Menjadi Ornithologist? Ngece!


Suatu ketika saya ngobrol lewat telpun dengan salah seorang dancukers PHKA, sebut saja pak NH. Kenapa dancukers? Karena mungkin dia adalah salah satu dari sedikit PNS PHKA yang gak punya jam kerja, gak punya kantor, dan hebatnya lagi gak punya kerjaan! Wow!

Gimana punya jam kerja? Lha dia datang ngantor bisa seenaknya, maksudnya menyesuaikan kapan jam bangun tidurnya. Bisa pagi, bisa siang, sore, malam atau bahkan subuh. Pulangnya pun semau-maunya. Yang pasti 8 jam kerja kantoran bagi dia hanya cukup untuk pemanasan. Alias jam kerjanya tidak wajar.

Gak punya kantor, karena tidak ada ruangan yang bisa memenjarakan apa yang menjadi urusan dia dengan aktifitasnya. Dan karena seutuh hidupnya dalam 24 jam (dikurangi kewajiban terhadap istri) dihabiskan untuk bekerja dan bekerja, sehingga kalau nilai energi dan pikirannya dikonversi dalam bentuk rupiah gaji, saya yakin PHKA akan kebingungan dengan besaran angkanya! Rekeningnya bisa menggelembung tidak wajar. Jadi, daripada menimbulkan kecurigaan pengawas keuangan negara, saya sebut saja dia gak punya kerjaan.

Nah, ketika saya lagi gandrung-gandrungnya berburu foto dan menginventaris ikan yang ada di Baluran, pak NH berujar kepada saya, lewat telpun, “Swiss, sekarang saya tahu kalau sebenarnya kamu tidak cinta burung! Tapi kamu hanya suka memotret burung!”

Mendengar kesimpulan cerdas itu sayapun bertanya seraya memancing, “Hehehe kok tahu pak?”

“Iya, buktinya sekarang kamu tinggalin itu burung-burung dan selingkuh motretin ikan!” pungkas dia.

Kalo dipikir-pikir, ada benarnya juga kata dancukers satu ini. Bisa jadi iya, saya blusukan sana-sini bukan karena saya suka burung, perilakunya, atau habitatnya, tapi saya demen motret saja. Penyakit suka motret burung ini menjangkiti saya sejak di Kutilang dulu. Berbekal monokuler dan kamera poket pinjaman tentunya.

Mengamati burung memang kesukaan saya sejak awal kuliah. Bareng Ige (Direktur Yayasan Kutilang Indonesia) sewaktu kami masih mahasiswa, mengamati burung-burung di kampus, sampai menjelajah Merapi, Gunung Kidul, Trisik sampai Pagak bersama Koh Liem, Gembil, atau Batak. Tapi untuk meneliti burung sepertinya terlalu berlebihan buat saya. Sama sekali gak ada potongan peneliti dalam diri saya, apalagi bertitel ornithologist! Ngece!

Lalu kemudian dunia bawah laut menjadi halaman bermain baru. Menginventarisasi segala biota laut yang ada di perairan Baluran, yang tentunya dengan cara difoto satu persatu. Karena, bagaimana mungkin saya mengidentifikasi makhluk-makhluk ghoib macam klomang, udang-udang, nudibranch, bintang laut, bulu babi atau ikan yang jumlahnya sak hoha kalau tidak saya foto lalu foto-foto itu dibawa ke depan leptop sambil buka Google, fishbase, atau fobi?

Saya bukan biologist, bukan marine biologist apalagi ichthyologist yang bisa mengetahui sebuah spesies hanya dari sekali lirik. Mungkin alasan diplomatis saya adalah, karena saya adalah PEH yang gatel melihat alam yang indah nan luar biasa kaya biodiversitas ini tapi tidak ada gelagat seorang pun yang mau mengeksplorasi. Data keragaman hayati Baluran itu nol! Sumber data kehati satu-satunya yang dijadikan kitab suci di Baluran adalah lampiran Management Plan yang usianya setua Baluran! Dan sialnya, sampai hari ini saya belum pernah pegang kitab suci itu.

Sejak 31 tahun lalu kawasan ini dukukuhkan sebagai kawasan konservasi orang-orang terus gegap-gempita dengan banteng, akasia, savana atau pemukiman eks-HGU! Dan selama itu pula, banteng semakin hilang, akasia masih ijo royo-royo, dan savana Baluran semakin merana dihajar akasia, gulma dan sapi-sapi ilegal! Pemukiman eks-HGU? Please, I don’t wanna talk about it.

Jadi saya sangat bersyukur kalau saya tidak posesif dengan burung. Saya tidak mau dipenjara oleh sekat-sekat taksa itu. Karena dengan begitu saya bisa minggir dari pesta gegap gempita itu, lalu menyelinap ke bawah semak-semak motret kupu-kupu, liang-liang tanah mencari ular, pinggir-pinggir sungai mengejar capung, dibuat mabuk laut mengeksplorasi dunia bawah air, atau sesekali say hello kepada Jalak Putih, Merak Hijau atau burung-burung cantik di Kacip.

Terima kasih buat Pak Kuspriyadi yang dulu “ngasih” saya senjata laras panjang sehingga data burung Baluran semakin baik plus dua buku. Sekarang para jenderal Baluran mulai mau melirik nasib Jalak Putih dan Merak Hijau yang sebenarnya tingkat keterancamannya jauh lebih mengkhawatirkan dari banteng. Dan terima kasih kedua, siapa lagi kalau buat kawan-kawan PEH yang sekarang pada sibuk semua.

Data kupu-kupu sudah terkumpul 160 jenis, meskipun perlu di-update terus, dan menunggu bukunya keluar. Ikan sudah terkumpul 341 jenis, nudibranch 30 jenis, ular ada 20-an, meskipun untuk taksa lainnya masih perlu usaha lebih keras karena sulitnya mendapatkan literatur. Hanya masalah waktu untuk membuat baseline data kehati Baluran menjadi yang terlengkap dari seluruh TN di Indonesia!

Saya memohon ampun yang sebesar-besarnya kepada Tuhan yang menghembuskan nyawa kehidupan saya kalau ada kesombongan dalam setiap kata-kata ini. Dan saya minta ijin kepada sodara-sodara semua untuk menyampaikan inti dari perjalanan ini.

Bahwa sampeyan tidak usah bingung atau minder dengan keterbatasan. Apapun kemampuan sampeyan, meskipun sepele, tapi kalau diolah dengan maksimal dan konsisten insyaAllah akan menghasilkan hal besar. Sampeyan bisa motret, manfaatkan kemampuan itu sebaik mungkin. Sampeyan bisa nulis, menulislah yang baik dan bermanfaat. Sampeyan bisa menggambar, menggambar saja dengan tekun. Demi Allah tidak ada yang tidak berguna dengan apa yang ada dalam diri kita. Karena Beliaulah yang memerintahkan kita untuk menjadi khalifah di muka bumi, maka sudah pasti Beliau juga menginstal berbagai macam software canggih dalam otak kita untuk digunakan sebaik mungkin.

10 thoughts on “Menjadi Ornithologist? Ngece!

  1. kang, ku mau sperti dirimu.. tapi semangat itu belum gencar seperti dirimu… aku masih sedikit oportunis utk sesuatu hal… tapi kang Swiss ini memang top markkotop..!!
    **woi jroty! yokpo kabarmu? wes oleh opo ae 3 tahun ng merbabu?

  2. jadi pengen birdwatching dan herping di baluran mas; nanti klo ada rejeki moga2 rekan2 lareangon foundation bisa dolan ksono buat herping+pendataan reptil…

  3. oya mas, sekalian rikues… saya yakin di Baluran ada Branjangan ( Mirafra javanica javanica ) karena punya savana yg luas; sekali2 cerita ttg burung ini di Baluran mas…
    gara2 burung ini saya jd kontak mas Ige bbrp waktu lalu karena saya punya niatan breeding burung ini…
    **emang kepercayaany gitu mas,tp dah 4 th di baluran sy g pernah lihat branjangan.mgkin dah habis kali ya? ;(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s