Ramadhan 30


Tibalah saatnya kita di penghjung Ramadhan. Takbir menggema bergetar mengisi langit. Seakan tidak percaya kalau Ramadhan sudah berkemas meninggalkan kita, padahal seperti baru kemarin saja bertemu. Anak-anak kecil mulai berhamburan dari rumah-rumah dari gang-gang membawa obor. Berkeliling mereka, berpesta berkeliling kampung menyambut hari mulia.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar… bergema menggetarkan seluruh konstelasi dan sistem kehidupan. matahari, planet, sungai, air, udara berbondong2 mengagung-agungkan kebesaranNya. Langit bertakbir dengan seluruh cahaya bintang-bintang, pepohonan dan hewan2 bertakbir dalam kesunyian hutan, angkasa bertakbir dengan memunculkan hilalnya, dan manusia bertakbir dengan gegap gempitanya.

Di Hari Raya kita seperti anak kecil, berjingkrak-jingkrak mengaggalkan segala pertimbangan rasionalitas. Kita demam panggung di depan Allah yang maha Besar. Di atas teather kehidupan yang maha luas ini, kita hanya setitik debu yang disaksikan oleh bermilyar-milyar mata penghuni langit. sehingga sering kita lupa skenario yang seharusnya dimainkan. Kita kebablasan nyumet mercon, takbiran sambil kebut-kebutan di jalanan, mborong baju mahal, beli HP yang harganya lebih mahal dari THR kita. Kita kembali menjadi bocah. Ketika kita tahu kalau makan gulali itu bisa buat sakit gigi, tapi tetap saja kita membelinya. Tidak sadar kita telah mudik. Kembali pulang ke kampung halaman dulu ketika kita masih kecil. Ketika kita bukan siapa-siapa.

Di dalam pengembaraan kehidupan, tiada henti berusaha mengejar dan mencari dirinya sendiri. Kita mencoba meraba apa yang oleh kebanyakan orang disebut eksisitensi. Maka menyebarlah mereka di sawah-sawah, kantor-kantor, jalan, rumah-rumah megah, pasar, dimanapun di seluruh sudut bumi.

Sampai pada suatu titik maksimal tertentu. Kita menemukan kejenuhannya, kita bosan. Terbentur oleh lorong buntu. Mencoba menengok kembali waktu yang lalu. Tidak sadar kita kangen rindu masa lalu. Kita kangen kampung halaman. Kita sadar telah terlalu jauh bepergian. Kita sadar telah kehilangan sentuhan hangat ibu bapak di waktu kecil dulu. Dalam kesunyian malam, hati diam-diam bertakbir.

Di tengah pergolakan sistem kehidupan yang kapitalis-invidualistik. Ketika manusia menjadi individu yang mekanistik, menjadi mesin-mesin industri jaman. Kita sadar kalau dunia ternyata tidak menjanjikan apa-apa. Dalam penjara dunia jiwa kita meronta-ronta ingin bebas. Kita ngotot ingin meluapkan rasa gerah. Sebajingan-bajingan manusia tidak akan mampu menahan bisikan masa lalunya yang kekanak-kanakan. Kita lepas segala ego dan rasionalitas. Kita butuh sesuatu yang ultra-rasionalitas. Dan sesuatu itu adalah Allah. Dia tidak dapat ditebak atau diintip. tapi dari hati yang paling dalam rasa kangen tidak henti-hentinya menyebut AsmaNya. Allah…Allah…Allah…

Sampailah kita pada puncak kerinduan. Hari Raya. Di seluruh penjuru bumi. di lapangan, di masjid, di jalanan, di sawah kita bersama-sama mengumandangkan takbir. Hari Raya adalah puncak ekstase manusia yang merindu. hati bergetar, bulu kuduk berdiri ketika mulut, kaki, tangan, rambut, kepala, hati bersama-sama mengumandangkan Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Hilangkan semua ego, semua tetek bengek yang bernama eksistensi. sebab hanya Dia yang Maha Ego.Sambil sesekali membayangkan Allah yang sedang tersenyum bangga melihat hamba-hambanya meninggalkan semua keakuannya.

Hanya bagi para pecinta hati selalu kekurangan. Sebab di dalam cintanya Allah menitipkan makhluknya yang bernama kerinduan. Sumber tenaga dan api pembakar jiwa untuk kembali pulang ke asal muasalnya. Ke kampung halaman jiwa. Melepaskan semua dunia dan seisinya di tengah hangat kasih sayang bapak-ibu. Bertemu dengan saudara-saudara, tetangga, teman bermain, guru SD. Berjabat tangan dan berpeluk mesra, mendekatkan diri dan hati yang setelah sekian lama terpisah oleh sistem jaman. Dan pada puncaknya: kucium punggung tangan bapak-ibuku. kuhirup dalam-dalam wewangian cintanya. Mangais pintu sorgaku di dalam senyumnya. Di tengah lautan manusia, kukumandangkan takbir. dengan hati yang merendah. Serendah kepalaku dalam sujud. Allahu Akbar…Allahu Akbr…Allahu Akbar…mencoba mengeja alif ba ta kebijaksananNya. Mencoba meng-format ulang jati diriku. Mencoba menemukan kembali islamku. mencoba menemukan kembali asal muasalku: fitri.

Bersamaan dengan ini ijinkan saya menjabat erat tangan dan hati anda dan kumohon maaf atas segala kesalahan baik yang tidak disengaja, disengaja maupun sengaja untuk tidak disengaja.
taqobbalallahu minna wa minkum.

Malang, akhir Ramadhan 1429 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s