Seram Part IV: The Land of Endemism

Kakatua Maluku

Wallacea adalah rumah bagi makhluk-makhluk endemik sudah pasti. Dan tidak sedikit yang hanya terdapat di pulau-pulau kecil. Sejarah geologisnya mengisolir gugusan pulau-pulau di wilayah ini menjadi kawasan yang terpisah dari paparan benua Asia dan Australia. Jadilah Wallacea menjadi kerajaan bagi spesies-spesies endemik yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain di muka bumi. Bahkan konon, endemisitas wallacea ini masih dibagi-bagi lagi berdasarkan paparan Sunda dan paparan Sahul. Karena penarikan garis wallacea oleh Wallace hanya berdasarkan penampakan sepihak terhadap kekhasan mamalia, padahal jika penarikannya berdasarkan sebaran flora, bisa jadi garis wallacea tidak pernah ada.

Whatever lah, wong saya bukan geografer, geologist, apalagi biologist. Saya itu cuma mau pamer foto-foto burung endemik wallacea yang kecantol di lensa kamera saya. Trus ngapain saya keminter begitu? Mau digaris, mau dikotak, mau dibrongkos ya sana. Trus sakjane sing gendeng iki sopo?

Dari semua tangkapan makhluk-makhluk endemik, Raja Perling Seram adalah haru biruku. Burung yang masih saudaranya para jalak ini juga menjadi buruan banyak pengamat burung yang datang ke Seram. Karena apa lagi kalau bukan karena statusnya yang endemik pulau Seram itu. Bukan burung yang sulit ditemukan sebenarnya, namun karena sukanya yang nongkrong di tajuk tinggi yang menyebabkan dia susah ditembak dengan lensa sebongsor apapun. Mungkin hanya nasib bagus saja satu-satunya faktor positif mendapatkan foto terbaiknya. Yah, masih sama dengan tulisan-tulisan sebelumnya…

Bicara tentang endemisitas, Sulawesi adalah pulau terpenting di kawasan wallacea. Dari 127 jenis mamalia Sulawesi, 61% adalah endemik pulau berbentuk “K” itu. Begitu juga dengan 557 jenis kupu-kupu, 40% di antaranya adalah endemik Sulawesi! Lalu bagaimana dengan Pulau Seram sendiri? Setidaknya dia memiliki 14 jenis endemik pulau. Pulau sekecil itu punya jumlah endemik sebanyak itu? Mereka antara lain Nuri Maluku, Raja Perling Seram, Kakatua Maluku, Nuri Telinga Biru, Cekakak Lazuli, Nuri Telinga Biru, Cabai Kelabu, Sikatan Kelabu, Cikukua Seram, Opior Dwiwarna, Nuri Kepala Hitam, Myzomela Seram, Kacamata Kai Besar dan… apa ya? kok aku lupa? hehe…

Selain itu, pegunungan yang dipuncaki oleh Gunung Binaya menjadi rumah bagi mamalia endemik dengan jumlah terbesar di wilayah Maluku. Setidaknya ada 9 jenis mamalia endemik Seram. Mereka adalah  Seram Bandicoot (Rhynchomeles prattorum), Moluccan Flying Fox (Pteropus chrysoproctus), Seram Flying-fox (Pteropus ocularis), Manusela Mosaic-tailed Rat (Melomys fraterculus), Spiny Ceram Rat (Rattus feliceus) dan Ceram Rat (Nesoromys ceramicus). Lagi-lagi, pulau sekecil itu?

Terus, kalau sudah jadi rumahnya para endemicer, sudah jadi kawasan paling eksklusif mau diapain? Cuma diblusuki gitu aja? Dikagumi habis-habisan lalu diam-diam di balik bayangan gelap hutannya, para intruder sedang mengeksplorasi habis kekayaan didalamnya. Meneliti dengan sangat serius lalu ditemukanlah spesies baru dengan tanpa satupun nama pribumi sebagai authornya. Atau minimal menerbitkan buku berbasis foto pertama tentang burung-burung wallacea?

Buku burung wallacea? Hmm.. sounds good…

Seram Bandicoot, Moluccan Flying Fox, Seram Flying-fox, Manusela Mosaic-tailed Rat, Spiny Ceram Rat and the Ceram Rat

5 thoughts on “Seram Part IV: The Land of Endemism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s