Pancasila Seharga Rp. 100,-


Setiap kali melakukan perjalanan pulang atau kembali ke Baluran, di atas bis jurusan Malang-Probolingo atau Probolinggo-Situbondo, hampir selalu ada saja cerita-cerita nyleneh meskipun mungkin sangat biasa. Tentang pengamen sok ganteng dengan rambut gimbalnya pasang aksi macho di depan penumpang cewek-cewek lumayan cakep. Atau pengamen yang seluruh wajahnya ditato jadi agak sangar, sebenarnya dia nyanyi gak bisa apalagi gitaran, jadi cuma pasang wajah sangarnya sambil bertepuk tangan, nyanyi sekedarnya lalu menyodorkan tangannya sambil mendelik di depan para penumpang, tentunya sambil memperlihatkan wajahnya yang penuh tato. Sapa yang gak gilo, kasihlah 100 perak biar cepet pergi aja itu orang.

Pulang dari Malang kemaren pagi, setidaknya ada tiga catatan baru buat nambah daftar cerita nyleneh dalam sepanjang perjalanan Malang-Baluran. Ada seorang penumpang naik sambil membawa ayam jantan yang sepertinya ayam aduan. Dibungkus di dalam tas khusus yang dibuat dari anyaman rotan, hampir sepanjang perjalanan dari Malang sampai Pasuruan, si ayam yang rupanya habis menang duan itu tiada hentinya berkokok! Di dalam bis! Kukuruyuuuukkkk….kerrrr… terus begitu. Sampai-sampai ada orang yang nyeletus “HPne di-silent gak iso ta rek?”. Mungkin kalo si ayam tahu bahasa manusia, dia pasti jengkel “Suara merdu kayak gini masak dikira ringtone?” mungkin begitu pikir si ayam.

Tidak lama kemudian, seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya di sebelah saya di-waduli anaknya yang mungkin baru berumur 2 tahunan. Kondisi bis sedang penuh sesak. Lalu si anak bilang kepada ibunya “Buk, kebelet pipis!” si Ibu bingung. Mau pipis dimana? kalo naik bis executive mungkin bisa aja minta berhenti lalu ditungguin, tapi ini bis AKAS! Okelah kalo begitu, “Dibediriin aja, Dik!” suara seorang lelaki di bangku belakang kami yang tenyata adalah suami si ibu tadi. Dibediriin? Ya, dibediriin! Dalam kondisi bis penuh sesak, tepat di sebelah saya, si anak tadi dibediriin sama ibunya, dibuka celananya, dikeluarkan kusmin-nya lalu dimasukkan ke dalam botol Aqua. Pipislah si anak, di depan mata saya. Gemericik suara air kencing yang masuk ke dalam botol Aqua, dan air warna kuning langsung menyeruak ke dalam mata, telingan dan logika saya. “Emang kasih ibu sepanjang masa!” maksudnya kepada anaknya, bukan kepada penumpang di sebelahnya.

Dan catatan terakhir adalah dua orang pemuda, pengamen, dengan rambut gondrong. Satu pegang gitar, dan satunya lagi yang gak bawa gitar, bertato. “Selamat siang para penumpang bis jurusan Problinggo-Banyuwangi… bla… bla…” seperti biasanya selalu ada kalimat pembuka yang kemudian langsung disambung dengan menggenjreng gitarnya lalu bernyanyi. Waktu itu mereka menyanyikan lagunya Iwan Fals, aku lupa judulnya, tapi kurang lebihnya, liriknya seperti ini: di tanah yang satu kita berdiri, di air yang sama kita berjanji… untuk Indonesia. Ada yang tahu judulnya?

Sepertinya kedua pemuda macho ini sangat bangga menyanyikan lagu ini, sampai-sampai reff diulang dua kali. Dan menggunakan suara satu, suara dua sehingga lagu ini jadi emeng terdengar cukup merdu. Dan ketika memasuki reff ketiga, sepertinya reff terakhir sebelum menutup lagu. Si pembawa gitar terus nggenjreng sambil mengulang-ulang beberapa kalimat dengan suara lirih penuh penghayatan, sambil matanya merem-melek. Dan temen satunya, yang gak bawa gitar dan bertato tadi, dengan lantang dan penuh percaya diri angkat nada tinggi lalu berteriak “Pancasila! Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dan Permusyawaratan Perwakilan. Lima, Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia!

Spontan seluruh penumpang hampir terdiam, termasuk saya yang langsung menelan ludah. Gleg! Ada berbagai perasaan muncrat dari dalam kepalaku: lucu (macho tapi ingat Pancasila!), malu (kapan ya yerakhir kali saya membaca Pancasila?), bangga (bahkan pengamen pun bangga membaca Pancasila) dan sedih (karena hanya pengamen yang masih punya kebanggaan membaca Pancasila!).

Semula aku sudah males mau ngasih uang receh kepada mereka. Tapi begitu mendengar Pancasila dikumandangkan dengan penuh semangat dan rasa bangga, hatiku pun luluh. Aku rogoh saku kananku, kucari-cari logam bulat di dalamnya, dan ternyata ada. Sekeping udang seratus rupiah. Kusodorkan lalu kumasukkan ke kantong plastik yang dibawa dua pengamen itu. Seratus rupiah untuk Pancasila-ku.

7 thoughts on “Pancasila Seharga Rp. 100,-

  1. Mantap….jangan sampai kena pengamen itu lagi, ndak getun ngenehi 100 rupiah…
    **HALO, SELAMAT SIANG BUNG UYA KUYAK. KOK SAIKI KOWE ISO NGENET BARANG? HAHAHA…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s