH Baluran terlihat lebih berat yang tentunya menuntut kerja keras koordinator baru kami. Bukan hanya karena semakin tersebarnya personil PEH di beberapa pos baru karena tenaga mereka sangat dibutuhkan. Bahkan kawan-kawan yang masih berada di pos yang sama juga harus siap kerja ekstra karena kompetensi mereka sangat diperlukan. Pak Siswo, bisa dibilang memegang peran penting di wilayah kerjanya, SPTNW II Karangtekok, sebagai “tangan kanan” kepala seksinya, Pak Andik Sumarsono. Apalagi sejak Pak Andik mendapat tugas belajar di Universitas Sebelas Maret Surakarta, Siswo adalah care taker-nya Karangtekok karena PLT dipegang KSBTU yang notabene harus konsentrasi di kantor yang jaraknya berjauhan dengan kantor seksi.

Mang Ucup (Pak Yusuf Hernawan) yang sejak menjabat kepala Resort Labuhan Merak menerapkan kebijakan baru di wilayah kerjanya membuat banyak pelanggar hutan mati kutu. Resort Labuhan Merak bisa dibilang adalah wilayah paling rawan terhadap praktik pelanggaran hutan. Kasus demi kasus pelanggaran hutan berakhir di meja hijau. Karena ketegasannya, bahkan membuat Pak Mantri ini sampai mendapat ancaman pembunuhan!

Bu Tiwi dan Bu Nia di Divisi Pelayanan Pengunjung menjalani hari-hari sibuknya. Dalam dua tahun terakhir, pemasukan PNBP dari tiket kunjungan ke Taman Nasional Baluran meningkat lebih dari 100%. Dibantu oleh beberapa staff di divisi ini, bisa dibayangkan bagaimana mereka meladeni pengunjung dengan beraneka macam karakter dan kemauan.

Pak Toha, Pak Tedi dan Pas Agus Yusuf yang menggawangi “ibu kota” Baluran, Bekol dan sekitarnya, terus bergantian piket tiga hari dua malam, dua kali per minggu. Ditugaskan di pusat perhatian dan keramaian tentunya membutuhkan energi lebih.

Dan Pak Nanang, sebagai koordinator PEH dan Kepala Divisi Sumberdaya Alam Hayati membuat dia harus sedia puyer sakit kepala tiap hari. Menu utama hariannya: kantor-lapangan-kantor-lapangan; meladeni request mendadak kepala balai, dan tidak jarang harus dimarah-marahi segala; laporan-laporan sudah pasti; mengkoordinir kawan-kawan PEH; meladeni mahasiswa-mahasiswa PKL yang selalu berjibun di awal tahun.

Tapi namanya juga organisasi yang terbentuk secara organis, inisiasi-inisiasi intuitif pun terbentuk dengan sendirinya. Sutadi atau panggilan kerennya Tedi bahkan kami juluki sebagai KSBTU-nya PEH karena kepiawaiannya dalam mengurus DUPAK. Dan dia tidak segan membantu kawan-kawan untuk meyelesaikan urusan DUPAK bahkan sampai ke pusat. Tapi bukan borongan terima order pembuatan DUPAK lo ya. Saya adalah salah satu orang yang harus berterima kasih untuk si bapak KSBTU ini.

Atau Agus Yusuf, si pembuat masalah sejati ini. Jaringannya yang luas dengan para sopir truk, sopir buah, tukang batu sampai preman kampung membuat kami tidak kesulitan jika membutuhkan tenaga tambahan non-eksplorasi di lapangan. Dia adalah orang yang sangat lihai dan telaten dalam mengurusi pekerjaan-pekerjaan non-eksplorasi yang selama ini luput dari perhatian kami. Dan justru itulah kehebatannya tidak tergantikan oleh orang lain.

Berkah terakhir kami di tengah-tengah kurangnya SDM adalah masuknya PEH baru, Suwono dan satu staff yang jelas-jelas bukan fungsional, Andy Effendy. Suwono punya keahlian yang bagus dalam urusan Sistem Informasi Geografi. Posturnya yang gagah sepertinya juga bisa dimanfaatkan untuk mengejar sampai memukul roboh pelanggar segede apapun tubuhnya. Dan Andy adalah orang yang cepat beradaptasi dengan pola kerja kami dan tentunya tabiat usil kawan-kawan. Bahkan sangking lihainya beradaptasi dengan PEH membuatnya ingin sekali pindah jabatan menjadi tenaga fungsional PEH. “Sesuatu yang nyaris mustahil kecuali dia adalah keponakannya Menteri!” Kata Pak Indra. Ya sudah terima saja, rejekimu memang cuma segitu.

bersambung ke bagian berikutnya

ebook bisa diunduh di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s