Sumba Part 2: Ojo Gampang Nuduh

featured images-sumba-2

Mungkin salah satu komponen fotografi, terutama satwa liar yang paling mahal bukan di alat. Alat memang penting, tapi bukan yang terpenting. Lalu apa donk? Saya tidak mau bicara normatif untuk menyebut komponen terpenting dalam fotografi adalah niat. Biarkan niat menjadi integral dalam setiap manusia sebagai manusia berakal sehat atau setidaknya baligh. Orang dewasa yang mengambil sebuah tindakan tanpa didahului niat, maka bisa jadi dia kurang sehat akalnya atau bayek tuwek. Jadi mari abaikan saja niat dalam fotografi.

Lalu apakah yang paling mahal dalam fotografi satwa liar? Tiada lain adalah data atau informasi tentang lokasi tujuan dan atau jenis target! Kunjungan pertama ke Sumba benar-benar menjadi pelajaran tentang betapa informasi dan data lengkap tentang kawasan sangat sangat penting sebelum kita berkunjung. Itu sebabnya kenapa fotografer-fotografer professional berani membayar mahal guide lokal untuk menunjukkan lokasi target buruannya.

Sebuah pulau dengan endemisitas tinggi, habitat terbuka, topografi datar adalah Sumba dalam kepala saya. Dan terbanglah saya pake pesawat baling-baling, yang pertama kalinya dalam catatan perjalanan saya. Dan ternyata pesawat baling-baling jauh lebih nyaman daripada Boeing merek apapun! Kecuali bagasi dalam yang sempit, sampai-sampai saya harus memangku tas ransel saya!

Setelah kontrak sebagai pemateri Pendampingan RBM selesai berkemaslah saya. Bermodal lensa pinjaman Sigma 50-500 punya TNMT

Hastoto yang jadi artis hari itu.

dan EOS 7D yang saya bawa dari Baluran, berangkatlah saya. Kenapa pake lensa pinjaman? Pertama karena lensa galon saya terlalu besar, berat dan ribet; kedua karena stok inventaris lensa termos di TNMT turah-turah! Ada 3 lensa termos coba bayangkan!

Adalah Hastoto yang menjadi guide saya hari itu. Dia menjajikan akan membawa saya ke lokasi sarang dua burung paruh bengkok berukuran besar: Kakaktua Jambul-kuning Cacatua sulphurea dan Nuri Bayan Eclectus roratus, dan tambahan burung-burung yang banyak katanya “Pagi-pagi, burung sudah berdatangan sengan sendiri, Mas.” kira-kira begitulah. Baguslah, memang itu yang saya inginkan.

Landscape Umbukora yang… wow!

Nama lokasi itu adalah Umbukora, berjarak 45 menit dari kota Waikabubak, ibu kota Sumba Barat. Sepanjang perjalanan, menu pemandangan khas Sumba terhampar kemana mata memandang: topografi berbukit-bukit, padang rumput, jalanan berdebu dan anak-anak kecil yang mengerubungi kita. Mata dan senyuman mereka terlihat aneh memandang dua orang bermuka Jawa nyangking benda aneh bernama DSLR dan termos yang menancap.

Start pertama begitu menggoda, pemandangan khas Indonesia Timur dengan savana dan topografi berbukit. Dan sungainya itu lo, luar biasa! Airnya seperti berwarna biru kehijauan dengan teras yang sangat menawan. Ah, seperti ingin melepas semua kain penutup tubuh molek ini lalu mencelupkannya ke dalam air bening nan biru kehijauan itu. Tapi bayang-bayang burung berparuh bengkok itu segera menyadarkan saya.

Hutan tropis di Sumba ternyata jauh dari perkiraan saya, mereka sangat rapat, gelap bahkan lembab. Saya seperti tidak sedang berada di tanah Sunda Kecil. Saking rapat dan gelapnya, saya sama Hastoto bahkan sampai nyasar, dan harus balik ke “pintu masuk” semula sampai 4 kali untuk menyisir lagi jalan yang benar dan diridhoi. Saya bahkan hampir putus asa untuk melanjutkan perburuan, mengingat hari sudah siang, sedangkan itu adalah hari terakhir saya di sana. Bayang-bayang burung paruh bengkok dan burung-burung yang “berdatangan dengan sendirinya” seperti melambai-lambai mengucapkan good by di kepala saya.

Di sepanjang kami muter-muter menyisir ulang jalur menuju sarang di Nuri Bayan, berkali-kali Hastoto memberi saya semangat. Meyakinkan saya bahwa kita sudah berada pada jalur yang benar. Tapi diam-diam dalam hati saya cuma bisa nggrundel, “Sudahlah, Tok, bujukanmu tidak akan berhasil buatku, lebih kita get out saja dari sini, cari lokasi lebih bagus.” Kira-kira begitu. Apalagi selama agedan nyasar itu, tidak seonggok dagingpun dari burung-burung Sumba tertangkap mata saya, apalagi lensa. Wuihh… ternyata saya salah sangka!

Sampai pada suatu titik Hastoto memecah kejumudan, “Nah ini mas lokasinya! Benar ini! Kayaknya itu pohon sarangnya!” dengan nada agak keras dia sambil menunjuk pada sebuah pohon tinggi besar di antara pohon-pohon yang rapat!

“Mana Tok?” tanyaku tidak percaya. “Itu mas!” jawab dia singkat dengan nada yang meyakinkan.

Benar juga, tidak lama kemudian si burung berwarna merah dan berukuran cukup besar itu nongol dari lobang sarangnya. “Wow!” teriakku tertahan. Nuri pertama saya! Spontan semua alat saya keluarkan, mencari posisi bagus untuk mendapatkan sudut bidik terbaik.

Nuri Bayan, dan atau mungkin jenis-jenis paruh bengkok lainnya, ternyata mereka sangat malas meninggalkan sarangnya jauh-jauh. Mereka seperti tidak peduli dengan manusia dan terus asyik di pohon sarang. Bahkan ketika kami berdua kemrosak membuat kegaduhan menabrak semak-semak untuk mencari posisi, mereka terlihat ok ok saja. Jadilah kondisi itu menjadi ajang balas dendam. Sambil terngiang-ngiang kesasar-sasar tadi, setiap kali shutter saya pencet selalu diiringi dengan senyuman lebar! Hehe… Modar kon! Cekrek! Modar kon! Cekrek! Cekrek cekrek cekrek! Modar maneh kon! Hahahaha… Merdeka!

Dan, entah ini mistik atau bukan, setelah si Nuri Bayan tertangkap kamera, bergantian burung-burung lainnya pada antri minta difoto. Kecuali buat jenis-jenis jaim dan somse saja yang gak mau mampir di kamera. Mereka yang antri difoto antara lain Serak Jawa ras endemik Sumba, Elang Alap Kelabu, Itik Gunung, Srigunting Wallacea, Kacamata Wallacea, Kancilan Emas, Kepudang Kuduk Hitam, dan Delimukan Zamrud. Tidak banyak memang, tapi 6 dari 8 jenis itu adalah list baru buat saya. Lodate il Signore!

So, sodara-sodara semua, pelajaran kedua saya di Sumba adalah, memotret satwa liar tidak boleh tidak sabar, harus sabar, bahkan sangat sabar. Pahami lokasi hunting sebaik mungkin. Gali informasi sebanyak-banyaknya. Tanpa data dan informasi jangan sekali-kali membuat kesimpulan awal. Ojo gampang nuduh!

12 thoughts on “Sumba Part 2: Ojo Gampang Nuduh

  1. ajakin saya ugal ugalan dong… hiks … mantab mas bro
    **wah pinginnya ngajakin semua BWPers pak. biar ugal2annya sempurna!😀

  2. mangkane sampeyan diwenehi ojob ! soale sing duwe sabar ki ojob sampeyan Lik ! wis gak jaman angge coro, diitungi ping telu gak metu, terus dicatet ! wahahaha
    **gak disemprit ta? hahaha…

  3. mas, Serak Jawa Sunda-ne ono pose liyo tho ga? iku bedane seng paling ketoro mbe Serak Jawa asli Jawa opo?
    **gak ono bro. bedane opo yo? lek sing sumba rambute rada keriting kali hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s