Meninting’s Learning


Mungkin setelah bertahun-tahun bergelinjang dengan fotografi burung. Setelah melewati evolusi dari digiscoping ke DSLR laras panjang, mungkin baru kali ini saya bener-bener belajar memahami siapa itu makhluk indah yang bernama burung. Padahal itu adalah modal utama bagi semua fotografer alam liar, khususnya burung.

Jadi ijinkan saya berbagi pelajaran… mata pelajarannya adalah Meninting.

Saya gak tahu di tempat lain, tapi di Baluran, yang namanya Meninting Besar adalah salah satu burung paling f*** kalo difoto, alias susahnya minta ampun. Sensitif dan mobile, dalam bahasa jawa iyik, ngglidig, atau bedigasan. Pun, sepertinya dia sangat alergi dengan yang namanya cahaya matahari. Sempurna sudah kesulitan untuk mengambil gambarnya, cahaya rendah untuk lensa tele panjang adalah permasalahan teknis terbesar.

Tapi ternyata teori itu tidak selamanya shohih, alias -lagi-lagi- kita butuh sebuah pengecualian. Atau lebih tepatnya mencari dan berusaha menemukan pengecualian-pengecualian itu. Menemukan anti thesis bahwa meninting adalah burung yang sangat susah difoto.

Hal yang paling umum ketika kita bertemu burung ini tidak lain dia langsung terbang menjauh mengikuti aliran sungai. Atau, yang lebih repot, dia akan keluar dari wilayah sungai lalu keluar di antara semak, terbang berlawan dengan arah kita dan berhenti pada titik di wilayah sungai lagi. Sambil mengeluarkan suara lengkingan tinggi dan panjang. Pada perilaku yang kedua, itu berarti anda harus rela “kehilangan” dia, tapi pada perilaku yang pertama berarti anda masih punya kesempatan mendekati dia lebih intim. Atau pada tingkat kesabaran tertentu, anda justru yang akan didekati oleh dia.

Meninting, meskipun ketika didekati dia langsung menjauh, sebenarnya itu hanya sebuah ekspresi kekagetan yang reaktif, yang kalau anda mau menunggunya sambil sedikit bersembunyi, dia akan segera kembali ke arah anda. Atau pada beberapa perilaku, dia akan menyingkir tidak jauh dari sungai, bertengger pada ranting belukar sambil menaikkan jambul putihnya. Ketika anda menemui perilaku yang seperti ini, berarti anda tinggal selangkah lagi untuk “menghabisi” dia. Satu langkah itu adalah sabar. Kuat-kuatan. Yah, paling tidak kalau anda menunggunya sambil jongkok, minimal sampai kaki anda kesemutan, atau kalau anda perokok mungkin -minimal- butuh dua batang rokok kretek sebelum dia benar-benar percaya bahwa anda tidak memiliki niat buruk kepadanya. Atau yang paling jelek, dia akan menganggap anda manusia bodoh yang tidak perlu dikhawatirkan keberadaannya.

Nah, hal kecil yang perlu anda perhatikan adalah jambul putih di jidatnya. Selama jambulnya masih berdiri, jangan coba-coba membuat gerakan yang mengejutkan, karena pasti dia akan segera pergi. Tunggu saja, tunggu lagi, dan tunggu lagi. Sampai pada saatnya ketika sekali jambulnya diturunkan lalu dia juga turun ke tanah (sekitar aliran air) sambil langsung nggremet mematuk-matuk, nah saat itulah pertunjukkan yang sesungguhnya dimulai. Seketika dia akan menjadi burung yang benar-benar indah, lucu dan menggemaskan, karena dia tidak takut lagi sama keberadaan anda, bahkan dia akan mendekati anda. Asal tetap dalam satu kesepakatan bahwa anda tidak membuat gerakan yang mengejutkan.

Ohya, ada lagi satu kesepakatan dasar: bahwa semua satwa pasti akan mempertahankan wilayah terbaiknya. Wilayah terbaik bisa berarti di situ banyak tersedia pakan, atau aman. Artinya sangat penting untuk mengetahui kondisi lokasi dimana anda akan bertarung kuat-kuatan sama burung ini. Pengalaman, lokasi terbaik untuk beradu kuat-kuatan sama dia adalah cari dimana ada cekungan yang agak luas dan tergenang air di sepanjang aliran sungai yang tidak ada turbulensi kuat akibat arus air, ada tumpukan seresah yang basah yang mungkin tempat dimana banyak cacing yang tentunya tidak jauh-jauh dari aliran air dan mungkin, syarat paling buruk tapi bukan harga mati:  sedikit terjauh dari sinar matahari.

Jadi bagi anda para jomblo seperti saya. Jangan kuatir nggak laku, pun jangan terlalu memburu wanita-wanita. Tunjukkan saja bahwa anda tidak punya niat jelek, anda adalah lelaki penyabar bahkan kalo perlu berlagaklah seperti orang bodoh. Menunggulah dengan riang gembira, InsyaAllah dengan didukung doa akan ada waktunya burung itu datang menghampiri anda. Dan ketika saat itu datang, jangan sekali-sekali terlalu banyak pertimbangan…langsung jepret… jepret… gabrus… gabrus… manak… manak…

13 thoughts on “Meninting’s Learning

  1. Senang sekali seorang lelaki jomblo, sabar, bodoh (katamu lo ya) akhirnya bisa motret burung ngglidig… hehehehehehe

    Tapi Lik, saya punya pengalaman lain. Duluuuuu sekali, saat jurang Kali Boyong masih asri, ada aliran sungainya. Sebelum digilas wedus gembel Merapi medio 1990an (lupa). Bersama cah-cah Hali nge camp disana.

    Meninting buanyak banget di aliran sungai itu. Yang beda, kok waktu itu dia suka banget dengan sinar matahari yang berlimpah. Nampaknya sinar jadi parameter paling akhir deh. Mungkin yang utama situasi yang aman, nyaman, pakan, baru sinar.

    Kalau sekarang si glidig ini lebih banyak dijumpai di aliran yang teduh, gelap, mungkin bukan karena dia suka lokasi seperti itu. Bisa jadi lokasi yang terang brandang, sudah tidak aman dan nyaman…

    Yak’e lho ya…. Soale pengalaman itu sudah lamaaaaaa buanget…

    • tapi itu juga sangat mungkin kang, meninting suka cahaya matahari. tapi untuk dijadikan ajang kuat-kuatan, kayaknya bukan tempat terbaik. karena saya yakin stokk pakan terbanyak dia justru di tempat2 lembab yang banyak serangga dan cacingnya.
      pun, sebenarnya kenapa saya menyebut dia suka cahaya rendah, karena di baluran, tempat yang selalu dialiri air adalah tempat dengan tutupan tajuk paling rapat..
      so intinya?

  2. Meninting termasuk burung yang super sensitif menurut pengamatan singkat saya. Saya sendiri baru kenal meninting di Tanah Karo Sumatera Utara satu minggu yang lalu. Burungnya minta ampun liarnya, saya sendiri hanya sekilas melihatnya dan memastikan itu adalah meninting.

    Bagi saya, mungkin mendokumentasikannya masih mustahil oleh saya. Ternyata Mas Swiss sudah membuktikannya dengan teknik “berkawan” dengan satwa incaran. Ternyata semua yang mau kita dapatkan bisa kita akali. Mas Swiss sudah membocorkannya.

    Lain kali akan saya coba, tapi mungkin berpuasa dulu ya, biar sifat kesabaran saya terlatih, he…he…

    • betul mas siregar, setiap makhluk hidup pasti punya kecenderungannya masing2. hanya bagaimana kita mengenali perilaku itu justru yang perlu banyak eksplorasi.

      selamat mencoba…:D

  3. Wah…
    Si kebogiraz sudah berevolusi menjadi macan kumbang rupanya sekarang…
    prinsip “jika engkau berkehendak, maka seluruh alam akan mendukungmu” yang engkau anut ternyata sedikit demi sedikit menempa sedemikian rupa sampai meninting besar pun takluk dan menjadi bersahabat…
    untuk “Burung” lain yang ditunggu dengan riang gembira, kaya’nya juga bakalan membawa temuan-temuan baru yang memperkaya khasanah perburuan…
    keep in faith dab…
    **ENGKAUKAH ITU, SURIP, YANG SEDANG BERBICARA? SO WISE…OHH….

  4. “Jadi bagi anda para jomblo seperti saya. Jangan kuatir nggak laku, pun jangan terlalu memburu wanita-wanita. Tunjukkan saja bahwa anda tidak punya niat jelek, anda adalah lelaki penyabar bahkan kalo perlu berlagaklah seperti orang bodoh. Menunggulah dengan riang gembira, InsyaAllah dengan didukung doa akan ada waktunya burung itu datang menghampiri anda. Dan ketika saat itu datang, jangan sekali-sekali terlalu banyak pertimbangan…langsung jepret… jepret… gabrus… gabrus… manak… manak…”

    mosok paragraf koyo ngene mbok lebokno nang tulisan mas. Opo hubungane?? jangan-jangan pengalaman pribadimu atau….strategimu untuk para wanita-wanita itu? burung mbok analogikan wanita opo sebaliknya?
    hmmm…kok malah konsultasi jodoh ikih, hihihi. But, salut dengan kegigihanmu menaklukkan Meninting…:) sip Broth, pokoke kudu ngidak TNB.
    .
    **SUDAH MERASA TERANALOGIKAN BELUM? HEHEHE

  5. Cantik tenan Mas bro manuk’e,…

    Setuju!!,.. haha,.. biasa lah,.. jomblo2 wes ga ingat wanita2 nek wes entuk manuk apik,.. hahaha,..
    .
    **LAH..YO IKU MASALAHE…ASEM TENAN KI, BURUNG2 TELAH MEMALINGKAN PANDANGANKU DARI WANITA….WAAAA…

  6. kadang sulit memang untuk membedakan keindahan burung dan para wanita,.. tapi kok yo lebih memburu wanita yo???…. hahaha,.. kene yo podo masbro,.. biasane weekend buat bersantai-santai lha kene malah nggolek’i manuk sampe nyumput nang semak2 hanya untuk mendapat hasil gambar yang bagus,.. yo ra?

  7. lo..mburu manuk yo gak popo kok bro.
    wanita itu terlalu misterius, membingungkan. jadi mending memburu manuk ae, paling parah lak gatel2 kabeh awake, opo dicokot ulo…ya to? hahahaa…

  8. wah dibelakangnya ada curhat colongan ki!!
    Emang kalo pria jomblo lebih seneng mainan burung (maksudnya bermain bersama burung)
    **IYO BRO, BAHKAN TIDAK SEDIKIT YANG SUKA MAINAN BURUNG TEMENNYA…MAKSUDNYA MAINAN SAMA BURUNG TEMENNYA LHO..LHA…HAHAHA…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s