Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (II): Bahwa PEH Adalah Organisasi, Itu Wajib!

supayakami

PEH Baluran (belum full team) sebelum meluncur ke lapangan

PEH Baluran (belum full team) sebelum meluncur ke lapangan

Pada tahun 2003 makin banyak peneliti, mahasiswa praktik lapangan dan kegiatan eksplorasi hayati lainnya yang datang ke Taman Nasional Baluran. Banyak dari mereka yang membutuhkan pemandu di lapangan, asisten lapangan atau sekedar pra-observasi melalui diskusi perihal site study yang akan diambil. Kawan-kawan PEH mulai menyadari bahwa kemampuan teknis eksplorasi hayati sangat dibutuhkan.

Ada beberapa pertanyaan tentang wilayah kerja PEH, “Apa penelitian juga masuk dalam pekerjaan PEH?”. Tidak salah-salah juga pertanyaannya. Karena pada saat output-output kegiatan diperlukan sebagai referensi ataupun acuan pengelolaan maka kaidah-kaidah keilmuan harus ada. Mulai dari merumuskan masalah, memilih ruang lingkup penelitian, menentukan metode, teknik analisa sampai ke kesimpulan.

Ada juga yang mengatakan, “PEH kan pekerjaannya bukan penelitian, karena itu pekerjaannya peneliti atau akademisi”. Yang ini ada betulnya juga, karena memang praktisnya di lapangan yang dibutuhkan adalah semacam respon cepat terhadap permasalahan yang muncul di lapangan. Maksudnya, ada kalanya peneltian itu menjadi makruh karena membutuhkan waktu yang lama, di sisi lain permasalahan yang ada bersifat darurat dan membutuhkan penanganan segera.  Tapi kita sepertinya semua sepakat meletakkan pemahaman terhadap PEH seperti yang diutarakan Suwono, anggota PEH Baluran terbaru, “Banyak pihak berpengharapan tinggi, kalau nggak malah ketinggian, berkaitan output-output dan cakupan pekerjaan PEH”.

Kawan-kawan PEH yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan itupun melihat bahwa satu-satunya jalan untuk menunaikan amanah ini harus diawali dengan belajar. Bersama dengan para senior, proses belajar learning by doing pun mereka jalani. Pelan tapi pasti, akhirnya penguasaan pengetahuan dan pengalaman dalam mengenal berbagai potensi keanekaragaman hayati di kawasan Taman Nasional Baluran semakin meningkat. Ini salah satu langkah awal menuju keberhasilan dalam menunaikan Tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) yang diamanahkan. Insya Allah, amiinn.

Namun, prestasi ini tentu belum cukup. Kemampuan personal ini harus difasilitasi dengan baik supaya berfungsi optimal dalam tubuh Organisasi Balai Taman Nasional Baluran. Bagaimanapun juga PEH bukan satu-satunya kelompok kerja dalam institusi ini. PEH Baluran harus mengformat dirinya menjadi sebuah entitas yang tak lagi “Aku” tapi “Kami” sebagai strategi komunikasi ke luar. Dan “Kita” sebagai entitas dalam internal tubuh PEH. Untuk itu, PEH Baluran harus di-organisasikan!

Saya tidak bisa membayangkan kalau saja ada PEH yang bisa mengamalkan semua “amalan” yang tercantum di Kitab Kuning dengan sungguh-sungguh. Kalaupun ada, sumpah dia pasti ada keturunan dengan Avatar! Pasti dia menguasai semuanya, mulai pengelolaan kawasan, pengelolaan keanekaragaman hayati, pemanfaatan keanekaragaman hayati, pengembangan wisata alam dan jasa lingkungan, sampai dengan pengendalian kebakaran dan rehabilitasi kawasan. Bisa jadi dia juga mengenal hampir semua bentuk species laut, air, darat dan gunung di kawasannya; mulai tumbuhan tingkat rendah sampai tinggi; mulai satwa kelas insekta, pisces, reptil, sampai mamalia. Jadi kalau sampai ada orangnya, bisa jadi otaknya lebih encer dari bapak ilmu botany Theophrastus, lebih gila dari ahli taksonomi Carl Linnaeus, bahkan lebih kontroversial dari Charles Darwin. Atau jangan-jangan dia lebih sakti dari Arya Kamandanu! Artinya, tidak ada orang, sebagai individu, di seluruh kolong jagad Kementerian Kehutanan yang bisa mengamalkan semua ayat-ayat dalam Kitab Kuning PEH.

Organisasi adalah satu-satunya alasan logis kawan-kawan PEH Baluran waktu itu untuk mewujudkan kebersamaan visi, misi dan langkah sebagai kelompok fungsional PEH yang menanggung amanah besar dalam tubuh mereka. Dan berkumpulah mereka di awal 2005 untuk mengukir mimpi dan cita itu. Saya sendiri masih belum menjadi bagian dari moment monumental itu. Tahun 2005 saya masih beredar di Yayasan Kutilang Indonesia dan insyaAllah masih belum punya niat untuk jadi PNS.

Ada beberapa prinsip yang ingin dibangun oleh PEH Baluran pada waktu itu. Pertama semangat ingin menjalankan amanah yang tertuang dalam tupoksi PEH sebaik mungkin. Lalu apa itu tupoksi PEH? Ya apa lagi kalau bukan “mengendalikan” ekosistem hutan. Benar-benar pekerjaan yang citarasanya seperti “menantang” alam, karena harus bisa mengendalikan. Tapi apapun itu, siapa lagi yang akan bertanggung jawab mengurusi tiap detil potensi hayati mulai dari Banteng yang gegap gempita sampai bekicot, kupu-kupu atau cacing pipih yang “sepele” itu. Boleh percaya atau tidak, kami pernah mengagendakan kegiatan mengkaji keberadaan cacing pipih sebagai spesies yang berpotensi menjadi jenis invasif di Baluran. Memang terdengar sangat sepele, tapi karena tupoksi kami sebagai PEH yang bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam hutan Baluran,membuat kami tidak boleh pilih kasih kan?

Kedua, kesadaran ketika PEH menjadi solid, dapat bekerjasama dengan baik dan berkegiatan secara ter-organisir akan mendukung karir dalam penyusunan Daftar Usulan Penilaian Angka Kredit (DUPAK). Karena bagi Kementerian Kehutanan, dan tentunya kementerian-kementerian lainnya, kelancaran pengajuan DUPAK merupakan indikator penilaian kinerja fungsional. Meskipun siapa saja di negeri ini berhak menggugat sistem penilaian itu. Karena sistem ini tak sedikitpun punya mekanisme untuk mendeteksi apalagi menindak para fungsional yang hanya handal menyusun DUPAK di atas meja, bukan berdasar aktifitas nyata yang mereka lakukan di lapangan.

Kami tidak ingin hal itu terjadi pada PEH Baluran. Serusak-rusaknya PEH Baluran yang telat menyusun DUPAK sampai bertahun-tahun, atau angka kreditnya seret merayap, setidaknya kami tidak menjadikan DUPAK sebagai tujuan utama sehingga menghalalkan segala cara. Lapanganlah rumah kedua kami. Dua puluh lima ribu hektar hutan Baluran adalah sawah bagi padi-padi rejeki kami, dan keringat adalah bukti nyata produktifitas kami. DUPAK tak lebih dari media komunikasi dengan para “dewa” penentu nasib meskipun mereka tidak kenal siapa kami. Semoga mereka paham, tiap tetes keringat orang-orang lapangan seperti kami di seluruh penjuru negeri ini punya hak untuk dihargai yang sepantasnya. Maksud saya, mbok jangan nol koma nol lagi gitu lo!

Ketiga, semangat kebersamaan yang mengesampingkan ke-“Aku”-an masing-masing personil. Semangat ini coba ditanamkan, melihat sistem organisasi balai pada saat itu. Ada kecenderungan belum dapat menempatkan “sesuatu” dan “seseorang” secara proporsional sehingga muncul istilah orang yang “dipakai” dan “tidak dipakai” oleh organisasi balai, apapun itu faktor penyebabnya.

PEH Baluran berusaha dan berkomitmen untuk menjadikan “Kami” adalah PEH, bukan “Aku” adalah PEH. Walaupun tetap masing-masing kami itu senantiasa berusaha meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dalam berbagai hal sebagai upaya meningkatkan nilai dan posisi tawar PEH secara “organisasi” di dalam organisasi Balai Taman Nasional Baluran. Di satu sisi, untuk mewujudkan itu bukan tanpa kendala, akan tetapi sebisa mungkin kendala tersebut dikelola sehingga minim dampak.

Mungkin yang perlu saya luruskan di sini adalah, mengorganisasikan PEH bukan berarti membuat organisasi tandingan dalam tubuh besar Balai Taman Nasional Baluran. Kawan-kawan tidak sedang membuat struktur tandingannya Seksi Pengelolaan Wilayah atau Resort Pengelolaan Wilayah atau apapun itu. Barangkali organisasi ini boleh disebut sebagai media untuk belajar berbagi tugas (memimpin dan dipimpin) dan berbagi tanggung jawab, berkomunikasi dan berkoordinasi. Adalah sebuah keuntungan aksesibilitas antar wilayah di Taman Nasional Baluran dimana sebagian besar kawan-kawan PEH ditugaskan membuat proses belajar ini lebih mudah.

Dan akhirnya, ide berorganisasi berdasarkan ketiga prinsip itupun menjelma menjadi organisasi yang sederhana. Terdiri dari seorang koordinator yaitu Yusuf Sabarno, sekretaris Arif Pratiwi dan bendahara Agus Yusuf. Delapan sisanya adalah pemandu sorak: Sutadi, Yusuf Hernawan, Widyantoro, Achmad Toha, Mochammad Iqbal, Siswo Dwi Prayitno dan Nanang Dwi Wahono beserta istri tercintanya Nia Diana –sayang sekali, nama saya waktu itu belum masuk dalam daftar para pemandu sorak-. Nampaknya, pemandu sorak menjadi pilihan saya untuk menyebut ini karena tanpa kehadiran mereka tak akan ada keceriaan dan ringan tangan dalam bekerja.

bersambung ke bab berikutnya

ebook bisa diunduh di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s