Archive for the 'Birdwatching Stories' Category

09
Nov
09

Akhirnya Buku Burung Baluran

cover-pasti

Buku Burung Baluran-klik to download

Setelah bertahun-tahun menyimpan angan-angan membuat sebuah buku tentang burung-burung Taman Nasional Baluran, akhirnya cita-cita itu datang juga. Dimulai dengan sebuah proses pendokumentasian catatan-catatan perjumpaan dalam sebuah buku kecil yang ditulis oleh kawan-kawan di lapangan selama bertahun-tahun, dimulailah proses awal penyusunan buku ini.

Karakter habitat Taman Nasional Baluran yang sangat beragam menjadikan tipe burung yang ada juga sangat beragam. Dalam hal ini, catatan lapangan sangat berharga apalagi sebaran dan kelimpahan beberapa burung juga mengikuti pergantian musim, tingkat tekanan manusia terutama praktik perburuan liar dan perubahan habitat yang berlangsung baik cepat maupun perlahan, fenomena invasi akasia (Acacia nilotica) adalah contoh paling gamblang untuk menggambarkan arus pergeseran neraca ekosistem yang perlahan tapi pasti yang pada akhirnya mempengaruhi pola adaptasi satwa, terutama burung.

Perburuan liar tidak bisa dipungkiri adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap berkurangnya kekayaan burung di kawasan ini. Konon, sekitar tahun 70-80an, Perkutut Jawa (Geopelia striata) sempat menjadi burung paling dicari seiring trend pemeliharaan Perkutut yang cukup meriah. Waktu berganti, trend berubah, Perkutut berangsur pulih dan digantikan oleh Cucak Ijo (Chloropsis cochinchinensis), Punglor (Zoothera citrine), Kacer (Copsychus saularis) dan Gelatik Jawa (Padda oryzivora). Punglor bahkan tidak ditemukan dalam satu tahun terakhir, Kacer hanya satu dua kali teramati, dan Cucak Ijo mungkin bisa diamati dalam jumlah yang agak melegakan hanya di Kawah Gunung Baluran, tidak jauh berbeda dengan Gelatik Jawa yang mulai jarang ditemukan.

Begitu juga dengan nasib Paok Pancawarna (Sitta guajana) dan Pelatuk Ayam (Dryocopus javensis) yang harus masuk daftar burung sulit ditemui. Paok Pancawarna hanya teramati sekali dalam satu tahun terakhir dan Pelatuk Ayam atau  lebih terkenal dengan Pelatuk Bawang oleh masyarakat sekitar sedikit bernasib lebih baik karena lebih sering teramati di sekitar hutan pantai Blok Bama.

Nasib paling dramatis dialami oleh Jalak Putih (Sturnus melanopterus) yang mungkin hanya tersisa tidak lebih dari 3-4 ekor. Jalak Putih bisa dikatakan merupakan symbol keterdesakan burung-burung yang menjadi korban perburuan liar. Musnahnya Jalak Putih di Taman Nasional Baluran akan menjadi kehilangan yang berarti, mengingat anak jenis dari burung ini yaitu Sturnus melanopterus tricolor hanya tersebar di Jawa ujung timur.

Tapi mari kita tidak terlalu berdurja. Kawasan eksotis ini masih menyediakan pertunjukan yang mungkin jauh lebih menghibur. Adalah Merak Hijau (Pavo muticus), burung cantik nan anggun yang secara global sangat terancam ini ternyata cukup berlimpah di Taman Nasional Baluran. Pada bulan Agustus sampai Oktober, saat Merak-merak jantan memamerkan keindahan bulu dan kelihaian tubuhnya dalam menari kepada para betina, Taman Nasional Baluran seperti disulap menjadi panggung pertunjukkan sebuah upacara sakral yang terjadi selama   ribuan tahun, sebuah theater hidupan liar yang sangat mahal dan eksklusif yang tidak tergantikan.

Kerabat dekat Merak Hijau yaitu Ayamhutan Hijau (Gallus varius) mungkin bukan burung yang mudah ditemui di banyak tempat, tapi Anda akan menemukan burung-burung ini semudah Anda melihat ayam di pekarangan  rumah Anda, jantan, betina atau satu keluarga silahkan pilih.

Keberadaan beberapa burung langka yang akan menyempurnakan cerita indah dari tempat indah ini tidak lain adalah Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) dan Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), yang baru ditemukan beberapa waktu lalu. Tidak ketinggalan, Bangau Tong-tong (Leptoptilos javanicus), Kuntul Cina (Egretta eulophotes), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Wiliwili Besar (Esacus neglectus), Serindit Jawa (Loriculus pusillus), Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Takur Tulung-tumpuk (Megalaima javensis), adalah nama-nama yang perlu dipertahankan dalam daftar burung Taman Nasional Baluran.

Catatan-catatan lapangan sebagai sebuah metode pendokumentasian mungkin sudah cukup menjadi saksi jatuh-bangun dan keindahan kisah burung-burung di Taman Nasional Baluran yang akan dibaca oleh generasi mendatang. Namun mengingat ancaman hilangnya beberapa jenis burung dan betapa indahnya burung-burung yang ada di Taman Nasional Baluran menjadi alasan yang tidak terbantahkan untuk mulai berpikir tentang metode pendokumentasian yang lebih “canggih”, yaitu fotografi. Di sinilah kemudian teknologi memainkan peranan sangat penting dalam proses pendokumentasian burung-burung di Taman Nasional Baluran.

DSC_0002

Tim Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Baluran

Pengamatan Burung dan Fotografi Burung

Tidak berlebihan kalau Taman Nasional Baluran disebut sebagai surganya pengamat burung, bahkan lebih jauh, surganya fotografer burung atau satwa liar pada umumnya. Iklim yang sangat kering karena karena curah hujan yang sangat rendah (antara 900-1600 mm/tahun) menjadikan kawasan ini didominasi oleh tipe hutan musim dengan pepohonan yang tidak terlalu rapat. Pada  musim kemarau, ketika hampir semua pohon menggugurkan daunnya, mengamati burung menjadi semakin mudah.

Sebelum berburu burung ada baiknya Anda sudah mempersiapkan alat dan kebutuhan yang diperlukan di lapangan. Bagi pengamat burung, sebuah binokuler adalah alat wajib yang harus ada. Kebanyakan pengamat burung menggunakan tipe binokuler dengan ukuran lensa 10×50 mm atau di bawahnya untuk pengamatan di hutan, meskipun itu bukan harga mati. Pengamatan burung hutan dengan menggunakan ukuran lensa yang lebih besar biasanya cukup merepotkan terutama untuk mengamati burung-burung kecil yang aktif dan lincah. Banyak pengamat bahkan lebih suka menggunakan binokuler kecil dengan ukuran lensa 10×20 mm atau 7×40 mm.

Pada beberapa kondisi, terutama ketika musim kemarau, penggunaan binokuler berlensa besar, bahkan sampai ukuran 15×70mm mungkin tidak menjadi masalah di Taman Nasional Baluran, karena jarak dan ruang pandang pengamat cukup luas. Tidak jauh berbeda dengan pengamatan di daerah terbuka seperti savana atau pantai.

Bahkan penggunaan monokuler bisa membantu Anda melihat burung-burung dalam jarak jauh yang biasanya adalah burung yang suka bertengger di tajuk tinggi atau burung pemalu berukuran besar seperti Tangkar Centrong (Crypsirina temia), Kadalan, Gagak Hutan (Corvus enca), atau Kepudang Kuduk-hitam (Oriolus chinensis).

Perekam suara, meskipun opsional yang sifatnya sunah mungkin bisa membantu Anda untuk mengidentifikasi jenis-jenis burung yang susah diamati, seperti jenis pelanduk, ciung air, sikatan atau burung dengan variasi suara bermacam-macam. Tidak kalah penting, buku catatan yang akan sangat berguna untuk mencatat point-point penting selama pengamatan.

DSC09331

Don't Try This at Home

Fotografi burung, meskipun membutuhkan biaya yang lebih besar tapi masih bisa diusahakan. Teknik digiscoping, yaitu menggabungkan monokuler dengan kamera digital yang biasanya kamera poket mungkin adalah alternatif terbaik bagi Anda yang ingin berburu foto burung. Dan itu sangat mungkin dilakukan di Taman Nasional Baluran.

Pemilihan lokasi dan waktu yang tepat adalah hal yang harus diperhatikan, mengingat mengambil foto burung lebih sulit dari sekedar mengamatinya. Begitu juga memahami perilaku burung target, habitat kesukaan, pohon kesukaan atau waktu aktif.

Daerah ekoton atau daerah peralihan dua habitat yang berbeda adalah lokasi terbaik. Biasanya di lokasi ini menjadi jalur transportasi burung yang menempati dua habitat yang berbeda untuk saling menyeberang ke habitat tetangga. Selain itu di lokasi ini banyak ditemukan jenis pohon yang masa berbunga dan berbuahnya tidak tergantung musim. Ficus superba atau Krasak bahkan kami sebut sebagai “Pohon Kehidupan” karena begitu dia berbuah, berbagai macam burung, primata dan mamalia kecil berkumpul di pohon raksasa ini. Di luar daerah ekoton, Talok (Grewia eriocarpa), Widoro Bukol (Zizyphus rotundifolia) dan Asem (Tamarindus indica) yang banyak tersebar di hutan musim  dan memiliki siklus berbunga musiman adalah pohon-pohon yang juga digemari burung.

Dimana Anda Menemukan Apa?

Lokasi favorit untuk mengamati burung  dan berburu foto kebanyakan berada di wilayah timur Taman Nasional baluran. Selain sarana jalan yang lebih mudah untuk masuk ke “jantung’ kawasan, wilayah ini juga sering menjadi lokasi perjumpaan dengan beberapa jenis burung spesial.

Pantai Bama dengan berbagai macam tipe habitat merupakan lokasi terbaik untuk menemukan burung. Jalan setapak ke arah Utara dan Selatan yang berada tepat di daerah ekoton antara hutan mangrove dan hutan musim adalah salah satu lokasi utama. Beberapa jenis burung yang mudah ditemui dan difoto di areal ini seperti Cangak Laut (Ardea sumatrana), Bangau Tong-tong (Leptoptilos javanicus), Rajaudang Biru (Alcedo coerulenscens), dan Pelatuk Ayam (Dryocopus javensis). Meskipun cukup sulit, tapi mungkin hanya di sekitar pantai Bama Anda bisa say hello kepada Sikatan Cacing (Cyornis banyumas), Pelanduk Semak (Malacocinda sepiarium), Perenjak Coklat (Prinia polychroa), Ciungair Jawa (Macronous flavicollis) dan Gagak Hutan (Corvus enca).

Keluar dari Bama, sepanjang perjalanan dari Pos Bekol sampai pintu gerbang utama di Batangan, Anda akan menemui burung-burung spesial di sepanjang jalan ini. Sebut saja Pijantung Besar (Arachnothera robusta), Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Serindit Jawa (Loriculus pusillus), Pelatuk Tunggir-emas (Chrysocolaptes lucidus), Delimukan Zamrud (Chalcophaps indica), Elangular Jari-pendek (Circaetus gallicus), Gelatik Jawa (Padda oryzivora).

Hutan Evergreen yang terletak tidak jauh dari pos jaga Seksi Bekol terkadang menjadi lokasi pengamatan yang bisa memberi kejutan. Sebagai hutan yang selalu hijau sepanjang tahun, meskipun berada di tengah-tengah hutan musim yang kering, areal ini sering dikunjungi beberapa burung yang secara umum jarang ditemui di lokasi lain. Sebut saja Ayamhutan Merah (Gallus gallus), Kadalan Kembang (Zanclostomus javanicus), Tepus Pipi-perak (Stachyris melanothorax), dan Elangalap Jambul (Accipiter trivirgatus) yang pernah ditemukan bersarang di areal ini atau Bangausandang Lawe yang suka berkunjung di Curah Uling (utara Evergreen) ketika mulai memasuki musim kemarau.

Di luar wilayah Barat, beberapa lokasi penting untuk terus dimonitoring adalah Blok Bilik-Sijile, Blok Gatel dan Kawah Gunung Baluran (Blok Kacip).

bilik1_resize

View Pantai Bilik-Sijile

Blok Bilik-Sijile terletak di pantai utara Taman Nasional Baluran. Meskipun berdekatan dengan pemukiman eks HGU Gunung Kumitir, pantai Bilik-Sijile merupakan lokasi dimana Wiliwili Besar (Esacus neglectus) hanya ditemukan di sini. Di sekitar pantai Bilik-Sijile juga merupakan lokasi langganan untuk memotret Kirikkirik Laut (Merops philippinus) dan Cabak Kota (Caprimulgus affinis). Garis pantai yang panjang yang bervariasi antara pantai berpasir dan pantai berkarang menjadi salah satu lokasi alternatif untuk memotret kelompok burung air, terutama ketika air laut surut.

Blok Bilik-Sijile hanya bisa ditempuh menggunakan sepeda motor atau kapal nelayan. Ketika memasuki musim penghujan, daerah ini hanya bisa ditempuh menggunakan kapal karena kondisi medan yang sangat tidak memungkinkan menggunakan jalur darat.

Blok Gatel adalah salah satu daerah penting bagi burung Taman Nasional Baluran yang baru teridentifikasi akhir-akhir ini. Beberapa jenis burung yang fotonya hanya bisa diambil dari blok ini seperti Manyar Emas (Ploceus hypoxanthus), Manyar Jambul (Ploceus manyar), Gagangbayang Belang (Himantopus leucocephalus), Itik Benjut (Anas gibberifrons), Cangak Merah (Ardea purpurea), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Cerek Kernyut (Pluvialis fulva), Kicuit Kerbau (Motacilla flava) dan Burungmadu Kelapa (Anthreptes malacensis). Pada tanggal 26 April 2009, sebuah pertemuan dengan Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) semakin menguatkan posisi blok Gatel sebagai salah satu daerah penting bagi burung.

Perburuan foto burung yang paling mengesankan dan selalu menyisakan cerita tak terlupakan adalah perburuan di Kawah Gunung Baluran. Hutan yang selalu hijau dan dipenuhi pohon-pohon tinggi dan bertajuk lebat membuat wilayah ini menjadi lokasi paling menantang.

Berjarak tidak kurang dari 12 km dari Pos Seksi Bekol, Kawah Gunung Baluran harus ditempuh dengan berjalan kaki melawati perbukitan dan menyisir sepanjang sungai yang mengarah ke mata air Kacip tempat  camp paling strategis. Mata air Kacip adalah lokasi dimana terdapat sungai yang mengalir sepanjang tahun. Dari sungai inilah, pipa-pipa disalurkan untuk mencukupi kebutuhan air bagi satwa yang hidup di wilayah timur Taman Nasional Baluran.

me and talpat_resize

Baluran Dilihat Dari Bukit Talpat

Di tengah-tengah jalur pendakian ke Kacip, terdapat bukit Talpat yang memiliki pemandangan sangat indah. Tempat terbaik untuk menghilangkan rasa lelah, dan ambil beberapa foto. Kalau tidak dapat foto burung, beberapa foto narsis juga tidak dilarang.

Berburu foto burung di Kawah Gunung Baluran bukan sesuatu yang mudah, namun keberadaan beberapa jenis burung yang hanya ditemukan di wilayah ini (dan beberapa lokasi di lereng luar Gunung Baluran) dan “cerita” tentang jenis-jenis “aneh” membuat wilayah ini hampir tidak mungkin dilewatkan. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Luntur Harimau (Harpactes oriskios), Cicadaun Sayap-Biru (Chloropsis cochichinensis), Cicadaun Besar (Chloropsis sonnerati), Munguk Loreng (Sitta azurea), Jingjing Petulak (Tephrodornis virgatus), Cucak Kuricang (Pycnonotus atriceps), Ciungbatu Kecil (Myophonus glaucinus), Ciungbatu Siul (Myophonus caeruleus), Empuloh Jenggot (Alophoixus bres), dan Takur Tenggeret (Megalaima australis) adalah nama-nama khas wilayah ini.

IMG_0002

Kacip Expedition Behind the Scene

Menginap dalam waktu yang agak lama adalah cara paling logis untuk mendapatkan hasil foto maksimal. Dan itu tidak menjadi masalah, karena di Kawah Gunung Baluran terdapat sungai yang mengalir sepanjang tahun. Mungkin yang menjadi masalah adalah keterbatasan cadangan batery dan memory kamera.

Pendokumentasian

Adalah kamera DSLR Nikon D200 dan lensa zoom tele Sigma 170-500 mm yang menjadi andalan dalam perjalanan perburuan. Sempat tergagap-gagap menggunakan kamera tangguh ini karena begitu banyak panel dan menu pilihan membuat beberapa foto didapat tidak dalam kualitas maksimal.

Dimulai sejak bulan Mei 2008, proses pendokumentasian jenis-jenis burung Taman Nasional Baluran telah mengumupulkan 155 jenis burung, termasuk 11 jenis belum teridentifikasi dan 4 jenis dengan kualitas foto “tidak layak tampil”. Setiap foto kemudian dimasukkan dalam komputer database dan di-rename berdasarkan lokasi dan waktu diperoleh. Catatan tambahan hanya diperuntukkan bagi jenis-jenis penting.

Pengelompokkan jenis burung didasarkan pada suku dan nama spesies yang sebelumnya diidentifikasi dengan bantuan Buku Panduan Lapangan Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan ditulis oleh McKinnon, dkk., serta membandingkan dengan foto-foto yang ada di situs Oriental Bird Images (OBI). Identifikasi suara adalah alternatif terakhir jika burung tidak bisa diamati atau difoto.

Dalam hal pengidentifikasian foto burung yang ditemukan, kami khusus sangat berterima kasih kepada DR. Bas van Balen yang telah banyak memberikan masukan dan koreksi terhadap beberapa foto salah identifikasi, dan kepada Karyadi “Kang Bas” Baskoro yang selalu siap direpoti ketika kami kesulitan mengidentifikasi. Tidak lupa terima kasih kepada Bernadius “Maswa” Setiawan dan Adhy “Batak” Maruly atas foto spesial Luntur Harimau dan beberapa masukan tentang jenis burung air.

Lebih dari satu tahun sudah, giga byte demi giga byte dihabiskan untuk menangkap keindahan burung-burung Baluran. Setap foto adalah proses pembelajaran yang sangat berarti betapa alam sudah sedemikian ikhlasnya untuk melayani manusia. Bahwa di setiap helai bulu burung-burung yang terbang di angkasa, di setiap helai daun yang bergoyang ditiup angin, pun di setiap tetes air yang keluar dari balik bebatuan, sesungguhnya alam tidak pernah berhenti berdzikir untuk manusia-manusia yang meluangkan waktunya untuk melindungi dan melestarikan alam dari kerusakan.

Dan akhirnya, tidak ada cita-cita yang tidak tercapai pun tidak ada usaha keras yang tidak membuahkan hasil. Meskipun masih jauh dari sempurna, semoga buku sederhana ini cukup untuk menampung semua keindahan warna dan kemerduan nyanyian burung-burung di Taman Nasional Baluran. Lalu mengabarkan kepada dunia bahwa mereka bahagia, mereka baik-baik saja, dan akan terus begitu selamanya.

Download Buku Burung Baluran

Penulis

03
Nov
09

Meninting’s Learning

Mungkin setelah bertahun-tahun bergelinjang dengan fotografi burung. Setelah melewati evolusi dari digiscoping ke DSLR laras panjang, mungkin baru kali ini saya bener-bener belajar memahami siapa itu makhluk indah yang bernama burung. Padahal itu adalah modal utama bagi semua fotografer alam liar, khususnya burung.

Jadi ijinkan saya berbagi pelajaran… mata pelajarannya adalah Meninting.

Saya gak tahu di tempat lain, tapi di Baluran, yang namanya Meninting Besar adalah salah satu burung paling f*** kalo difoto, alias susahnya minta ampun. Sensitif dan mobile, dalam bahasa jawa iyik, ngglidig, atau bedigasan. Pun, sepertinya dia sangat alergi dengan yang namanya cahaya matahari. Sempurna sudah kesulitan untuk mengambil gambarnya, cahaya rendah untuk lensa tele panjang adalah permasalahan teknis terbesar.

Tapi ternyata teori itu tidak selamanya shohih, alias -lagi-lagi- kita butuh sebuah pengecualian. Atau lebih tepatnya mencari dan berusaha menemukan pengecualian-pengecualian itu. Menemukan anti thesis bahwa meninting adalah burung yang sangat susah difoto.

Hal yang paling umum ketika kita bertemu burung ini tidak lain dia langsung terbang menjauh mengikuti aliran sungai. Atau, yang lebih repot, dia akan keluar dari wilayah sungai lalu keluar di antara semak, terbang berlawan dengan arah kita dan berhenti pada titik di wilayah sungai lagi. Sambil mengeluarkan suara lengkingan tinggi dan panjang. Pada perilaku yang kedua, itu berarti anda harus rela “kehilangan” dia, tapi pada perilaku yang pertama berarti anda masih punya kesempatan mendekati dia lebih intim. Atau pada tingkat kesabaran tertentu, anda justru yang akan didekati oleh dia.

Meninting, meskipun ketika didekati dia langsung menjauh, sebenarnya itu hanya sebuah ekspresi kekagetan yang reaktif, yang kalau anda mau menunggunya sambil sedikit bersembunyi, dia akan segera kembali ke arah anda. Atau pada beberapa perilaku, dia akan menyingkir tidak jauh dari sungai, bertengger pada ranting belukar sambil menaikkan jambul putihnya. Ketika anda menemui perilaku yang seperti ini, berarti anda tinggal selangkah lagi untuk “menghabisi” dia. Satu langkah itu adalah sabar. Kuat-kuatan. Yah, paling tidak kalau anda menunggunya sambil jongkok, minimal sampai kaki anda kesemutan, atau kalau anda perokok mungkin -minimal- butuh dua batang rokok kretek sebelum dia benar-benar percaya bahwa anda tidak memiliki niat buruk kepadanya. Atau yang paling jelek, dia akan menganggap anda manusia bodoh yang tidak perlu dikhawatirkan keberadaannya.

Nah, hal kecil yang perlu anda perhatikan adalah jambul putih di jidatnya. Selama jambulnya masih berdiri, jangan coba-coba membuat gerakan yang mengejutkan, karena pasti dia akan segera pergi. Tunggu saja, tunggu lagi, dan tunggu lagi. Sampai pada saatnya ketika sekali jambulnya diturunkan lalu dia juga turun ke tanah (sekitar aliran air) sambil langsung nggremet mematuk-matuk, nah saat itulah pertunjukkan yang sesungguhnya dimulai. Seketika dia akan menjadi burung yang benar-benar indah, lucu dan menggemaskan, karena dia tidak takut lagi sama keberadaan anda, bahkan dia akan mendekati anda. Asal tetap dalam satu kesepakatan bahwa anda tidak membuat gerakan yang mengejutkan.

Ohya, ada lagi satu kesepakatan dasar: bahwa semua satwa pasti akan mempertahankan wilayah terbaiknya. Wilayah terbaik bisa berarti di situ banyak tersedia pakan, atau aman. Artinya sangat penting untuk mengetahui kondisi lokasi dimana anda akan bertarung kuat-kuatan sama burung ini. Pengalaman, lokasi terbaik untuk beradu kuat-kuatan sama dia adalah cari dimana ada cekungan yang agak luas dan tergenang air di sepanjang aliran sungai yang tidak ada turbulensi kuat akibat arus air, ada tumpukan seresah yang basah yang mungkin tempat dimana banyak cacing yang tentunya tidak jauh-jauh dari aliran air dan mungkin, syarat paling buruk tapi bukan harga mati:  sedikit terjauh dari sinar matahari.

Jadi bagi anda para jomblo seperti saya. Jangan kuatir nggak laku, pun jangan terlalu memburu wanita-wanita. Tunjukkan saja bahwa anda tidak punya niat jelek, anda adalah lelaki penyabar bahkan kalo perlu berlagaklah seperti orang bodoh. Menunggulah dengan riang gembira, InsyaAllah dengan didukung doa akan ada waktunya burung itu datang menghampiri anda. Dan ketika saat itu datang, jangan sekali-sekali terlalu banyak pertimbangan…langsung jepret… jepret… gabrus… gabrus… manak… manak…

28
Oct
09

Tuhan Tidak Sedang Main Dadu

Selalu saja, semua datang tanpa diduga dan direncakan. Setidaknya itu yang bisa saya katakan atas semua keterbatasan saya. Karena mungkin jauh di dalam kerumitan proses kejadian, hukum kasualitas yang linier, dan hukum fisika yang sangat kulit, sesungguhnya semua kejadian di alam semesta ini memiliki pola dan ritme yang tertata dengan sangat rapi dan konsisten.

Tapi what ever-lah, terlepas semua terencana atau nggak yang penting –akhirnya- saya sukses “menangkap “ si Alap-alap Sapi. Setelah berhari-hari caring di bawah terik matahari Baluran di tengah-tengah savanna, paling banter saya “cuma” dapet dia pas lagi terbang dengan hasil yang alhamdulillah kurang meyakinkan. Tapi pagi itu, saya gak tahu mekanisme apa yang sedang berkerja dalam tubuh alam semesta, gelombang-gelombang halus macam apa yang ditebarkan kepada makhluk-makhluk di Baluran?

Berawal dari giliran piket nungguin kamera cctv yang dipasang di salah satu kubangan di belakang pos Bekol untuk memantau Bantang. Setelah dipasang lebih dari seminggu, untuk yang kedua kalinya Banteng muncul di layar monitor. Jelas pemandangan yang langka bagi saya, karena meski hampir tiap hari saya blusukan ke dalam hutan Baluran, yang namanya Banteng adalah salah satu makhluk paling ghoib bagi saya di Baluran, dan malam itu saya melihatnya dengan agak leluasa. Meskipun cuma melalui layar cctv, setidaknya malam itu saya diijinkan melihat Banteng agak lama.

Pagi harinya, menjelang matahari terbit, keindahan kedua setelah Banteng di Baluran adalah ekor mengagumkan si burung Merak. Meskipun harus dengan tiarap dan ngesot, keindahan si cantik tetap belum tergantikan. Belum lama menikmati si cantik. Tiba-tiba dari balik kerumunan semak, mak bedunduk muncul burung yang jauh lebih cantik, lebih menyebalkan, dan jauh lebih mengagetkan. Siapa lagi kalo bukan Alap-alap Sapi. Burung yang selama ini saya kenal dengan kelakuannya yang susah diajak kerjasama dalam hal potret-memotret ini tiba-tiba hinggap di ranting Mimbo, dan diam tenang seperti tidak terganggu siapa-siapa.

Entah apa yang terjadi dengan dia hari itu. Hilang ingatan sesaat, kerusakan struktur jaringan otak atau gelombang electromagnet alam semesta yang dikirim ke dalam seluruh jaringan tubuhnya sehingga dia lupa dengan manusia kurang kerjaan yang sedang bernafsu memburu dia. Bahkan ketika saya dekati, tidak serta membuat dia sadar. Saya tak kasat mata olehnya pagi itu.

Dan lagi-lagi, atas semua keterbatasan saya, apakah itu sebuah kebetulan?

Einstein, fisikawan terbesar abad modern memiliki satu pekerjaan rumah yang belum terselesaikan: meng-formulasikan Tuhan dalam rumus-rumus matematika. Dia yakin bahwa semua kejadian di seluruh semesta tidak ada yang kebetulan, meskipun melalui runtutan reaksi kimia-fisika yang panjang dan rumit, semua pasti ada asal muasalnya, ada rumus, ketetapan, konstanta dan lain sebagainya. Namun sampai dia meninggal, formula itu belum juga selesai. Pada pada akhirnya dia sampai pada kesimpulan bahwa “Tuhan tidak sedang main dadu.”

28
Oct
09

Foto-foto Terbaru

10
Sep
09

List Foto Jenis Terbaru

Beberapa list foto-foto jenis baru. Ada 9 jenis baru yang fotonya didapat dalam 3 bulan terakhir. Kecuali Gagak Kampung yang didapat di Mangrove Information Centre, Bali dan Cica Kopi Melayu, Tepus Pipi-perak, Srigunting Bukit, Uncal Loreng serta Walik Kembang yang didapat di TN. Gunung Merapi. 1 jenis di Pantai Trisik, Yogyakarta. 4 jenis lainnya didapat di TN. Baluran yaitu Jingjing Petulak, Pelanduk Semak, Pelanduk Topi-hitam dan Ciungair Jawa.

  • Jingjing Petulak

.

.

  • Gagak Kampung

.

.

  • Cica Kopi Melayu

.

.

  • Tepus Pipi-perak

.

.

  • Pelanduk Semak

.

.

  • Pelanduk Topi-hitam

.

.

.

  • Ciungair Jawa

.

.

  • Srigunting Bukit

.

.

.

  • Walik Kembang

.

.

.

  • Uncal Loreng

.
.

  • Cerek Pasir Besar

.

12
Jul
09

Birding Tahura R. Soeryo 8-9 Juli 2009

bird-light_resize

R. Soeryo Smoke Light

Seperti biasanya, Tahura R. Soeryo, selalu menjadi tempat paling menghibur buat pengamatan dan hunting foto burung. Meskipun tutupan tajuk yang cukup rapat, sinar matahari yang gak banyak bisa sampai ke bawah tajuk, tapi tetap saja Tahura R. Soeryo adalah surga bagi pengamat dan fotografer burung.

Datang pagi-pagi, sebelum keduluan pengunjung yang pingin mandi air panas atau pacaran, sikatan ninon adalah petugas resepsionis yang selalu menyapa dengan ramah ketika kami datang. Disusul si madu gunung yang tidak terlalu bermasalah dengan beberapa orang kurang kerjaan yang mengamatinya sambil senyum-senyum sendiri… Tapi sepertinya, hari ini bukan harinya si kepala abu yang biasanya mbledug, tapi sekarang agak susah melihatnya. Mungkin lagi ada acara keluarga.

My Little Bro

My Little Bro

Di hari pertama, bareng kawan-kawan KIBC Batak, Imam dan Bintang; anak-anak Rhizopora Amri dan Panca dan yang terkahir si Luwes, adikku yang paling bungsu yang baru masuk SD juga ikut-ikutan nimbrung. Dan hebatnya, burung pertama yang berhasil dia lihat dengan jelas pake bino adalah Walik Kepala-ungu. “Wuih…ndase abang kon!” begitu teriaknya, dan aku tertawa saja…

Di hari pertama dan juga nanti di hari kedua, artisnya adalah si Ciungbatu Kecil yang sangat bersahabat (kalao tidak bisa dibilang gila foto). Batak yang kebetulan pegang kamera langsung aja jeprat-jepret seperti gak mau ketinggalan acara, padahal nanti sampai pulang burung ini gak kemana-kemana, ya pohon itu-itu aja sambil sesekali melompat ke tanah menyambar serangga. Terlalu mudah untuk difoto, seharusnya dilukis aja.

rhipidura euryura

Di hari pertama memang tidak banyak burung yang berhasil dijepret karena berangkat terlalu siang, keduluan mendung dan para pengunjung yang mandi air panas. Tapi di hari kedua, beberapa burung target berhasil di didapat. seperti Batak yang pingin motret Cikrak Muda dan aku yang pingin motret Kipasan Bukit, selebihnya adalah bonus seperti Takur Tohtor, Ciungbatu Kecil, Opior Jawa, Sikatan Belang, Munguk Loreng, Srigunting Kelabu dan Brinji Gunung.

Beberapa burung yang berhasil ditemui di Tahura R. Soeryo 8-9 Juli 2009:

Elang Hitam, Brinji Gunung, Ciungbatu Kecil, Kipasan Bukit, Sikatan Belang, Sikatan Kepala-abu, Sikatan Ninon, Sepah Gunung, Cikrak Daun, Cikrak Muda, Takur Tohtor, Cabai Gunung, Cinenen Gunung, Sikatan Cacing, Tepus Pipi-perak, Cucak Gunung, Cucak Kutilang. Walik Kepala-ungu, Munguk Loreng, Kepudansungu Gunung, Ciu Besar, Burungmadu Gunung, Kacamata Gunung, Cica Koreng Jawa, Bentet Kelabu, Opior Jawa, Srigunting Kelabu, Walet Sapi.

22
Jun
09

Ciungmungkal Jawa yang Disulap Jadi Ciungbatu Kecil

Sempat termehek-mehek oleh foto burung Ciung di Gunung Ijen akhirnya kenyataan harus diterima meskipun agak pahit. Tak disangka, burung cantik yang aku kira Ciungmungkal Jawa ternyata adalah “hanya” Ciungbatu Kecil” yang diutus Tuhan untuk menguji ketelitian dan kesabaranku.

Diriwayatkan, Ciungmungkal Jawa adalah burung endemik Jawa yang hanya terbatas di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian barat. Populasinya yang jarang membuat dia jarang sekali teramati. Berdasarkan riwayat shohih yang lainnya, salah satu penyebab menurunnya populasi burung ini adalah karena degradasi habitat di dataran tinggi dimana burung ini berada.

ciung1

Ciungbatu Kecil yang tertangkap di Gunung Ijen

Kondisi ini yang kemudian banyak kawan-kawan menjadi antusias oleh temuan foto yang terlanjur aku sebut sebagai Ciungmungkal Jawa. Apalagi lokasi pertemuannya di Gunung Ijen yang jaraknya lebih dari 400 km dari lokasi paling timur burung ini ditemukan. Sangat sensasional, menghebohkan dan nyaris menjadi spekulasi yang berlebihan.

Adalah seorang Bas van Balen yang sepertinya juga diutus Tuhan untuk mengingatkan hamba-hambaNya yang kurang teliti seperti saya. Pengalamannya yang sangat lama tentang burung-burung di Indonesia membuat dia langsung bisa tahu dengan sekali lirikan bahwa itu bukan Ciungmungkal Jawa. Karena yang ngomong adalah empunya ornitholog tidak ada pilihan lain buat pendekar magang seperti saya untuk langsung sendiko dawuh.

Ciungbatu Kecil yang "tertangkap" di Tahura R. Soeryo

Ciungbatu Kecil yang "tertangkap" di Tahura R. Soeryo

Pada suatu hari, ketika saya hunting di Tahura R. Soeryo semakin tampaklah siapa sebenarnya Ciungbatu Kecil. Berbekal dengan semangat Paregreg, saya meluncur pagi supaya tidak ketinggalan acara. Beberapa jam perburuan tidak memberikan hasil yang extraordinary selain beberapa burung kecil yang aku sudah sangat hafal siapa nama mereka, rumahnya dimana dan siapa nama bapaknya. Hampir 6 jam terus memasang mata, telinga dan leher yang pegel karena kebanyakan tengadah, akhirnya muncullah satu lagi utusan Tuhan, tidak jauh dari tempatku berdiri.

Ciungbatu Kecil dengan suaranya yang khas hinggap di pohon yang sedang berbuah. Tidak cukup terganggu juga dia dengan pergerakanku yang cukup agresif mendekatinya supaya dapat beberapa gambar terbaik. Dan betul juga, hasil jepretan hari itu semakin menegaskan siapa sebenarnya Ciungbatu Kecil dan siapa Ciungmungkal Jawa.

Satu kalimat yang masih sangat saya ingat dari Pak Bas,” Jangan putus asa, itu hal yang sangat lumrah terjadi. Maaf.” Ahh… Bas van Balen telah menyulap Ciungmungkal Jawa-ku menjadi Ciungbatu Kecil dengan satu mantra sakti: Maaf.

22
Jun
09

Tahura R. Soeryo 19-20 Juni 2009

Seperti biasanya, Tahura R. Soeryo selalu menyuguhkan hiburan tiada tara: burung dimana-mana. Meskipun pada akhirnya harus sedikit besabar karena tutupan tajuk yang cukup berat membuat beberapa jepretan kamera jadi kurang maksimal. Jadi bersukur juga meski cuma dapet beberapa jenis.

19 Juni, seperti biasa Sikatan Ninon udah menyambut di sekitar kolam air panas, dilanjutkan Cikrak Muda, Cikrak Daun dan Burungmadu Gunung. Naik ke jalur tracking, Ciu Besar ada burung pertama yang nyantol di kamera dan kemudian Srigunting Kelabu. Dan ternyata hanya dua burung ini saja yang rela nyantol untuk hari ini, karena selebihnya hanya suara dan burung “menyebalkan” yang ogah difoto. Pelanduk, Kipasan Bukit, dan Berencet hanya seliweran di depan lensa, lalu nylonong pergi.

20 Juni, sepertinya ini akan menjadi hari baik untuk berburu. Belum sampek ke lokasi, Uncal Loreng udah nampang dengan tanpa rasa malu. Tapi ya gitu, mungkin karena saking gugupnya, motret beberapa kali gak ada yang fokus. Sampai di lokasi, Kipasan Kepala-abu sudah berkicauan, dengan tingkahnya yang khas membuatku mudah mengenali posisi hinggapnya. Beberapa burung kecil seperti Cikrak Muda, Burungmadu Gunung dan Sikatan Ninon sepertinya sudah nggak alergi lagi lihat kamera, tapi karena keterbatsan memory card yang cuma 3 Gb, kayaknya saya lewatkan saja mereka.

Mencoba mengadu nasib di lokasi air terjun, kesan pertama sudah digoda. Ciungbatu Kecil-lah si genit yang mencoba menggodaku. Nongkrong dengan santainya tepat 5 meter. Disusul Anis Sisik yang juga kayaknya hari ini agak blo’on, gak sadar kalo ada yang motretin dia mulai dari sisi depan, samping, dan belakang., sampek aku sendiri gak sadar sudah mengelilingi pohon hinggapnya berkali-kali. Dan dia tetep blo’on. Seneng aku kalo ketemu burung yang manut gini.

Dan akhirnya yang ditunggu dan diharapkan datang juga: Takur Tohtor. Dalam satu kelompok sekitar 8-10 takur sedang asyik panen buah pohon yang aku gak paham namanya. Never mind, yang penting akhirnya aku dapat foto Takur Tohtor. Brinji Gunung hari ini juga cukup bersahabat, mau hinggap di ranting rendah dan diam kayak sedang tidak terjadi apa-apa. Dan yang tidak disangka, bonus hari ini, Takur Tulung-tumpuk tiba-tiba muncul. Tanpa banyak pikir, meskipun posisi dan cahaya tidak maksimal, jepret aja sebisanya, karena yang penting dia adalah Takur Tulung-tumpuk.

Beberapa jenis burung yang tercatat tanggal 19-20 Juni kemaren:

Cikrak Muda, Cikrak Daun , Burungmadu Gunung, Sikatan Ninon, Sikatan Belang, Sikatan Kepala Abu, Kipasan Bukit, Pelanduk sp, Sepah Gunung, Uncal Loreng, Takur Tohtor, Takur Tulung-tumpuk, Brinji Gunung, Cucak Gunung, Meninting sp, Ciu Besar, Munguk loreng, Elang Hitam, Anis Sisik, Srigunting Kelabu, Opior Jawa.

08
Jun
09

(catatan) Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) Pertama di Baluran

Pertama kali mendengar nama bubut, mungkin hal yang terlintas di pikiran anda adalah seekor burung yang membosankan karena warnanya yang hanya hitam dan coklat kemerahan. Suaranya sama sekali tidak masuk kategori enak didengar, baik di telinga kiri maupun kanan. Dan yang paling menyebalkan adalah sok jual mahal alias susah diamati.

Tapi sejak tanggal 26 April 2009, sepertinya semua anggapan itu harus runtuh. Atau kalau tidak, akan diruntuhkan dengan paksa. Diawali oleh rencana tim burung PEH yang hendak melakukan monitoring sarang Manyar Emas (Ploceus hypoxanthus) dan Manyar Jambul (Ploceus manyar) di blok Gatel yang masuk dalam seksi Karang Tekok.

Perjalanan dimulai pukul 06.45 WIB dari kantor batangan, setelah kira-kira 45 menit perjalanan menggunakan sepeda motor, pukul  07.30 WIB kami sampai di kantor seksi Karang Tekok, sekalian “menculik” salah seorang rekan PEH yang sedang memberi makan ayam-ayam kesayangannya untuk sekalian ikut ke lapangan.

Sesampai di lokasi yang dituju, puluhan ekor manyar emas sudah menunggu kami. Blok Gatel merupakan tempat dimana ratusan Manyar Emas dan Manyar Jambul bersarang pada bulan antara Februari-Juni. Pada lokasi yang tepat berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Baluran ini didominasi oleh vegetasi beluntas, rawa air tawar merupakan tempat yang sangat ideal bagi tumbuhnya rumput tifa dimana ratusan burung manyar bersarang. Tambak ikan yang tidak jauh di utara merupakan salah satu habitat beberapa jenis burung air baik penetap maupun migrant.

Ternyata salah satu daerah penting bagi burung yang ada di Taman Nasional Baluran ini bukan sebuah lokasi angker yang susah dijangkau manusia, bahkan setiap hari orang-orang yang hendak melaut atau mencari rumput selalu lewat lokasi ini. Tidak terlewatkan juga birdwatcher seperti kami.

Selang tidak lebih dari setengah jam, sekitar pukul 08.10 WIB, ketika kami mencoba menyisir ke arah timur, sepasang burung hitam seukuran merpati melompat dan terbang dari ujung pagar bambu masuk ke kerumunan beluntas. Selintas kami menuduh mereka adalah Bubut Jawa berdasarkan dari warna hitam di sekujur tubuh dan warna coklat kemerhan di ujung sayap. Berjemur di pagi hari juga salah satu perilaku burung bubut. Tanpa berpikir panjang, kamipun segera “memburunya”, mencoba menabrak lapisan beluntas tapi terlalu rapat. Akhrinya pilihan paling logis adalah menunggu.
5-10 menit menunggu dengan tenang, masuk menit ke 15 matahari sudah mulai terasa panas. Dapat 20 menit kepala sudah mulai terasa gatal, mungkin kulit kepala sudah mulai mengelupas karena panas. Dan memasuki menit ke 30, saatnya berpikir lebih cerdas: pindah tempat. Kembali ke lokasi semula atau berputar siapa tahu bisa ketemu beberapa jenis burung lainnya.

Tapi beberapa meter melangkah, si Bubut Jawa sudah menunggu. Dia sedang berjalan di atas tanah dalam posisi waspada. Tanpa berpikir panjang, moment penting ini segera kami abadikan dengan “laras panjang” andalan. Jepret…jepret… beberapa frame kami dapat dan terbanglah dia saat itu juga, menyelinap lagi di kerumunan beluntas, menghilang lagi menyisakan rasa puas dan penasaran yang semakin besar. Lain waktu kita berjumpa lagi, kawan…

02
Jun
09

Ciungmungkal Jawa Pertama di Ijen

Bagi semua kegiatan adventuring, nama Kawah Ijen bukanlah nama yang asing. Salah satu kawah paling indah di Indonesia ini memang menyediakan berbagai atraksi wisata terbaik. Hiking, mountainering, camping, dan birdwatching.

Khusus untuk birdwatching, aksesibilitas yang cukup mudah ditempuh sampai ketinggian di atas 2000 mdpl, kawasan ijen bisa menjadi salah satu lokasi terbaik untuk mengamati burung-burung pegunungan.

Pada hari Sabtu, 30 Mei 2009 kemarin, sebenarnya kami tidak sedang berencana hunting burung, hanya rasa kangen melihat kawah Ijen. Berangkat dari rumah agak molor karena bingung cari pinjeman helm, jam setengah 6 meluncur juga kami naik Wiwin (motor baru beli ne hehehe…) dan sampai di pos pendakian hampir  jam 8. Tidak terlalu banyak acara, hanya pipis karena hawa dingin, kami langsung bergerak naik.

Di sepanjang jalur pendakian, dengan kondisi cuaca yang sangat tidak menyenangkan hati, suara-suara burung yang begitu meriahnya seperti sengaja menggoda tanganku yang sudah gatal pingin njepret pake laras lanjang. Yang jelas suara-suara yang masih asing buat kami, hanya sikatanrimba dada coklat saja yang kenal (setelah dibocori sama kang Baskoro) dan kacamata gunung.

Sesampai di puncak kawah, seperti yang sudah diperkirakan, cuaca yang sudah mendung sejak kami datang membuat acara hunting jadi agak berat karena gak dapet cahaya yang bagus buat take. Tapi the show must go on, beberapa frame tetap kami ambil sebelum meluncur ke kawah ijen. Di bawah kawah, frame lebih banyak dihabiskan karena ternyata obyeknya lebih menarik daripada di pinggir bibir kawah.

Setalah puas menghabisi obyek di dasar kawah, kamipun segera naik ke bibir dan dilanjutkan turun kembali area parkir. Si Wiwin sudah lama menunggu.

Sepanjang perjalanan turun tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Kabut masih bergentayangan menggelayuti pohon-pohon. Suara-suara asing di telinga belum juga berhenti menggoda sampai akhirnya seekor burung seukuran jalak agak gemuk sedikit sedang asyik menghajar seekor ulat yang sudah nyangkut di paruhnya, 5 meter di depan kami. Cahaya matahari yang sangat minim, membuat burung itu tampak hitam semua. Tidak terlalu lama berpikir, segera saya keluarkan si laras panjang dan membidiknya.

“Cahayanya nggak ngangkat.” Kata temanku.

“Kapan lagi…” jawabku singkat. Dan cepret…cepret…cepret… Baru dapat 6 frame dia sudah melompat masuk ke dalam semak. Karena rasa penasaran belum selesai, kami coba menunggu sambil terus mengamati kalau saja ada pergerakan. Dan benar juga, ternyata dia tidak terbang terlalu jauh, hanya 5 meter di depan kami dan tertutup beberapa lembar daun. Segera saya cari tempat yang nyaman untuk mengambil gambar. Dalam kondisi pencahyaan yang sangat rendah seperti ini, posisi sangat menentukan hasil jepretan kamera dengan lensa maksimal 500mm. Jika tangan anda tidak bisa menopang kamera dengan pas jangan harap bisa mendapatkan hasil foto yang bagus. Apalagi saya tidak pernah memakai monopot.

Singkat cerita, setelah sampai di kantor segera saya sesuaikan hasil foto burung yang baru saya tangkap dengan kitab suci para birdwatcher: Panduan Lapangan Burung-burung di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan punya McKinon dkk. Dan dari semua deskripsi yang ada semuanya mengarah pada Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) betina.

ciung1 ciung mugkal jawa

Merasa tidak yakin dengan temuan ini, apalagi setelah saya browsing di internet ternyata distribusi paling timur dia hanya sebatas sampai Gunung Slamet, akhirnya saya coba tanyakan kepada kitab suci lainnya: Kang Bas. Dan ternyata postif, Ciung Mungkal Jawa pertama yang ditemukan di Jawa bagian Timur.

**jenis lain yang ditemukan sepanjang perjalanan

Cucak Gunung (Pycnonotus bimaculatus), Cikrak Muda (Seicercus grammiceps), Ceret Gunung (Cettia vulcania), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Cica Koreng Jawa (Megalurus palustris), Sikatan Rimba dada Coklat (Rhynomyias brunneata), Kacamata gunung (Zosterops montanus), Bentet Kelabu (Lanius schach), Pergam X

25
Apr
09

Foto Terbaru

Baru emang baru dapet dan baru karena baru di-up load setelah  kelamaan di hard disk external, untung gak jadi tape

Bubut Jawa, Bubut Alang-alang, Kadalan Kembang

elang alap besra, elang buteo, elang tikus

kuntul kecil, cerek jawa, cerek tilil

cerek kernyut, dara laut tengkuk hitam, wili-wili besar

cinenen pisang, cikrak daun, bondol hijau dada merah

kicuit batu, kicuit kerbau, sikatan bodoh

sikatan cacing, manyar emas, brinji gunung

burung madu kelapa, pijantung besar, meninting besar

gelatik jawa, perenjak rawa, burung cabe gunung

25
Dec
08

Alam (masih) Bersahabat Dengan yang Ramah Padanya…

kehicap ranting bikin sarang

kehicap ranting bikin sarang

Mungkin ini bukan burung spesial, tapi setidaknya bisa njepret dia pas lagi bikin sarang kayaknya terlalu merendahkan kalo pertemuan hari ini tidak dianggap Best Time for Hunting.

Wes pokoke beautiful day beautiful bird beautiful baluran.

Pada akhirnya alam akan membuka sedikit demi sedikit hijab rahasia-rahasia kecilnya. Sebab dia sudah mulai percaya bahwa hanya manusia yang bisa menjaganya.

21
Dec
08

Seperti Nemu Serindit di Baluran

Apa yang paling menyenangkan untuk dilakukan di Baluran?

1. Turis Belanda mengatakan: “Saya orang paling suka lihat-lihat hewan besar-besar.”

2.Turis Itali berkata: “Saya paling suka pantainya, karena bisa melihat sunrise. Live!”

3. Turis Perancis mengatakan:”Saya lebih seneng tidak pakai guide, karena saya tidak suka memberi tips.”

4. Turis Arab bilang: “Ana tidak suka Baluran, karena sama fanasnya dengan negara ana.”

5. Turis Asem Bagus nrocos, sambil bertanya kepada petugas lapangan: “Kok gak ono dangdute Pak?”

dsc_04111Tapi buat saya, aktivitas paling menyenangkan di Baluran adalah sepeda-an pagi-pagi, apalagi di bulan-bulan gini. Memakai kacamata sport yang baru takbeli di depan kampus UNY seharga 15.ooo rupiah, nyangking senjata laras panjang dan sepeda dinas Polygonku.

Segala sesuatu di Baluran disulap menjadi hijau, segar dan becek. Keajaiban-keajaiban kecil pun mulai bermunculan, kodok ngorek di tengah savana, burung kutilang yang biasanya cuek sekarang jadi sensi sekali, mungkin karena lagi bertelor. Kerbau liar keluar siang, padahal biasanya mulai beredar menjelang maghrib. Dan sebagainya dan sebagainya.

Dan keajaiban terbesarnya adalah, saya ada disini. Di kawasan hutan paling cantik se-Situbondo (karena emang gak ada hutan lainnya yang lebih cakep), gak… tapi emang bener-bener cantik. Keajaiban, karena begitu saya njujuk sini langsung tersedia kamera laras panjang. Langsung terpasang internet dan kendaraan dinas Polygon Monarch. Plus kawan-kawan PEH yang gak ada matinya. Pak Kus yang kooperatif dan berpandangan terbuka.Saya masih bener-bener gak percaya kalo saya adalah PNS. Karena semua yang ada disini sama sekali berbeda dengan anggapan saya dulu tentang PNS.

As unpredictable and unbelievable as I nemu serindit Jawa di Baluran!!

06
Dec
08

Akhirnya… Kerbau Liar

kebogiraz2-upload Mungkin inilah kerbau yang paling dicari oleh semua manusia di Baluran. Hewan simbol kebodohan ini ternyata tidak sebodoh yang dikira, bahkan lebih pintar dari orang-orang berseragam di Baluran. Termasuk saya!

Mungkin saya patut berbangga, karena sejak holocaust beberapa tahun silam, kerbau liar (Bubalus bubalis) Baluran berubah menjadi satwa yang susah ditemui sehingga masuk list most wanted selain Banteng Jawa (Bos javanicus) dan anjing hutan (Cuon alpinus). Jangankan untuk dapet fotonya, dapat lihat buntutnya saja harus berada pada waktu dan tempat yang tepat.

Sejak terjadi penjarangan kerbau liar pada tahun 1985-1989, kerbau liar baluran mengalami penurunan populasi yang sangat drastis. Dari yang semual berjumlah 1200an, sekarang hanya bisa ditemui dalam kelompok-kelompok kecil antara 9-15 ekor per kelompok. Nyoh…edan tenan to?

Ya begitulah, kalau manusia selalu ikut campur urusan alam. Padahal dengan keberadaan kerbau liar, keberadaan kubangan-kubangan alami sebagai lokasi minum satwa di musim kemarau dapat terjaga. Nyambung nggak? Jadi gampangannya gini: Kerbau itu kan suka keceh dan mandi lumpur, lha dengan mereka sering mandi lumpur maka ini akan mengakibatkan dua hal. Pertama menjaga substrat lumpur biar nggak nyumbat lobang-lobang dimana air sumber kubangan keluar yang pada dasarnya dah sangat sempit. Kedua, lumpur-lumpur yang nempel di tubuh kerbau secara periodik akan dibawa keluar oleh kerbau, dengan begitu kubangan tidak akan cepat dangkal oleh endapan lumpur akibat run off air hujan. Run off kuwi opo?

Tapi whatever lah. Asal dapat njepret kelompok Kerbau ini sudah cukup memunculkan harapan bahwa populasi kerbau liar di Baluran akan segera pulih. Let’s pray…

26
Nov
08

What the Bajigur Beautiful Creature

sepah-gunung332

And his called sepah gunung or sepah mountain or whatever pokoknya bajigur beautiful. 24th November, with friends from Cross (baca: Malang) city, I was birdwatching in cangar, in English similar with “hot water out from stone” atau sumber air panas.

Actually I got no good weather, because it was very cloudy, gluduk everywhere, but its OK because I’m cool person. Of course because the temperature is about 18 degrees. Cool enough to?

But this is cangar, although it was very cloudy, it was not njuk little birds to see. Still birds are spreading everywhere like doesn’t happen no what-what. At least I found, no…no… I mean I take a picture some birds, they are big ciu, mountain chili, brinji mountain, munguk beledu (nek iki angel inggrise dab), ashy drongo (la nek iki aku cen apal inggrise), mountain honey bird, grey head washing, and two more buajigur birds: pelatuk sayap merah jejer sama pelatuk besi !!

Wes pokoke very bajigur beautiful trip of cangar. Mister !!!

not forget, I want to say very tengkyu for Amri, Panca and two friends more but I’m forget their name hehehee…. It was very unforgetable bird trip with you guys. Keep nggento and make samething great….

26
Nov
08

Si Tiwi-tiwi besar

si tiwi-tiwi besar..
si tiwi-tiwi besar..

Ah…setelah sekian lama nggak nongol di blog, akhirnya I’m here juga. Setelah 2 bulan disibukkan untuk menyelesaikan Baluran Information Kit, sekarang saatnya ndobos-ndobosan. Dan tema ndobos pertama adalah burung yang lama aku buru dan akhirnya dapat ketika sama sekali nggak ada niat hunting burung.

Ini dia si wili-wili besar, dulu karena saking susahnya mengingat namanya sampe keliru menyebutnya tiwi-tiwi besar heheheee…. Maklum pemula.

Sebenarnya niat awalnya mo cari foto buah dan bunga tanaman mangrove di Baluran buat nglengkapi data Baluran Information Kit, tapi karena terlanjur kebablasan ke bilik, salah satu pantai terindah di Baluran, akhirnya ya diniati saja sekalian berburu si wili-wili ini karena emang persebaran dia hanya di sekitar pantai bilik-sijile.

Aku nggak tahu apa sih keistimewaan dia, tapi yang jelas dalam seumur hidupku aku Cuma menemukan dia dua kali, yang pertama di Alas Purwo, dan sekarang di Baluran. Itupun setelah berkali-kali nyasak ke bilik.

bilik beach
bilik beach

Pantai bilik adalah pantai yang sangat indah, bahkan lebih indah daripada pantai bama yang sangat terkenal itu. Terbukti dengan setiap kali bule-bule diajak kesana, mereka langsung memperpanjang masa liburan dan minta diantar lagi kesana. Enak saja mereka begitu datang langsung bugil njuk caring, la kita, tiap hari sudah kepanasan masih disuruh caring. Mrongos ndes…!!

25
Sep
08

Lailatul Qodr itu Ternyata Bernama Gallus gallus

Akhirnya setelah sekian lama dicari, diburu, ditunggu, bahkan sampai diancam, nongol juga dia.

Si ayam hutan merah. Spesies paling berjasa bagi kebudayaan dan kehidupan manusia di seluruh dunia. Karena dia manusia bisa tumbuh dengan sehat, belajar, bekerja dan menggerakkan roda sejarah hingga sampai sekarang ini.

Bagiku pribadi ini adalah berkah Ramadhan, ketika banyak orang menganggap ramadhan=lemes, ramadhan=loyo dsb, bagiku ramadhan adalah suntikan semangat dan stamina.

Akhirnya aku bisa melihat langsung gen asli dari ayam-ayam yang selama ini kumakan. Ah masak sih Lailatul Qodr tahun ini si ayam hutan merah?

23
Jun
08

Pelatuk Ayam Dan Waktu Yang Berhenti

Apa lagi yang harus aku katakana sayang? Kata-kataku sudah habis terbakar bara dalam dada. Puisi pun tak mampu mewakili keindahanmu. Apa yang diberikan oleh Tuhan yang bernama akal logika berhenti saat itu juga. Bahkan waktu. Membeku saat mata kesadaran jatuh di pelupuk tubuhmu. Ah…kau! Engkau yang hanya seekor burung pelatuk!!!

What the F**** !

Yes this is very F*** mister….

Mungkin empat huruf itu sudah sangat mewakili deru jantungku saat melihat burung satu ini. Pelatuk ayam (Dryocopus javensis) yang sebenarnya nggak mirip-mirip banget dengan ayam. Apalagi bebek.

Bagaimanapun juga pertemuan yang hanya sesaat ini, yang tidak lebih dari 5 detik, bisa jadi adalah sebuah loncatan kuantum atom-atom dalam tubuhku yang saat itu juga langsung memerintahkan tanganku untuk segera mengangkat Nikon D200 di tangan dan mengarahkannya ke sasaran. Tanpa berpikir, tanpa beranalisis, apalagi pake bikin table dan grafik logical frame work. Langsung jepret…jepret…jepret… Dan waktu pun berhenti. Berhenti sampai detik ini juga.

Pertemuan 5 detik itu pun membeku dalam frame Nikon D200-ku dan akan terus abadi. Apa yang dikatakan Einstein tentang waktu yang melambat mungkin ada benarnya. Bahkan waktu yang berhenti bisa sangat mungkin terjadi.

23
Jun
08

Ah..Ternyata Alam Semesta Masih Sedang Bekerja

Burung apa yang paling gagah? Jawabku sudah pasti elang. Dan elang apa yang paling ganteng? Tidak lain (menurutku sih) si perut putih. Haliaeestur leucogaster si penguasa laut. Bahkan bagi para kebanyakan nelayan dia dipercaya sebagai burung garuda symbol Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setiap kali aku pergi ke daerah pesisir, aku selalu berharap ketemu sama burung ini. Dalam bentuk pertemuan apapun. Terbang, tengger atau bahkan ngising-pun aku bersedia. Saking kepinginnya ketemu dengan dia sampai-sampai julang emas di pulau sempu aku kira elang laut perut putih, dan itu tidak sekali, tapi berulang kali. Memang cinta bisa membutakan segalanya.

Kekaguman ini berawal dari sebuah foto yang ada di sekretariatnya anak-anak Silva Gama, kelompok PA di fakultas Kehutanan tempat aku kuliah dulu. Rentangan sayapnya yang panjang, ukuran tubuhnya yang gagah nan seksi dan paruhnya yang terkesan kokoh, bahkan lebih dari semen Holchim. Itulah foto burung pertama yang meluluhkan hati seorang pujangga hina kelana.

Dan apa yang terjadi di disini, di pantai Bama Taman Nasional Baluran, adalah mukjizat eh bukan tapi qudrah yang diturunkan Tuhan. Aku tidak hanya melihat kepakan sayapnya yang menggetarkan udara mengalahkan angin darat yang menderu, tapi aku juga melihat bagaimana dia menyambar mangsanya. Dan yang lebih hebat lagi aku bisa menangkapnya dalam frame Nikon D200 di tangan yang sampai saat ini masih punya kantor.

Gila man! Aku dapat fotonya! Dan kalo boleh jujur (kalo tidak bisa dikatakan memuji diri sendiri) foto ini jauh lebih bagus dan lebih mahal dari foto elang laut perut putih di secretariat anak-anak Silva Gama.

Ternyata aku baru sadar bahwa kekaguman tidak lain adalah doa yang paling tulus dan jujur dalam hati. Dan…ah, ternyata alam semesta masih sedang bekerja.

31
Mar
08

Demi Manyar Emas

manyar emas   manya2   manyar tempua
Mungkin ini adalah perburuanku yang paling melelahkan. Tidak seperti biasanya, Jatimalang begitu panas, biasanya sih emang udah panas. Tapi ini puaaanaasss banget. Sampai-sampai aku hampir pingsan karena nahan panasnya. Belum lagi kondisi lapangan yang agak berat karena habis hujan, sehingga beberapa jalan udah tertutup air selutut.

Tapi demi mendapatkan foto manyar emas (Ploceus hypoxanthus), aku rela menerobos tanah rawa yang kalau diinjak bisa langsung mak blesek….selutut. Dan ya itu tadi, selain nahan panas, jalan juga sulit dilewati, langsung bikin napas ngos-ngosan. Aroma tembakaunya gudang garam langsung menyebar di sekitar lubang hidung.

Dan sialnya lagi, ketika sampai di tempat yang semula aku kira bakal menemukan manyar emas dengan mudah eeh….bul sepi, sueepii banget. Cuma perenjak padi (Prinia inornata) yang hilir mudik di depanku dengan wajah penuh kekhawatiran. Selidik ketemu selidik, ternyata aku salah ngambil tempat istirahat yang disitu ada sarang mereka. Sori boss…dah kelelahan banget.

Sekarang bulan April. Kalau anda datang ke Jatimalang sekarang anda akan menemukan banyak sarang-sarang burung manyar yang menggantung di ranting-ranting pohon brugurea sp. Dan sepertinya ini sedang musim mencari pasangan. Sebab sarang-sarang sudah selesai dibangun, tinggal menunggu sang betina untuk sudi mampir ke dalam sarang yang menurut mereka paling mewah, nyaman dan aman untuk ditinggali anak-anak mereka. Dengan begitu berarti mereka telah menemukan pejantan yang layak untuk menempatkan sel spermanya ke dalam rahim mereka.
Beberapa juga ada yang sudah ada telurnya. Tinggal menunggu kapan mereka menetas, nah itulah saat yang tepat untuk digiscoping.

Dan tidak ada pencarian tanpa pertemuan, tidak ada pertemuan tanpa penghayatan dan cinta. Seperti sang kekasih yang lama pergi, tiada penantian yang sia-sia saat dia datang mengetuk pintu hati. ”Telah kusimpan janji sehingga kakiku tetap berdiri. Kubawa dan selalu kubawa agar engkau tahu, tiada rinduku sirna dikikis waktu.”

Dua-tiga frame sudah cukup bagiku untuk mengabadikan manyar emas dan manyar tempua (Ploceus philippinus), sehingga aku bisa pulang dengan senyum…cheesss….

Happy birding

Never ending digiscoping




keajaiban hari ini

jangan kau pergi. sampai aku titipkan kepadamu. kekaguman kepada para penghuni alam semesta. untuk hari ini. untuk keajaiban hari ini.