Seram Part II: Ya Tablet Ya GPS

unnamed

Sejak saya mengenal Android 2008 silam, lalu nekad memiliki hp Android untuk pertama kalinya, mungkin baru kali ini saya benar-benar excited dengan salah satu aplikasi yang disediakan oleh sistem operasi berbasis Linux itu. Ya, apa lagi yang bisa memuaskan selain aplikasi yang bisa mendukung aktivitas pekerjaan sehari. Locus Map (versi pro) bisa jadi, atau yes, adalah aplikasi terbaik yang pernah saya install di perangkat Android saya.

Sebelum berangkat blusukan ke Seram pertengahan bulan kemarin, saya benar-benar bingung mencari aplikasi peta yang bisa digunakan tanpa harus terkoneksi dengan internet. Bukan hanya tidak butuh internet, tapi juga punya fitur lengkap untuk merekam semua moment spasial selama di lapangan. Kalau masalah free or not, let it be something no need to be worried, bajakan still a logical solving.

Ok lah, biar gak diteriaki lebay, mari kita coba saja betapa hebatnya aplikasi ini dibandingkan aplikasi berbasis peta yang ada di seluruh kolong lapak jualannya Google Play. Hal pertama yang harus disiapkan adalah sampeyan harus punya device Android. Gak punya? Muleh kono nang omahe simboke, jaluk duik gawe tuku hape androit!

1. Unduh dan instal Locus. Selanjutnya sampeyan akan disuguhi box-box pilihan yang harus di-dulit. Bebas aja mau ndulit yang mana, sambil merem juga gak papa.

2. Awal penggunaan, peta sampeyan hanya berupa peta putih tanpa informasi apa-apa. Untuk mendapatkan peta pertama anda, dulit menu pojok kanan atas (gambar 1). Setelah itu pilih provider yang menyediakan peta yang bisa dibuka di Indonesia di bawah tab “Online”, dalam hal ini saya pake MapQuest atau Navigation. Pilih tema peta apa yang anda suka (gambar 2). Ok, sekarang sampeyan sudah punya peta. Tapi ingat itu masih peta pada mode Online!

Gambar 1.

Gambar 1.

Gambar 2.

Gambar 2.

3. Untuk mendapatkan peta yang akan sampeyan gunakan pada mode offline, kembali ke step 2, tapi gak perlu pilih peta lagi tapi langsung dulit menu di pojok kanan atas untuk men-download peta yang tadi sudah tampil di jendela muka (gambar 3). Setelah itu sampeyan akan diberi pilihan download: Area, Pilih Bagian dan POI. Silahkan dipilih sendiri aja ya? Setelah itu akan muncul pilihan perbesaran seberapa yang ingin di-download (gambar 4). Kasih nama lalu dulit “Download”. Ingat, karena ini akan menjadi peta offline, maka sifatnya sama seperti gambar pasif. Kalau sampeyan pilih zoom terlalu kecil maka peta akan pecah kalau di-zoom, pun kalau pilih zoom terlalu besar software punya keterbatasan untuk memperkecil peta sampai terlihat untuk seluruh wilayah. Saya ingatkan juga bahwa ada batas limit download per hari, selain itu, karena ini gratis maka provider bisa saja menutup akses download jika kelebihan beban. Jadi tolong pikirkan orang lain yang butuh peta gratis ini. Download pada zoom yang seperlunya saja!

Gambar 3.

Gambar 4.

Gambar 4.

4. Setelah proses download selesai, sekarang sampeyan punya peta offline. Nah untuk mengganti mode peta online menjadi offline, kembali ke tampilan muka peta, lalu dulit lagi menu di pojok kanan atas seperti step 2, tapi sekarang sampeyan dulit tab “Personal”. Nah itu sudah tersedia peta offline yang tadi sudah sampeyan download. Dulit saja peta yang ingin sampeyan tampilkan (gambar 5) dan sekarang sampeyan sudah ada pada mode offline (gambar 6).

Gambar 5.

Gambar 5.

Gambar 6.

Gambar 6.

5. Seperti aplikasi peta lainnya, LocusMap juga mau diajak buka-bukaan file kml, kmz atau gpx. Tinggal copas saja file kml, kmz atau gpx ke directory Locus/MapItems (gunakan aplikasi My Files (Samsung) atau sejenisnya). Kembali ke LocusMap, dulit menu sebelah kiri dari menu yang sering sampeyan dulit-dulit tadi (gambar 7). Di bawah tab “ITEMS” sampeyan akan menemukan file yang sudah sampeyan copas tadi. Dulit simbol gambar obeng-kunci pas dan sampeyan akan diberi 3 pilihan, salah satunya adalah “Import” (gambar 8). Well, sekarang sampeyan punya peta custom punya sampeyan sendiri, contoh yang saya gunakan adalah peta wilayah dan batas Taman Nasional Baluran (gambar 9).

Gambar 6.

Gambar 7.

Gambar 7.

Gambar 8.

Gambar 8.

Gambar 9.

6. Oke sekarang gimana caranya mengubah talifun sampeyan menjadi GPS? It’s very simple, dulit saja menu di kanan atas yang gambar penggorengan terbalik itu. Setelah muncul jendela satelit, aktifkan GPS dengan cara nyalakan tab “My Location”. Tunggu sampai device menangkap sinyal satelit and that’s it! Now you have your own GPS Android device! (gambar 10)

Gambar 9.

Gambar 10.

7. Ohya, ada satu lagi. Untuk mengaktifkan fitur Track Record, dulit menu utama di pojok kiri atas, lalu pilih “Functions”, pada jendela opsi Function dulit lagi menu “Function & Modules” di kanan atas, aktifkan “Live Tracking” dan “Track”. Ok? Nah sekarang pada jendela peta utama kanan atas, sampeyan sudah punya menu merekam track. Tinggal dulit aja kalau sampeyan mau nge-track. Dan berikut hasil dulit mendulit Android saya selama blusukan di Seram. Saya bahkan bisa memasukkan grid-grid TN. Manusela ke dalam LocusMap sehingga saya tahu sedang berada pada sisi kawasan yang mana. Thanks a ton buat teman yang tidak mau disebut namanya atas kiriman grid Manusela.

Seram Part II

Seram Part II

Well, sedulur-sedulur semuanya, sekarang sampeyan tahu betapa asiknya mainan aplikasi ini. Apalagi buat sampeyan yang suka kluyuran ke hutan tanpa sinyal. Memang bukan berarti dia tanpa kelemahan. Kelemahan pertama jelas pada daya tahan batteray, karena tidak seperti GPS tulen, batteray smart phone gak bisa diganti kalau habis, kecuali sampeyan sudah siap sedia setrum cadangan yang lagi nge-trend itu. Kekuatan menangkap sinyal satelit juga tidak sehebat GPS konvensional, sehingga berakibat pada tingkat akurasi yang lebih rendah.

Tapi melihat banyaknya fitur, kejernihan gambar, layar yang lebar dan kemudahan pengoperasian, belum lagi kalo pas lagi tersesat sampeyan bisa muter MP3 untuk menutupi rasa gelisah, atau ngegame yang saya yakin banyak sekali di-instal di smart phone sampeyan membuat aplikasi ini layak dipertimbangkan.

Satu-satunya yang bikin saya menyesal menginstal aplikasi ini adalah, kenapa saya harus mbajak? Kalo tahu betapa fungsinya sangat membantu kegiatan di lapangan saya sampai kasihan sama developernya. Tenan lo! Serius iki! Sudah bikin aplikasi sebagus ini kok ya ada saja yang tega membajak. Kurang ajar sekali orang itu! Tapi mau gimana lagi, berhubung saya gak punya akun Pay Pal yang dikarenakan saya gak punya kartu kredit, dengan terpaksa hanya hanya bisa bilang: lemah garing, lemah teles. Gusti Allah sing paring, Gusti Allah sing mbales.

I love you❤

3 thoughts on “Seram Part II: Ya Tablet Ya GPS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s