Motret Manuk Neh… Ki Mung Tumben Po Ben Ra Dihujat Bareng2?

Sepertinya aku mulai jatuh cinta sama yang satu ini :D

Saya sampai lupa, kapan terakhir saya motret burung. Apalagi setelah setelah punya istri baru dengan lensa macronya. Lebih apalagi lagi setelah laras panjang andalan sedang opname di rumah sakit dan sampai sekarang belum ada kabar jadi mati atau cacat seumur hidup. Mungkin karena efek ngerjain buku burung edisi Inggris kali ya? Rasanya kok sampai muneg-muneg kalo lihat burung.

Catatan penting 2010, Ceyx rufidorsa oleh Imam Taufiqurrahman

Berawal dari BBC 2011 kemaren saat saya ditunjukin foto Ceyx rufidorsa oleh peserta dari Kepulauan Ceko, si Petr. Saya langsung kaget, terperangah, terengah-engah, gemeteran dan hanya keluar dua kata F… M.! Disusul fotonya Imam dengan korban yang sama, keluar lagi dua kata M….. A..! Saya sama sekali tidak mengira kalo ada Ceyx di Baluran. Karena berdasarkan pengalaman ketemu Ceyx di Bali Barat, dia itu sukanya sama hutan yang rapat, lalu dia nangkring di ranting yang rendah atau akar pohon yang dekat dengan air. Nah itukan bukan Baluran banget, meskipun ada juga sih spot-spot kayak gitu. Proficiat!

Tangkapan pertama di Curah Uling

Besoknya kebetulan Lek Hari Karimun mengajak saya mengunjungi lokasi kejadian. Tanpa pikir panjang, ikut aja lah. Dan ternyata memang di sana tempat ngumpul burung. Benar-benar tidak pernah kusangka selama ini kalo tempat ini adalah tempat terbaik motret burung. Setidaknya saya bisa ketemu sama Tepus Pipi-perak, Gelatik Jawa, Kehicap Ranting, Cekakak Jawa, kelompok Columbidae dan Pelanduk Topi-hitam. Padahal kalo setiap masuk ke Bekol pasti nglewati-nya. Kalo katanya Imam, “Gajah di pelupuk mata tak kelihatan”. Padahal gajahnya juga sudah mencak-mencak, masih saja gak keliatan! Pancen matane sing bosok!

Adalah Curah Uling, curah terdekat dari Evergreen, curah dimana setelah masuk musim kemarau dia masih menyisakan beberapa ratus liter air yang digunakan satwa minum maupun mandi. Tapi karena struktur tanah di Baluran tidak bisa menyimpan air dengan baik, cekungan air hujan itu tidak berumur lama untuk berada di sana. Kalo gak salah hanya 2 hari sejak BBC 2011 cekungan air itu sudah kering. Padahal hujan terakhir terjadi 2 hari sebelum BBC.

Tangkapan kedua. Delimukan Zamrud si pelanggan setia

Ok, jadi kalo gitu, untuk mendapatkan foto Ceyx rufidorsa saya harus mempertahankan air yang berada di Curah Uling. Sebenarnya ini sudah saya rencanakan sejak tahun lalu, tapi karena tahun kemaren banyak hujan seperti akan agak sia-sia. So, sepertinya sekarang adalah waktu terbaik. Percobaan pertama, saya guyur air sebanyak 400 liter. Tapi tidak sampai 24 jam sudah mengering lagi. Kalo begitu harus ditambahi sesuatu yang kedap air. Kebetulan ada bekas bak air minum satwa yang gak kepake di kantor dan di tepi jalan Batangan-Bekol. Saya pindahkan saja mereka di sana. Saya isi air lagi dengan volume yang sama lalu saya diamkan sehari supaya cooling down dulu. Sapa tahu pas proses pemasangan dan pengisian air cukup mengganggu warga di sekitar Curah Uling.

Kipasan Belang, sebenarnya gak susah motret dia, tapi kali ini dia keliatan sifat aslinya: narsis pol!

Esok harinya, atau kemarin sore, saya meluncur ke sana bermodal lensa 70-300 (hampir separo panjang lensa biasanya) pinjeman teman dan 50D pujaan saya. Dan yang terpenting adalah jubah kamuflase. Tapi untuk jubah ini akan saya buat tulisan tersendiri aja deh. Intinya, jangan harap dapat foto bagus tanpa pake alat silap mata kayak gituan.

Pelanduk Semak, salah satu burung yang susah difoto akhirnya kecantol juga😀

Amazing! Lensa 300 tapi hasilnya jauh lebih baik dari lensa 500! Benar-benar menyenangkan! Perut lapar langsung terasa kenyang! Burung-burung hantu (karena seringnya cuma ketemu sekelebatan saja) keluar, meskipun tidak semua. Dan mereka seperti model profesional saja, bergaya macam apa, mau habisin berapa giga, berapa ratus frame, terserah!

Salah satu burung "hantu", Delimukan Zamrud

Ah, Delimukan Zamrud lagi!

Sepertinya aku mulai jatuh cinta sama yang satu ini😀

Satu hal yang perlu diketahui, saat memasuki musim kemarau, air di Baluran adalah barang paling mahal. Air tawar, bukan air laut. Menyediakan air tawar di Baluran pada musim kemarau berarti mengundang para satwa datang ke situ. Tinggal ditunggui saja, satu demi satu satwa-satwa itu akan berdatangan, termasuk burung.  Tentunya ini sangat sah dalam dunia wildlife fotografer. Karena hanya satu hal yang diharamkan baik dalam dunia wildlife fotografer maupun kita orang kehutanan yaitu KONTAK FISIK dengan satwa. Mungkin hal yang perlu dipehatikan adalah lokasi penempatan bak air. Tidak semua tempat disukai burung meskipun ada airnya. Jadi, observasi pendahuluan itu sangat penting.

Barusan ada yang komen di Facebook, “Kebo giraz giraz motret manuk neh… ki mung tumben po ben ra dihujat bareng2?”

Selamat puasa, jangan lupa banyak beramal😀

10 thoughts on “Motret Manuk Neh… Ki Mung Tumben Po Ben Ra Dihujat Bareng2?

  1. Weis, ane juga lagi belajar motretin burung-burung nih. Semoga bisa berbagi pengalaman.

    mampir blog ane, ane baru posting foto burung.

    salamkenal!
    **salam kenal juga mas Agung. yup, semoga saya juga bisa belajar banyak dari sampeyan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s