Seram Part I: Bermimpi Indonesia

small moluccas

بسم الله الر حمن الر حيم

Seram dilihat dari Masohi, ibukota kabupaten Maluku Tengah.

Seram dilihat dari Masohi, ibukota kabupaten Maluku Tengah.

Entah sebuah kebetulan atau memang Tuhan sudah merencanakan sejak semula. Sampai sekarang saya masih percaya bahwa semua keinginan, yang kita ikrarkan meskipun hanya dalam bisikan hati, pasti akan terwujud! Dan tentunya kita harus ngalah kepada Tuhan bahwa beliau punya kuasa penuh untuk merancang skenario dan jatahnya.

Nah, sejak kunjungan ke Sumba, yang di luar kuasa saya itu, tahun lalu, nama Pulau Seram mulai saya kenal. Adalah buku panduan lapangan burung-burung di kawasan Wallacea yang membuat nama pulau di propinsi Maluku Tengah ini muncrat dari dalam kepala. Lalu ndlewer-ndlewer sampai terucap dalam hati.

Bagaimana tidak, hampir di setiap lembar halaman bergambar buku itu, diisi oleh burung-burung endemik yang hanya ditemukan di Pulau Seram atau setidaknya Maluku? Kalau tidak salah ada 17 jenis burung endemik Pulau Seram. Ugal-ugalan apalagi untuk pulau sekecil itu!

Dan sampailah saya di Ambon. The City of Music begitu sebuah tulisan besar terpampang menghadap kota selepas meninggalkan bandara. Ibu kota propinsi yang memiliki sejarah panjang mulai dari kejayaan Ternate, pengusiran portugis unuk pertama kalinya dari bumi nusantara, saksi bisu perjuangan bapak proklamator sampai kerusuhan paling berdarah dalam catatan Indonesia.

Lagi-lagi profesi tempelan sebagai instruktur RBM (Resort Based Management) yang mengantar saya sampai di wilayah yang masuk Waktu Indonesia Timur itu. Dan kali ini Taman Nasional Manusela yang menjadi korban. Kenapa korban? Karena meskipun tanggung jawab utama saya datang ke taman nasional di Pulau Seram itu adalah bersama-sama membangun sistem RBM di Manusela, namun tujuan utama saya tidak lain adalah menyaksikan sendiri burung endemik pulau itu. Dan begitu selesai acara wusshh… heading to the park.

Seram adalah hutan rapat, gelap dan bikin leher tengengen.

Seram adalah hutan rapat, gelap dan bikin leher tengengen.

Ditemani mantan adik kelas tapi senior di Yayasan Kutilang Indonesia, Antok Daryanto; rekan dari Laiwangi Wanggmeti, Simon Onggo dan seorang guide mantan pemburu, Jimmi; jadilah dua hari perburuan burung di Manusela sebagai the way to find the extacy!

Sama seperti Sumba, hutan Maluku benar-benar bikin pusing. Rapat, pohon tinggi, topografi gigi 1, dan lensa seberat kulkas. Dan burungnya? Tidak ada yang mau turun ke bawah! Sempurna!  Saya bahkan sampai emosi sama guide serasa menyuruhnya segera keluar saja dari dalam hutan. Lebih baik pindah saja ke tepi hutan, tegalan atau kampung sekalian daripada leher tengengen gara-gara kebanyakan mendongak. Dan benar, keluar dari hutan perawan ting-ting itu justru mengantarkan saya bertemu eh bukan, maksudnya motret, lebih banyak burung nan endemik.

Nuri Maluku, si merah endemik pulau yang berisik sepanjang hari.

Nuri Maluku, si merah endemik pulau yang berisik sepanjang hari.

Terlepas dari itu, tahukah sodara-sodara betapa banyaknya burung paruh bengkok di kawasan ini? Di setiap mata menjuru, burung-burung berwarna cerah dan luar biasa berisik itu selalu tampak. Perkici pelangi yang full color, sesuai dengan namanya. Nuri Maluku yang merah padam. Atau si endemik Kakaktua Jambul-jingga yang elegan nan priyayi.

Artis cantik hari itu, Nuri-raja Ambon

Artis cantik hari itu, Nuri-raja Ambon

Bukan hanya elagan, suaranya yang unik dan tingkah lakunya yang lucu menyebabkan saudara tua ini pernah mengalami over hunting. Kesetiaan kepada pohon sarang dan tengger menyebabkan burung ini mudah diburu dengan cara dijerat. Statusnya yang makin terancam punah yang kemudian menjadikan dia sebagai flagship Manusela. Meskipun pada akhirnya artis hari itu tidak lain si pemalu Nuri-raja Ambon. Burung tercantik di sepanjang dua hari perburuan kami. Si paruh bengkok yang sangat pendiam dan suka nyelonong tanpa permisi pada tukang foto seperti saya.

Julang Irian yang "murahan" itu.

Julang Irian yang “murahan” itu.

Ah, sebenarnya ingin rasanya menceritakan semua watak dan kelakuan burung-burung pulau Seram. Cikukua Seram yang lebih mirip entut daripada burung karena hanya terdengar suaranya. Julang Irian yang murahannya minta ampun. Sikatan Burik yang gak mirip sikatan blas karena suka nongkrong di ujung pohon tinggi yang kering, trus piye motrete sudah sekecil itu parkirnya tinggi pula. Atau Uncal Ambon yang clelekan, Cekakak Lazuli yang belum buka puasa nyepi, atau Nuri Pipi-merah yang… ah sudahlah… Padahal ini saya belum ngrasani keelokan bentang alamnya. Bukan hanya hutannya, tapi juga pantai, terunbu karang, sungai atau gunung Binaya yang konon hampir sepanjang tahun hujan terus! Iyo po?

Anyway, apapun ceritanya, siapapun lakon utama pun penari latarnya, Pulau Seram adalah salah satu rejeki yang turun dengan cara yang tak terduga. Seram adalah cicilan saya yang ke sekian kali untuk terus berusaha melunasi mimpi. Mimpi melihat Indonesia.

4 thoughts on “Seram Part I: Bermimpi Indonesia

  1. Gusti Allah kang moho Agung punya rencana dan cerita sendiri untuk umatnya, masbro,.. reportasene mantap,.. ternyata keinginanmu walaupun berawal dari bisikan tapi bisikan itu terlalu jelas buat gusti Allah bro,.. hehehe,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s