Kupu-kupu Baluran, Keindahan yang Terlewatkan [photo essay]

macro-10_resize

Zizina otis. Canon 50D + Tamron 90mm macro. 1/320. f/7.1. ISO 400.

Saya tidak mau membandingkan Baluran dengan Bantimurung. Saya ndak berani. Takut kuwalat. Tapi kalo saya boleh bertanya kepada sodara-sodara semua, adakah tempat indah minimal di Jawa dengan kupu-kupu bertaburan dimana-mana selain di Baluran? Jika sampeyan datang ke Baluran, pada musim yang pas, sampeyan akan dihibur oleh ratusan bahkan ribuan kupu-kupu yang betebaran mulai dari gerbang utama sampai Bama. Gak percaya? Kayaknya gak mungkin ya tempat sekering Baluran bisa dipenuhi dengan begitu banyak kupu-kupu? Jenisnya juga gak tanggung-tanggung, sejauh ini yang sudah teridentifikasi sudah 73 jenis. Itu data baru diambil di sepanjang jalan Batangan-Bekol dan sekitar kawah gunung Baluran (Kacip).

Flock Everes lacturnus. Canon 50D + Tamron 90mm macro. 1/500. f/5. ISO 320.

Everes lacturnus bisa dikatakan keluarga Lycaenidae yang paling umum selain Castasilus rosimon. Saking umumnya, sekali mereka berkumpul akan membentuk flock dalam jumlah besar. Setiap kelompok besar selalu didominasi oleh satu jenis.

Nikon D200 + Sigma f/5-6.3 170-500mm. 1/3000. f/6.3. ISO 800.

Catopsilia pomona. Nikon D200 + Sigma f/5-6.3 170-500mm. 1/160. f/8. ISO 140.

Sungai Kacip. Nikon D200 + Sigma f/5-6.3 170-500mm. 1/3000. f/5. ISO 800.

Cyrestis nivea. Nikon D200 + Sigma f/5-6.3 170-500mm. 1/250. f/6.3. ISO 280.

Dua foto teratas adalah flock kupu terbesar yang pernah saya temukan di Baluran. Foto kedua adalah yang terbanyak. Hal yang paling saya sesalkan adalah lupa menghitungnya. Kupu-kupu dalam jumlah besar segitu sudah sangat melenakan dan membuat saya sibuk sendiri dengan kamera. Mencoba berganti-banti angle dan setingan kamera untuk dapat foto terbaik. Saking bingungnya, saya sampei lupa mengganti lensa panjang dengan yang lebih wide. Foto ketiga adalah kaki kawan saya, Batak, saat kami melakukan ekspedisi Elang Jawa di kawah gunung Baluran. Pemandangan seperti itu nyaris saya temukan di sepanjang sungai Kacip. Kupu-kupu itu berkumpul di pasir yang tidak terendam air, bahkan kering. Foto keempat adalah Cyrestis nivea, jenis minoritas, yang kadang harus keluar dari barisan. Bagus bagi saya karena dengan begitu ada variasi angle dan POI. 

Castasilus rosimon. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/320. f/9. ISO 800.

Castasilus rosimon adalah jenis terbanyak kedua setelah Everes lacturnus. Persebaran mereka juga sangat merata. Dan layaknya kelompok mayoritas, kalau sudah tiba acara arisan dunia jadi milik mereka sendiri, jenis lain cuma absen lewat.

Ok, jadi pertanyaannya adalah kenapa kebanyakan mereka ditemukan di permukaan tanah? Bukannya yang namanya kupu-kupu “harus” berada di atas bunga yang indah sambil menghisap nektar?

Jamides celeno. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/250. f/7.1. ISO 500

Catochrysops strabo. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/80. f/6.3. ISO 600

Ah, ternyata mereka juga sedang menghisap sesuatu. Jadi bukan hanya nektar saja konsumsi biologis mereka. Keluarga kupu-kupu memerlukan mineral dan sodium lebih banyak dari apa yang sudah disediakan oleh bunga melalui nektar, nektar hanya menyediakan gula. Mineral dan sodium ini dihisap menggunakan alat khusus yang disebut proboscis.

Acytolepis puspa. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/160. f/7.1. ISO 320.

Nikon D200 + Sigma f/5-6.3 170-500mm. 1/1250. f/6.3. ISO 800.

Tidak cukup dengan nyedot mineral dari tanah. Tapi mereka juga nyedot bangkai bekicot (atas) dan feses satwa (bawah). Saya jadi sedikit mengerti kenapa banyak yang bilang kalau ingin mengundang kupu-kupu, kencingi dulu. Bahkan kupu-kupu seindah Graphium antiphates tidak ikut ketinggalan rebutan barang “menjijikkan” itu. Atau di situlah letak keindahan alam, bahwa tidak ada yang menjijikkan pun tidak ada yang menggiurkan. Semuanya indah karena masing-masing elemen menyimpan fungsi dan manfaat. Siapa yang menyangka kalo yang pertama kali menyantap feses justru makhluk yang selama ini dianggap mewakili unsur keindahan di alam?

Baik, kalo begitu mari kita kembali ke yang indah-indah saja. Ke yang bagus-bagus saja.

Ixias venilia. Nikon D200 + Sigma f/5-6.3 170-500mm. 1/250. f/6.3. ISO 250

Pithecops corvu. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/80. f/4.5. ISO 800

Zeltus amasa. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/125. f/6.3. ISO 800

Endemik, jarang, dan menarik. Ketiga foto di atas mewakili ketiga hal itu. Ixias venilia adalah salah satu kupu endemik Jawa-Bali. Tidak diketahui statusnya sekarang. Pithecops corvu adalah salah satu jenis kupu yang jarang. Tidak tahu apa ukuran jarang, apakah karena semata-mata dia jarang ditemukan atau apa? Yang pasti lycaenid satu ini berukuran sangat kecil yang mungkin membuat dia sering terlewat oleh pengamat. Lagian jumlahnya pun tidak banyak juga yang ditemukan di Baluran. Lokasi pertemuan sejauh ini juga hanya sebatas di hutan Evergreen. Dan yang terakhir Zeltus amasa, lycaenid yang sangat menguras perhatian yang akhirnya berimplikasi menguras energi. Benar-benar jinak-jinak kupu-kupu. Sekilas seperti cuek, bertengger kesana-kemari kayak seenaknya, tapi begitu didekati kabur seenaknya juga.

Allotinus unicolor. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/160. f/2.8. ISO 800.

Eh ada yang sedang mating! Perkawinan dalam keluarga kupu-kupu sangat bervariasi mulai dari daerah temperate sampai tropis. Antara satu kali setahun sampai dua kali. Semakin menuju daerah tropis, intensitas perkawinan cenderung mengalami peningkatan. Jadi beruntunglah Indonesia yang berada di daerah tropis. Sudah seharusnya kita lebih kaya. Allotinus unicolor ini kepergok mesum pada sore hari. Saya kurang tahu apakah memang ada waktu-waktu khusus bagi mereka untuk melakukan perkawinan. Dalam satu sore itu, di halaman belakang kantor saya yang tidak terlalu luas, saya temukan kurang lebih 5 pasang A. unicolor yang sedang kawin. Apakah ini dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari?

Satu hal yang saya masih heran. Adegan persenggamaan kupu-kupu teryata tidak asik. Keduanya cuma diam saja. Tanpa gerakan erotis apalagi akrobatik. Saya jadi heran, gimana caranya sperma si jantan bisa keluar kalo cuma diam gitu aja? Ya diapain gitu lah?!

lycaenidae. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/200. f/6.3. ISO 640.

Ini adalah foto kupu-kupu yang paling saya sukai. Gak tahu kenapa, tapi saya menangkap banyak komposisi garis yang menarik dari foto ini. Dan yang jelas saya gak perlu repot-repot mengidentifikasinya. Langsung masuk folder x_sp!

Udara akasa. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/250. f/4.5. ISO 640

Zizina otis. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/640. f/6.3. ISO 800

Zizina otis. Canon 50D + Tamron f/2.8 90mm Macro. 1/1000. f/6.3. ISO 800

Ok, sebelum saya sudahi. Sedikit tips dari saya jika sampeyan mau motret kupu-kupu. Anggap saja saya adalah fotografer hebat, jadi percaya saja. (1) Sampeyan harus pegang kamera spek macro. Boleh poket, kompak SLR atau DSLR yang jelas dengan lensa macro. Kalo gak punya lensa macro bisa ditambahi extension tube supaya lensa sampeyan disulap jadi lensa macro. (2) Pilih waktu terbaik. Yang jelas pagi hari, karena cahaya pagi menyediakan cahaya yang tidak terlalu terik. Cahaya yang cenderung lembut akan menghasilkan warna yang lembut pula. Belum lagi kalo ada background embun. (3) Ambil angle terbaik. Dengan memanfaatkan background embun dan backlight dua foto terbawah bisa menghasilkan bokeh yang bagus (memuji diri sendiri). Setelah posisi sudah dapat yang enak, tinggal sampeyan mainkan saja seting kamera. Yang berperan penting di sini adalah bukaan apperture kamera sampeyan. Semakin besar bukaan akan menghasilkan bulatan-bulatan bokeh yang semakin lembut. Hati-hati kalo bermain backlight, jangan sampai foto sampeyan malah under karena itu sama dengan failure mission, comrade!

Selamat menikmati Baluran… selamat menikmati Indonesia…

15 thoughts on “Kupu-kupu Baluran, Keindahan yang Terlewatkan [photo essay]

  1. Jujur saya sulit mencari kata2 untuk menunjukan respon emosional saya waktu melototin foto2 ini.

    jauh lebih mudah menuturkan dgn cara logis : kawasan konservasi diemohi karena kegagalannya menunjukan sesuatu. Fotomu masbro, menunjukkan baluran banyak sekali.
    Terima kasih kerja kerasnya mas bro.
    **matur tengkyu pak bro. kita kan cuma melaksanakan apa yang perlu dilaksanakan. saya kira banyak juga kawasan2 konservasi yang punya banyak potensi, cuman masalah kita kan belum sigap mengemaskan menjadi sebuah informasi yang dibutuhkan oleh common community (opo meneh iku? :D)

  2. ‘Anggap saja saya adalah fotografer hebat’
    pancen wes dadi potograper hebat. potone ra enek sing elek,,,,
    **ngenyeekk…😀

  3. subhanallah…benar2 indah rombongan kupu2nya kang, ternyata baluran menyimpan potensi yg luar biasa, semoga kelestariannya terus terjaga

    salam dari malang,
    **makanya kesini, lihat siaran langsungnya😀. n makasih dah mampir di Baluran and Me…

  4. saya mau ke baluran tanggal 23 maret.. kira2 pas musim kupu2 seperti ini ga ya.. jatuh cinta!
    **pokoknya sampe masuk musim kemarau, puncaknya ya pas akhir penghujan dengan catatan ada cahaya matahari mbak.. jadi, semua kita kembalikan ke alam😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s