Archive for the 'Nyontong' Category

03
Nov
09

Meninting’s Learning

Mungkin setelah bertahun-tahun bergelinjang dengan fotografi burung. Setelah melewati evolusi dari digiscoping ke DSLR laras panjang, mungkin baru kali ini saya bener-bener belajar memahami siapa itu makhluk indah yang bernama burung. Padahal itu adalah modal utama bagi semua fotografer alam liar, khususnya burung.

Jadi ijinkan saya berbagi pelajaran… mata pelajarannya adalah Meninting.

Saya gak tahu di tempat lain, tapi di Baluran, yang namanya Meninting Besar adalah salah satu burung paling f*** kalo difoto, alias susahnya minta ampun. Sensitif dan mobile, dalam bahasa jawa iyik, ngglidig, atau bedigasan. Pun, sepertinya dia sangat alergi dengan yang namanya cahaya matahari. Sempurna sudah kesulitan untuk mengambil gambarnya, cahaya rendah untuk lensa tele panjang adalah permasalahan teknis terbesar.

Tapi ternyata teori itu tidak selamanya shohih, alias -lagi-lagi- kita butuh sebuah pengecualian. Atau lebih tepatnya mencari dan berusaha menemukan pengecualian-pengecualian itu. Menemukan anti thesis bahwa meninting adalah burung yang sangat susah difoto.

Hal yang paling umum ketika kita bertemu burung ini tidak lain dia langsung terbang menjauh mengikuti aliran sungai. Atau, yang lebih repot, dia akan keluar dari wilayah sungai lalu keluar di antara semak, terbang berlawan dengan arah kita dan berhenti pada titik di wilayah sungai lagi. Sambil mengeluarkan suara lengkingan tinggi dan panjang. Pada perilaku yang kedua, itu berarti anda harus rela “kehilangan” dia, tapi pada perilaku yang pertama berarti anda masih punya kesempatan mendekati dia lebih intim. Atau pada tingkat kesabaran tertentu, anda justru yang akan didekati oleh dia.

Meninting, meskipun ketika didekati dia langsung menjauh, sebenarnya itu hanya sebuah ekspresi kekagetan yang reaktif, yang kalau anda mau menunggunya sambil sedikit bersembunyi, dia akan segera kembali ke arah anda. Atau pada beberapa perilaku, dia akan menyingkir tidak jauh dari sungai, bertengger pada ranting belukar sambil menaikkan jambul putihnya. Ketika anda menemui perilaku yang seperti ini, berarti anda tinggal selangkah lagi untuk “menghabisi” dia. Satu langkah itu adalah sabar. Kuat-kuatan. Yah, paling tidak kalau anda menunggunya sambil jongkok, minimal sampai kaki anda kesemutan, atau kalau anda perokok mungkin -minimal- butuh dua batang rokok kretek sebelum dia benar-benar percaya bahwa anda tidak memiliki niat buruk kepadanya. Atau yang paling jelek, dia akan menganggap anda manusia bodoh yang tidak perlu dikhawatirkan keberadaannya.

Nah, hal kecil yang perlu anda perhatikan adalah jambul putih di jidatnya. Selama jambulnya masih berdiri, jangan coba-coba membuat gerakan yang mengejutkan, karena pasti dia akan segera pergi. Tunggu saja, tunggu lagi, dan tunggu lagi. Sampai pada saatnya ketika sekali jambulnya diturunkan lalu dia juga turun ke tanah (sekitar aliran air) sambil langsung nggremet mematuk-matuk, nah saat itulah pertunjukkan yang sesungguhnya dimulai. Seketika dia akan menjadi burung yang benar-benar indah, lucu dan menggemaskan, karena dia tidak takut lagi sama keberadaan anda, bahkan dia akan mendekati anda. Asal tetap dalam satu kesepakatan bahwa anda tidak membuat gerakan yang mengejutkan.

Ohya, ada lagi satu kesepakatan dasar: bahwa semua satwa pasti akan mempertahankan wilayah terbaiknya. Wilayah terbaik bisa berarti di situ banyak tersedia pakan, atau aman. Artinya sangat penting untuk mengetahui kondisi lokasi dimana anda akan bertarung kuat-kuatan sama burung ini. Pengalaman, lokasi terbaik untuk beradu kuat-kuatan sama dia adalah cari dimana ada cekungan yang agak luas dan tergenang air di sepanjang aliran sungai yang tidak ada turbulensi kuat akibat arus air, ada tumpukan seresah yang basah yang mungkin tempat dimana banyak cacing yang tentunya tidak jauh-jauh dari aliran air dan mungkin, syarat paling buruk tapi bukan harga mati:  sedikit terjauh dari sinar matahari.

Jadi bagi anda para jomblo seperti saya. Jangan kuatir nggak laku, pun jangan terlalu memburu wanita-wanita. Tunjukkan saja bahwa anda tidak punya niat jelek, anda adalah lelaki penyabar bahkan kalo perlu berlagaklah seperti orang bodoh. Menunggulah dengan riang gembira, InsyaAllah dengan didukung doa akan ada waktunya burung itu datang menghampiri anda. Dan ketika saat itu datang, jangan sekali-sekali terlalu banyak pertimbangan…langsung jepret… jepret… gabrus… gabrus… manak… manak…

19
Oct
09

Kepala Baru dan PNS Berkaos Oblong

Apa yang terjadi ketika terjadi pergantian pimpinan di kantor anda? Pasang muka, rasan-rasan di kantin, ketakukan baru, atau bahkan sebuah harapan baru. Setiap orang mempunyai karakternya masing-masing yang dibawa kemanapun dia berada. Dan untuk kapasitas seorang kepala, karakter pribadinya sudah pasti akan mempengaruhi seisi kantor yang dipimpinnya.

Dulu ketika saya datang di Baluran, kepemimpinan seorang Kuspriyadi yang kalem dan penuh pengertian, menciptakan nuansa yang bener-bener cair dalam kantor. Katakter beliau yang sangat koperatif, akomodatif, lucu dan penyabar tapi tegas membuat setiap orang bekerja dengan senang hati, berkarya dengan lapang dada, pun untuk beberapa orang mbolos tiap hari dengan tanpa rasa bersalah apalagi takut. Pak Kus bagaimanapun juga dalah sosok orang yang sangat kami hormati waktu itu, pun sampai sekarang minimal oleh saya pribadi.

Bagi saya, kondisi ini membuat saya jadi semakin nyaman tidak memakai seragam, hanya kaos oblong dan sandal jepit, kecuali acara-acara tertentu yang menuntut kerapian barisan. Hampir tiap hari kaos oblong adalah seragam kebesaran saya. Adalah Solo Hamonangan Tampubolon, seorang Batak dengan citarasa Jombang yang tiap hari selalu mengomeli tentang seragam kebesaran saya itu. Tapi beliau orangnya asik jadi tidak pernah sekalipun saya anggap omelan itu sebagai wujud kemarahan apalagi kebencian. Dan akhirnya guyonan-lah ujung dari omelan-omelan itu.

Belum lama merasakan model kepemimpinan Pak Kus, tiba-tiba datang surat dari Manggala bahwa Pak Kus harus segera melaksanakan tugas baru di Kalimantan Timur. Dan digantikan oleh Pak Indra Alinar yang ternyata bukan orang baru, karena dulu pernah menjabat sebagai KSBTU di Baluran. Muncul berbagai macam isu-isu tentang kepala baru ini. Mulai dari yang galak, kalo ngomong ceplas-ceplos, pelit, tertib, disipilin sampai tipe orang yang tidak pernah macam-macam soal makan.

Lalu datanglah hari itu, hari pertama Pak Indra memegang tampuk tertinggi struktur kantor Balai Taman Nasional Baluran. Dampak pertama yang paling signifikan adalah orang-orang pada masuk kantor hari itu. Nggak tahu apa yang mereka kerjakan, tapi mereka tampak sibuk sekali. Sepertinya fenomena itu cukup beralasan, karena Pak Indra ternyata orang yang sangat terliti terhadap setiap bawahannya, beliau tahu siapa yang bolos hari itu, bahkan sampai petugas karcis di pos depan, beliau tahu siapa yang males nongol. Pake ilmu kanuragan model apa itu bukan urusan saya, yang penting saya nongol terus.

Sebagai kepala baru, rapat koordinasi dan evaluasi serta peninjauan lapangan adalah aktifitas kami hampir setiap hari. Dan setiap rapat koordinasi dan evaluasi, selalu saja ada karyawan yang kena cuci habis-habisan.

“Pak A, selama ini kesibukannya apa? Sudah menghasilkan apa saja? Sesuai nggak dengan gaji yang anda terima?”

“Pak B, dalam satu bulan berapa jam yang anda habiskan untuk menyelesaikan pekerjaan rutin anda? 5 menit? Atau setengah jam?”

“Pak C, anda itu staf lapangan, ngapain aja di kantor? Sana pergi ke lapangan!”

“Ibu D, kemarin gak masuk kemana?”

Dan sebagainya… dan sebagainya…

Tapi bagi saya, hal seperti itu memiliki satu makna: seragam kebesaran masih tetap kaos oblong! Karena saya sudah menyiapkan jawaban kalau sewaktu-waktu beliau menyakan kenapa saya pake kaos oblong. “Lha saya kan orang lapangan pak, pake seragam membuat saya tidak nyaman berkerja, karena pekerjaan saya menuntut fleksibilitas tinggi dan keringat bercucuran!” hahahahaa.. habis perkara!

Suatu hari ketika kami rapat evaluasi keuangan. Seperti biasa bos baru ini orangnya sangat kritis dan teliti terhadap setiap perencanaan dan pelaporan keuangan. Sampe pada ranah yang paling ekstrim, banyak orang yang menyebut beliau ini orangnya pelit.

“Apa-apan ini, renovasi gedung bisa menghabiskan 300 juta lebih!” lanjut Beliau sambil terus melototi lembar laporan keuangan.

“Tahu nggak apa yang membuat gedung-gedung di komplek kantor kita cepat rusak? Karena anda sering meremehkan hal-hal kecil. Genteng melorot satu dibiarkan, jendela gak pernah dibuka, debu-debu dibiarkan menumpuk sampe tebal. Begitu sudah rusak langsung menghabiskan ratusan juta!” lanjutnya.

“Siapa koordinator bagian umum?” Tanya beliau pada forum.

“Saya Pak.” Jawab Pak Solo Hamonangan Tampubolon, orang Batak citarasa Jombang yang suka ngomeli saya masalah kaos oblong tadi tadi sambil senyum-senyum, karena emang pada dasarnya orang Batak Coret ini adalah orang yang sangat susah diajak serius.

“Pak Solo.” Sahut pak Bos, “Pernahkah Pak Solo menyemprot itu kusen-kusen kantor pake anti serangga?” Tanya Pak Boss.

“Belum pernah Pak.” Jawab Pak Batak Coret ringan.

“Lha ini!” sahut Pak Boss, “Gimana bangunan-bangunan di sini nggak mudah rusak kalo tidak pernah dirawat?” sambung beliau. Semuanya terdiam. Termasuk saya. Hening.

“Oke, kalo gitu, mulai senin depan, Pak Solo nggak perlu harus pake seragam berseterika! Pake saja kaos, biar tidak canggung untuk membersihkan setiap kotoran debu, genting melorot atau menyemprot anti serangga!” perintah Pak Boss tegas.

Spontan saya langsung ngekek…. Wakakakakakk…

Monggo didahar meniko kaose…” sambil gumanku dalam hati hahahahaa..

Akhirnya mulai senin depan saya punya pengikut baru: PNS berkaos oblong!

04
Sep
09

Luasnya Islam dan Tarawih 1 Menit 28 Detik

Apa yang terjadi seandainya Indonesia tidak pernah di-ampiri sama para Wali Songo? Apa yang terjadi seandainya tidak ada sejarah Islam di Indonesia sampai detik ini? Saya yakin Allah gak akan terima! Atau minimal para malaikat akan gelisah bukan kepalang lalu membentuk dinas rahasia yang diam-diam akan meng-Islamkan Indonesia!

Bukan masalah jumlah pemeluknya yang terbesar yang membuat Islam-Indonesia memiliki nilai spesial. Bukan pula jumlah masjidnya yang tersebar hampir di setiap kampung-kampung atau gang-gang. Jika anda berkunjung ke daerah Madura atau wilayah dimana suku madura adalah komunitas mayoritas, yang namanya Masjid bahkan lebih banyak dari jumlah konter pulsa. Bukan pula sejarah penyebarannya, terutama di Jawa, yang sama sekali berbeda. Hampir tanpa huru-hara atau peperangan, kecuali Demak di bawah pimpinan Raden Patah yang menyerang sisa-sisa kejayaan Majapahit. Itupun karena Raden Patah mbalelo setelah dilarang oleh Sunan Ampel.

Islam-Indonesia adalah sebuah institusi dimana sebuah proses dialektika berjalan dengan sangat dewasa. Di negeri ini Islam tumbuh dengan berbagai macam wajah dan aliran, mungkin sama banyaknya dengan jumlah pemeluknya. Karena memang seharusnya sajadah Islam dibentangkan seluas cakrawala untuk membuka pintu-pintu pemikiran dan kontemplasi yang mendalam tentang Islam.

Islam menjadi bukan semata-mata agaman doktrinasi yang kaku dan statis. Terlepas pada akhirnya terjadi banyak perbedaan, bahkan sampai yang paling prinsipil, toh “Perbedaan di antara umatku adalah rahmat”. Yang salah dapat nilai 1 yang benar dapat nilai 2, begitu dulu guru ngaji saya mengajari. Perselisihan dan pertikaian pada akhirnya adalah sebuah keniscayaan, tapi semoga bukan satu-satunya metode evaluasi untuk menentukan ajaran siapa yang paling benar. Karena seperti awal penyebarannya, islam di Indonesia berkembang tanpa huru-hara.

“Lalu bagaimana dengan para teroris-teroris itu Gus?” aku bertanya kepada guruku.

“Mereka bukan islam. Bahkan mereka bukan Indonesia.” jawab beliau singkat.

“Lalu siapa mereka Gus?” desakku

“Mereka cuma segelintir orang yang GeeR menganggap dirinya islam, mereka adalah secuil teori yang tidak punya formulasi absah untuk menjelaskan definisi syahid!” jelasnya singkat pula.

“Tapi kan Islam boleh-boleh saja diinterpretasikan bermacam-macam Gus?” aku mencoba moh ngalah.

“Boleh. Halal. Asal jangan ngeyel menyebut kambing adalah onta, padahal jelas-jelas itu kambing!” jawab beliau.

Lalu siapakah yang ngeyel menyebut kambing adalah onta padahal jelas-jelas itu adalah kambing? Adakah orang yang sebodoh dan sebuta itu? Memang benar kata guru saya, pada akhirnya mereka bukanlah Islam atau minimal PD bahwa mereka Islam pun juga bukan.

Yah, lagi-lagi kita harus terbuka bahwa betapa luas dan terbukanya islam. Mulai dari yang tiap hari pake ghamis, sorban atau sarung sampai yang datang ke pengajian pake kaos oblong bertuliskan “Life for Satan”. Mulai dari yang naek haji tiap tahun tapi masih kurang sampai yang sekali naik haji tapi takut diketahui orang kalo dia sudah haji. Mulai dari yang berebut kunci surga hanya dengan jihad sampai yang istiqomah berderma meskipun “cuma” seribu rupiah tiap hari.

Di kampung tempat tinggal saya, di sebuah masjid kecil bernama Al Mu’min pada bulan Ramadhan hampir tidak pernah berhenti terdengar orang dan anak kecil mengaji. Mereka hanya petani dan pencari kayu bakar di hutan Baluran. Dan sepertinya mereka juga tidak butuh formula yang terlalu rumit untuk mendefinisikan tentang Islam, syahid, apalagi surga. Pagi, siang, sore bahkan malam tidak pernah berhenti suara-suara ayat Al-Qur’an terdengar dari corong Toa yang dipasang di atas atap masjid.

Bagi mereka Islam bukan sebuah definisi apalagi teori. Islam adalah apa yang keluar dari pemikiran mereka bahwa apa yang mereka lakukan tidak merugikan orang lain. Masjid tidak pelu megah, karena masjid raga hanyalah simbol yang pasti akan lapuk oleh matahari dan hujan. Salah satu imamnya pun juga hobi main gaple, karena dengan begitu akan menghindarkan dia dari potensi riya’ dan sombong. Sholat jum’atnya gak perlu lama-lama, gak lebih dari 15 menit.

Dan pelajaran terakhir dari jama’ah ini adalah. Untuk menghindarkan sholat tidak khusuk adalah dengan mempercepat sholat itu sendiri. Mungkin anda perlu mencoba sholat tarawih di sini. Satu kali membaca Al-Fatihah cukup 14 detik, ditambah surat pendek juz-amma total 28 detik. Sehingga satu kali sholat tarawih hanya membutuhkan waktu 1 menit 20 detik. …ghoiril maghdu bi ‘alaihim waladldloolliin… MIN!!! Bahkan bacaan “A” tidak terdengar! Satu-satunya hal yang membuatku tidak khusuk sholat tarawih disini adalah berkali-kali nglirik jam dinding untuk menghitung berapa lama surat Al-Fatihah dibaca, surat pendek atau berapa lama satu kali sholat membutuhkan waktu. hehehe…

Njenengan ki cen hebat tenan Gus…

28
Aug
09

Foto-foto dari 3 Family Terbaru

08
Aug
09

17an dan Indonesia yang Nir

Hari sabtu kelabu, pertama gak bisa hunting karena kamera dipinjem temen kantor yang nikah hari ini, kedua jelas satu lagi temen bujangan gugur ditikam oleh cinta suci pujaan hati, dan (kayaknya pasti) ketiga ntar malam seperti malam-malam minggu biasanya: no date, no woman dan no entertainment (Tivi gak nyambung semua channel karena parabolanya habis di-njot2 monyet). Sempurna sudah….

Dan berangkatlah aku ke kondangan temanku itu. Kebetulan dapat mobil tumpangan temen kantor. Awalnya aku berpikir “lumayan gak usah nyetir, jadi bisa sambil nyantai“. Tapi sejak 100 meter pertama, sudah terasa ini mobil sepertinya bukan mobil biasa, tapi Bis Akas jurusan Surabaya-Banyuwangi yang dimodifikasi extrem jadi mobil. Shock breaker-nya keras minta ampun. Di bagasi belakang, suara gemblodak bertabuhan gak mau kalah sama suara mesin yang lumayan bising. Sopirnya, tidak bisa diragukan: alumnus Akas! Dan terakhir gak ada ase-nya (baca: Air Conditioner). Kelabu ke-empat….

Pulang dari kondangan, pas jam 1 siang, pas udara lagi panas-panasnya. Ase masih mati. Menyusuri jalan-jalan daerah Banyuwangi yang sangat berdebu. Memasuki kecamatan Wongsorejo, kira-kira 20 km lagi dari Baluran, tiba-tiba jalan macet! Di kota sekecil ini. Kecalakaan? bukan. Operasi teroris? juga bukan. Jadi?

Tidak kurang 15 menit menunggu lalu lintas jalan normal lagi (masih di dalam oven berjalan!), mulai terkuaklah penyebab kemacetan ini. Ternyata sepertiga ruas jalan dipake anak-anak kecil berseragam sedang berbaris: lomba gerak jalan tepat! Langsung aku teringat, ohiya ini kan bulan Agustus. Alamat deh, akan jadi perjalanan yang melelahkan: di dalam oven berjalan dan sopir alumnus Akas semakin lama.

Tapi ada sesuatu yang sedikit membuat aku malu juga. Malu kepada diriku sendiri dan kepada bangsa Indonesia, ketika saya melihat bagaimana orang-orang yang dengan antusias penuh semangat menonton lomba gerak jalan ini.

Siapapun tahu lomba gerak jalan tepat. Hanya baris-baris anak-anak sekolah yang berjalan dengan tempo yang seragam yang kadang juga morat-marit, suara peluit yang monoton, atau wajah anak-anak kelelahan yang sudah dipenuhi keringat dan debu jalanan. Tontonan yang hampir tidak memliki nilai hiburan. Baik hiburan dalam arti yang sebenarnya: memiliki keunikan, menantang, dipenuhi atraksi akrobatik,  apalagi pelaku yang menggugah nafsu. Sama sekali tidak ada. Apalagi jika dianalisa menggunakan logika kapitalistik yang akhirnya mengarah kepada industri hiburan, sama sekali tidak ada juga.

Tapi mengapa orang-orang itu begitu antusias menonton pertunjukan “sangat biasa” ini? Bahkan di sepanjang rute lomba, warga-warga yang punya perangkat audio berdaya besar rela mengeluarkan dan menata speaker-speaker besarnya di tepi jalan lalu dimainkan musik dengan volume keras, seperti orang yang punya hajat, muai dari lagu osing, gending jawa, dangdut, peter pan sampai remix. Hampir tiap 100 meter, ada saja lagu-lagu dengan volume tinggi di depan rumah-rumah warga. Seperti tidak mau ketinggalan acara, mereka ikut mangayu bagio, ikut bersuka cita menyambut barisan anak-anak itu.

Orang-orang itu, seperti tidak mengenal konsep hiburan apalagi sampai mengenal industri hiburan. Mereka tidak butuh mengenal logika bisnis ataupun logika eksklusifme untuk bahagia. Dan bukankah memang seperti ini harusnya yang namanya hiburan: gratis, tidak perlu dicekoki iklan-iklan, tidak ada tipuan “KETIK SPASI REG”, dan yang jelas bahagia!

Obyek tontonan atau hiburan tidak selalu harus menarik dengan pernik-pernik penari latar, senyuman MC yang semu atau atraksi akrobatik yang berbahaya. Ternyata kebahagiaan tidak bisa diukur dari formula bisnis, atau bahkan teori sosial marketing apapun. Dan itulah Indonesia, bangsa yang dibangun di atas nilai-nilai yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kebersahajaan. Bangsa yang diperjuangkan dengan segala pengorbanan yang tidak seharusnya rontok oleh arus hedonisme. Momentum 17an adalah oase sejarah bangsa kita untuk sedikit mengendapkan rasa, bahwa Indonesia masih baik-baik saja di tengah arus jaman yang serba kapitalistik, hedonis dan eksklusif. Karena kita tidak perlu itu semua. Karena Indonesia sudah nir.

MERDEKA !!!

05
Aug
09

Very Thanks For All “Baluran and Me” Visitor

Baru saja iseng-iseng lihat halaman Blog Stats di admin www.pratapapa81.wordpress.com, langsung terpampang grafik kunjungan yang masuk ke blog ini. Per Day, trus Weeks, dan terakhir….Month. Melihat bentuk grafik bulanan aku langsung melotot, What…??!! Langsung mak bedunduk saya terkaget-kaget! Krusor mouse aku drag ke titik grafik tertinggi yang kebetulan menunjuk pada bulan Agustus, dan langsung keluar snapshoot yang menunjukkan angka 1.459 !!

Seribu empat ratus lima puluh sembilan (tanda seru 2 kali)…dalam satu bulan!!

Gak salah ne? Trus aku coba buka-buka lagi stats yang lain, aku lihat halaman mana, postingan mana, link mana, atau foto mana yang paling banyak dikunjungi. Dan ternyata postingan yang paling banyak di-kunjungi adalah “Populasi Murai Batu Terancam Punah”. Padahal postingan itu aku copy paste aja dari milis kadang kukila. Dan link yang paling banyak di-klik adalah “http://pratapapa81.files.wordpress.com/2008/04/jogja-bird-map.gif”. Kalo ini masih mending karena bikin aplikasi Jogja Bird Map sampe dibela-belain gak tidur berhari-hari.

Referrer terbanyak yang memprovokasi orang mampir di blog ini ternyata dari http://us.mc538.mail.yahoo.com/mc/showMessage;_ylt=AiiwBttLJD7I8ln0RmxfQbNjk70X?mid….. Aku gak tahu ini dari mana, sepertinya dari milis. Kalo bukan kadang kukila ya SBI-Info. Dan terakhir, kata kunci yang paling banyak dipake sehingga orang-orang pada tersesat di blog ini adalah “burung murai batu”. Lagi-lagi murai batu menjadi top score.

Mungkin dua-duanya hal yang bisa aku lakukan selain terkaget-kaget adalah, I’d like to say very very very thanks for all of you guys. Pokoke matur suwun banget. Semoga ini bisa menjadi penyemangat untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas konten yang selama ini cuma contongan ngalor ngidul.

Mari terus bekerja.

12
Jul
09

Saat memiliki adalah saat kehilangan

Tidak ada yang bisa menebak, seberapa besar rejeki yang dibagi Tuhan kepada kita besok. Pun, seberapa pahit cobaan yang ditimpakan kepada kita satu detik setelah ini. Seperti halnya Tuhan, malaikat, jin dan setan, masa depan adalah makhluk yang ghoib.

Bekerja dengan sungguh-sungguh adalah rukun wajib yang harus dijalani orang hidup. Sebab hak yang diberikan oleh Tuhan kepada kita adalah –hanya- wilayah proses, selebihnya, hasil yang didapat adalah mutlak hak Tuhan yang menentukan.

Tuhan sangat adil kepada setiap makhlukNya. Beliau sangat teliti dan hati-hati dalam membagi jatah rejeki dan nikmat. Meskipun Beliau sudah menegaskan bahwa manusialah makhluknya yang paling sempurna, toh tidak ada satupun makhluk yang luput dari perhatian dan penjagaan Tuhan. Bahkan nasib sebutir debu di tengah kekosongan angkasa, Tuhan sudah mengaturnya dengan sangat sistematis yang mungkin butuh puluhan tahun bagi manusia untuk membuat rumusan matematisnya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak optimis kepada Tuhan.

Jadi jangan lupa diri kala mendapatkan jatah rejeki yang berlebih. Pun jangan putus asa kala menemukan kehilangan yang berarti. Seperti hukum termodinamika, saat kita mendapati sebuah energy maka pada saat yang bersamaan kita juga sedang kehilangan massa, dan sebaliknya.

Tidak ada yang layak diperebutkan di dunia ini, pun tidak ada yang layak diremeh-temehkan. Sebab ketinggian ilmuku adalah aku paham bahwa saat memiliki adalah saat kehilangan bagiku.

22
Jun
09

Ciungmungkal Jawa yang Disulap Jadi Ciungbatu Kecil

Sempat termehek-mehek oleh foto burung Ciung di Gunung Ijen akhirnya kenyataan harus diterima meskipun agak pahit. Tak disangka, burung cantik yang aku kira Ciungmungkal Jawa ternyata adalah “hanya” Ciungbatu Kecil” yang diutus Tuhan untuk menguji ketelitian dan kesabaranku.

Diriwayatkan, Ciungmungkal Jawa adalah burung endemik Jawa yang hanya terbatas di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian barat. Populasinya yang jarang membuat dia jarang sekali teramati. Berdasarkan riwayat shohih yang lainnya, salah satu penyebab menurunnya populasi burung ini adalah karena degradasi habitat di dataran tinggi dimana burung ini berada.

ciung1

Ciungbatu Kecil yang tertangkap di Gunung Ijen

Kondisi ini yang kemudian banyak kawan-kawan menjadi antusias oleh temuan foto yang terlanjur aku sebut sebagai Ciungmungkal Jawa. Apalagi lokasi pertemuannya di Gunung Ijen yang jaraknya lebih dari 400 km dari lokasi paling timur burung ini ditemukan. Sangat sensasional, menghebohkan dan nyaris menjadi spekulasi yang berlebihan.

Adalah seorang Bas van Balen yang sepertinya juga diutus Tuhan untuk mengingatkan hamba-hambaNya yang kurang teliti seperti saya. Pengalamannya yang sangat lama tentang burung-burung di Indonesia membuat dia langsung bisa tahu dengan sekali lirikan bahwa itu bukan Ciungmungkal Jawa. Karena yang ngomong adalah empunya ornitholog tidak ada pilihan lain buat pendekar magang seperti saya untuk langsung sendiko dawuh.

Ciungbatu Kecil yang "tertangkap" di Tahura R. Soeryo

Ciungbatu Kecil yang "tertangkap" di Tahura R. Soeryo

Pada suatu hari, ketika saya hunting di Tahura R. Soeryo semakin tampaklah siapa sebenarnya Ciungbatu Kecil. Berbekal dengan semangat Paregreg, saya meluncur pagi supaya tidak ketinggalan acara. Beberapa jam perburuan tidak memberikan hasil yang extraordinary selain beberapa burung kecil yang aku sudah sangat hafal siapa nama mereka, rumahnya dimana dan siapa nama bapaknya. Hampir 6 jam terus memasang mata, telinga dan leher yang pegel karena kebanyakan tengadah, akhirnya muncullah satu lagi utusan Tuhan, tidak jauh dari tempatku berdiri.

Ciungbatu Kecil dengan suaranya yang khas hinggap di pohon yang sedang berbuah. Tidak cukup terganggu juga dia dengan pergerakanku yang cukup agresif mendekatinya supaya dapat beberapa gambar terbaik. Dan betul juga, hasil jepretan hari itu semakin menegaskan siapa sebenarnya Ciungbatu Kecil dan siapa Ciungmungkal Jawa.

Satu kalimat yang masih sangat saya ingat dari Pak Bas,” Jangan putus asa, itu hal yang sangat lumrah terjadi. Maaf.” Ahh… Bas van Balen telah menyulap Ciungmungkal Jawa-ku menjadi Ciungbatu Kecil dengan satu mantra sakti: Maaf.

10
Jun
09

Manohara, TKW Paling Sukses

Sepertinya kita sudah tidak perlu lagi diingatkan bahwa sebenarnya yang menginjak-injak martabat bangsa ini bukan hanya kapal perang Malaysia yang hilir mudik seenaknya di blok Ambalat, atau kebijakan ekonomi-politik kita yang sebegitu mudahnya disetir kekuatan asing, tapi nasib para TKW, pejuang ekonomi Indonesia, yang diperlakukan bahkan lebih rendah dari hewan itu juga sesuatu yang harus dipandang serius sebagai negara yang bermartabat. Sepertinya kita sudah tidak butuh lagi berita-berita tentang nasib TKW muncul di tivi-tivi. Kita perlu sesuatu yang lebih sensasional, yang lebih entertain dari sekedar para wanita-wanita yang secara biologis nggak enak dipandang. Kita butuh Manohara!

Manohara adalah wakil Tuhan yang membawa pesan kepada seluruh umat manusia di Indonesia betapa sedemikian kulitnya kita memandang makhluk terindah sejagad raya yang bernama manusia. Bahwa harga seorang manusia ternyata tidak lebih dari kemulusan kulitnya, keelokan wajahnya atau kemontokan bodinya. Bahwa betapa kita sudah tidak bisa menemukan korelasi positif antara pengorbanan dengan penghormatan.

TKW (seharusnya) adalah miniature manusia Indonesia yang suka bekerja keras, tahan banting, memiliki I’tikad tinggi mencari penghasilan demi keluarganya. Mereka (seharusnya) adalah maket paling simple tentang keberanian orang Indonesia dalam menantang bahaya, disiksa sampe babak belur lalu pulang ke Indonesia, setelah sembuh berangkat lagi ke negeri tetangga dan begitu seterusnya. Meskipun pada akhirnya, jeritan mereka masih belum memiliki alas an strategis untuk menjadi konsumsi industri tivi, pemirsa bahkan calon-calon presiden mendatang.

Dan TKW (seharusnya pula) bisa menjadi senjata perlawanan Indonesia terhadap penjajahan social-budaya dari dunia luar. Kalau saja para TKW dan TKI ini berani menyebarkan sperma-sperma dan bayi-bayinya ke seluruh dunia maka ras melayu Indonesia dalam hitungan dekade akan segera menguasai dunia. Dan Manohara adalah ikon perlawanan ini.

Manohara adalah seorang TKW yang sangat cerdas dengan memilih profesi sebagai istri pengeran. Sebuah terobosan radikal yang harus banyak ditiru oleh TKW-TKW kita mendatang. Meskipun pada akhirnya yang membedakan dia dengan TKW lainnya adalah dia punya nilai strategis untuk menghiasi berita-berita prime time, membuat gregetan masyarakat kita atau menjadi komoditas kampanye salah satu calon presiden. Sama-sama mengalami penyiksaan, Manohara adalah TKW paling sukses dari yang pernah ada.

19
May
09

Aurat Yang…

Apa yang membuat aurat bisa membuat banyak orang sangat penasaran ingin melihat? Meskipun bentuknya juga gitu-gitu aja? Sangat sederhana, karena dia selalu disembunyikan. Saya sedang tidak ingin membenturkan logika ini dengan sumber-sumber hukum dari agama manapun yang juga melarang mempertontonkan aurat.
Semakin tinggi gunung menjulang, semakin tertantang orang untuk menaklukkannya. Seperti hukum termodinamika, semakin besar energi laju benda, semakin besar tenaga yang dibutuhkan untuk menghentikannya (nyambung nggak sih?).

Tapi ada juga logika yang lebih “menggoda”. “Mengapa yang enak-enak itu diharamkan?” begitu dendang Wak Haji Rhoma Irama sambil mengangkat gitar Fender-nya (apa iya Fender? sok tahu!). Jadi logika sederhananya, sesuatu yang dilarang, disembunyikan, bersembunyi atau minimal agak kemalu-maluan, itu pasti enak.

Jadi anda memilih yang mana? Aurat adalah hal yang memang harus disembunyikan, ataukah aurat adalah sesuatu yang enak?

14
May
09

Bagaimana Burung-Burung Baluran Tercipta

Mungkin dulu Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Baluran. Dia ambil secuil tanah dari surga lalu dilempar ke negeri paling indah di dunia, Indonesia. Di ujung paling timur sebuah pulau yang kemudian diberi nama Jawa. Setelah itu Dia ciptakan tetumbuhan yang beraneka ragam. Lalu tetumbuhan itu oleh Tuhan dijaga sedemikian rupa sehingga menjadi hutan yang sangat lebat dan selalu hijau sepanjang tahun. Dia juga perintahkan lautan untuk membangun gugusan pantai dan terumbu karang di sekeliling surga kecil ini.

Laut segera bekerja dengan memerintah beberapa ombak-ombak kecilnya untuk membuat perairan yang tenang sehingga terbentuklah gugusan terumbu karang, beberapa ombak-ombak perkasanya untuk menghantam daratan yang terjal sehingga terbentuklah pantai-pantai bertebing yang indah. Dan yang terakhir laut memerintahkan hewan-hewan bercangkang kapur untuk beranak pinak dan mati di pantai-pantai Baluran sehingga terbentuklah pantai-pantai berpasir putih.

Kemudian Tuhan bertanya kepada hutan-hutan,”Sudah cukupkah keindahan yang aku ciptakan untukmu?”
Seluruh tetumbuhan di hutan menjawab,”Terima kasih Tuhan, Engkau ciptakan kami dengan sebaik-baiknya, tapi kami masih kesepian. Ciptakan untuk kami hewan-hewan!”

“Baik.” Jawab Tuhan,  kemudian Tuhan meminta kepada para tetumbuhan itu mengambil secuil sari pati dari dalam tubuhnya. Dari sari pati itu lalu Tuhan meniupkan ruh-Nya dan terciptalah keluarga binatang. Marimau, banteng, rusa, kucing, dan masih banyak lagi. Merekapun hidup harmonis dengan hutan-hutan karena sari pati hutan adalah sumber kehidupan bagi keluarga binatang.

Suatu hari sekelompok banteng dan beberapa binatang bertubuh besar mengeluh kepada Tuhan, “Lapor Tuhan, Kau ciptakan kami dengan tubuh yang sangat besar tapi Engkau juga menciptakan hutan-hutan yang terlalu rapat, pepohonannya terlalu besar sehingga kami kesulitan beraktifitas. Anak-anak kami juga tidak bisa bermain-main.”
“Jangan kuatir.” Jawab Tuhan singkat. Lalu dia bersiul ssiiuiittt… berdatanganlah sekelompok angin dari tenggara dan awan-awan. Kepada sekelompok angin dan awan itu Tuhan memerintahkan untuk membuat iklim yang lebih kering dari hutan-hutan di luar Baluran. Tuhan memerintahkan agar angin dari tenggara berhembus tanpa membawa butir-butir embun dan kepada awan dia memerintahkan agar jangan terlalu sering menurunkan hujan.

Maka beberapa tahun berikutnya, terciptalah hamparan savanna di antara hutan-hutan hijau yang sekarang terkadang mereka harus menggugurkan daunnya sebagai tanda pergantian musim baru. Savanna-savana itupun menjadi halaman bagi para binatang yang bertubuh besar untuk mencari makan, bermain dan pacaran.

Tiba-tiba seorang malaikat bersayap yang jumlah bulu-bulu sayapnya lebih banyak dari bebatuan dan planet-planet di seluruh alam semesta bertanya kepada Tuhan,”Sebuah surga kecil sudah tercipta, tapi siapakah master piece Anda di surga kecil ini?”

“Oh iya, aku lupa. Terima kasih sudah mengingatkan.” Jawab Tuhan agak kemalu-maluan.
Lalu Tuhan memetik daun-daun dari seluruh tetumbuhan di hutan Baluran. “Kau telah menginspirasi Aku.” Kata Tuhan sambil melirik kepada malaikat bersayap tadi, lalu Diapun meniupkan ruh-Nya kepada dedaunan tadi, ditebarkan dedaunan tadi dan jadilah mereka makhluk-makhluk bersayap yang beterbangan memenuhi angkasa. Beratus-ratus jenis burung tercipta.

Meka terbentuklah burung dengan beraneka ragam bentuk, rupa dan warna, burung yang terbentuk dari daun-daun lebar menjadi burung yang besar pula yang kemudian menjadi penguasa angkasa, burung yang terbentuk dari daun-daun kecil menjadi burung-burung kecil yang suka bersembunyi di balik dedaunan tapi kebanyakan dari mereka memiliki suara yang merdu. Burung yang tercipta dari pohon berdaun sangat lebar seperti daun pisang berubah menjadi burung yang sangat besar yang menghabiskan hampir seluruh harinya di atas tanah. Burung yang tercipta dari tetumbuhan yang sedang berbunga ketika daunnya diambil Tuhan menjadi burung yang memiliki warna bulu yang sangat indah. Dan daun pohon yang tumbuh di dasar jurang di bawah tajuk pohon-pohon raksasa berubah burung malam.

Burung-burung itu hidup bermesraan dengan hutan karena dari daun-daun tetumbuhan di hutan mereka tercipta. Dan burung-burung itu akan bersarang, mencari makan dan bermain di pohon dimana daun-daun sumber kehidupan para burung itu diambil oleh Tuhan.

Sambil menepuk dadaNya Tuhan berkata,”Inilah master piece-Ku di surga kecil ini.”

****

03
May
09

Sinthesisnya Adalah Bikin Account di Facebook

Setiap thesis pasti memiliki anti-thesisnya. Thesis normatif mangatakan “agama adalah petunjuk hidup” yang kemudian dibantah dengan anti-thesis yang mengatakan “agama adalah candu”. Tidak, saya sedang tidak ingin membahasa tema perdebatan yang tiada ujungnya ini. Tapi saya sedang ingin menggarisbawahi bahwa tetap ada titik resultan yang menengahi dua thesis ini.

Sedikit ngerpek syairnya manusia Indonesia terhebat yang pernah ada, Emha Ainun, kalo nggak salah seperti ini:

kalau memang agama adalah candu, maka Allah adalah canduku

Terserah bagaimana Anda menginterpretasikan puisi di atas.

“Masuk aja ke facebook, dia sering ngobrol sama temen-temen di situ.” begitu isi sms dari sahabat saya.

Ahh…kenapa harus facebook? Tidak adakah ruang sillaturohmi yang lainnya? Sejak beberapa bulan lalu, sejak FB ramai dibicarakan, saya sudah menancapkan niat bahwa bukan sebuah pilihan ikut-ikutan banyak orang untuk membuat account di FB. Bahkan ketika inbox emailku penuh dengan inviting dari banyak kawan yang sudah joint di FB, kesepakatanku dengan hatiku tidak berubah: Tidak Untuk Facebook! Sebuah anti-thesis yang sangat sederhana terhadap blooming FB.

Tapi ada apa denganku hari ini? Sms itu? “Dia”? Facebook?

Akankah aku harus mengingkari kesepakatanku dengan hatiku lalu berselingkuh dengan FB demi untuk -sekedar- tahu kabar “dia”? Atau jangan-jangan memang ini yang diinginkan oleh hatiku: bertemu dengan “dia”.

Dia, wanita pertama yang mengajari aku tentang sebuah kata sederhana: cinta. Cinta anak sekolah berseragam biru putih bercelana pendek yang masih doyan mainan kelereng. Cinta yang harus aku pendam sampai aku kuliah. Cinta yang bahkan sampai sekarang tidak beranjak dari lobang romantisme subyektif yang sebenarnya tidak perlu karena tidak akan pernah jadi nyata. Bahkan berandai-andai untuk jadi nyatapun tidak.

“Betul itu hanya romantisme saja, kawan. Dan hari ini kamu aneh sekali, agak-agak melo….” kata suara tak dikenal di belakangku.

“Setiap orang pasti kangen kampung halaman sejarahnya.” jawabku singkat, sedangkan tanganku terus mencenti keyboard.

“Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa selain khayalanmu!” balas suara itu.

“Bahkan sejak pertama kali aku bertemu dia aku sudah tinggal di kampung khayalan.” jawabku cuek sambil terus menceti keyboard.

“Onani!” nada dia sekarang agak kaku. “Cintamu hanya candu, perangsang fatamorgana!” sambungnya

“Yup, betul, dan kalaupun cinta adalah candu. Maka Dia adalah canduku!” jawabku ringan, sambil mengarahkan crusor mouse ke jendela berjudul Welcome to Facebook! Klik..

“Apa yang kamu lakukan?” tanya suara itu

“Hmmm…. Bikin account di Facebook!

GUBRAKK…

Ahaa… terjatuh juga akhirnya dia…

18
Apr
09

Golput Yang Fantastis

Apa yang ada di pikiran kita ketika tanggal 9 April kemarin nyontreng di TPS kampung Kita? Beberapa kelompok orang mungkin ada yang sekedar ikut nggruduk layaknya tetangga-tetangganya. Beberapa kelompok lagi karena merasa nggak enak dilihat tetangga atau temannya kalau di hari yang cerah itu cuma ngerong di rumah saja. Beberapa yang lainnya karena terlanjur cinta kepada partai tertentu atau kebetulan ada saudara atau mantan teman SMAnya yang jadi caleg. Atau ada juga yang masuk ke dalam bilik contreng tapi gak ngapain-ngapain karena sudah instiqoroh berhari-hari tapi masih belum dapat petunjuk kotak mana yang harus dicontreng, lalu nggumun melihat kertas suara sebegitu besar dengan sederet nama partai dan nama caleg yang masih asing baginya. Dan yang terakhir, yang paling sensasional, kelompok golput.

Golput dengan berbagai macam metode dan strategi: masuk bilik contreng lalu ngorok atau mencontreng semua kotak yang ada sehingga dianggap suara tidak sah, pura-pura masuk angin sambil kemulan brukut di rumah, beralasan tidak masuk DPT atau memang tidak dimasukkan DPT, atau yang paling simple: memang gak berniat nyontreng. Tapi terlepas dari semua alasan itu, golput pada akhirnya tetap dianggap sebagai kelompok yang picik politik. Ada juga yang mengatakan apolitis. Saya bukannya mau membela kelompok golput. Tapi mari berandai-andai, berpikir sejenak. Dengan logika yang tidak terlalu rumit.

Lebih maslahat mana, kita golput atau kita nyontreng salah satu satu caleg dari partai tertentu, tapi ketika caleg yang kita pilih kalah, besok ada berita di koran ternyata caleg kita meminta balik sumbangan tivi yang sudah dia berikan kepada sebuah kelompok warga. Jika kita berada pada pilihan yang kedua berarti kita sudah menyerahkan waktu penantian kita selama lima tahun kepada seorang oportunis yang hanya mementingkan dirinya sendiri, dan model caleg seperti itu nggak cuma satu dua saja. Lima tahun itu sebuah harga yang tidak murah. Dan tentunya dari perilaku calegnya, kita sudah bisa mengira-ira seperti apa watak partainya.

“Lha saya nggak kenal sama calegnya mau gimana lagi?” berarti sampeyan sedang membeli kucing dalam karung.

Saya tidak tahu berapa jumlah total caleg di pemilu sekarang. Tapi yang jelas, kalau semua caleg itu dikumpulkan lalu dibagi menjadi beberapa tim sepakbola, saya yakin jumlah itu sangat cukup untuk membuat sebuah liga sepak bola. Dengan jumlah segitu buanyaknya, bagaimana kita sebagai pemilih bisa mengenali calon pilihan kita? Ujung-ujungnya kita milih caleg artis dengan track record politik yang tidak jelas. Terlepas apa niatan mereka menjadi caleg biarkan itu menjadi wilayahnya Tuhan dan caleg yang bersangkutan.

Tidak jauh berbeda dengan memilih partai tertentu. Tidak dipungkiri, ada beberapa partai yang memiliki visi kebangsaan yang harus diacungi jempol. Tapi kita tidak bisa mamaksa seseorang untuk merangkai pemahaman apa yang menurut dia partai yang ideal.

Jadi, menjadi golput bukan sebuah pilihan tanpa pertimbangan. Kita tentu tidak kepingin membeli kucing yang ternyata cemeng. Atau pinginnya beli duren montong tapi yang didapat duren bodong. Akhirnya si penjual jadi berdosa karena –minimal- tidak jujur mengatakan apa yang dia jual dan si pembeli rugi karena akad jual beli telah disepakati tapi dia mendapatkan barang yang tidak sesuai dengan promosi.

Saya tidak sedang berbicara tentang sekelompok masyarakat yang dianggap “buta politik” tapi saya sedang bicara tentang legitimasi lembaga legislative yang akan duduk di senayan nanti. Saya sedang bicara tentang bobroknya penyelanggara Negara dalam hal ini KPU. Saya sedang bicara tentang strategi politik kekuatan-kekuatan besar untuk me-lenggang kangkung-kan beberapa partai tertentu untuk menguasai parlemen. 40% suara golput itu adalah angka yang sangat fantastis dan memalukan untuk membentuk pemerintahan baru!

Jadi apa, siapa, dan dimana yang sudah diletakkan tidak pada tempatnya ini?

klik disini biar tambah bingung

15
Mar
09

Pelajaran Terakhirnya Adalah…Dangdut !

Hah…akhirnya kembali lagi ke halaman admin www.pratapapa81.wordpress.com. Sampe lupa dah berapa bulan aku gak ngutek-utek halam ini. Alhamdulilah, Tuhan masih bersedia memberiku begitu buaaaaanyak kerjaan so aku jadi bisa belajar banyak, masalah banyak, capek banyak dan rokok banyak. Alhamdulilah…

Pelajaran pertama: Jangan pernah berpikir orang lain akan melihat hasil karya anda apalagi memujinya. Saya jamin anda akan menghasilkan karya terbaik dan orisinil. Penyakit bangsa kita adalah suka meniru orang lain, busana, gaya rambut, film, lagu, seni dan masih banyak lagi. Jadi kemungkinan terburuk kalau anda tidak bisa menghasilkan karya terbaik, anda akan menjadi bahan cemooh. Gak tahu apakah nyambung atau tidak, tapi temanku seorang penjudi pernah berkata “Jangan ragu-ragu dalam berjudi, kalo kau kalah kau akan jual rumah, tapi kalo kau menang kau akan beli rumah”.

Pelajaran kedua: Jangan pernah berpikir anda akan bisa mengerti perasaan orang lain, tapi ingatlah baik-baik semua kebaikan orang lain kepada anda lalu catatlah itu sebagai hutang yang harus anda lunasi, meskipun orang-orang itu tidak pernah mengharap balasan budi anda. Niels Bohr berkata, “Fisika tidak mengatakan tentang alam semesta, tapi fisika mengatakan apa menurut dia tentang alam semesta.” Nyambung lagi nggak ya?

Pelajaran ketiga: Bahwa tidak ada pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan. Dan tidak akan pernah ada selesainya pekerjaan meskipun kita bekerja terus-terusan. Dalam hal ini, management waktu adalah hal penting yang harus diperhatikan. Workaholic itu bagus tapi tubuh anda juga punya hak untuk diistirahatkan bahkan dimanjakan, begitu juga dengan keluarga, teman atau tetangga anda. Semua punya porsinya sendiri-sendiri.

Pelajaran keempat: Jodoh ternyata semata-mata bukan given yang sudah tertulis dalam lauful mahfud-nya Tuhan. Tapi jodoh adalah titik resultan dari beribu-ribu garis persilangan-perbedaan anda dengan calon pasangan anda. Tidak ada orang yang sempurna dan tidak ada orang yang sama sekali tidak memiliki kelebihan. Logika jodoh ternyata sangat sederhana: memahami dan menerima dengan ikhlas kekurangan calon pasangan anda. Seperti slogan yang selalu saya dengar di Female Radio Jogja dulu: Orang Mars bicara pake bahasa Mars, orang Venus bicara pake bahasa Venus. Tapi ada satu lagi bahasa di dunia ini… UNDERSTANDING… Lha kalo ini pasti nyambung….

Dan pelajaran terakhir: Bahwa tidak ada yang bermakna di dunia ini selain berusaha menyelesaikan pesanan Tuhan. Berusaha membahagiakan hatiNya dengan cara apapun, bahkan yang paling sepele sekalipun. Apa itu lagu Islami? Apakah yang berbahasa Arab? Bukan. Apakah yang dinyanyikan oleh kyiai? Juga bukan. Apakah yang menggunakan alat musik budaya masyarakat Islam? Itu juga bukan. Lalu apa itu lagu Islami? Lagu Islami adalah ketika anda mendengarkan alunan musik dangdut lalu dalam hati anda bergetar “Subhanallah…indah sekali suara nduuut ini ya Allah…” Itulah musik Islami!

11
Jan
09

Ayo Dong… Tuhan

israel-palestineSekali lagi, dunia dibuat tercengang tidak percaya melihat sebuah kejahatan kemanusiaan dibeberkan terang-terangan di depan mata mereka. Sebuah kejahatan kemanusiaan yang di-legalkan oleh kekuatan politik dunia. Dan sialnya kekuatan politik sama sekali tidak mewakili hati nurani manusia seluruh dunia. Dan yang lebih sialnya lagi, kita juga, yang mengelu-elukan ideologi yang berdiri kokoh di balik kekuatan-kekuatan itu.

Israel menggempur habis-habisan palestina. Mulai dari rudal, tank, senjata otomatis, kapal perang, pesawat jet hanya untuk melawan lemparan-lemparan batu pemuda-pemuda pemberani yang sudah menghapus istilah “maut” dalam hidupnya. Kalaupun ada senjata yang lebih canggih, itu paling-paling cuma senjata buatan Soviet bekas perang dunia ke II, rudalnya pun nggak mampu meluncur jauh-jauh.anak-palestina-di-gerbang-perbatasan-gaza-mesir anak2-palestina1

Ok-lah kalaupun ini disebut perang, karena Hamas dan Israel sama-sama melakukan penyerangan, tapi apa yang dilakukan Hamas tidak lebih dari mempertahankan secuil tanah sah milik mereka dari tangan penjajah. Dan akhirnya, seperti halnya drama-drama penjajahan, korban terbanyak lagi-lagi harus ditanggung si pemilik kedaulatan yang notabene adalah masyarakat sipil. Kalau tidak salah skor sementara 18-830 untuk keunggulan korban terbanyak di pihak Palestina!!

antara-holocoust-dan-gaza bayi1

Wake up people!! Ternyata ini bukan perang! Ini adalah pembantaian! Holocaust! Dan pembantaian itu dilakukan oleh sebuah negara! Dan “didukung” oleh para pemimpin politik dunia yang seharusnya lebih bersikap obyektif dan netral!

Dan negara-negara Arab? Saya nggak yakin  mereka ingin segera pertikaian ini berakhir, karena semakin lama pembantaian ini berlangsung sangat dimungkinkan akan mendongkrak harga minyak dunia yang harganya hancur-hancuran setelah mengalami puncak rekor harga termahalnya tahun lalu. Para emir-emir itu tentunya nggak pingin rugi dong…

Indonesia? Apakah dengan bantuan-bantuan yang telah diberikan apakah itu berarti Indonesia berada di pihak Palestina? Ingat, semboyan SBY “bersama kita bisa” itu sangat mirip dengan semboyan presiden Amerika terbaru “together, yes we can” dengan partai yang sama Demokrat!! Dan yang lebih penting lagi, kita sudah mau Pemilu lagi lo….palestina1-copypalestina3-copy

Jadi, saudaraku Palestina, sekarang siapa kawan dan lawanmu sebenarnya? Siapa sebenarnya yang sedang membantaimu habis-habisan pun yang membelamu mati-matian? Engkau sedang menghadapi dunia sendirian. Tidak ada yang akan membelamu, karena di mata dunia ini engkau tidak berharga, engkau tidak strategis untuk dijadikan sekutu.

Jadi tidak ada lagi yang perlu kau takutkan! Karena semakin engkau diremehkan oleh dunia, semakin mulia engkau akan dipandang Tuhan. Karena tidak ada lagi selain Dia yang bisa menjadi sekutumu. palestina4-copypalestina6-copy

Dan Tuhan…ayo dong… tunjukkan sebentar saja bahwa Kau masih ada. Bikin sedikit saja sulapan supaya mereka tahu kalau Engkau sedang menyiapkan rencana indah di balik ini semua. Bikin semua orang di dunia kebelet pipis bareng dan buat saluran air yang semuanya bermuara di Israel, biar kelep semua tentara-tentara Israel. Atau ganti serbuk mesiu peluru-peluru Israel dengan serbuk kopi, glepung atau bedak atau apalah! Semakin gak logis semakin bagus. Plizz ya Tuhan…

palestina-dukapalestina88

23
Dec
08

“Alam Bersahabat Dengan yang Ramah Padanya…”

Slogan itu hampir tersebar merata di setiap pintu kantor Balai Taman Nasional Baluran. Termasuk di pintu kamar barak kawan saya. Di sampingnya nempel logo baluran, dan dibawahnya tertera “www.balurannationalpark.go.id” yang kalo sampeyan cari di internet yang keluar hanya tulisan “Address Not Found!”.

Bersahabat adalah mau mengerti dan mau berbagi, Ramah bisa berarti tahu diri dengan siapa kita berhadapan.

Bersahabat dan ramah kepada alam pada level yang paling sederhana seperti menanam satu pohon di rumah (kalo punya halaman), mandi 3 gayuh air (bisa nggak ya?), mengurangi penggunaan plastik (jadi kondomnya pake koran aja), kurangi penggunaan listrik (jadi pake batere aja, tinggal ngitung aja kalo mo nonton fitri season 2 butuh berapa batere), dan mungkin kurangi memakai kendaraan bermotor (boleh pake kendaraan bermotor tapi cukup didorong atau dituntun).

Untuk yang terakhir, setidaknya cukup ampuh untuk menarik simpati alam kepada kita. Mungkin sudah waktunya pemerintah kita membuat peraturan yang mengharuskan warga negara Indonesia untuk menggunakan kendaraan ramah lingkungan ketika berangkat kerja. Bike to work. Bagi yang rumahnya jauh, akan ada kompensasi yang sebanding dengan harga bensin sejarak rumahnya dengan tempat dia bekerja. Karena yang rumahnya dekat nggak perlu naik kendaraan, nyeker saja sudah cukup.

Bike to Work

Bike to Work

Di Baluran (kata temen di sebelah saya kepanjangannya: babak belur ora karuan), menggunakan sepeda onthel mungkin bukan lagi sebagai kewajiban, tapi sudah menjadi hiburan. Setidaknya untuk kendaraan patroli, sepeda onthel sangat efektif karena tidak mengeluarkan suara bising, so para pelanggar tidak akan mengira kalo sedang ada polhut yang sedang patroli. Kalopun ketahuan, maka alam dengan serentak akan memerintahkan seluruh penghuni hutan untuk membantu petugas menangkap pelanggar yang telah merusak alam, entah tiba-tiba si pelanggar yang pas lari terus tersandung akar pohon, atau digigit ular, atau disruduk banteng dan yang paling hina adalah kecokrok duri akasia.

Kalo buat saya yang keranjingan hunting burung, beredar memakai sepeda dinas Polygon Monarch sudah terbukti bikin badan pegel-pegel. Tapi rasa capek itu lunas oleh fasilitas yang diberikan alam. Setidaknya jenis-jenis burung yang masuk kategori f*** karena saking susahnya ditemui apalagi difoto jadi lebih mudah didapat. Seperti bubut, kadalan, delimukan, atau pelatuk. Mungkin mereka berpikir “Ini pasti orang pekok, mau-maunya ngontel dari Batangan sampe Bekol” makanya mereka tidak merasa curiga apalagi terancam.

Tapi begitulah alam yang sedang senang hatinya. Belum cukup memerintahkan burung-burung pemalunya dia sudah terlebih dahulu memanggil segerombolan burung “aneh” dari puncak gunung. Berduyun-duyun ingin menghibur manusia yang “mencoba” bersahabat dengan alam. Serindit Jawa adalah isyarat kerinduan alam yang sudah lama ingin berdamai dengan manusia. Menjadi sahabat yang saling mengerti dan berbagi.

serindit Jawa

SERAA…..

21
Dec
08

Seperti Nemu Serindit di Baluran

Apa yang paling menyenangkan untuk dilakukan di Baluran?

1. Turis Belanda mengatakan: “Saya orang paling suka lihat-lihat hewan besar-besar.”

2.Turis Itali berkata: “Saya paling suka pantainya, karena bisa melihat sunrise. Live!”

3. Turis Perancis mengatakan:”Saya lebih seneng tidak pakai guide, karena saya tidak suka memberi tips.”

4. Turis Arab bilang: “Ana tidak suka Baluran, karena sama fanasnya dengan negara ana.”

5. Turis Asem Bagus nrocos, sambil bertanya kepada petugas lapangan: “Kok gak ono dangdute Pak?”

dsc_04111Tapi buat saya, aktivitas paling menyenangkan di Baluran adalah sepeda-an pagi-pagi, apalagi di bulan-bulan gini. Memakai kacamata sport yang baru takbeli di depan kampus UNY seharga 15.ooo rupiah, nyangking senjata laras panjang dan sepeda dinas Polygonku.

Segala sesuatu di Baluran disulap menjadi hijau, segar dan becek. Keajaiban-keajaiban kecil pun mulai bermunculan, kodok ngorek di tengah savana, burung kutilang yang biasanya cuek sekarang jadi sensi sekali, mungkin karena lagi bertelor. Kerbau liar keluar siang, padahal biasanya mulai beredar menjelang maghrib. Dan sebagainya dan sebagainya.

Dan keajaiban terbesarnya adalah, saya ada disini. Di kawasan hutan paling cantik se-Situbondo (karena emang gak ada hutan lainnya yang lebih cakep), gak… tapi emang bener-bener cantik. Keajaiban, karena begitu saya njujuk sini langsung tersedia kamera laras panjang. Langsung terpasang internet dan kendaraan dinas Polygon Monarch. Plus kawan-kawan PEH yang gak ada matinya. Pak Kus yang kooperatif dan berpandangan terbuka.Saya masih bener-bener gak percaya kalo saya adalah PNS. Karena semua yang ada disini sama sekali berbeda dengan anggapan saya dulu tentang PNS.

As unpredictable and unbelievable as I nemu serindit Jawa di Baluran!!

27
Nov
08

Kalimat Thoyyibah of Bajigur

Comment pertama begitu aku posting “What the Fucking Beautiful Creature” adalah tidak lain dari sahabat kecilku (karena tubuhnya mungil banget hehehee….)

mas, gak usah pake kata “fucking” itu kali…
kepengaruh bule banged sih?
burungnya udah cantik gitu malah tidak diapreasiasi dengan baik.
iya tau, mas itu saking terkesannya dengan kecantikan burung sampe musti bilang fucking beautiful bird segala. bisa kan pake kata-kata yang biasa aja.., toh secara visual burungnya udah cakep banget.

Begitu dapet comment begitu, dan dari seseorang yang menurut aku jauh lebih pinter bahasa inggris, spontan saja judul postinganku aku ganti “What the Bajigur Beautiful Creature”. Jadi apa bedanya fuck dan bajigur? Aku nggak tahu!

Tapi yang jelas, apalagi saya pernah lama di Jogja, bajigur sering saya pake untuk misuh, marahi orang, dan ungkapan kagum yang kalo seumpama dikalimatkan akan membutuhkan banyak kata, frase, struktur dan majas-majas yang pasti saya kesulitan merangkainya.

Ketika saya dilanggar oleh pengendara motor di jalanan Jogja, spontan saya langsung teriak:”Bajigur! Matane dinggo su!” disini bajigur membawa pesan kemarahan, yang pada akhirnya dia memiliki makna negatif. Mungkin akan sangat beda kalo ketika saya melihat elang laut untuk yang pertama kalinya dalam hidupku:”Bajigur…elang laut to?” saya tidak bisa membayangkan kalo saya harus pake puisi untuk mewakili keindahan si elang dalam tulisan.

Bajigur atau mungkin fuck yang saya pake di postingan saya itu, tidak lebih adalah sari paling inti dari sebuah loncatan radikal rasa kagum akan sebuah keindahan saya kepada makhluk Tuhan yang bernama burung. Mungkin bisa disandingkan dengan kalimat subhanallah dalam bahasa arab. Maaf saya bukannya menyandingkan keindahan dan kesucian bahasa Al-Qur’an dengan bahasa jalanan. Tapi ini adalah media. Sama halnya dengan hukum awal barang: mubah atau netral. Dia akan menjadi haram atau halal setelah digunakan untuk apa.

Dan bajigur, fuck, kampret, asu, atau dancuk pun bisa menjadi kalimat thayyibah ketika dia digunakan untuk mengungkapan rasa kagum, rasa bersyukur atas sebuah karunia Tuhan yang bernama keindahan. Memang pada akhirnya tergantung budaya mana yang junjung karena disitu bumi dipijak. Jadi ketika sahabat saya langsung protes begitu saya memakai istilah “fucking” saya tidak boleh tersinggung karena mungkin dia sangat paham budaya apa yang telah menciptakan kata itu. Jadi spontan saja saya ganti bajigur.

Sebenarnya saya sedang menggambar gunung yang sama dengan memakai media lukis dan aliran yang berbeda.

12
Nov
08

Selamat Jalan Kawan

n742234424_960344_66948 November 2008, aku tahu ada sesuatu yang besar sedang terjadi. Bukan hujan yang sangat lebat yang mengguyur Jogja. Bukan pula angin ribut yang menumbangkan pepohonan dimana-mana. Tapi aku tahu sesuatu yang besar sedang terjadi.

Ketika semua kawan-kawan semasa mahasiswa dulu itu sedang berkumpul, aku tahu ada yang “belum dating”. Ada satu lagi kawan yang belum terhitung sejak hari pertama reuni itu dibuka. Tapi aku tahu akhirnya dia pasti datang.

Dan benar juga, akhirnya dia “datang” meskipun hanya lewat telpon. Sebuah kabar yang jauh lebih dasyat dibandingkan angin yang menghancurkan pepohonan. Sebuah kabar tentang kepergian seorang kawan. Seorang kawan yang lembut, bersahaja, cerdas, visioner dan energik. Seorang kawan yang aku tidak menemukan sedikitpun alasan untuk tidak mencintainya.

Aku tahu, angin ribut itu bukan sekedar angin ribut biasa. Tapi gemuruh langkah seribu malaikat yang sibuk membangun sebuah istana emas di surga untuk seseorang yang layak mendapat jabatan ahli surga.

Selamat jalan kawan. Sungguh aku tidak melihat sedikitpun akhir dari semua ini dalam kesia-siaan. Kematian adalah puncak tertinggi keilmuan manusia. Dan sekarang engkau telah sarjana dalam fakultas kehidupanmu. Semoga Allah memperhitungkanmu dalam golongan hamba-hambaNya yang diampuni dosa-dosanya, dan diselamatkan di alam akhirat.

Dedicated for Deni Rusdianto (1979-2008)

18
Oct
08

Krisis Ekonomi Global Imajinatif

Dunia sedang goncang. Para pemimpin dunia kelabakan bukan kepalang. Para pelaku ekonomi kebingungan, seperti kunang-kunang yang diterbangkan angin di malam hari.
”Ekonomi kita hancur!” kata ahli ekonomi.
“Sistem globalisasi di ambang keruntuhannya!” teriak aktivis kontra pasar bebas.
“Ini semua gara-gara kebijakan para Republican yang tidak becus ngurusi ekonomi Negara!” gerutu anggota partai Demokrat AS.
… dan masih banyak lagi.
Di Indonesia, para pialang, spekulan, pemilik bank swasta, menteri BUMN, Deputi Senior Bank Indonesia, menteri ekonomi dan beberapa orang tidak dikenal memakai baju serba hitam rapat estafet. Mereka sibuk membicarakan bagaimana menyikapi gejolak ekonomi efek dari subprime mortgage yang terjadi di AS.
“Kalau kita tidak pintar-pintar mengambil langkah, krisis 1997 akan terulang lagi!” kata sang menteri.
“Bank-bank harus diselamatkan!” usul pemilik bank swasta yang tidak mau disebut namanya.
“Ini kesempatan bagus untuk membeli lagi saham perusahaan plat merah kita!” desak menteri BUMN.
“Kita masih bisa mencairkan dana besar untuk menyelamatkan ekonomi kita!” imbuh Deputi Senior Bank Indonesia…
Dan jauh di pedalaman sebuah desa di Ngawi, seorang petani bertanya:”Apa benar ekonomi kita akan hancur? Lha wong saya masih menanam padi?”
Di pasar Beringharjo, Jogjakarta, penjual kripik mlinjo menjawab:”Ya nggak mungkin to Mas, lha ini buktinya pasar saya masih ramai orang.”
Seorang mahasiswa sebuah universitas di Gresik yang namanya belum pernah saya dengar membantah:”Bagaimana tidak hancur ekonomi kita?Lihat pasar saham kita lagi kacau! Harga-harga saham duni berantakan! Semua pada panic selling, semua lari menyelamatkan dirinya masing-masing! Dollar naik! Bank-bank besar dunia pada gulung tikar! Arus keuangan dunia berhamburan tidak menentu!”
Seorang dukun di Alas Purwo tersenyum sambil berbisik:”Sekarang mana uangnya yang berhamburan itu? Yang jatuh bangun babak bunyak itu angka di lembar uang atau hanya angka di layar monitor? Saya memang nggak punya monitor tapi saya punya bokor sakti buat memantau arus saham. Jadi nggak usah bingung, yang kacau balau itu hanya angka-angka imajinatif sampeyan tentang uang yang bertumpuk, tapi sampeyan nggak pegang uangnya to?”
“Betul Mbah” sahut penjual togel di pojok terminal Purabaya, Surabaya.”Ekonomi kita bener-bener ajur kalau semua orang di Indonesia mogok bekerja. Ekonomi kita harus segera diangkut ambulan kalau sudah nggak ada petani yang menanam padi, tidak ada jual beli di pasar, tidak ada PNS yang masuk kerja, tidak ada polisi yang ngayomi masyarakat, tidak ada tukang copet yang nyopet dompet. Kita bener-bener krisis kalau uang-uang kita sudah dipake buat nglinting rokok. Negara ini bener-bener kolep kalau orang seperti saya membeli sendiri nomor yang saya jual, lha emang gak ada yang beli togel dan gak ada hadiah buat pemenangnya!”
Saat itu juga daun-daun luruh gemulai ke atas tanah, seperti sedang memberi tanda kalau Tuhan sedang tertawa terpingkal-pingkal melihat polah makhlukNya.

.

swiss at www.swiss.blogdetik.com




keajaiban hari ini

jangan kau pergi. sampai aku titipkan kepadamu. kekaguman kepada para penghuni alam semesta. untuk hari ini. untuk keajaiban hari ini.