Ciungmungkal Jawa Pertama di Ijen


Bagi semua kegiatan adventuring, nama Kawah Ijen bukanlah nama yang asing. Salah satu kawah paling indah di Indonesia ini memang menyediakan berbagai atraksi wisata terbaik. Hiking, mountainering, camping, dan birdwatching.

Khusus untuk birdwatching, aksesibilitas yang cukup mudah ditempuh sampai ketinggian di atas 2000 mdpl, kawasan ijen bisa menjadi salah satu lokasi terbaik untuk mengamati burung-burung pegunungan.

Pada hari Sabtu, 30 Mei 2009 kemarin, sebenarnya kami tidak sedang berencana hunting burung, hanya rasa kangen melihat kawah Ijen. Berangkat dari rumah agak molor karena bingung cari pinjeman helm, jam setengah 6 meluncur juga kami naik Wiwin (motor baru beli ne hehehe…) dan sampai di pos pendakian hampir  jam 8. Tidak terlalu banyak acara, hanya pipis karena hawa dingin, kami langsung bergerak naik.

Di sepanjang jalur pendakian, dengan kondisi cuaca yang sangat tidak menyenangkan hati, suara-suara burung yang begitu meriahnya seperti sengaja menggoda tanganku yang sudah gatal pingin njepret pake laras lanjang. Yang jelas suara-suara yang masih asing buat kami, hanya sikatanrimba dada coklat saja yang kenal (setelah dibocori sama kang Baskoro) dan kacamata gunung.

Sesampai di puncak kawah, seperti yang sudah diperkirakan, cuaca yang sudah mendung sejak kami datang membuat acara hunting jadi agak berat karena gak dapet cahaya yang bagus buat take. Tapi the show must go on, beberapa frame tetap kami ambil sebelum meluncur ke kawah ijen. Di bawah kawah, frame lebih banyak dihabiskan karena ternyata obyeknya lebih menarik daripada di pinggir bibir kawah.

Setalah puas menghabisi obyek di dasar kawah, kamipun segera naik ke bibir dan dilanjutkan turun kembali area parkir. Si Wiwin sudah lama menunggu.

Sepanjang perjalanan turun tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Kabut masih bergentayangan menggelayuti pohon-pohon. Suara-suara asing di telinga belum juga berhenti menggoda sampai akhirnya seekor burung seukuran jalak agak gemuk sedikit sedang asyik menghajar seekor ulat yang sudah nyangkut di paruhnya, 5 meter di depan kami. Cahaya matahari yang sangat minim, membuat burung itu tampak hitam semua. Tidak terlalu lama berpikir, segera saya keluarkan si laras panjang dan membidiknya.

“Cahayanya nggak ngangkat.” Kata temanku.

“Kapan lagi…” jawabku singkat. Dan cepret…cepret…cepret… Baru dapat 6 frame dia sudah melompat masuk ke dalam semak. Karena rasa penasaran belum selesai, kami coba menunggu sambil terus mengamati kalau saja ada pergerakan. Dan benar juga, ternyata dia tidak terbang terlalu jauh, hanya 5 meter di depan kami dan tertutup beberapa lembar daun. Segera saya cari tempat yang nyaman untuk mengambil gambar. Dalam kondisi pencahyaan yang sangat rendah seperti ini, posisi sangat menentukan hasil jepretan kamera dengan lensa maksimal 500mm. Jika tangan anda tidak bisa menopang kamera dengan pas jangan harap bisa mendapatkan hasil foto yang bagus. Apalagi saya tidak pernah memakai monopot.

Singkat cerita, setelah sampai di kantor segera saya sesuaikan hasil foto burung yang baru saya tangkap dengan kitab suci para birdwatcher: Panduan Lapangan Burung-burung di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan punya McKinon dkk. Dan dari semua deskripsi yang ada semuanya mengarah pada Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) betina.

ciung1 ciung mugkal jawa

Merasa tidak yakin dengan temuan ini, apalagi setelah saya browsing di internet ternyata distribusi paling timur dia hanya sebatas sampai Gunung Slamet, akhirnya saya coba tanyakan kepada kitab suci lainnya: Kang Bas. Dan ternyata postif, Ciung Mungkal Jawa pertama yang ditemukan di Jawa bagian Timur.

**jenis lain yang ditemukan sepanjang perjalanan

Cucak Gunung (Pycnonotus bimaculatus), Cikrak Muda (Seicercus grammiceps), Ceret Gunung (Cettia vulcania), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Cica Koreng Jawa (Megalurus palustris), Sikatan Rimba dada Coklat (Rhynomyias brunneata), Kacamata gunung (Zosterops montanus), Bentet Kelabu (Lanius schach), Pergam X

3 thoughts on “Ciungmungkal Jawa Pertama di Ijen

  1. Informasi temuan ini juga harusnya enggak cuma ditulis sebatas di kitab “pratapapa81.wordpress.com”.

    Ini juga layak ditulis di kitab “Kukila” atau “Forktail”
    hehehehe…tenang bro, masih dalam proses penulisan. memang agak lama karena “penyair jalanan” harus tampil di “kerajaan science” hehehe

  2. Oke deh…

    BTW, akhirnya di OBI ada nama Swiss Winasis juga. Hehehe. Sip deh
    gak ada pilihan lain boss, kalo kelamaan disimpan ntar malah jadi tape hehehehe

  3. Keren mas… by the way,, Q punya beberapa pertanyaan PENTING
    1. Kamu pake kamera apa mas?? ring berapa dan lebih sering pake manualfocus/autofocus mas??
    2. bukannya ni burung udah lama nggak ditemukan??
    3. Kawah ijen itu dimana mas??

    TQ…
    **hehehe tengkyu nji..
    1. kamera nikon D200, lensa sigma 170-500 mm APO
    2. jenis burungnya udah dikonfirmasi, baca aja di posting setelahnya😀
    3. kawah ijen tu di kabupaten Banyuwangi berbatasan dengan Bondowoso.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s