Bad Time on A Great Place [photo essay]

Bantimurung day 3. Saya gak tahu apa nama desa ini, tapi saya benar-benar terkesan dengan keindahan bentang alamnya. Sebuah desa kecil, terpencil dan dikelilingi bukit-bukit karst yang menawan

Perjalanan saya ke Sulawesi beberapa bulan yang lalu benar-benar meninggalkan kesan yang… gak tahu harus menyebutnya menggunakan istilah apa? Senang? Biasa? Agak kecewa? Mungkin juga sangat kecewa! Mengunjungi Taman Nasional Bantimurung yang katanya surga kupu-kupu saya justru tidak menemukan satupun yang membuat saya terkagum-kagum. Endemisitas? Saya belum membuktikan dengan mata dan lensa saya. Mungkin kah saya salah musim? Atau konon katanya kawasan karst dengan lanskap sangat indah ini pernah mengalami over hunting terhadap beberapa jenis satwanya. Kupu-kupu sudah pasti target perburuan utama karena kalo sampeyan datang ke sana, puluhan penjual menawarkan dagangannya berupa awetan kupu-kupu dalam jumlah sangat besar! Dari mana mereka berasal? Penangkaran? No way! Saya yakin itu pasti dari alam. Itu baru yang dijual lokalan, belum yang dikirim ke luar kota apalagi ekspor. Tiga kali saya ke Bantimurung, dan mungkin hanya hari terakhir saja saya merasakan sedikit kepuasan melihat bentang alam kawasan karst yang sangat menawan.

Bantimurung day 2. Lamproptera meges (Zinken, 1831), Green Dragontail, satu-satunya kupu yang bisa mengobati rasa ingin tahu tentang tanah surga kupu-kupu Bantimurung

Bantimurung day 2. Dua anak kecil di perkampungan Patunuang, gak dapat foto kupu-kupu, anaknya orang pun jadi korban

Bantimurung day 3. Saya gak tahu apa nama desa ini, tapi saya benar-benar terkesan dengan keindahan bentang alamnya. Sebuah desa kecil, terpencil dan dikelilingi bukit-bukit karst yang menawan

Bantimurung day 3. Masih di desa yang sama. What a peaceful place.

Bantimurung day 3. Si Atun, orang yang bertanggung jawab sehingga saya terdampar di Sulawesi, dan yang menyesatkan saya di Bantimurung. Beberapa hari setelah saya pulang, dia nge-tag foto-foto burung-burung Sulawesi jepretan dia yang bikin saya langsung misuh-misuh!

Bantimurung day 3. Jika sampeyan ingin mengunjungi desa terpencil nan menawan itu, maka satu-satunya sarana transportasi yang ada hanya lewat sungai. Oh God, a lovely place at the worst time!

Dan akhirnya, Bandara Udara Hassanudin. Time to end this weird trip.

One thought on “Bad Time on A Great Place [photo essay]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s