When You Love Another Species


Mungkin ini adalah pertama kalinya saya meresensi sebuah film. Bukan kebiasaan saya, karena bagi saya nonton film ada hiburan, gak usah direcoki dengan embel-embel seperti bikin resensi. Tapi kali seperti saya terpaksa harus menulisnya. Alasannya adalah, pertama, sampai sekarang saya masih terngiang-ngiang setiap scene film ini. Kedua, saya bisa melihat arti sebuah cinta yang sejati dari kisah dua makhluk kecil dalam film ini.

Yah, cinta yang sejati. Saya, anda, kita semua, pernah mengalami itu: cinta sejati tanpa dibumbuhi kepentingan nafsu biologis, doktrinasi agama, desakan adat istiadat atau sekedar kegilaan sesaat. Waktu itu saya masih SD, bagaimana dengan anda?

Owen, sebenarnya adalah seorang anak yang baik, tapi perceraian orang tuanya dan ulah teman-teman sekolah yang sering mengganggu dia, membuat dia tumbuh menjadi anak yang secara psikologis kurang sehat. Tapi bukan gila atau paranoid. Dia hanya butuh kehangatan dan perhatian lebih. Sampai kemudian dia mendapat tetangga baru. Seorang gadis bernama Abby dengan “ayah”-nya. Dari sinilah cerita berawal.

Cerita tentang seorang anak yang polos dengan segala pengaruh lingkungan keluarga dan sekolahnya kepada gadis cantik yang ternyata adalah vampir. Bagaimana mungkin dia bisa mencintai seorang vampir yang setiap malam membutuhkan darah manusia untuk mempertahankan hidupnya? Tapi pertemuan pertama mereka di bangku besi di halaman komplek rumah susun tempat mereka tinggal terlalu berharga. Pertemuan selanjutnya, di tiap malam hari, akhirnya seperti waktu terbaik untuk memulai menjalin letupan isi hati mereka. Yah, mereka jatuh cinta. Tiap malam mereka bertemu dan bermain. Owen bahkan berani mencuri uang ibunya supaya bisa mengajak Abby jalan-jalan, pergi ke game center, beli permen berdua. Meskipun Abby sadar dia tidak bisa makan atau minum selain darah segar manusia.

Suatu ketika, Abby memberanikan diri bertanya kepada Owen, “Owen, do you like me?”

“Yeah…” jawab Owen dengan sedikit keraguan, tidak menyangka akhirnya Abby menanyakan itu, “A lot…” lanjut dia. Abby adalah gadis pertama yang menanyakan itu setelah semua teman sekolah Owen menganggap dia adalah anak yang lemah atau bahkan aneh.

“Would you still like me… even if I wasn’t a girl?” lanjut Abby dengan raut muka yang… bukan sedih, tapi raut muka bocah kecil yang tidak mau kehilangan seorang teman. Teman yang dia suka padanya.

Hmm.. bagaimana ya kalo aku yang ditanyain kayak gitu? Hidup semati sama vampir?

Tapi jangan-jangan mirip sama Twilight? Oh tidak, sama sekali tidak sama! Memang dari sisi pemilihan ide cerita bisa jadi sama, tapi jalan cerita dan dramatisasinya sangat berbeda. Film ini hampir tidak dibumbuhi adegan heroik dan tubuh kekar nan menggairahkan pun wajah-wajah ganteng tapi lebay.

Di akhir cerita, ketika Owen memutuskan minggat dari rumahnya dan memilih hidup nomaden bersama kekasih cinta pertamanya, penonton sedikit mendapat gambaran bagaimana kehidupan mereka 30 atau 40 tahun ke depan. Si “ayah” yang menemani Abby pindahan rumah sebenarnya bukan ayahnya, tapi dia adalah bocah kecil yang dulunya juga jatuh cinta kepada Abby dan memutuskan memilih hidup bersamanya. Sampai tua, sehingga mirip ayahnya Abby, dia terus berada di sisi Abby sampai akhir hayatnya: menyerahkan lehernya untuk di-cucup darahnya oleh kekasih sejatinya.

Penyajian emosi seorang bocah kecil yang mencintai lawan jenisnya adalah keunggulan film ini. Sang sutradara benar-benar jeli memilih aktor-aktris yang menjadi tokoh utamanya. Abby yang diperankan oleh Chloe Moretz mampu membuat saya, dan dua penonton di sebelah saya, tidak berpikir dia adalah vampir yang suka minum darah manusia, bahkan ketika mulutnya belepotan cairan kental berwarna merah. Pun, Owen yang diperankan oleh Kodi Smit-McPhee dengan sempurna menampilkan bocah dengan kondisi psikologi yang lemah. Dia membiarkan Pak Polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan oleh vampir itu tewas di-cucup darahnya oleh Abby. Hatinya yang didera asmara tidak mampu melawan perbuatan “pembunuhan” itu.

Percayalah, film ini akan menggugat kembali kesadaran kita tentang apa itu cinta. Cinta sejati yang mungkin nyaris hilang dari sejarah hidup kita. Cinta sejati yang anda tambatkan kepada gadis pertama yang anda temui dalam kehidupan anda. 20 atau 40 tahun yang lalu. Pada akhirnya cinta sejati tidak memandang ras atau spesies. Waktu hanya tipuan karena cinta sejati adalah immortal. Hidup mati ternyata sebuah jebakan karena cinta sejati tidak akan pernah terbendung oleh jasad.

3 thoughts on “When You Love Another Species

  1. hemm…. jajal peran si Owen mbok ganti mas… Bubrah kabeh,… Piss…
    **pokoke dudu kowe ae bro… langsung tutup beskope haha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s