“Alam Bersahabat Dengan yang Ramah Padanya…”


Slogan itu hampir tersebar merata di setiap pintu kantor Balai Taman Nasional Baluran. Termasuk di pintu kamar barak kawan saya. Di sampingnya nempel logo baluran, dan dibawahnya tertera “www.balurannationalpark.go.id” yang kalo sampeyan cari di internet yang keluar hanya tulisan “Address Not Found!”.

Bersahabat adalah mau mengerti dan mau berbagi, Ramah bisa berarti tahu diri dengan siapa kita berhadapan.

Bersahabat dan ramah kepada alam pada level yang paling sederhana seperti menanam satu pohon di rumah (kalo punya halaman), mandi 3 gayuh air (bisa nggak ya?), mengurangi penggunaan plastik (jadi kondomnya pake koran aja), kurangi penggunaan listrik (jadi pake batere aja, tinggal ngitung aja kalo mo nonton fitri season 2 butuh berapa batere), dan mungkin kurangi memakai kendaraan bermotor (boleh pake kendaraan bermotor tapi cukup didorong atau dituntun).

Untuk yang terakhir, setidaknya cukup ampuh untuk menarik simpati alam kepada kita. Mungkin sudah waktunya pemerintah kita membuat peraturan yang mengharuskan warga negara Indonesia untuk menggunakan kendaraan ramah lingkungan ketika berangkat kerja. Bike to work. Bagi yang rumahnya jauh, akan ada kompensasi yang sebanding dengan harga bensin sejarak rumahnya dengan tempat dia bekerja. Karena yang rumahnya dekat nggak perlu naik kendaraan, nyeker saja sudah cukup.

Bike to Work

Bike to Work

Di Baluran (kata temen di sebelah saya kepanjangannya: babak belur ora karuan), menggunakan sepeda onthel mungkin bukan lagi sebagai kewajiban, tapi sudah menjadi hiburan. Setidaknya untuk kendaraan patroli, sepeda onthel sangat efektif karena tidak mengeluarkan suara bising, so para pelanggar tidak akan mengira kalo sedang ada polhut yang sedang patroli. Kalopun ketahuan, maka alam dengan serentak akan memerintahkan seluruh penghuni hutan untuk membantu petugas menangkap pelanggar yang telah merusak alam, entah tiba-tiba si pelanggar yang pas lari terus tersandung akar pohon, atau digigit ular, atau disruduk banteng dan yang paling hina adalah kecokrok duri akasia.

Kalo buat saya yang keranjingan hunting burung, beredar memakai sepeda dinas Polygon Monarch sudah terbukti bikin badan pegel-pegel. Tapi rasa capek itu lunas oleh fasilitas yang diberikan alam. Setidaknya jenis-jenis burung yang masuk kategori f*** karena saking susahnya ditemui apalagi difoto jadi lebih mudah didapat. Seperti bubut, kadalan, delimukan, atau pelatuk. Mungkin mereka berpikir “Ini pasti orang pekok, mau-maunya ngontel dari Batangan sampe Bekol” makanya mereka tidak merasa curiga apalagi terancam.

Tapi begitulah alam yang sedang senang hatinya. Belum cukup memerintahkan burung-burung pemalunya dia sudah terlebih dahulu memanggil segerombolan burung “aneh” dari puncak gunung. Berduyun-duyun ingin menghibur manusia yang “mencoba” bersahabat dengan alam. Serindit Jawa adalah isyarat kerinduan alam yang sudah lama ingin berdamai dengan manusia. Menjadi sahabat yang saling mengerti dan berbagi.

serindit Jawa

SERAA…..

2 thoughts on ““Alam Bersahabat Dengan yang Ramah Padanya…”

  1. wah,, enak ki,, galaagnya g pernah dipake…
    penghematan bhan bakar,,,
    siip,, sosialisasikan terus ya pak,,,
    jangan cuma musim penghujan,, musim kemarau juga mesti bike to work,,, panas-panas sedikit gpp kan?batangan-bekol disasak ae…he,,he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s