17an dan Indonesia yang Nir


Hari sabtu kelabu, pertama gak bisa hunting karena kamera dipinjem temen kantor yang nikah hari ini, kedua jelas satu lagi temen bujangan gugur ditikam oleh cinta suci pujaan hati, dan (kayaknya pasti) ketiga ntar malam seperti malam-malam minggu biasanya: no date, no woman dan no entertainment (Tivi gak nyambung semua channel karena parabolanya habis di-njot2 monyet). Sempurna sudah….

Dan berangkatlah aku ke kondangan temanku itu. Kebetulan dapat mobil tumpangan temen kantor. Awalnya aku berpikir “lumayan gak usah nyetir, jadi bisa sambil nyantai“. Tapi sejak 100 meter pertama, sudah terasa ini mobil sepertinya bukan mobil biasa, tapi Bis Akas jurusan Surabaya-Banyuwangi yang dimodifikasi extrem jadi mobil. Shock breaker-nya keras minta ampun. Di bagasi belakang, suara gemblodak bertabuhan gak mau kalah sama suara mesin yang lumayan bising. Sopirnya, tidak bisa diragukan: alumnus Akas! Dan terakhir gak ada ase-nya (baca: Air Conditioner). Kelabu ke-empat….

Pulang dari kondangan, pas jam 1 siang, pas udara lagi panas-panasnya. Ase masih mati. Menyusuri jalan-jalan daerah Banyuwangi yang sangat berdebu. Memasuki kecamatan Wongsorejo, kira-kira 20 km lagi dari Baluran, tiba-tiba jalan macet! Di kota sekecil ini. Kecalakaan? bukan. Operasi teroris? juga bukan. Jadi?

Tidak kurang 15 menit menunggu lalu lintas jalan normal lagi (masih di dalam oven berjalan!), mulai terkuaklah penyebab kemacetan ini. Ternyata sepertiga ruas jalan dipake anak-anak kecil berseragam sedang berbaris: lomba gerak jalan tepat! Langsung aku teringat, ohiya ini kan bulan Agustus. Alamat deh, akan jadi perjalanan yang melelahkan: di dalam oven berjalan dan sopir alumnus Akas semakin lama.

Tapi ada sesuatu yang sedikit membuat aku malu juga. Malu kepada diriku sendiri dan kepada bangsa Indonesia, ketika saya melihat bagaimana orang-orang yang dengan antusias penuh semangat menonton lomba gerak jalan ini.

Siapapun tahu lomba gerak jalan tepat. Hanya baris-baris anak-anak sekolah yang berjalan dengan tempo yang seragam yang kadang juga morat-marit, suara peluit yang monoton, atau wajah anak-anak kelelahan yang sudah dipenuhi keringat dan debu jalanan. Tontonan yang hampir tidak memliki nilai hiburan. Baik hiburan dalam arti yang sebenarnya: memiliki keunikan, menantang, dipenuhi atraksi akrobatik,  apalagi pelaku yang menggugah nafsu. Sama sekali tidak ada. Apalagi jika dianalisa menggunakan logika kapitalistik yang akhirnya mengarah kepada industri hiburan, sama sekali tidak ada juga.

Tapi mengapa orang-orang itu begitu antusias menonton pertunjukan “sangat biasa” ini? Bahkan di sepanjang rute lomba, warga-warga yang punya perangkat audio berdaya besar rela mengeluarkan dan menata speaker-speaker besarnya di tepi jalan lalu dimainkan musik dengan volume keras, seperti orang yang punya hajat, muai dari lagu osing, gending jawa, dangdut, peter pan sampai remix. Hampir tiap 100 meter, ada saja lagu-lagu dengan volume tinggi di depan rumah-rumah warga. Seperti tidak mau ketinggalan acara, mereka ikut mangayu bagio, ikut bersuka cita menyambut barisan anak-anak itu.

Orang-orang itu, seperti tidak mengenal konsep hiburan apalagi sampai mengenal industri hiburan. Mereka tidak butuh mengenal logika bisnis ataupun logika eksklusifme untuk bahagia. Dan bukankah memang seperti ini harusnya yang namanya hiburan: gratis, tidak perlu dicekoki iklan-iklan, tidak ada tipuan “KETIK SPASI REG”, dan yang jelas bahagia!

Obyek tontonan atau hiburan tidak selalu harus menarik dengan pernik-pernik penari latar, senyuman MC yang semu atau atraksi akrobatik yang berbahaya. Ternyata kebahagiaan tidak bisa diukur dari formula bisnis, atau bahkan teori sosial marketing apapun. Dan itulah Indonesia, bangsa yang dibangun di atas nilai-nilai yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kebersahajaan. Bangsa yang diperjuangkan dengan segala pengorbanan yang tidak seharusnya rontok oleh arus hedonisme. Momentum 17an adalah oase sejarah bangsa kita untuk sedikit mengendapkan rasa, bahwa Indonesia masih baik-baik saja di tengah arus jaman yang serba kapitalistik, hedonis dan eksklusif. Karena kita tidak perlu itu semua. Karena Indonesia sudah nir.

MERDEKA !!!

3 thoughts on “17an dan Indonesia yang Nir

  1. Setuju…!! Bagaimanapun Indonesia adalah taman bermain kita. Hihihi…piye kabar mas Swiss. Baluran selalu menggiurkan jeh…asyem, aku kok rung iso ndono yoh!!
    **WEE BRUR! ASEM KOWE NANG NDI AE GAK TAU NGETOK? SESIBUK ITUKAH WARTAWAN TEMPO? ALHAMDULILAH AKU APIK2 AE, KOWE PIYE?
    IYO KI, KAPAN KOWE SIDO MRENE? MUNG JANJI2 TOK AE. GAK USAH DIRENCANAKE LANGSUNG AE MELUNCUR LAK BERES TA?

  2. Ra ono duit Broo..!!! lebaran neng Jogja ra?
    **WAH YO ORA NO BRUR. KETOKE MALAH POSOAN IKI AKU NENG JOGJA TERUS, WINGI LAGI BALIK SEKO JOGJA (2 MINGGU AKU NENG JOGJA). BLOGMU KOK JENENGE LUCU NGONO NDES? ISMIHARTONO???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s