Refreshing dengan Bekerja ala PEH Baluran

IMG_0190_resize

Akhirnya, setelah pusing dengan semua yang ada di kantor, ekspedisi Labuhan Merak adalah opsi paling logis untuk melarikan diri dari kepusing-pusingan itu. Salah satu agenda bulanan PEH bulan ini. Tapi bukan berarti kita njuk nyante-nyante lo ya. Karena emang sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan PEH, kita selalu bekerja dengan riang gembira. Dan Labuhan Merah adalah resort paling jauh dan paling “primitif”. Tidak ada listrik, sinyal, jalan berbatu yang berkelok dan jauh, dan air menimba sendiri. Jadi kenapa ini menjadi opsi paling logis? Karena kita benar-benar terisolir.

Tim Labrak minus Mang Ucup, Siswo dan Nanang

Meskipun tidak full team, ekspedisi kali ini tetap tidak kalah meriah karena kawan Siswo sudah menyiapkan 4 ekor ayam kampung yang siap dikorbankan. Ditambah 6 biji anak PKL dari UM yang semuanya cewek! Wow YES!

Ada beberapa data dan uji coba perlakuan yang harus kita lakukan di LabRak. Pertama, mencoba membasmi kaktus yang konon merupakan spesies asli dari Meksiko dengan cara dipotong dicabut sampai akarnya. Pertanyaan yang harus terjawab adalah apakah sisa-sisa biji atau buah kaktus ini bisa meneruskan orang tuanya yang tewas di tangan PEH, atau mungkin akar yang tertinggal. Setidaknya uji coba ini meminta 3 korban, saya, Wahono sama Maryono harus nyengir-nyengir semalaman karena duri kaktus yang nancap di jari-jari kita dan ndlesep gak bisa keluar.

Sapi... sapi... sapi... dan masih sapi...

Kedua, kita ngambil data jumlah sapi peliharaan masyarakat LabRak yang konon bisa mencapai ribuan itu. Dan benar, sampai sekarang, quick count kita menyebutkan sapi di LabRak sudah mencapai 1080an kalo tidak salah. Semoga hitungan final segera selesai. Jumlah itu belum termasuk sapi yang masuk dari perkampungan di berbatasan kawasan. Jadi sampeyan bisa bayangkan berapa banyak sapi yang merumput di Baluran. Atau sampeyan mau investasi memelihara sapi di sini?

Ketiga, kita menganalisa vegetasi yang ada di curah-curah. Curah, meskipun tidak dialiri air tapi memiliki tutupan yang sama sekali berbeda dengan tempat lain di LabRak. LabRak adalah resort dengan dominasi savana yang jauh lebih savana dari Bekol. Savana di sana sangat luas dengan jenis-jenis rumput yang jauh lebih baik dari Bekol sebagai pakan satwa. Nah, di sepanjang curah-curah inilah pohon-pohon besar dan ribun ditemukan. Kita ingin tahun jenis apa saja sih yang ada, siapa tahu menunjukkan tipe vegetasi yang khas.

Keempat, kita meng-assessment bekas kebakaran minggu lalu yang menyerang savana di LabRak. Wow, kebakaran! Sebuah pertanda baik karena Baluran yang sesungguhnya sudah kembali. Dan perlu diketahui bahwa kebarakan adalah salah satu proses suksesi penting untuk menjaga tipe hutan di Baluran. Di savana, mekanisme alam akan kebakaran ini akan menjaga jenis-jenis rumput dari serangan hama. Jadi, spesies yang bisa bertahan di sana adalah jenis asli yang tidak pernah bermasalah dengan api, spesies baru yang biasanya adalah hama akan kesulitan bertahan jika dihajar terus sama api.

Behind the Scene

Selesai melakukan pendataan hari pertama, menghabiskan sore hari di Pantai Sijile adalah pilihan terbaik. Apalagi bulan ini posisi Matahari berada di utara sehingga kita bisa menikmati matahari yang perlahan pulang ke peraduannya. Di kiri ada gunung, belakang savana dan di depan kita wajah matahari yang lembut beranjur-anjur menghilang.

Malam hari, seperti yang sudah direncanakan, menghabisi empat ayam punya kawan Siswo lalu dibakar rame-rame. Adakah makanan yang lebih enak selain ayam bakar di hutan? Apalagi kalo makannya rame-rame bareng kawan seperjuangan. Jeng Nia, satu-satunya PEH cewek yang ikut menjadi jenderal dapur yang mengkoordinir teman-teman PKL yang wow yes itu! Pak Amir, anggota resort LabRak yang ikut ngawal kita sebagai komandan perapian. Pak Wid sebagai eksekutor dan pembetet ayam. Nanang, Sutadi dan Siswo menjadi aktor intelektual yang akan menghabisi si Maryono yang kebetulan ultah. Tahu apa yang disiram ke kepalanya Maryono? Kuah bumbu ayam sebelum dipanggang: berminyak, lengket, tur mambu. Jeng Nia yang juga ultah sejak awal sudah menyatakan damai jadi dia harus nraktir kita makan-makan.

Tahu gak kegemaran PEH? Pertama ngerjain orang lain, kedua gaple. Kegiatan minggu lalu di sungai Bajulmati saya harus pulang gak pake baju karena habis dihajar anak-anak sialan itu! Sejak datang di pos LabRak, sandal Nanang sudah hilang sebelah. Tas Nia sudah berisi remahan roti dan ketela bakar. Sehabis makan ayam bakar, acara wajib adalah gaple. Sampai jam setengah satu. Dan hebatnya, saya yang kebetulan satu boloan sama Mang Ucup menghajar habis-habis Nanang yang satu tim sama Toha. Nanang adalah juara bertahan liga gaple Baluran musim 2009-2010 lalu. Dan satu skor itu diperoleh secara GAPLE! Skor gaple adalah ketika sampeyan berhasil menutup pertandingan (membuang kartu terakhir) dengan balak 6!

Sepertinya, karena dikalahkan sama pemain U18 macam saya, Nanang gak terima. Dia pun melampiaskan dengan cara ngerjain anak-anak yang sudah tidur. Korban utama adalah Pak Wid yang kayaknya pules banget tidurnya. Dia ambil tutup panci lalu dijatuhkan di dekat persemayaman Pak Wid. KROMPRENGGGG….!! Karena kaget, Pak Wid langsung mancal apa saja yang ada di sekitarnya, untung gak ada kepala tergeletak di sana. Lalu tidak lama kemudian keluar suara nggereng dari mulut Pak Wid. Dia terbangun, duduk, sambil terus mengeluarkan raungannya itu. Meraung dan terus meraung! Wooo Pak Wid Kesurupan! Kesurupan tutup panci! Ah sayang, saking ikut bingungnya saya sampe lupa gak mengabadikan historical moment itu!

Nanang, pelaku utama dan penyebab keluarnya ilmu Singo Mbleyer Pak Wid jadi klejingan. Bingung tiada tara dia. Nah kon! Modar! hahahaha… Tetapi berdasarkan informasi dari Mbah saya yang berbisik dalam sukma saya, katanya itu tidak apa-apa. Cuma penyakit klemendo yang belum ditemukan vaksinnya. Jadilah semua orang bangun bingung lihat penyakit klemendo Pak Wid yang sedang kambuh. Semua pada ngeluarin ilmunya masing-masing untuk menyembuhkan. Mang Ucup langsung merapal rumus matematika sambil mengusap-ngusap di atas kepala Pak Wid. Nanang memeluk mesra Pak Wid sambil meraba-raba dadanya. Yang lainnya bergantian nyebut: “Sudah Pak, nyebut. Sudah malam. Sabar Pak”. Lalu sekonyong-konyong Sutadi datang bawa air yang langsung disemburkan ke muka Pak Wid. Gak tahu itu air diambil dari mana.

Benar-benar malam yang tiada tergantikan! Dan sejak saat itu, mungkin sampe beberapa hari ke depan, semua orang PEH kalo bicara diiringi nggereng-nggereng hehehe…

Besoknya, drama usil-mengusil itu belum selesai. Dompet saya tiba-tiba berisi telor goreng, jaket saya ada sambel terongnya. Begitu juga sepatu Nanang, jaket dan tasnya. Bahkan dia harus pulang gak pake helm karena begitu helm dipake katanya bau batang (bangkai) hahaha… padahal itu habis diolesi terasi!

Yah begitulah PEH Baluran. Bahkan Pak Yusuf Sabarno, mantan koordinator kita yang terkenal sabar, pendiam dan beriman itu juga gak lepas dari tangan-tangan usil PEH. Pernah sehabis slulup di laut, tas beliau sudah berisi BH basah ukuran sekitar 36. Dan gak tahu gimana proses transfer materinya, kok tiba-tiba bisa pindah ke tas saya!

Tapi kita punya teori: semakin sampeyan dikerjain berarti sampeyan dicintai, karena semakin sampeyan didiamkan berarti sampeyan semakin tidak dipedulikan.

Ohya, ada satu lagi yang mau saya sampaikan. Kemanapun anda pergi, jangan lupa bawa kondom sebagai wujud kasih saya kepada pasangan anda seperti yang di-iklankan oleh kedua PEH Baluran ini

Love you all guys!

5 thoughts on “Refreshing dengan Bekerja ala PEH Baluran

  1. PKL skligus liburan yang sangat menyenangkan dan juga sulit untuk dilupakan,,,
    org2 PEH yang gag ad matinya dalam usil mengusil,,huuhuu

  2. hahahaha.. nice .. closingnya bagus baget dengan foto “kondom” sgala. kebetulan saya kenal lelaki yang kanan itu, Nanang gila. hahahaha.. good..
    **ya gila dan kadang2 agak budeg hahaha… salam kenal mas Agus😀

  3. ngakak.com…….gimana bisa dlm dompet ada telor goreng mas..weleh weleh…
    salam kenal dari orang seberang (Bukit12 NP)..nice blog,tak bosan rasanya klik,klik,klik…dan klik…
    **hehehe… ya begitulah mbak, PEH Baluran. salam kenal juga, terima kasih sudah mampir di Baluran and Me trus klik, klik, klik…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s