Membunuh Untuk Menyelamatkan Mbah Marijan


www.nurdayat.files.wordpress.com

Siapa yang tidak ingin jadi artis? Terkenal, kaya, dimana-mana selalu dielu-elukan. Di dunia yang hedonis seperti ini, siapa yang tidak ingin menjadi bagian dari mesin besar bernama industri hiburan yang menyediakan berbagai macam fasilitas kesenangan dunia? Karakter budaya kita telah menyulap makna penghibur (entertainer) menjadi seniman (artis). Sistem ekonomi kita sudah sedemikian canggih dan lembutnya mencuci otak setiap orang bahwa tidak harus susah untuk mencari duit banyak. Bahwa yang memalukan adalah ketika sampeyan gak bisa beli rumah bagus, tidak tahu film baru di 21, masih pake hp yang gak ada MP3nya, gak punya gaji tetap, gak bisa pake komputer, atau yang lebih parah masih perawan!

Sampeyan tidak harus punya skill akting mumpuni untuk bisa tampil di kotak tivi, memainkan peran sentral sebuah drama kehidupan yang muluk-muluk sampai ber-season-season lalu orang-orang menyematkan gelar artis dalam diri sampeyan. Atau sampeyan gak perlu bersusah payah mendalami teori nada, karakter dan wataknya lalu mentransformasi nada itu pada sebuah alat musik dengan segenap curahan rasa sehingga tercipta sebuah perkawinan alat musik dengan nada yang mesra. Cukup saja sampeyan bertampang gaul, nyeleneh lalu mengajak beberapa orang yang sama anehnya dengan sampeyan, nggenjreng gitar bareng, nuthuk drum lalu nyanyi, cukup itu saja gelar musisi menyemat dalam diri sampeyan.

Yang paling parah dan luar biasa adalah, kecerdasan sampeyan bahkan cukup diukur dengan sebuah pertanyaan “Siapakah presiden pertama Indonesia? Pilih a. Sukarno, b. Ngatemo.” Lalu sampeyan jawab dengan lantang, “A. Sukarno!”, “Wah hebat… luar biasa… Anda benar.” Begitu sahut host!

Inilah dunia kulit itu! Inilah budaya abal-abal itu! Dunia remeh-temeh yang nggumunan dengan kulit sampai tidak paham tentang isi, substansi, dan makna. Dan arus instanisasi, gerakan rahasia pembodohan ini didukung oleh media yang seharusnya menjadi jendela ilmu dan pengetahuan. Media yang sudah kehilangan spirit karena watak bisnis yang menjelma menjadi enternainment-isasi dalam setiap muatan acaranya. Termasuk acara berita.

Lalu meletuslah merapi, yang sebelumnya di-prolog-i sama gempa Jogja yang dasyat itu. Munculah Mbah Marijan sebagai tokoh sentral. Kegigihan orang tua itu untuk terus bertahan di desanya atas dasar rasa tanggung jawab mengemban amanah dari rajanya, meskipun merapi sudah gemluduk nggak karuan. Keberaniannya melawan perintah gubernurnya untuk mengungsi membuat Mbah Marijan tiba-tiba disulap menjadi artis oleh pemberitaan media yang sangat gencar. Apalagi begitu merapi meletus dasyat dan menelan dua nyawa, orang tua ini ternyata masih berdiri kokoh. Rosa!

Dulu Mbah Marijan yang cuma dikenal oleh para pendaki gunung, pengamat burung, tetangga-tetangga di sekitar kaki merapi atau paling banter camat Cangkringan atau keluarga keraton ini tiba-tiba menjadi terkenal dan tidak satupun orang Indonesia yang gak kenal dengan beliau. Mbah Marijan terseret atau lebih tepatnya diseret menjadi bagian dari industri hiburan. Mesin canggih pembodohan dengan berbagai macam gelar kulitnya.

Tapi sepertinya Tuhan tidak rela melihat hambanya yang memiliki ketulusan dan keteguhan hati itu menjadi bulan-bulanan industri media. Maka diperintahlah merapi untuk bergolak lagi. Bikin letusan yang lebih dasyat, karena keteguhan orang tua itu hanya bisa diselesaikan oleh kedasyatan letusan gunung merapi, makhluk mulia yang dijaganya dengan sangat baik dan penuh keikhlasan sampai akhir hidupnya. Merapipun dengan sigap menjalankan perintah penciptanya, yaitu menyelamatkan sang juru junci yang selama ini menjaganya. Dijemputlah Mbah Marijan menunggang awan panas.

Selamat tinggal, Mbah. Kau sudah menjaga dengan sangat baik alam. Hutan merapi adalah kawah candradimuka dalam sejarah hidupku, dan kau telah merawatnya dengan sangat baik. Benar kami sangat kehilangan, tapi kami akan lebih tidak rela jika sisa hidupmu dijadikan alat pembodohan oleh sistem dan mesin jaman yang semakin rapuh dan abal-abal ini.

**

baca juga

Tuhan Menciptakan Gunung tidak dengan bermain dadu

Wasiat Kepemimpinan Maridjan

Kredo Mbah Maridjan

5 thoughts on “Membunuh Untuk Menyelamatkan Mbah Marijan

  1. simbah,.. sang pengemban amanah yang sejati,.. patut dicontoh,.

    Masbro!,.. neng mbogor seminggu kok yo gak ngabar2in,..
    **wah sori bro… takpikir sampeyan nongkrong nang PILI. pingine yo ketemu tapi aku dewe akeh janji ketemu kanca2 neng bogor sing batal mergo waktune mepet. arep ngontak sampeyan yo nek ngko ketemu, nek ora malah gawe gelo hehehe…
    kapan2 ae bro nek dolan ngulon meneh takmampir nggone sampeyan…😀

    • hehehehe,… biasane aku beredar neng sekitaran PILI jam 5an dihari kerja,.. tapi pas sampeyan neng PILI aku ki loro sampe 4 hari dadine yo ga neng ndi2
      **loh, ono to penyakit sing ampuh nganti marai sampeyan loro ? hehehe

  2. Mbah Maridjan, puncak dari gunung luas bernama masyarakat sederhana yang bersahaja… Kita bakal kangen dengan keramahan tulus yang bukan tempelan, sambutan ramah yang enggak dibuat-buat & sapaan akrab penuh penghormatan sebagai sesama manusia dari penduduk Kinah…

    Yang menggunjingkan bagaimana si Mbah meninggal, yang menertawakan, pasti cuma kenal si Mbah dari kabar tempelan di tivi… Yang korban Merapi sebenarnya kita-kita yang masih hidup ini…
    **zaman ketololan. dimana ashabul kahfi harus bersembunyi dalam goa. segala sesuatunya serba terbalik, sing elek disubyo-subyo, sing bejat di-fans2kan, sing maling dipilih dadi pemimpin, dst. tapi tetap ada secuil kebenaran yang sengaja dibuka oleh Allah untuk menunjukkan mana yang benar mana yang salah. meskipun ada juga yang ngeyel gak gelem percaya. maka dari itu mbah marijan dikeluarkan dari dalam goa merapi. tetapi sepertinya zaman sudah terlanjur kuwalik2 gak karuan. bahkan sampai matinya pun yo ono ae sing ngeyel gak percaya nek kuwi jan2e isih lagi sikil asune ashabul kahfi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s