Seram Part III: Short Medley

Ibu tua di pintu rumahnya.

Saya selalu bingung untuk menuliskan cerita selanjutnya dari perjalanan ke Pulau Seram. Karena begitu banyak mozaik kekaguman yang serba berserakan. Terkagum-kagum oleh keramahan masyarakat lokalnya, sama sekali berbeda dengan yang ada di kepala saya tentang Maluku. Terutama sejak pecah kerusuhan Ambon. Setiap bertemu setidaknya mereka selalu tersenyum. Apalagi anak-anak kecil, mereka selalu mengucapkan “Halo” jika bertemu dengan orang asing.

Bahkan pada suatu malam di desa Mosso, ada seorang pemuda yang langsung bersalaman. Saya kebingungan bukan main, apa maksudnya? Dia mengatakan sesuatu, tapi saya tidak paham apa maksudnya. Karena  kalau tidak terbiasa, kita akan sesulitan menangkap spelling orang Maluku. Setelah beberapa kali saya tanya, “Maksud Anda?”, barulah saya mengerti kalau dia sedang memperkenalkan dirinya. Oh, God!

Menikmati perjalanan dari Masohi, ibukota Kabupaten Maluku Tengah, sampai Mosso dilanjut Waelomatan, desa terakhir sebelum saya bersama tim masuk ke kawasan adalah keasyikan tersendiri. Bayangkan, hampir 5 jam perjalanan, kita menyisir pantai! Lautnya yang biru nan pohon kelapa bertebaran. Itu belum seberapa, gimana kalau yang bertebaran pohon durian dan manggis? Dan sekarang adalah musim kedua buah paling enak sak dunia itu!

Ibu tua di pintu rumahnya.

Ibu tua di pintu rumahnya.

Bapak Raja dan "genting" organik dari daun pandan.

Bapak Raja dan “genting” organik dari daun pandan.

Melihat kampung-kampung kecil yang lebih mirip cluster karena jumlah rumahnya yang sangat sedikit. Ada kehidupan yang damai terlihat, seakan-akan kerusuhan berdarah akhir 1990an itu tidak pernah sampai ke sini. Di setiap cluster itu biasanya ada seorang pemimpin yang disebut Bapak Raja. Bapak Raja adalah sebutan untuk kepala desa.

Belum lagi tiga anggota tim di bangku belakang yang seperti tidak kehabisan baterai terus bercerita. Sampai pada akhirnya Ford Ranger bertuliskan PATROLI yang kita tumpangi membelah sebuah sungai besar di Hatuputih. Wow!

Membelah sungai di Hatuputih.

Membelah sungai di Hatuputih.

Sebuah hujan sangat besar menyebabkan air sungai ini meluap, sehingga memutuskan jembatan besar yang terbuat dari beton dan baja. Dan konon, mobil yang kami tumpangi ini pernah menjadi korban keganasan sungai ini: tenggelam ketika sedang berusaha menyeberanginya. Diselesaikan dengan menolong sebuah mobil Xenia yang kampas kopling-nya habis terbakar karena memaksa naik dari dasar sungai kembali ke jalan aspal.

Sungai besar di Hatuputih ini, bahkan airnya masih jernih hingga di muara. Hal yang tidak pernah saya temui di Jawa.

Sungai besar di Hatuputih ini, bahkan airnya masih jernih hingga di muara. Hal yang tidak pernah saya temui di Jawa.

Salah satu mozaik terindah yang saya temukan di Seram adalah, tidak satupun sungai yang saya temukan berwarna cokelat, putih keruh atau berbagai macam indikator kerusakan lingkungan lainnya. Mulai dari kunjungan pertama di Masihulan, spot kedua di Waelomatan sampai hari terakhir di Hatuputih, sungai di kawasan TN. Manusela ini semua jernih. Bahkan sampai muara di hulu, air masih jernih.

Menenggelamkan seluruh tubuh ini ke dalamnya, sesaat ingatan saya meloncat 20 tahun yang lalu. Waktu itu saya sering sekali mandi di mata air di sebuah desa di kampung halaman saya. Baunya dan suhu airnya benar-benar mengingatkan saya semasa masih SD dulu. Baru kali ini, selama bertahun-tahun mblasak ke hutan, saya mandi rutin setiap hari! Sesuatu yang mungkin tidak bisa saya temui di Jawa. Karena untuk menemukan air jernih seperti ini di Jawa kita harus ke daerah pegunungan, dan itu artinya airnya pasti sangat dingin! Sangat mustahil saya mau mandi di air yang dinginnya bisa bikin kepala nyut-nyutan.

Ikan Morea hasil buruan di Hatuputih.

Ikan Morea hasil buruan di Hatuputih.

Ohya, dan hebatnya lagi, dari aliran sungai ini kita mendapatkan hasil pencingan ikan moray! Moray ikan tawar! Benar-benar hal yang sangat baru buat saya. Dan anda tahu gimana rasanya ikan ini? Hmmm… seperti sedang berjoget koplo-koplo di lidah. Orang sana menyebutkan ikan Morea. Apakah ada hubungan asal-usul nama antar Moray dan Morea, saya tidak tahu. Ikan-ikan kecilnya juga sangat berlimpah bahkan sampai bisa ditombak pake tombak ala kadarnya.

La Ato sedang berburu lauk untuk makan malam.

La Ato sedang berburu lauk untuk makan malam.

Mungkin sampeyan perlu saya kenalkan dengan salah satu anggota tim kami. Dari 5 orang dalam tim hunting burung-burung endemik Seram, adalah seorang polhut bernama La Ato yang cukup extraordinary. Di setiap malam, hobinya adalah telling fool joke. Bahasa kerennya crito ndeso kere. Wes ndeso, kere meneh! Lucu gak lucu pokoknya cerita. Tentunya dengan spelling orang Maluku yang susah dicerna oleh telinga Jawa saya. Dari sekian cerita yang dia jual, satu-satunya hal yang membuat saya tertawa terbahak-bahak adalah saat dia menyebut satu-satu nama anaknya. Orang yang sebenarnya berasal dari suku xxxx ini memberi nama anaknya dengan nama Jawa semua, dan pekoknya lagi, sama dengan nama kepala balai yang menjabat saat itu! Anak pertama bernama Sugeng Prayitno, kedua Suro Raharjo, ketiga Supriyanto dan keempat Suginyanto. Sempurna!

I and team.

I and team. Kikeka: La Ato si jago ndobos, Aik orang kantor yang nglapangan, Bapak Raja (lupa namanya), Kebogiraz, Pak Hacim koordinator perut, Fauzi salah satu porter kami, Boim yang menjalani debutnya di lapangan. Foto diambil oleh Sugeng ketua tim yang super mbulet😛. Dua pemandu pada kemana ya fotonya?

Sebenarnya saya ingin memperkenalkan satu-persatu anggota tim, tapi sepertinya akan sangat panjang. Tapi mungkin saya harus memperkenalkan dua pemandu kami. Mereka dulunya adalah pemburu handal yang sudah tobat dan memilih jalan yang semoga benar. Pak Momo pemandu dengan mata super maling. Tidak satupun burung yang luput dari radar-nya yang sangat canggih: mata, telinga dan mungkin hidung. Dan Pak Sigret, orang bertubuh pendek ini kalau sudah memasang perangkap dijamin pasti ada saja burung yang nyangkut. Matanya juga tidak kalah nggilani dibandingkan pak Momo. Hunting bersama kedua orang itu membuat peluang mendapatkan jenis-jenis eksklusif sangat besar.

Dan tentunya dua adik kelas, partner dan insyaAllah saudara terdekat saya di Seram. Antok dan Aik. Dua pemburu burung yang lagi hot-hotnya hunting foto burung-burung Manusela karena konon kabarnya mereka sedang bikin buku tentang burung-burung di Manusela dan Wallacea. Joss! Semoga segera lahir satuu lagi karya pribumi tentang kekayaan alam Indonesia.

Dan cerita terbesar, apalagi kalau bukan burungnya! Tapi karena sudah saya tulis di cerita sebelumnya, jadi saya skip saja. Mungkin beberapa foto burung endemik saja yang akan tampil di postingan berikutnya. Tapi kok sayang ya kalau saya mau melewatkan cerita burung paling cantik di Seram: Raja-perling Seram! Tapi sudahlah, besok kapan-kapan kalo aja lah…

One thought on “Seram Part III: Short Medley

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s