Masih Kacip Yang Mengejutkan

featured images-kacip2

Nurdin, partner outdooring terbaik yang pernah saya kenal

Setelah mendapat kabar dari Nurdin, salah satu anggota tim juara BBC 2012, tentang temuan aktifitas bersarang Caladi Tikotok Hemicircus concretus di Kacip, saya langsung menantang dia untuk naik lagi ke sana. Dan serta merta dia langsung menyanggupi ajakan saya itu. Jadilah esok hari setelah rangkaian acara BBC 2012 kelar, saya berdua langsung naik lagi ke Kacip. Segala sesuatunya serba dipersiapan apa adanya. Saking terburu-buru oleh waktu yang mendadak, sampai-sampai kami kelupaan membawa beras untuk bekal 3 hari 2 malam di sana. Jadilah mi instan menjadi menu utama dan satu-satunya.

1. Kuncinya Adalah Batas Kesabaran!

Perjalanan dari kaki bukit Talpat sampai Kacip kami tempuh 2 jam 15 menit. Cukup cepat juga mengingat jam berangkat kami yang cukup sore, daripada kemalaman di tengah hutan, lebih baik kami paksa energi untuk berjalan cepat. Disamping semangat dan rasa penasaran yang menggebu-gebu dalam dada kami untuk segera melihat si Caladi bersarang.

Ok, saya singkat saja ceritanya, males tuh lihat sampeyan yang mbaca tulisan ini mulai ketap-ketip tandan bosen hehehe…

Akhirnya, tanggal 17 Juli pagi sampailah saya di lokasi sarang si Caladi. Wow, posisi pohonnya benar-benar menantang: di atas perengan yang padat penduduk semak belukarnya! Jadilah saya nggotong itu kamera+lensa+ tripod yang beratnya 11 kiloan naik nabrak-nabrak semak belukar! Mana sarapan cuma pake mi lagi!

Sejak kami tiba di lokasi jam 08.00 baru jam 11.30 terdengar suara si Caladi di sekitar. Pertanyaan pertama: kenapa mereka datang sebegitu siangnya? Bagaimana mungkin mereka lalai meninggalkan sarangnya sampai begini siang? Atau jangan-jangan mereka memang belum menempati rumah mereka?

Pada posisi yang kurang bagus untuk ambil gambar, terpaksa adegan kedatangan mereka tidak sempat terekam. Begitu sudah tepat berada di bawah lobang sarang, dan posisi yang sangat cantik untuk menekan shutter panel pun tidak satupun pelatuk kecil berjambul merah itu terlihat. Mungkin dia lagi hang out sebentar, atau tengger di batang atau ranting yang tidak terlihat dari posisi saya berada.

Pohon sarang, lobang, dan si betina yang sempat terekam oleh Nurdin.

Lama menunggu, tidak terlihat juga batang paruh dia. Tapi jelas sekali saya dengar suara patukan tuk.. tuk.. tuk tuk tuk…? Bahkan sampai hampir satu jam suara itu menghantui saya, tapi tidak terlihat wujud makhluknya! Demit tenan manuk iki! Berkali-kali saya pancing dia menampakkan wujudnya dengan sedikit membuat gerakan dan suara-suara whistling lirih pssst… pssst… tapi tetap saja tidak berhasil. Hanya suara tuk… tuk… tuk tuk tuk… saja yang sampai ke telinga saya.

Mungkin karena lapar yang mulai menyerang, dan capeknya jongkok di bawah semak di atas lereng yang cukup miring membuat saya kehabisan stok kesabaran. Berdirilah saya, tegak menghadap pohon sarang, lalu berteriak-teriak sebisanya! Dan barulah saya mengetahui kalau sebenarnya dia sudah berada di dalam lobang sarang! Wooo ncen wedhus! Hilang sudah kesempatan saya mendapatkan foto makhluk cantik ini karena sejak itu dia tidak mau kembali lagi ke pohon itu. Kesabaran hilang, burung pun terbang. Dan tak kembali!

Pertanyaan kedua: kenapa dia mematuk-matuk di dalam lobang sarang? Padahal berdasarkan informasi kilat yang saya terima via sms dari Arif Kutilang begitu saya turun adalah musim bersarang dia antara bulan Mei sampai Juni?

2. SKJB Yang “Menyesatkan”

Sudahlah, lupakan saja Caladi Tikotok. Air mata tidak akan menghapus rasa sesalmu, pun gelak tawa tak akan mampu menyembunyikan gundah kalbumu. Buka lebar-lebar pintu hatimu untuk yang lain. Stok masih banyak!

Masih ngomongin keluarga pelatuk. Setelah si Caladi gagal dieksekusi kamipun menjadi pria-pria opportunistik. Hajar setiap wanita cantik yang nongol di depan mata. Dan wanita paling cantik di hari itu adalah Pelatuk Kumis Kelabu Picus mentalis. Oh yeah… it’s a new record for Baluran bro! Ok, itu memang sangat menggembirakan, tapi inti ceritanya bukan di situ.

Sejak dahulu kala saya menganggap burung pelatuk bersayap merah di Kacip adalah Pelatuk Sayap-merah Picus puniceus. Setidaknya sampai perjalanan terakhir kemarin. Namun setelah saya menyadari bahwa suara yang terdengar sama sekali berbeda dengan suara Pelatuk Sayap-merah selama ini, rasa skeptis saya muncul. Apa iya sih ini si Sayap-merah?

Pelatuk Kumis-kelabu (Picus mentalis) yang sangat mirip dengan Pelatuk Sayap-merah.

Pelatuk Sayap-merah (Picus puniceus), bandingkan perbedaannya dengan Pelatuk Kumis-kelabu.

Setiap pelatuk bersayap merah muncul berpuluh-puluh frame saya habiskan. Semua pose dan angle sebisa mungkin didapat untuk memastikan jenis yang sebenarnya dari burung ini. Dan benarlah! Kecurigaan saya terbukti: ini bukan Pelatuk Sayap-merah, ini saudara kembarnya yang berkumis kelabu!

Dan lagi-lagi kekecewaan saya terhadap SKJB-nya MacKinnon terulang lagi. Ilustrasi dan deskripsi Pelatuk Kumis-kelabu benar-benar berbeda. Dalam deskripsinya, MacKinnon menyebutkan: “… Jambul panjang, berujung kuning, tetapi tanpa warna merah. Kerah jingga dan tenggorokan berpola belang hitam dan putih khas. Daerah malar pada jantan: berpola belang; pada betina: berwarna coklat berangan.”

Kalau deskripsi versi saya tentang ilustrasi MacKinnon: seluruh kepala berwarna hijau kecuali jambul kuning dan tenggorokan bercoret hitam putih. Sedangkan foto yang didapat jelas menunjukkan warna hijau hanya di kekang dan area belakang mata, selebihnya coklat berangan! Dan yang jelas, warna jambul bahkan didominasi coklat berangan, hanya tepi dan ujung jambul saja yang kuning! Sehingga hanya tenggorokan bercoret hitam-putih saja yang menjadi kunci identifikasi pelatuk ini.

Lalu kenapa jadi menyesatkan? Saya masih ingat betul saat saya menilai hasil pengamatan peserta BBC 2012 kemarin. Ada salah satu tim yang membuat sket burung pelatuk dan dinamai Pelatuk Merah! Menurut ilmu pangento-ento (kira-kira) saya, peserta itu mendapatkan pose si pelatuk dari belakang dan sedang menoleh ke samping. Pada sudut seperti itu sangat mungkin dia mengidentifikasi sebagai Pelatuk Merah karena jelas sekali penampakannya yang mirip Pelatuk Merah sesuai dengan ilustrasi SKJB: wajah seluruhnya merah (coklat berangan), dengan jambul merah dan kuning, punggung hijau (mungkin bintik kuningnya tidak terlihat jelas) dan tentunya sayap berwarna merah. Padahal kunci identifikasi ada di tenggorokan yang mungkin saat itu tidak terlihat. Menggunakan kunci kerah berwarna merah (coklat berangan) jelas tidak banyak membantu karena visualisasi dari belakang pasti tidak berbeda nyata.

Untuk foto Pelatuk Kumis-kelabu lebih lengkap silahkan lihat di sini, dan sampeyan akan tahu tidak satupun yang mirip dengan ilustrasi SKJB!

Tapi terlepas dari itu semua, bolehlah kalau saya sebut Kacip sebagai kantongnya pelatuk di Baluran. Setidaknya ada 4 atau bahkan 6 jenis pelatuk yang tercatat di sana: Caladi Ulam, Caladi Tikotok, Pelatuk Tunggir Emas, Pelatuk Kumis-kelabu serta Pelatuk Besi dan Pelatuk Sayap-merah yang tidak menutup kemungkinan juga berdomisili di Kacip.

Pelatuk Tunggir-emas (Chrysocolaptes lucidus)

3. Indah Pada Saatnya

Praktis, pada hari kedua atau hari utama kami hunting foto burung, bisa dibilang tidak banyak tangkapan yang bisa kami bawa pulang. Langit yang tiba-tiba mendung sejak pagi seolah-olah memberi aba-aba buat semua burung di Kacip saat itu untuk tetap berada di rumah masing-masing. Si Caladi Tikotok juga belum berjodoh dengan kami. Untung ada Cekakak Batu Lacedo puchella jantan yang sangat baik hati mau memperlihatkan dirinya. Bukan hanya memperlihatkan kemolekan warna dan kurva tubuhnya, cekakak satu ini bahkan tidak pernah bermasalah dengan manusia kurang kerjaan yang mengaguminya sambil usrek memindah-mindah kameranya kesana kemari untuk dapat sudut yang bagus. Selebihnya, tangkapan lain “hanya” burung-burung umum dan tidak jelas bentuk dan warnanya.

Kacip’s night in front of my tend.

Malam hari, seperti biasa, tidak ada yang lebih menyenangkan selain bikin api unggun, bikin segelas kopi dan sepiring mie… karena memang tidak ada nasinya. Ngobrol kesana kemari sambil sesekali turun ke sungai nyuluh udang hitung-hitung baik buat nambah protein. Oh tidak.. tidak… kita tidak akan hunting burung malam. Mendingan tidur.

Keesokan harinya, sepertinya angin agak berubah arah. Aroma burung-burung cantik seperti sedang ada di depan mata. Dimulai dari hantunya Kacip, Luntur Harimau yang bertengger dengan santainya 5 meter di atas tenda kami. Didahului suaranya yang tidak kami kenal hyek.. hyek.. hyek hyek... membuat saya sama Nurdin cuma saling pandang mesra. Tapi karena posisi sedang tidak siap mbidik, karena sedang asyik nyantap mie instant yang keempat kalinya, maka burung cantik itupun hanya dijepret sekenanya saja, itupun mode IS kok ya pas posisi off!

Tepat sebelum kami beranjak pulang, sejenak setelah packing, tiba-tiba gerombolan burung tidak tahu dari mana arah datangnya menghujani lokasi camp! Didahului oleh Pelatuk Tunggir-emas, lalu Pelatuk Kumis-kelabu terus disusul bersamaan Cicadaun Sayap-biru, Takur Tulung Tumpung, Munguk Beledu, Sepah Hutan, Jinjing Batu, Ciung Air Jawa, Kirik-kirik Senja, Kepudang dan Sungu Kecil. Beberapa jenis pelanduk: Pelanduk Topi-hitam dan Pelanduk Semak sudah nongol sejak hari pertama. Julang Emas dan Rangkong Badak juga berseliweran di hari pertama.

Begitu turun, kira-kira 200 meter dari camp, lagi-lagi Cekakak Batu menggoda. Dan kali ini edisi betinanya. Oh Tuhan, cantik sekali makhluk ini, cantik dan anteng kayak gudir, legi giyur-giyur. Benar-benar berbeda dengan saudara tirinya Cekakak Jawa yang ndableknya bukan main. Setelah puas dengan si cekakak cantik, tidak jauh dari situ, teriakan aneh menghentikan langkah saya: wuitt!! Melengking dengan nada menaik. Dan ternyata seekor burung hitam berparuh kuning, dengan ekornya yang dikembang-kempiskan! Oh Tuhan (lagi), Ciung Batu Siul-kah itu?! Burung yang selama ini hanya terdengar suaranya saja, dan kini dia menampakkan dirinya? Benar-benar di luar dugaan bertemu dengannya di Kacip yang saya sendiri sejak dulu tidak PeDe memasukkan jenis ini ke dalam checklist Baluran. Tapi akhirnya, semua pasti indah pada saatnya. Sudah yang ke-sekiankalinya Kacip memberikan kejutan buat saya. Setelah Elang Jawa di 2009, lalu Rohana nakula di 2011, dan sekarang Caladi Tikotok, Pelatuk Kumis-kelabu dan Ciung Batu Siul yang jadi artisnya.

Ok, jadi berapa nih jumlah total burung di Taman Nasional Baluran? Ditambah dengan penambahan jenis baru selama lomba dan kepastian daftar yang dimasukkan kembali maka kita punya 229 jenis burung yang ada di Taman Nasional Baluran!

Alhamdulilah… selamat puasa hari ke 3.

Monggo kulo aturi ta’jil ngagem iwak manuk saking Kacip…

11 thoughts on “Masih Kacip Yang Mengejutkan

  1. Senajan manuk cepethe, mbok tulung di jepretke sing wuapik, Wiwik Lurik ndik kebon randu.. kan wis tam imbohi manuk siji engkas.. hehe
    **wo iyo dink! hehehehe sori lali! la salahe gambare gak di share. yoh, ngko takgawe bahan posting berikutnya. tenang, lagi akeh materialan ki hehehe…

  2. lah iki…. menebar isu tak bermoral seputar kacip lagi. wes imsak untuk kacip dan sekitarnya. puoso manuk sek, taun ngarep dilanjutaken maneh.
    tetep ciung air jawa idolaku
    **tahun ngarep wes gak ono birding baluran… mblenger lek!

    • gmn kalau tahun depan birding baluran edisi khusus –> Kacip dan Gunung Baluran? kalau banyak new record, mas swiss bisa nambah tidur 1 minggu di sana🙂
      **aku sing wegah, ngopeni anake wong sakmono akehe ng kacip. malah bubar kabeh manuke, jengbro….😀

  3. wah jan manteb tenan, ngerti seng marani pawange dadi do metu kabeh manuk e, tenggor aku, seng metu mung meninting besar.. kudu di baleni kih..
    **iku mung masalah dungane ae bro awakmu sing kurang hehehe…

  4. Hahaha… Nek potone luntur harimau iseh ngunu kui, butuh diapgret doamu han :p

    Anyway, selamat atas banyaknya record baru di Baluran 2012 ini…🙂

  5. […] Namun satu yang pasti, burung-burungnya masih setia memanjakan pengamat burung yang datang. Hanya dalam satu hari pengamatan, beberapa jenis baru yang dilihat oleh peserta menambah panjang daftar kekayaan burung Baluran. Kunjungan 60-an pengamat burung di lomba 2012 ini pun menambah informasi mengenai kehadiran beberapa jenis lain yang sebelumnya tidak tercatat ada di Kacip. Selengkapnya baca saja cerita dari si empunya Baluran mengenai temuan jenis-jenis baru dari Kacip yang disumbangkan para peserta di sini dan juga kunjungannya bersama Nurdin sang pemenang setelah lomba berakhir demi caladi tikotok di sini. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s