Fitna (nggak pake “H”) yang nggak kejam


Fitna. Film terheboh tahun. Semu orang di dunia bingung blingsatan begitu film ini mulai bermunculan di situs-situs Internet. Produser Hollywood bingung karena film produksinya kalah moncer. Anggota parlemen negeri Belanda kepontal-pontal karena film ini potensial memunculkan anti-Belanda, produk-produk buatan Belanda sudah pasti banyak diboikot. Pemimpin negara-negara Arab kaget bukan kepalang karena kalau sampai wibawa Islam jatuh di mata dunia, hal itu berarti kekuasaan mereka juga akan terancam. Kalau anda buka YouTube sekarang, anda akan menemukan banyak sekali kiriman video yang isinya memuat pernyataan lisan seluruh manusia di dunia yang menyesalkan film ini. Dan yang terakhir umat Islam di Indonesia.

Ternyata umat Islam di Indonesia biasa-biasa saja.

“Edan sampeyan mas! Agama sampeyan dihina, diinjak-injak di mata dunia, kok sampeyan santai-santai saja?” tanya saya kepada seorang teman sebuah masjid dekat kost-kostan.

Diapun menjawab tenang:”Lha wong film kayak begitu apanya yang heboh?” jawab dia singkat

“Nggak heboh gimana mas?” tanya saya agak emosi

“Lha kalau cuma film denan durasi 17 menit itu terlalu singkat kalau hanya untuk menghancurkan umat Islam. Islam ini dibangun di atas pondasi waktu berabad-abad lamanya, bahkan sebelum manusia pertama diciptakan Islam sudah mengayomi seluruh alam semesta di dalam perputaran hukum alam yang seimbang!” jawab dia tenang

“Trus?” desak saya

“Lha kalau cuma menunjukkan orang bertopeng membawa senapan sambil membawa Al-Qur’an lalu menambaki orang seperti nembak ayam itu juga biasa. Islam tidak pernah meng-eksistensikan dirinya. Bahkan dia juga dibuat tidak eksis oleh manusia di seluruh dunia. Dia ditopengi dengan berbagai macam kebudayaan manusia mulai Adam sampai Tukul Arwana. Ditopengi mulai dari wajah Osama bin Laden sampai wajah George Bush. Islam sudah sedemikian rupa berusaha dihilangkan kesejatiannya. Tapi apakah Islam berubah menjadi topeng-topeng itu? Islam itu luas dan universal. Tidak ada yang bisa memenjarakannya dalam bentuk topeng apapun.”

“Tapi ini peghinaan mas. Al-Qur’an disobek-sobek. Muhammad dihujat!” aku mendesak terus

“Lho bukannya dari dulu memang selalu dihina? Bukannya dari dulu Al-Qur’an juga terus disobek-sobek dengan berbagai macam teknologi dan ilmu pengetahuan? Bukannya dari dulu Muhammad juga dihujat, dilempari batu bahkan sampai hampir dibunuh? lalu apa bedanya? Bukankah untuk menjadi pedang yang tajam dia harus dibakar di atas api yang sangat membara? Bukankah Tuhan sendiri yang bilang tidak ada hambanya yang beriman sebelum dia mendapat ujian? Disinilah Islam berada.”

“Tidak bisa! Islam bukan agama kekerasan. Islam bukan agama teroris. Islam adalah rahmatan lil’alamin. Islam adalah agama resmi departemen kelangitan yang diturunkan untuk membawa manusia kepada jalan keselamatan. Dia adalah agama yang mulia penyempurna agama-agama pendahulunya. Tidak sepatutnya dia diperlakukan begini” aku menyahut.

“Justru itu.” jawab temanku, ”Islam itu mulia, dan kemuliaan Islam tidak ditentukan oleh siapa ngomong apa tentang Islam. Seperti keesaan Tuhan yang sedikitpun tidak dipengaruhi oleh keingkaran atau pengakuan makhluk-makhluknya terhadap ke-Esaan beliau. Islam itu mulia karena dirinya, sama halnya dengan Tuhan Esa karena dirinya. Bahkan ketika seluruh manusia mogok menyembahNya, Tuhan tidak terpengaruh sedikitpun. Islam mulia karena dirinya, meskipun seluruh manusia di bumi murtad, Islam tidak terpengaruh apa-apa karena justru yang hancur adalah manusia-manusia yang mbalelo itu.” jawab dia tegas

“Lha sampeyan pribadi gimana mas? Masak nggak emosi melihat film yang menghina agamanya sampeyan?” aku bertanya lagi

“Hanya orang yang otaknya bujel yang emosi melihat film itu. Anda itu seperti nggak pernah lihat film di bioskop aja, atau sinetron di tivi. Setiap hari Islam itu sudah dihina. Sinetron yang anda tonton setiap hari, iklan yang berjubel di pingir jalan, di tivi, di radio, hampir semuanya menghina Islam. Meskipun nggak terang-terangan. Jadi kalau sekarang muncul film yang terang-terangan menghina Islam, saya justru bangga. Berarti Islam masih diperhitungkan di kancah Internasional. Berarti mereka sudah kehabisan akal untuk menghabisi Islam sehingga bikin film yang sebenarnya juga gak bagus-bagus amat, baik alurnya, settingnya maupun temanya. Saya yakin mas, semua saudara-saudara saya di seluruh dunia ini tidak akan terpengaruh sedikitpun dengan film itu. Keimanan mereka terlalu kokoh kalau hanya digoyang dengan film 17 menit. Percayalah mas besok kita sudah lupa dengan film itu. Besok harga minyak goreng masih tetep mahal, raskin juga kayaknya belum turun, anak-anak sampeyan juga perlu uang saku buat beli jajan sekolah, istri sampeyan juga masih minta uang belanja. Besok kita masih banyak yang lebih penting untuk dipikirkan daripada ngomongin film dari orang yang niatnya cuman pingin bikin sensasi”. dia jawab dengan santai sambil nyelonong pergi

“Sak karepmu mas.” dongkol-ku dalam hati

3 thoughts on “Fitna (nggak pake “H”) yang nggak kejam

  1. om joliequin, kok links blog sampeyan gak bisa? salah alamat gitu. salah ketik kali?
    btw thanks udah mampir di pratapapa81.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s