Aa’ Gym, PSSI dan Poligami Kebangsaan


Mempunyai keinginan lebih, sebagai sifat dasar manusia, itu harus bisa dipahami. “Lebih” itu bisa bermacam-macam, lebih banyak, lebih baik, lebih canggih, lebih cantik, lebih mahal, lebih langsing, lebih montok, lebih baik tidak kurang, lebih kurang cukup, lebih sedikit asal untung, lebih cepat lebih baik, dan masih banyak lebih lebih yang lain. Jikalau ada orang yang justru berpikir dan berbuat sebaliknya, justru ingin yang kurang, apakah itu bisa dipahami? Bisakah dealektika budaya kita menerimanya? Adakah hukum ekonomi yang bisa menemukan rumus logikanya? Teori psikologis mana yang bisa menjelaskan? Atau bagaimana cara anda membayangkannya?

Rumah dibangun meninggi supaya bisa nampung orang lebih banyak dengan tidak menambah luasan tanah yang harganya semakin mahal. Semasa Mak Erot masih gesang, gak ada sepinya itu orang yang ingin melebihkan panjang dan diameter daging tumbuhnya. Orang pergi ke pusat elektronik untuk cari hp yang lebih canggih, kipet kwerti atau layar sentuh OS Android. Para ibu dan gadis pada minum obat pelangsing biar lebih langsing karena emang gak ada istilah biar kurang gemuk (malah ambigu). Rayuan gombal dilontarkan seorang pemuda kepada wanita pujaannya biar lebih romantis –> Silahkan tambah di kolom comment di bawah kalo masih punya lebih lebih yang lainnya😀. Jadi intinya semua ingin lebih.

Lalu sekarang orang-orang pada rame ngrasani Aa’ Gym yang ingin (maksudnya udah) punya istri lebih. Poligami atau poligarwo dalam bahasa Jawa, poli=banyak, garwo=istri dalam kosakata krama inggil bahasa Jawa. Yang jelas banyak yang menyayangkan. Tapi sekali lagi, sebagai manusia biasa yang mempunyai sifat dasar ingin mendapatkan lebih, apakah Aa’ salah? Saya tidak sedang membela atau menghakimi seseorang. Pun mari kita gak usah ikut-ikutan ngrasani rumah tangga orang lain. Ini adalah… belajar membaca teks kehidupan yang kebetulan Aa’ sebagai alat peraganya.

Jadi adakah yang keberatan kalo orang sekaya dan seganteng Aa’ punya istri lebih dari satu?

“Saya gak terima, Cak! Karena itu menyakiti hati orang lain, yaitu istrinya sendiri!” protes seorang mahasiswa saya yang duduk paling pojok.

Kenapa bisa sakit? Karena cemburu? Perhatian berkurang? Belanja telat? Cemburu adalah ekspresi cinta yang besar namun -mungkin- tidak mendapatkan respon yang seimbang. Kira-kira gitu ya? Respon yang tidak seimbang itu yang bisa berupa perhatian berkurang, senyum jarang-jarang, belaian apalagi. Kalo masalah belanja telat ntar dibahas di SKS semester depan aja😀. Ato pada kuliah kali ini kita ambil saja kisi-kisinya.

Nah, artinya ada yang berubah. Itu pasti. Buktinya Aa’ dengan Teh… siapa to namanya? heheh kok aku lupa. Ntar googling dulu… oh ya, Teh Rini! Buktinya Aa’ dengan Teh Rini kabarnya cerai. Dalam komplektitas hukum fisika, segala sesuatu di dunia ini tidak ada akibat tanpa sebab. Cerai! Apa yang menyebabkan!

Bahwa energi itu kekal, tidak bertambah dan tidak berkurang, itu adalah hukum alam. Menurut hukum Termodinamika, perubahan energi internal dari suatu sistem termodinamika tertutup sama dengan jumlah dari jumlah energi panas dipasok atau dikeluarkan dari sistem dan kerja yang dilakukan pada atau oleh sistem. Jadi energy itu tidak berkurang atau bertanah, tapi berubah wujud, materi dan sifatnya saja. Cinta, jika kita sebut dia sebagai sebuah energi maka harus mematuhi hukum termodinamika itu. Jika energi cinta harus memasok satu sistem termodinamika baru sedangkan sistem lama tidak mau direduksi pasokan energinya, maka apa saja pilihannya? Pertama, salah satu sistem harus dikurangi pasokan energinya untuk mensubsidi sistem yang lain. Kedua, suplai energi sama seimbang, yang artinya ini membutuhkan pasokan energi tambahan lebih yang membutuhkan energi eksternal yang jauh lebih besar untuk mencukupinya dan konsekuensi logis dari akibat penambahan energi eksternal. Atau ketiga, matikan salah satu sistem!

Jika seandainya sampeyan adalah Aa’, dengan segala kedewasaan dan kekuatan sebagai lelaki, suami, dan kepala rumah tangga, sampeyan mau pilih yang mana? Dan jika sampeyan adalah Teh Rini, dengan segala kesadaran dan kerelaan hati, sampeyan mau pilih yang mana?

“Tetap gak adil, Gus! Karena akhirnya harus mengecewakan salah satu pihak?” teriak mahasiswa saya yang lain.

Poligami, apapun alasan dan modal kedewasaan yang dibawa, tetap bukan hal yang ringan untuk ditunaikan. Ok, sekarang kalo poligami gak adil. Apa definisi sampeyan tentang adil?

Kalo yang poligami itu adalah PSSI, sampeyan setuju gak?

“Lho… kok mbanting setir ke PSSI, Den?” tanya pak tukang sapu yang kebetulan lewat di depan pintu ruang padepokan yang terbuka.

Ha yo ben, saya dosennya kok.”

Timnas kita sudah menunjukkan progress yang meyakinkan. Tidak ada alasan selain menjaga kualitas tim ini kecuali memang harus terus ditingkatkan. Membuka peluang setiap pemain untuk menunjukkan kapasitasnya pun meningkatkan profesionalisme klub dalam negeri adalah salah satu cara menjaga tren positif persepakbolaan Indonesia. Maka nuansa kompetisi yang sehat dan bersih dari campur tangan non-teknis harus dijaga. Lahirlah Liga Primer Indonesia (LPI) untuk mewadahi klub yang ingin lebih profesional dengan jalan cerai dengan suntikan APBN. Dengan berpisah dari APBN maka intervensi politik sudah pasti akan tereduksi sangat signifikan.

Tapi di sisi lain PSSI sudah punya Indonesian Super League (ISL). Sudah ada istri pertama belahan jiwa dalam hati PSSI. Bagaimana mungkin ada cinta lain yang datang? Tapi perubahan harus dilakukan. Bukannya meng-under estimate-kan ISL, dan meng-over estimate-kan LPI. Kenyataan yang terjadi, terlalu banyak permainan non-teknis yang gak sepakbola banget dalam tubuh ISL terlebih PSSI.

Haruskah PSSI menceraikan istri tua yang penuh intervensi politik? atau tolak istri muda pembaharu? atau PSSI berpoligami saja?

Demi kebaikan bangsa Indonesia.

4 thoughts on “Aa’ Gym, PSSI dan Poligami Kebangsaan

  1. cerdas cak! ohyo, kiro2 nek PSSI poligarwo, anak-e kyo opo yo??
    salam,
    zul BIONIC

    **kayak kowe hahahaha😀
    suwun cak!

  2. sesuatu yang berlebihan jarene ra apik tur ra enak,.. contone,.. pakai celana berlebihan njuk dadi kedodoran,.. mangan berlebihan njuk kekenyangan,.. iso-iso muntah,.. istri lebih yo pastine ra penak le mbagi jatah,.. walaupun jare penak pas gilir ae,..

    nah,.. PSSI berlebihan le menyoroti LPI dadine yo ra penak,.. sing gawe ra penak mergo duite ra mlebu neng PSSI,..
    **dadi nek ra penak, penake diapakno bro? diganjel bantal opo dijengkingno? hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s