Author Archive for baluran and me

09
Nov
09

Akhirnya Buku Burung Baluran

cover-pasti

Buku Burung Baluran-klik to download

Setelah bertahun-tahun menyimpan angan-angan membuat sebuah buku tentang burung-burung Taman Nasional Baluran, akhirnya cita-cita itu datang juga. Dimulai dengan sebuah proses pendokumentasian catatan-catatan perjumpaan dalam sebuah buku kecil yang ditulis oleh kawan-kawan di lapangan selama bertahun-tahun, dimulailah proses awal penyusunan buku ini.

Karakter habitat Taman Nasional Baluran yang sangat beragam menjadikan tipe burung yang ada juga sangat beragam. Dalam hal ini, catatan lapangan sangat berharga apalagi sebaran dan kelimpahan beberapa burung juga mengikuti pergantian musim, tingkat tekanan manusia terutama praktik perburuan liar dan perubahan habitat yang berlangsung baik cepat maupun perlahan, fenomena invasi akasia (Acacia nilotica) adalah contoh paling gamblang untuk menggambarkan arus pergeseran neraca ekosistem yang perlahan tapi pasti yang pada akhirnya mempengaruhi pola adaptasi satwa, terutama burung.

Perburuan liar tidak bisa dipungkiri adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap berkurangnya kekayaan burung di kawasan ini. Konon, sekitar tahun 70-80an, Perkutut Jawa (Geopelia striata) sempat menjadi burung paling dicari seiring trend pemeliharaan Perkutut yang cukup meriah. Waktu berganti, trend berubah, Perkutut berangsur pulih dan digantikan oleh Cucak Ijo (Chloropsis cochinchinensis), Punglor (Zoothera citrine), Kacer (Copsychus saularis) dan Gelatik Jawa (Padda oryzivora). Punglor bahkan tidak ditemukan dalam satu tahun terakhir, Kacer hanya satu dua kali teramati, dan Cucak Ijo mungkin bisa diamati dalam jumlah yang agak melegakan hanya di Kawah Gunung Baluran, tidak jauh berbeda dengan Gelatik Jawa yang mulai jarang ditemukan.

Begitu juga dengan nasib Paok Pancawarna (Sitta guajana) dan Pelatuk Ayam (Dryocopus javensis) yang harus masuk daftar burung sulit ditemui. Paok Pancawarna hanya teramati sekali dalam satu tahun terakhir dan Pelatuk Ayam atau  lebih terkenal dengan Pelatuk Bawang oleh masyarakat sekitar sedikit bernasib lebih baik karena lebih sering teramati di sekitar hutan pantai Blok Bama.

Nasib paling dramatis dialami oleh Jalak Putih (Sturnus melanopterus) yang mungkin hanya tersisa tidak lebih dari 3-4 ekor. Jalak Putih bisa dikatakan merupakan symbol keterdesakan burung-burung yang menjadi korban perburuan liar. Musnahnya Jalak Putih di Taman Nasional Baluran akan menjadi kehilangan yang berarti, mengingat anak jenis dari burung ini yaitu Sturnus melanopterus tricolor hanya tersebar di Jawa ujung timur.

Tapi mari kita tidak terlalu berdurja. Kawasan eksotis ini masih menyediakan pertunjukan yang mungkin jauh lebih menghibur. Adalah Merak Hijau (Pavo muticus), burung cantik nan anggun yang secara global sangat terancam ini ternyata cukup berlimpah di Taman Nasional Baluran. Pada bulan Agustus sampai Oktober, saat Merak-merak jantan memamerkan keindahan bulu dan kelihaian tubuhnya dalam menari kepada para betina, Taman Nasional Baluran seperti disulap menjadi panggung pertunjukkan sebuah upacara sakral yang terjadi selama   ribuan tahun, sebuah theater hidupan liar yang sangat mahal dan eksklusif yang tidak tergantikan.

Kerabat dekat Merak Hijau yaitu Ayamhutan Hijau (Gallus varius) mungkin bukan burung yang mudah ditemui di banyak tempat, tapi Anda akan menemukan burung-burung ini semudah Anda melihat ayam di pekarangan  rumah Anda, jantan, betina atau satu keluarga silahkan pilih.

Keberadaan beberapa burung langka yang akan menyempurnakan cerita indah dari tempat indah ini tidak lain adalah Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) dan Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), yang baru ditemukan beberapa waktu lalu. Tidak ketinggalan, Bangau Tong-tong (Leptoptilos javanicus), Kuntul Cina (Egretta eulophotes), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Wiliwili Besar (Esacus neglectus), Serindit Jawa (Loriculus pusillus), Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Takur Tulung-tumpuk (Megalaima javensis), adalah nama-nama yang perlu dipertahankan dalam daftar burung Taman Nasional Baluran.

Catatan-catatan lapangan sebagai sebuah metode pendokumentasian mungkin sudah cukup menjadi saksi jatuh-bangun dan keindahan kisah burung-burung di Taman Nasional Baluran yang akan dibaca oleh generasi mendatang. Namun mengingat ancaman hilangnya beberapa jenis burung dan betapa indahnya burung-burung yang ada di Taman Nasional Baluran menjadi alasan yang tidak terbantahkan untuk mulai berpikir tentang metode pendokumentasian yang lebih “canggih”, yaitu fotografi. Di sinilah kemudian teknologi memainkan peranan sangat penting dalam proses pendokumentasian burung-burung di Taman Nasional Baluran.

DSC_0002

Tim Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Baluran

Pengamatan Burung dan Fotografi Burung

Tidak berlebihan kalau Taman Nasional Baluran disebut sebagai surganya pengamat burung, bahkan lebih jauh, surganya fotografer burung atau satwa liar pada umumnya. Iklim yang sangat kering karena karena curah hujan yang sangat rendah (antara 900-1600 mm/tahun) menjadikan kawasan ini didominasi oleh tipe hutan musim dengan pepohonan yang tidak terlalu rapat. Pada  musim kemarau, ketika hampir semua pohon menggugurkan daunnya, mengamati burung menjadi semakin mudah.

Sebelum berburu burung ada baiknya Anda sudah mempersiapkan alat dan kebutuhan yang diperlukan di lapangan. Bagi pengamat burung, sebuah binokuler adalah alat wajib yang harus ada. Kebanyakan pengamat burung menggunakan tipe binokuler dengan ukuran lensa 10×50 mm atau di bawahnya untuk pengamatan di hutan, meskipun itu bukan harga mati. Pengamatan burung hutan dengan menggunakan ukuran lensa yang lebih besar biasanya cukup merepotkan terutama untuk mengamati burung-burung kecil yang aktif dan lincah. Banyak pengamat bahkan lebih suka menggunakan binokuler kecil dengan ukuran lensa 10×20 mm atau 7×40 mm.

Pada beberapa kondisi, terutama ketika musim kemarau, penggunaan binokuler berlensa besar, bahkan sampai ukuran 15×70mm mungkin tidak menjadi masalah di Taman Nasional Baluran, karena jarak dan ruang pandang pengamat cukup luas. Tidak jauh berbeda dengan pengamatan di daerah terbuka seperti savana atau pantai.

Bahkan penggunaan monokuler bisa membantu Anda melihat burung-burung dalam jarak jauh yang biasanya adalah burung yang suka bertengger di tajuk tinggi atau burung pemalu berukuran besar seperti Tangkar Centrong (Crypsirina temia), Kadalan, Gagak Hutan (Corvus enca), atau Kepudang Kuduk-hitam (Oriolus chinensis).

Perekam suara, meskipun opsional yang sifatnya sunah mungkin bisa membantu Anda untuk mengidentifikasi jenis-jenis burung yang susah diamati, seperti jenis pelanduk, ciung air, sikatan atau burung dengan variasi suara bermacam-macam. Tidak kalah penting, buku catatan yang akan sangat berguna untuk mencatat point-point penting selama pengamatan.

DSC09331

Don't Try This at Home

Fotografi burung, meskipun membutuhkan biaya yang lebih besar tapi masih bisa diusahakan. Teknik digiscoping, yaitu menggabungkan monokuler dengan kamera digital yang biasanya kamera poket mungkin adalah alternatif terbaik bagi Anda yang ingin berburu foto burung. Dan itu sangat mungkin dilakukan di Taman Nasional Baluran.

Pemilihan lokasi dan waktu yang tepat adalah hal yang harus diperhatikan, mengingat mengambil foto burung lebih sulit dari sekedar mengamatinya. Begitu juga memahami perilaku burung target, habitat kesukaan, pohon kesukaan atau waktu aktif.

Daerah ekoton atau daerah peralihan dua habitat yang berbeda adalah lokasi terbaik. Biasanya di lokasi ini menjadi jalur transportasi burung yang menempati dua habitat yang berbeda untuk saling menyeberang ke habitat tetangga. Selain itu di lokasi ini banyak ditemukan jenis pohon yang masa berbunga dan berbuahnya tidak tergantung musim. Ficus superba atau Krasak bahkan kami sebut sebagai “Pohon Kehidupan” karena begitu dia berbuah, berbagai macam burung, primata dan mamalia kecil berkumpul di pohon raksasa ini. Di luar daerah ekoton, Talok (Grewia eriocarpa), Widoro Bukol (Zizyphus rotundifolia) dan Asem (Tamarindus indica) yang banyak tersebar di hutan musim  dan memiliki siklus berbunga musiman adalah pohon-pohon yang juga digemari burung.

Dimana Anda Menemukan Apa?

Lokasi favorit untuk mengamati burung  dan berburu foto kebanyakan berada di wilayah timur Taman Nasional baluran. Selain sarana jalan yang lebih mudah untuk masuk ke “jantung’ kawasan, wilayah ini juga sering menjadi lokasi perjumpaan dengan beberapa jenis burung spesial.

Pantai Bama dengan berbagai macam tipe habitat merupakan lokasi terbaik untuk menemukan burung. Jalan setapak ke arah Utara dan Selatan yang berada tepat di daerah ekoton antara hutan mangrove dan hutan musim adalah salah satu lokasi utama. Beberapa jenis burung yang mudah ditemui dan difoto di areal ini seperti Cangak Laut (Ardea sumatrana), Bangau Tong-tong (Leptoptilos javanicus), Rajaudang Biru (Alcedo coerulenscens), dan Pelatuk Ayam (Dryocopus javensis). Meskipun cukup sulit, tapi mungkin hanya di sekitar pantai Bama Anda bisa say hello kepada Sikatan Cacing (Cyornis banyumas), Pelanduk Semak (Malacocinda sepiarium), Perenjak Coklat (Prinia polychroa), Ciungair Jawa (Macronous flavicollis) dan Gagak Hutan (Corvus enca).

Keluar dari Bama, sepanjang perjalanan dari Pos Bekol sampai pintu gerbang utama di Batangan, Anda akan menemui burung-burung spesial di sepanjang jalan ini. Sebut saja Pijantung Besar (Arachnothera robusta), Enggang Cula (Buceros rhinoceros), Serindit Jawa (Loriculus pusillus), Pelatuk Tunggir-emas (Chrysocolaptes lucidus), Delimukan Zamrud (Chalcophaps indica), Elangular Jari-pendek (Circaetus gallicus), Gelatik Jawa (Padda oryzivora).

Hutan Evergreen yang terletak tidak jauh dari pos jaga Seksi Bekol terkadang menjadi lokasi pengamatan yang bisa memberi kejutan. Sebagai hutan yang selalu hijau sepanjang tahun, meskipun berada di tengah-tengah hutan musim yang kering, areal ini sering dikunjungi beberapa burung yang secara umum jarang ditemui di lokasi lain. Sebut saja Ayamhutan Merah (Gallus gallus), Kadalan Kembang (Zanclostomus javanicus), Tepus Pipi-perak (Stachyris melanothorax), dan Elangalap Jambul (Accipiter trivirgatus) yang pernah ditemukan bersarang di areal ini atau Bangausandang Lawe yang suka berkunjung di Curah Uling (utara Evergreen) ketika mulai memasuki musim kemarau.

Di luar wilayah Barat, beberapa lokasi penting untuk terus dimonitoring adalah Blok Bilik-Sijile, Blok Gatel dan Kawah Gunung Baluran (Blok Kacip).

bilik1_resize

View Pantai Bilik-Sijile

Blok Bilik-Sijile terletak di pantai utara Taman Nasional Baluran. Meskipun berdekatan dengan pemukiman eks HGU Gunung Kumitir, pantai Bilik-Sijile merupakan lokasi dimana Wiliwili Besar (Esacus neglectus) hanya ditemukan di sini. Di sekitar pantai Bilik-Sijile juga merupakan lokasi langganan untuk memotret Kirikkirik Laut (Merops philippinus) dan Cabak Kota (Caprimulgus affinis). Garis pantai yang panjang yang bervariasi antara pantai berpasir dan pantai berkarang menjadi salah satu lokasi alternatif untuk memotret kelompok burung air, terutama ketika air laut surut.

Blok Bilik-Sijile hanya bisa ditempuh menggunakan sepeda motor atau kapal nelayan. Ketika memasuki musim penghujan, daerah ini hanya bisa ditempuh menggunakan kapal karena kondisi medan yang sangat tidak memungkinkan menggunakan jalur darat.

Blok Gatel adalah salah satu daerah penting bagi burung Taman Nasional Baluran yang baru teridentifikasi akhir-akhir ini. Beberapa jenis burung yang fotonya hanya bisa diambil dari blok ini seperti Manyar Emas (Ploceus hypoxanthus), Manyar Jambul (Ploceus manyar), Gagangbayang Belang (Himantopus leucocephalus), Itik Benjut (Anas gibberifrons), Cangak Merah (Ardea purpurea), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Cerek Kernyut (Pluvialis fulva), Kicuit Kerbau (Motacilla flava) dan Burungmadu Kelapa (Anthreptes malacensis). Pada tanggal 26 April 2009, sebuah pertemuan dengan Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) semakin menguatkan posisi blok Gatel sebagai salah satu daerah penting bagi burung.

Perburuan foto burung yang paling mengesankan dan selalu menyisakan cerita tak terlupakan adalah perburuan di Kawah Gunung Baluran. Hutan yang selalu hijau dan dipenuhi pohon-pohon tinggi dan bertajuk lebat membuat wilayah ini menjadi lokasi paling menantang.

Berjarak tidak kurang dari 12 km dari Pos Seksi Bekol, Kawah Gunung Baluran harus ditempuh dengan berjalan kaki melawati perbukitan dan menyisir sepanjang sungai yang mengarah ke mata air Kacip tempat  camp paling strategis. Mata air Kacip adalah lokasi dimana terdapat sungai yang mengalir sepanjang tahun. Dari sungai inilah, pipa-pipa disalurkan untuk mencukupi kebutuhan air bagi satwa yang hidup di wilayah timur Taman Nasional Baluran.

me and talpat_resize

Baluran Dilihat Dari Bukit Talpat

Di tengah-tengah jalur pendakian ke Kacip, terdapat bukit Talpat yang memiliki pemandangan sangat indah. Tempat terbaik untuk menghilangkan rasa lelah, dan ambil beberapa foto. Kalau tidak dapat foto burung, beberapa foto narsis juga tidak dilarang.

Berburu foto burung di Kawah Gunung Baluran bukan sesuatu yang mudah, namun keberadaan beberapa jenis burung yang hanya ditemukan di wilayah ini (dan beberapa lokasi di lereng luar Gunung Baluran) dan “cerita” tentang jenis-jenis “aneh” membuat wilayah ini hampir tidak mungkin dilewatkan. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Luntur Harimau (Harpactes oriskios), Cicadaun Sayap-Biru (Chloropsis cochichinensis), Cicadaun Besar (Chloropsis sonnerati), Munguk Loreng (Sitta azurea), Jingjing Petulak (Tephrodornis virgatus), Cucak Kuricang (Pycnonotus atriceps), Ciungbatu Kecil (Myophonus glaucinus), Ciungbatu Siul (Myophonus caeruleus), Empuloh Jenggot (Alophoixus bres), dan Takur Tenggeret (Megalaima australis) adalah nama-nama khas wilayah ini.

IMG_0002

Kacip Expedition Behind the Scene

Menginap dalam waktu yang agak lama adalah cara paling logis untuk mendapatkan hasil foto maksimal. Dan itu tidak menjadi masalah, karena di Kawah Gunung Baluran terdapat sungai yang mengalir sepanjang tahun. Mungkin yang menjadi masalah adalah keterbatasan cadangan batery dan memory kamera.

Pendokumentasian

Adalah kamera DSLR Nikon D200 dan lensa zoom tele Sigma 170-500 mm yang menjadi andalan dalam perjalanan perburuan. Sempat tergagap-gagap menggunakan kamera tangguh ini karena begitu banyak panel dan menu pilihan membuat beberapa foto didapat tidak dalam kualitas maksimal.

Dimulai sejak bulan Mei 2008, proses pendokumentasian jenis-jenis burung Taman Nasional Baluran telah mengumupulkan 155 jenis burung, termasuk 11 jenis belum teridentifikasi dan 4 jenis dengan kualitas foto “tidak layak tampil”. Setiap foto kemudian dimasukkan dalam komputer database dan di-rename berdasarkan lokasi dan waktu diperoleh. Catatan tambahan hanya diperuntukkan bagi jenis-jenis penting.

Pengelompokkan jenis burung didasarkan pada suku dan nama spesies yang sebelumnya diidentifikasi dengan bantuan Buku Panduan Lapangan Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan ditulis oleh McKinnon, dkk., serta membandingkan dengan foto-foto yang ada di situs Oriental Bird Images (OBI). Identifikasi suara adalah alternatif terakhir jika burung tidak bisa diamati atau difoto.

Dalam hal pengidentifikasian foto burung yang ditemukan, kami khusus sangat berterima kasih kepada DR. Bas van Balen yang telah banyak memberikan masukan dan koreksi terhadap beberapa foto salah identifikasi, dan kepada Karyadi “Kang Bas” Baskoro yang selalu siap direpoti ketika kami kesulitan mengidentifikasi. Tidak lupa terima kasih kepada Bernadius “Maswa” Setiawan dan Adhy “Batak” Maruly atas foto spesial Luntur Harimau dan beberapa masukan tentang jenis burung air.

Lebih dari satu tahun sudah, giga byte demi giga byte dihabiskan untuk menangkap keindahan burung-burung Baluran. Setap foto adalah proses pembelajaran yang sangat berarti betapa alam sudah sedemikian ikhlasnya untuk melayani manusia. Bahwa di setiap helai bulu burung-burung yang terbang di angkasa, di setiap helai daun yang bergoyang ditiup angin, pun di setiap tetes air yang keluar dari balik bebatuan, sesungguhnya alam tidak pernah berhenti berdzikir untuk manusia-manusia yang meluangkan waktunya untuk melindungi dan melestarikan alam dari kerusakan.

Dan akhirnya, tidak ada cita-cita yang tidak tercapai pun tidak ada usaha keras yang tidak membuahkan hasil. Meskipun masih jauh dari sempurna, semoga buku sederhana ini cukup untuk menampung semua keindahan warna dan kemerduan nyanyian burung-burung di Taman Nasional Baluran. Lalu mengabarkan kepada dunia bahwa mereka bahagia, mereka baik-baik saja, dan akan terus begitu selamanya.

Download Buku Burung Baluran

Penulis

03
Nov
09

Meninting’s Learning

Mungkin setelah bertahun-tahun bergelinjang dengan fotografi burung. Setelah melewati evolusi dari digiscoping ke DSLR laras panjang, mungkin baru kali ini saya bener-bener belajar memahami siapa itu makhluk indah yang bernama burung. Padahal itu adalah modal utama bagi semua fotografer alam liar, khususnya burung.

Jadi ijinkan saya berbagi pelajaran… mata pelajarannya adalah Meninting.

Saya gak tahu di tempat lain, tapi di Baluran, yang namanya Meninting Besar adalah salah satu burung paling f*** kalo difoto, alias susahnya minta ampun. Sensitif dan mobile, dalam bahasa jawa iyik, ngglidig, atau bedigasan. Pun, sepertinya dia sangat alergi dengan yang namanya cahaya matahari. Sempurna sudah kesulitan untuk mengambil gambarnya, cahaya rendah untuk lensa tele panjang adalah permasalahan teknis terbesar.

Tapi ternyata teori itu tidak selamanya shohih, alias -lagi-lagi- kita butuh sebuah pengecualian. Atau lebih tepatnya mencari dan berusaha menemukan pengecualian-pengecualian itu. Menemukan anti thesis bahwa meninting adalah burung yang sangat susah difoto.

Hal yang paling umum ketika kita bertemu burung ini tidak lain dia langsung terbang menjauh mengikuti aliran sungai. Atau, yang lebih repot, dia akan keluar dari wilayah sungai lalu keluar di antara semak, terbang berlawan dengan arah kita dan berhenti pada titik di wilayah sungai lagi. Sambil mengeluarkan suara lengkingan tinggi dan panjang. Pada perilaku yang kedua, itu berarti anda harus rela “kehilangan” dia, tapi pada perilaku yang pertama berarti anda masih punya kesempatan mendekati dia lebih intim. Atau pada tingkat kesabaran tertentu, anda justru yang akan didekati oleh dia.

Meninting, meskipun ketika didekati dia langsung menjauh, sebenarnya itu hanya sebuah ekspresi kekagetan yang reaktif, yang kalau anda mau menunggunya sambil sedikit bersembunyi, dia akan segera kembali ke arah anda. Atau pada beberapa perilaku, dia akan menyingkir tidak jauh dari sungai, bertengger pada ranting belukar sambil menaikkan jambul putihnya. Ketika anda menemui perilaku yang seperti ini, berarti anda tinggal selangkah lagi untuk “menghabisi” dia. Satu langkah itu adalah sabar. Kuat-kuatan. Yah, paling tidak kalau anda menunggunya sambil jongkok, minimal sampai kaki anda kesemutan, atau kalau anda perokok mungkin -minimal- butuh dua batang rokok kretek sebelum dia benar-benar percaya bahwa anda tidak memiliki niat buruk kepadanya. Atau yang paling jelek, dia akan menganggap anda manusia bodoh yang tidak perlu dikhawatirkan keberadaannya.

Nah, hal kecil yang perlu anda perhatikan adalah jambul putih di jidatnya. Selama jambulnya masih berdiri, jangan coba-coba membuat gerakan yang mengejutkan, karena pasti dia akan segera pergi. Tunggu saja, tunggu lagi, dan tunggu lagi. Sampai pada saatnya ketika sekali jambulnya diturunkan lalu dia juga turun ke tanah (sekitar aliran air) sambil langsung nggremet mematuk-matuk, nah saat itulah pertunjukkan yang sesungguhnya dimulai. Seketika dia akan menjadi burung yang benar-benar indah, lucu dan menggemaskan, karena dia tidak takut lagi sama keberadaan anda, bahkan dia akan mendekati anda. Asal tetap dalam satu kesepakatan bahwa anda tidak membuat gerakan yang mengejutkan.

Ohya, ada lagi satu kesepakatan dasar: bahwa semua satwa pasti akan mempertahankan wilayah terbaiknya. Wilayah terbaik bisa berarti di situ banyak tersedia pakan, atau aman. Artinya sangat penting untuk mengetahui kondisi lokasi dimana anda akan bertarung kuat-kuatan sama burung ini. Pengalaman, lokasi terbaik untuk beradu kuat-kuatan sama dia adalah cari dimana ada cekungan yang agak luas dan tergenang air di sepanjang aliran sungai yang tidak ada turbulensi kuat akibat arus air, ada tumpukan seresah yang basah yang mungkin tempat dimana banyak cacing yang tentunya tidak jauh-jauh dari aliran air dan mungkin, syarat paling buruk tapi bukan harga mati:  sedikit terjauh dari sinar matahari.

Jadi bagi anda para jomblo seperti saya. Jangan kuatir nggak laku, pun jangan terlalu memburu wanita-wanita. Tunjukkan saja bahwa anda tidak punya niat jelek, anda adalah lelaki penyabar bahkan kalo perlu berlagaklah seperti orang bodoh. Menunggulah dengan riang gembira, InsyaAllah dengan didukung doa akan ada waktunya burung itu datang menghampiri anda. Dan ketika saat itu datang, jangan sekali-sekali terlalu banyak pertimbangan…langsung jepret… jepret… gabrus… gabrus… manak… manak…

28
Oct
09

Tuhan Tidak Sedang Main Dadu

Selalu saja, semua datang tanpa diduga dan direncakan. Setidaknya itu yang bisa saya katakan atas semua keterbatasan saya. Karena mungkin jauh di dalam kerumitan proses kejadian, hukum kasualitas yang linier, dan hukum fisika yang sangat kulit, sesungguhnya semua kejadian di alam semesta ini memiliki pola dan ritme yang tertata dengan sangat rapi dan konsisten.

Tapi what ever-lah, terlepas semua terencana atau nggak yang penting –akhirnya- saya sukses “menangkap “ si Alap-alap Sapi. Setelah berhari-hari caring di bawah terik matahari Baluran di tengah-tengah savanna, paling banter saya “cuma” dapet dia pas lagi terbang dengan hasil yang alhamdulillah kurang meyakinkan. Tapi pagi itu, saya gak tahu mekanisme apa yang sedang berkerja dalam tubuh alam semesta, gelombang-gelombang halus macam apa yang ditebarkan kepada makhluk-makhluk di Baluran?

Berawal dari giliran piket nungguin kamera cctv yang dipasang di salah satu kubangan di belakang pos Bekol untuk memantau Bantang. Setelah dipasang lebih dari seminggu, untuk yang kedua kalinya Banteng muncul di layar monitor. Jelas pemandangan yang langka bagi saya, karena meski hampir tiap hari saya blusukan ke dalam hutan Baluran, yang namanya Banteng adalah salah satu makhluk paling ghoib bagi saya di Baluran, dan malam itu saya melihatnya dengan agak leluasa. Meskipun cuma melalui layar cctv, setidaknya malam itu saya diijinkan melihat Banteng agak lama.

Pagi harinya, menjelang matahari terbit, keindahan kedua setelah Banteng di Baluran adalah ekor mengagumkan si burung Merak. Meskipun harus dengan tiarap dan ngesot, keindahan si cantik tetap belum tergantikan. Belum lama menikmati si cantik. Tiba-tiba dari balik kerumunan semak, mak bedunduk muncul burung yang jauh lebih cantik, lebih menyebalkan, dan jauh lebih mengagetkan. Siapa lagi kalo bukan Alap-alap Sapi. Burung yang selama ini saya kenal dengan kelakuannya yang susah diajak kerjasama dalam hal potret-memotret ini tiba-tiba hinggap di ranting Mimbo, dan diam tenang seperti tidak terganggu siapa-siapa.

Entah apa yang terjadi dengan dia hari itu. Hilang ingatan sesaat, kerusakan struktur jaringan otak atau gelombang electromagnet alam semesta yang dikirim ke dalam seluruh jaringan tubuhnya sehingga dia lupa dengan manusia kurang kerjaan yang sedang bernafsu memburu dia. Bahkan ketika saya dekati, tidak serta membuat dia sadar. Saya tak kasat mata olehnya pagi itu.

Dan lagi-lagi, atas semua keterbatasan saya, apakah itu sebuah kebetulan?

Einstein, fisikawan terbesar abad modern memiliki satu pekerjaan rumah yang belum terselesaikan: meng-formulasikan Tuhan dalam rumus-rumus matematika. Dia yakin bahwa semua kejadian di seluruh semesta tidak ada yang kebetulan, meskipun melalui runtutan reaksi kimia-fisika yang panjang dan rumit, semua pasti ada asal muasalnya, ada rumus, ketetapan, konstanta dan lain sebagainya. Namun sampai dia meninggal, formula itu belum juga selesai. Pada pada akhirnya dia sampai pada kesimpulan bahwa “Tuhan tidak sedang main dadu.”

28
Oct
09

Foto-foto Terbaru

19
Oct
09

Kepala Baru dan PNS Berkaos Oblong

Apa yang terjadi ketika terjadi pergantian pimpinan di kantor anda? Pasang muka, rasan-rasan di kantin, ketakukan baru, atau bahkan sebuah harapan baru. Setiap orang mempunyai karakternya masing-masing yang dibawa kemanapun dia berada. Dan untuk kapasitas seorang kepala, karakter pribadinya sudah pasti akan mempengaruhi seisi kantor yang dipimpinnya.

Dulu ketika saya datang di Baluran, kepemimpinan seorang Kuspriyadi yang kalem dan penuh pengertian, menciptakan nuansa yang bener-bener cair dalam kantor. Katakter beliau yang sangat koperatif, akomodatif, lucu dan penyabar tapi tegas membuat setiap orang bekerja dengan senang hati, berkarya dengan lapang dada, pun untuk beberapa orang mbolos tiap hari dengan tanpa rasa bersalah apalagi takut. Pak Kus bagaimanapun juga dalah sosok orang yang sangat kami hormati waktu itu, pun sampai sekarang minimal oleh saya pribadi.

Bagi saya, kondisi ini membuat saya jadi semakin nyaman tidak memakai seragam, hanya kaos oblong dan sandal jepit, kecuali acara-acara tertentu yang menuntut kerapian barisan. Hampir tiap hari kaos oblong adalah seragam kebesaran saya. Adalah Solo Hamonangan Tampubolon, seorang Batak dengan citarasa Jombang yang tiap hari selalu mengomeli tentang seragam kebesaran saya itu. Tapi beliau orangnya asik jadi tidak pernah sekalipun saya anggap omelan itu sebagai wujud kemarahan apalagi kebencian. Dan akhirnya guyonan-lah ujung dari omelan-omelan itu.

Belum lama merasakan model kepemimpinan Pak Kus, tiba-tiba datang surat dari Manggala bahwa Pak Kus harus segera melaksanakan tugas baru di Kalimantan Timur. Dan digantikan oleh Pak Indra Alinar yang ternyata bukan orang baru, karena dulu pernah menjabat sebagai KSBTU di Baluran. Muncul berbagai macam isu-isu tentang kepala baru ini. Mulai dari yang galak, kalo ngomong ceplas-ceplos, pelit, tertib, disipilin sampai tipe orang yang tidak pernah macam-macam soal makan.

Lalu datanglah hari itu, hari pertama Pak Indra memegang tampuk tertinggi struktur kantor Balai Taman Nasional Baluran. Dampak pertama yang paling signifikan adalah orang-orang pada masuk kantor hari itu. Nggak tahu apa yang mereka kerjakan, tapi mereka tampak sibuk sekali. Sepertinya fenomena itu cukup beralasan, karena Pak Indra ternyata orang yang sangat terliti terhadap setiap bawahannya, beliau tahu siapa yang bolos hari itu, bahkan sampai petugas karcis di pos depan, beliau tahu siapa yang males nongol. Pake ilmu kanuragan model apa itu bukan urusan saya, yang penting saya nongol terus.

Sebagai kepala baru, rapat koordinasi dan evaluasi serta peninjauan lapangan adalah aktifitas kami hampir setiap hari. Dan setiap rapat koordinasi dan evaluasi, selalu saja ada karyawan yang kena cuci habis-habisan.

“Pak A, selama ini kesibukannya apa? Sudah menghasilkan apa saja? Sesuai nggak dengan gaji yang anda terima?”

“Pak B, dalam satu bulan berapa jam yang anda habiskan untuk menyelesaikan pekerjaan rutin anda? 5 menit? Atau setengah jam?”

“Pak C, anda itu staf lapangan, ngapain aja di kantor? Sana pergi ke lapangan!”

“Ibu D, kemarin gak masuk kemana?”

Dan sebagainya… dan sebagainya…

Tapi bagi saya, hal seperti itu memiliki satu makna: seragam kebesaran masih tetap kaos oblong! Karena saya sudah menyiapkan jawaban kalau sewaktu-waktu beliau menyakan kenapa saya pake kaos oblong. “Lha saya kan orang lapangan pak, pake seragam membuat saya tidak nyaman berkerja, karena pekerjaan saya menuntut fleksibilitas tinggi dan keringat bercucuran!” hahahahaa.. habis perkara!

Suatu hari ketika kami rapat evaluasi keuangan. Seperti biasa bos baru ini orangnya sangat kritis dan teliti terhadap setiap perencanaan dan pelaporan keuangan. Sampe pada ranah yang paling ekstrim, banyak orang yang menyebut beliau ini orangnya pelit.

“Apa-apan ini, renovasi gedung bisa menghabiskan 300 juta lebih!” lanjut Beliau sambil terus melototi lembar laporan keuangan.

“Tahu nggak apa yang membuat gedung-gedung di komplek kantor kita cepat rusak? Karena anda sering meremehkan hal-hal kecil. Genteng melorot satu dibiarkan, jendela gak pernah dibuka, debu-debu dibiarkan menumpuk sampe tebal. Begitu sudah rusak langsung menghabiskan ratusan juta!” lanjutnya.

“Siapa koordinator bagian umum?” Tanya beliau pada forum.

“Saya Pak.” Jawab Pak Solo Hamonangan Tampubolon, orang Batak citarasa Jombang yang suka ngomeli saya masalah kaos oblong tadi tadi sambil senyum-senyum, karena emang pada dasarnya orang Batak Coret ini adalah orang yang sangat susah diajak serius.

“Pak Solo.” Sahut pak Bos, “Pernahkah Pak Solo menyemprot itu kusen-kusen kantor pake anti serangga?” Tanya Pak Boss.

“Belum pernah Pak.” Jawab Pak Batak Coret ringan.

“Lha ini!” sahut Pak Boss, “Gimana bangunan-bangunan di sini nggak mudah rusak kalo tidak pernah dirawat?” sambung beliau. Semuanya terdiam. Termasuk saya. Hening.

“Oke, kalo gitu, mulai senin depan, Pak Solo nggak perlu harus pake seragam berseterika! Pake saja kaos, biar tidak canggung untuk membersihkan setiap kotoran debu, genting melorot atau menyemprot anti serangga!” perintah Pak Boss tegas.

Spontan saya langsung ngekek…. Wakakakakakk…

Monggo didahar meniko kaose…” sambil gumanku dalam hati hahahahaa..

Akhirnya mulai senin depan saya punya pengikut baru: PNS berkaos oblong!

05
Oct
09

Endangered..Merak Hijau !!!

Pada tahun 2009, berdasarkan evaluasi dari Birdlife International dan Red List Authority-IUCN untuk burung menaikkan status Merak Hijau (Pavo muticus) dari vulnerable (VU) menjadi endangered (EN). Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Merak Hijau mengalami penurunan populasi yang sangat cepat dan fragmentasi habitat yang sangat parah, dimana penyebab utamanya adalah konversi habitat dan perburuan dalam jumlah besar. Tren seperti ini diproyeksikan akan terus berlanjut. (Birdlife Internasional, 2009)

Dari beberapa kawasan konservasi di dunia, di Indonesia diwakili Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Mungkin juga termasuk Alas Purwo dan Meru Betiri. Di TN Baluran sendiri, Merak Hijau relatif masih mudah dijumpai dalam kelompok-kelompok, tiap kelompok biasanya terdiri dari 3-5 betina. Burung jantan cenderung hidup soliter kecuali ketika memasuki musim kawin.

Meskipun perburuan Merak Hijau di TN Baluran hampir tidak ditemukan dalam satu tahun terakhir, namun tekanan habitat masih cukup tinggi mengingat ketergantungan masyarakat sekitar kawasan juga cukup tinggi. Dan yang perlu diperhatikan pula, pada musim-musim berbiak, ketika betina sudah mulai bertelur dan mengerami, intensitas pengambilan telur burung ini cukup  tinggi. Telur Merak Hijau diletakkan pada tumpukan daun dan ranting di atas tanah.

Silahkan lihat juga www.birdlife.org

10
Sep
09

List Foto Jenis Terbaru

Beberapa list foto-foto jenis baru. Ada 9 jenis baru yang fotonya didapat dalam 3 bulan terakhir. Kecuali Gagak Kampung yang didapat di Mangrove Information Centre, Bali dan Cica Kopi Melayu, Tepus Pipi-perak, Srigunting Bukit, Uncal Loreng serta Walik Kembang yang didapat di TN. Gunung Merapi. 1 jenis di Pantai Trisik, Yogyakarta. 4 jenis lainnya didapat di TN. Baluran yaitu Jingjing Petulak, Pelanduk Semak, Pelanduk Topi-hitam dan Ciungair Jawa.

  • Jingjing Petulak

.

.

  • Gagak Kampung

.

.

  • Cica Kopi Melayu

.

.

  • Tepus Pipi-perak

.

.

  • Pelanduk Semak

.

.

  • Pelanduk Topi-hitam

.

.

.

  • Ciungair Jawa

.

.

  • Srigunting Bukit

.

.

.

  • Walik Kembang

.

.

.

  • Uncal Loreng

.
.

  • Cerek Pasir Besar

.

04
Sep
09

Luasnya Islam dan Tarawih 1 Menit 28 Detik

Apa yang terjadi seandainya Indonesia tidak pernah di-ampiri sama para Wali Songo? Apa yang terjadi seandainya tidak ada sejarah Islam di Indonesia sampai detik ini? Saya yakin Allah gak akan terima! Atau minimal para malaikat akan gelisah bukan kepalang lalu membentuk dinas rahasia yang diam-diam akan meng-Islamkan Indonesia!

Bukan masalah jumlah pemeluknya yang terbesar yang membuat Islam-Indonesia memiliki nilai spesial. Bukan pula jumlah masjidnya yang tersebar hampir di setiap kampung-kampung atau gang-gang. Jika anda berkunjung ke daerah Madura atau wilayah dimana suku madura adalah komunitas mayoritas, yang namanya Masjid bahkan lebih banyak dari jumlah konter pulsa. Bukan pula sejarah penyebarannya, terutama di Jawa, yang sama sekali berbeda. Hampir tanpa huru-hara atau peperangan, kecuali Demak di bawah pimpinan Raden Patah yang menyerang sisa-sisa kejayaan Majapahit. Itupun karena Raden Patah mbalelo setelah dilarang oleh Sunan Ampel.

Islam-Indonesia adalah sebuah institusi dimana sebuah proses dialektika berjalan dengan sangat dewasa. Di negeri ini Islam tumbuh dengan berbagai macam wajah dan aliran, mungkin sama banyaknya dengan jumlah pemeluknya. Karena memang seharusnya sajadah Islam dibentangkan seluas cakrawala untuk membuka pintu-pintu pemikiran dan kontemplasi yang mendalam tentang Islam.

Islam menjadi bukan semata-mata agaman doktrinasi yang kaku dan statis. Terlepas pada akhirnya terjadi banyak perbedaan, bahkan sampai yang paling prinsipil, toh “Perbedaan di antara umatku adalah rahmat”. Yang salah dapat nilai 1 yang benar dapat nilai 2, begitu dulu guru ngaji saya mengajari. Perselisihan dan pertikaian pada akhirnya adalah sebuah keniscayaan, tapi semoga bukan satu-satunya metode evaluasi untuk menentukan ajaran siapa yang paling benar. Karena seperti awal penyebarannya, islam di Indonesia berkembang tanpa huru-hara.

“Lalu bagaimana dengan para teroris-teroris itu Gus?” aku bertanya kepada guruku.

“Mereka bukan islam. Bahkan mereka bukan Indonesia.” jawab beliau singkat.

“Lalu siapa mereka Gus?” desakku

“Mereka cuma segelintir orang yang GeeR menganggap dirinya islam, mereka adalah secuil teori yang tidak punya formulasi absah untuk menjelaskan definisi syahid!” jelasnya singkat pula.

“Tapi kan Islam boleh-boleh saja diinterpretasikan bermacam-macam Gus?” aku mencoba moh ngalah.

“Boleh. Halal. Asal jangan ngeyel menyebut kambing adalah onta, padahal jelas-jelas itu kambing!” jawab beliau.

Lalu siapakah yang ngeyel menyebut kambing adalah onta padahal jelas-jelas itu adalah kambing? Adakah orang yang sebodoh dan sebuta itu? Memang benar kata guru saya, pada akhirnya mereka bukanlah Islam atau minimal PD bahwa mereka Islam pun juga bukan.

Yah, lagi-lagi kita harus terbuka bahwa betapa luas dan terbukanya islam. Mulai dari yang tiap hari pake ghamis, sorban atau sarung sampai yang datang ke pengajian pake kaos oblong bertuliskan “Life for Satan”. Mulai dari yang naek haji tiap tahun tapi masih kurang sampai yang sekali naik haji tapi takut diketahui orang kalo dia sudah haji. Mulai dari yang berebut kunci surga hanya dengan jihad sampai yang istiqomah berderma meskipun “cuma” seribu rupiah tiap hari.

Di kampung tempat tinggal saya, di sebuah masjid kecil bernama Al Mu’min pada bulan Ramadhan hampir tidak pernah berhenti terdengar orang dan anak kecil mengaji. Mereka hanya petani dan pencari kayu bakar di hutan Baluran. Dan sepertinya mereka juga tidak butuh formula yang terlalu rumit untuk mendefinisikan tentang Islam, syahid, apalagi surga. Pagi, siang, sore bahkan malam tidak pernah berhenti suara-suara ayat Al-Qur’an terdengar dari corong Toa yang dipasang di atas atap masjid.

Bagi mereka Islam bukan sebuah definisi apalagi teori. Islam adalah apa yang keluar dari pemikiran mereka bahwa apa yang mereka lakukan tidak merugikan orang lain. Masjid tidak pelu megah, karena masjid raga hanyalah simbol yang pasti akan lapuk oleh matahari dan hujan. Salah satu imamnya pun juga hobi main gaple, karena dengan begitu akan menghindarkan dia dari potensi riya’ dan sombong. Sholat jum’atnya gak perlu lama-lama, gak lebih dari 15 menit.

Dan pelajaran terakhir dari jama’ah ini adalah. Untuk menghindarkan sholat tidak khusuk adalah dengan mempercepat sholat itu sendiri. Mungkin anda perlu mencoba sholat tarawih di sini. Satu kali membaca Al-Fatihah cukup 14 detik, ditambah surat pendek juz-amma total 28 detik. Sehingga satu kali sholat tarawih hanya membutuhkan waktu 1 menit 20 detik. …ghoiril maghdu bi ‘alaihim waladldloolliin… MIN!!! Bahkan bacaan “A” tidak terdengar! Satu-satunya hal yang membuatku tidak khusuk sholat tarawih disini adalah berkali-kali nglirik jam dinding untuk menghitung berapa lama surat Al-Fatihah dibaca, surat pendek atau berapa lama satu kali sholat membutuhkan waktu. hehehe…

Njenengan ki cen hebat tenan Gus…

28
Aug
09

Foto-foto dari 3 Family Terbaru

08
Aug
09

17an dan Indonesia yang Nir

Hari sabtu kelabu, pertama gak bisa hunting karena kamera dipinjem temen kantor yang nikah hari ini, kedua jelas satu lagi temen bujangan gugur ditikam oleh cinta suci pujaan hati, dan (kayaknya pasti) ketiga ntar malam seperti malam-malam minggu biasanya: no date, no woman dan no entertainment (Tivi gak nyambung semua channel karena parabolanya habis di-njot2 monyet). Sempurna sudah….

Dan berangkatlah aku ke kondangan temanku itu. Kebetulan dapat mobil tumpangan temen kantor. Awalnya aku berpikir “lumayan gak usah nyetir, jadi bisa sambil nyantai“. Tapi sejak 100 meter pertama, sudah terasa ini mobil sepertinya bukan mobil biasa, tapi Bis Akas jurusan Surabaya-Banyuwangi yang dimodifikasi extrem jadi mobil. Shock breaker-nya keras minta ampun. Di bagasi belakang, suara gemblodak bertabuhan gak mau kalah sama suara mesin yang lumayan bising. Sopirnya, tidak bisa diragukan: alumnus Akas! Dan terakhir gak ada ase-nya (baca: Air Conditioner). Kelabu ke-empat….

Pulang dari kondangan, pas jam 1 siang, pas udara lagi panas-panasnya. Ase masih mati. Menyusuri jalan-jalan daerah Banyuwangi yang sangat berdebu. Memasuki kecamatan Wongsorejo, kira-kira 20 km lagi dari Baluran, tiba-tiba jalan macet! Di kota sekecil ini. Kecalakaan? bukan. Operasi teroris? juga bukan. Jadi?

Tidak kurang 15 menit menunggu lalu lintas jalan normal lagi (masih di dalam oven berjalan!), mulai terkuaklah penyebab kemacetan ini. Ternyata sepertiga ruas jalan dipake anak-anak kecil berseragam sedang berbaris: lomba gerak jalan tepat! Langsung aku teringat, ohiya ini kan bulan Agustus. Alamat deh, akan jadi perjalanan yang melelahkan: di dalam oven berjalan dan sopir alumnus Akas semakin lama.

Tapi ada sesuatu yang sedikit membuat aku malu juga. Malu kepada diriku sendiri dan kepada bangsa Indonesia, ketika saya melihat bagaimana orang-orang yang dengan antusias penuh semangat menonton lomba gerak jalan ini.

Siapapun tahu lomba gerak jalan tepat. Hanya baris-baris anak-anak sekolah yang berjalan dengan tempo yang seragam yang kadang juga morat-marit, suara peluit yang monoton, atau wajah anak-anak kelelahan yang sudah dipenuhi keringat dan debu jalanan. Tontonan yang hampir tidak memliki nilai hiburan. Baik hiburan dalam arti yang sebenarnya: memiliki keunikan, menantang, dipenuhi atraksi akrobatik,  apalagi pelaku yang menggugah nafsu. Sama sekali tidak ada. Apalagi jika dianalisa menggunakan logika kapitalistik yang akhirnya mengarah kepada industri hiburan, sama sekali tidak ada juga.

Tapi mengapa orang-orang itu begitu antusias menonton pertunjukan “sangat biasa” ini? Bahkan di sepanjang rute lomba, warga-warga yang punya perangkat audio berdaya besar rela mengeluarkan dan menata speaker-speaker besarnya di tepi jalan lalu dimainkan musik dengan volume keras, seperti orang yang punya hajat, muai dari lagu osing, gending jawa, dangdut, peter pan sampai remix. Hampir tiap 100 meter, ada saja lagu-lagu dengan volume tinggi di depan rumah-rumah warga. Seperti tidak mau ketinggalan acara, mereka ikut mangayu bagio, ikut bersuka cita menyambut barisan anak-anak itu.

Orang-orang itu, seperti tidak mengenal konsep hiburan apalagi sampai mengenal industri hiburan. Mereka tidak butuh mengenal logika bisnis ataupun logika eksklusifme untuk bahagia. Dan bukankah memang seperti ini harusnya yang namanya hiburan: gratis, tidak perlu dicekoki iklan-iklan, tidak ada tipuan “KETIK SPASI REG”, dan yang jelas bahagia!

Obyek tontonan atau hiburan tidak selalu harus menarik dengan pernik-pernik penari latar, senyuman MC yang semu atau atraksi akrobatik yang berbahaya. Ternyata kebahagiaan tidak bisa diukur dari formula bisnis, atau bahkan teori sosial marketing apapun. Dan itulah Indonesia, bangsa yang dibangun di atas nilai-nilai yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kebersahajaan. Bangsa yang diperjuangkan dengan segala pengorbanan yang tidak seharusnya rontok oleh arus hedonisme. Momentum 17an adalah oase sejarah bangsa kita untuk sedikit mengendapkan rasa, bahwa Indonesia masih baik-baik saja di tengah arus jaman yang serba kapitalistik, hedonis dan eksklusif. Karena kita tidak perlu itu semua. Karena Indonesia sudah nir.

MERDEKA !!!

05
Aug
09

Very Thanks For All “Baluran and Me” Visitor

Baru saja iseng-iseng lihat halaman Blog Stats di admin www.pratapapa81.wordpress.com, langsung terpampang grafik kunjungan yang masuk ke blog ini. Per Day, trus Weeks, dan terakhir….Month. Melihat bentuk grafik bulanan aku langsung melotot, What…??!! Langsung mak bedunduk saya terkaget-kaget! Krusor mouse aku drag ke titik grafik tertinggi yang kebetulan menunjuk pada bulan Agustus, dan langsung keluar snapshoot yang menunjukkan angka 1.459 !!

Seribu empat ratus lima puluh sembilan (tanda seru 2 kali)…dalam satu bulan!!

Gak salah ne? Trus aku coba buka-buka lagi stats yang lain, aku lihat halaman mana, postingan mana, link mana, atau foto mana yang paling banyak dikunjungi. Dan ternyata postingan yang paling banyak di-kunjungi adalah “Populasi Murai Batu Terancam Punah”. Padahal postingan itu aku copy paste aja dari milis kadang kukila. Dan link yang paling banyak di-klik adalah “http://pratapapa81.files.wordpress.com/2008/04/jogja-bird-map.gif”. Kalo ini masih mending karena bikin aplikasi Jogja Bird Map sampe dibela-belain gak tidur berhari-hari.

Referrer terbanyak yang memprovokasi orang mampir di blog ini ternyata dari http://us.mc538.mail.yahoo.com/mc/showMessage;_ylt=AiiwBttLJD7I8ln0RmxfQbNjk70X?mid….. Aku gak tahu ini dari mana, sepertinya dari milis. Kalo bukan kadang kukila ya SBI-Info. Dan terakhir, kata kunci yang paling banyak dipake sehingga orang-orang pada tersesat di blog ini adalah “burung murai batu”. Lagi-lagi murai batu menjadi top score.

Mungkin dua-duanya hal yang bisa aku lakukan selain terkaget-kaget adalah, I’d like to say very very very thanks for all of you guys. Pokoke matur suwun banget. Semoga ini bisa menjadi penyemangat untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas konten yang selama ini cuma contongan ngalor ngidul.

Mari terus bekerja.

12
Jul
09

Birding Tahura R. Soeryo 8-9 Juli 2009

bird-light_resize

R. Soeryo Smoke Light

Seperti biasanya, Tahura R. Soeryo, selalu menjadi tempat paling menghibur buat pengamatan dan hunting foto burung. Meskipun tutupan tajuk yang cukup rapat, sinar matahari yang gak banyak bisa sampai ke bawah tajuk, tapi tetap saja Tahura R. Soeryo adalah surga bagi pengamat dan fotografer burung.

Datang pagi-pagi, sebelum keduluan pengunjung yang pingin mandi air panas atau pacaran, sikatan ninon adalah petugas resepsionis yang selalu menyapa dengan ramah ketika kami datang. Disusul si madu gunung yang tidak terlalu bermasalah dengan beberapa orang kurang kerjaan yang mengamatinya sambil senyum-senyum sendiri… Tapi sepertinya, hari ini bukan harinya si kepala abu yang biasanya mbledug, tapi sekarang agak susah melihatnya. Mungkin lagi ada acara keluarga.

My Little Bro

My Little Bro

Di hari pertama, bareng kawan-kawan KIBC Batak, Imam dan Bintang; anak-anak Rhizopora Amri dan Panca dan yang terkahir si Luwes, adikku yang paling bungsu yang baru masuk SD juga ikut-ikutan nimbrung. Dan hebatnya, burung pertama yang berhasil dia lihat dengan jelas pake bino adalah Walik Kepala-ungu. “Wuih…ndase abang kon!” begitu teriaknya, dan aku tertawa saja…

Di hari pertama dan juga nanti di hari kedua, artisnya adalah si Ciungbatu Kecil yang sangat bersahabat (kalao tidak bisa dibilang gila foto). Batak yang kebetulan pegang kamera langsung aja jeprat-jepret seperti gak mau ketinggalan acara, padahal nanti sampai pulang burung ini gak kemana-kemana, ya pohon itu-itu aja sambil sesekali melompat ke tanah menyambar serangga. Terlalu mudah untuk difoto, seharusnya dilukis aja.

rhipidura euryura

Di hari pertama memang tidak banyak burung yang berhasil dijepret karena berangkat terlalu siang, keduluan mendung dan para pengunjung yang mandi air panas. Tapi di hari kedua, beberapa burung target berhasil di didapat. seperti Batak yang pingin motret Cikrak Muda dan aku yang pingin motret Kipasan Bukit, selebihnya adalah bonus seperti Takur Tohtor, Ciungbatu Kecil, Opior Jawa, Sikatan Belang, Munguk Loreng, Srigunting Kelabu dan Brinji Gunung.

Beberapa burung yang berhasil ditemui di Tahura R. Soeryo 8-9 Juli 2009:

Elang Hitam, Brinji Gunung, Ciungbatu Kecil, Kipasan Bukit, Sikatan Belang, Sikatan Kepala-abu, Sikatan Ninon, Sepah Gunung, Cikrak Daun, Cikrak Muda, Takur Tohtor, Cabai Gunung, Cinenen Gunung, Sikatan Cacing, Tepus Pipi-perak, Cucak Gunung, Cucak Kutilang. Walik Kepala-ungu, Munguk Loreng, Kepudansungu Gunung, Ciu Besar, Burungmadu Gunung, Kacamata Gunung, Cica Koreng Jawa, Bentet Kelabu, Opior Jawa, Srigunting Kelabu, Walet Sapi.

12
Jul
09

Saat memiliki adalah saat kehilangan

Tidak ada yang bisa menebak, seberapa besar rejeki yang dibagi Tuhan kepada kita besok. Pun, seberapa pahit cobaan yang ditimpakan kepada kita satu detik setelah ini. Seperti halnya Tuhan, malaikat, jin dan setan, masa depan adalah makhluk yang ghoib.

Bekerja dengan sungguh-sungguh adalah rukun wajib yang harus dijalani orang hidup. Sebab hak yang diberikan oleh Tuhan kepada kita adalah –hanya- wilayah proses, selebihnya, hasil yang didapat adalah mutlak hak Tuhan yang menentukan.

Tuhan sangat adil kepada setiap makhlukNya. Beliau sangat teliti dan hati-hati dalam membagi jatah rejeki dan nikmat. Meskipun Beliau sudah menegaskan bahwa manusialah makhluknya yang paling sempurna, toh tidak ada satupun makhluk yang luput dari perhatian dan penjagaan Tuhan. Bahkan nasib sebutir debu di tengah kekosongan angkasa, Tuhan sudah mengaturnya dengan sangat sistematis yang mungkin butuh puluhan tahun bagi manusia untuk membuat rumusan matematisnya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak optimis kepada Tuhan.

Jadi jangan lupa diri kala mendapatkan jatah rejeki yang berlebih. Pun jangan putus asa kala menemukan kehilangan yang berarti. Seperti hukum termodinamika, saat kita mendapati sebuah energy maka pada saat yang bersamaan kita juga sedang kehilangan massa, dan sebaliknya.

Tidak ada yang layak diperebutkan di dunia ini, pun tidak ada yang layak diremeh-temehkan. Sebab ketinggian ilmuku adalah aku paham bahwa saat memiliki adalah saat kehilangan bagiku.

22
Jun
09

Ciungmungkal Jawa yang Disulap Jadi Ciungbatu Kecil

Sempat termehek-mehek oleh foto burung Ciung di Gunung Ijen akhirnya kenyataan harus diterima meskipun agak pahit. Tak disangka, burung cantik yang aku kira Ciungmungkal Jawa ternyata adalah “hanya” Ciungbatu Kecil” yang diutus Tuhan untuk menguji ketelitian dan kesabaranku.

Diriwayatkan, Ciungmungkal Jawa adalah burung endemik Jawa yang hanya terbatas di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian barat. Populasinya yang jarang membuat dia jarang sekali teramati. Berdasarkan riwayat shohih yang lainnya, salah satu penyebab menurunnya populasi burung ini adalah karena degradasi habitat di dataran tinggi dimana burung ini berada.

ciung1

Ciungbatu Kecil yang tertangkap di Gunung Ijen

Kondisi ini yang kemudian banyak kawan-kawan menjadi antusias oleh temuan foto yang terlanjur aku sebut sebagai Ciungmungkal Jawa. Apalagi lokasi pertemuannya di Gunung Ijen yang jaraknya lebih dari 400 km dari lokasi paling timur burung ini ditemukan. Sangat sensasional, menghebohkan dan nyaris menjadi spekulasi yang berlebihan.

Adalah seorang Bas van Balen yang sepertinya juga diutus Tuhan untuk mengingatkan hamba-hambaNya yang kurang teliti seperti saya. Pengalamannya yang sangat lama tentang burung-burung di Indonesia membuat dia langsung bisa tahu dengan sekali lirikan bahwa itu bukan Ciungmungkal Jawa. Karena yang ngomong adalah empunya ornitholog tidak ada pilihan lain buat pendekar magang seperti saya untuk langsung sendiko dawuh.

Ciungbatu Kecil yang "tertangkap" di Tahura R. Soeryo

Ciungbatu Kecil yang "tertangkap" di Tahura R. Soeryo

Pada suatu hari, ketika saya hunting di Tahura R. Soeryo semakin tampaklah siapa sebenarnya Ciungbatu Kecil. Berbekal dengan semangat Paregreg, saya meluncur pagi supaya tidak ketinggalan acara. Beberapa jam perburuan tidak memberikan hasil yang extraordinary selain beberapa burung kecil yang aku sudah sangat hafal siapa nama mereka, rumahnya dimana dan siapa nama bapaknya. Hampir 6 jam terus memasang mata, telinga dan leher yang pegel karena kebanyakan tengadah, akhirnya muncullah satu lagi utusan Tuhan, tidak jauh dari tempatku berdiri.

Ciungbatu Kecil dengan suaranya yang khas hinggap di pohon yang sedang berbuah. Tidak cukup terganggu juga dia dengan pergerakanku yang cukup agresif mendekatinya supaya dapat beberapa gambar terbaik. Dan betul juga, hasil jepretan hari itu semakin menegaskan siapa sebenarnya Ciungbatu Kecil dan siapa Ciungmungkal Jawa.

Satu kalimat yang masih sangat saya ingat dari Pak Bas,” Jangan putus asa, itu hal yang sangat lumrah terjadi. Maaf.” Ahh… Bas van Balen telah menyulap Ciungmungkal Jawa-ku menjadi Ciungbatu Kecil dengan satu mantra sakti: Maaf.

22
Jun
09

Tahura R. Soeryo 19-20 Juni 2009

Seperti biasanya, Tahura R. Soeryo selalu menyuguhkan hiburan tiada tara: burung dimana-mana. Meskipun pada akhirnya harus sedikit besabar karena tutupan tajuk yang cukup berat membuat beberapa jepretan kamera jadi kurang maksimal. Jadi bersukur juga meski cuma dapet beberapa jenis.

19 Juni, seperti biasa Sikatan Ninon udah menyambut di sekitar kolam air panas, dilanjutkan Cikrak Muda, Cikrak Daun dan Burungmadu Gunung. Naik ke jalur tracking, Ciu Besar ada burung pertama yang nyantol di kamera dan kemudian Srigunting Kelabu. Dan ternyata hanya dua burung ini saja yang rela nyantol untuk hari ini, karena selebihnya hanya suara dan burung “menyebalkan” yang ogah difoto. Pelanduk, Kipasan Bukit, dan Berencet hanya seliweran di depan lensa, lalu nylonong pergi.

20 Juni, sepertinya ini akan menjadi hari baik untuk berburu. Belum sampek ke lokasi, Uncal Loreng udah nampang dengan tanpa rasa malu. Tapi ya gitu, mungkin karena saking gugupnya, motret beberapa kali gak ada yang fokus. Sampai di lokasi, Kipasan Kepala-abu sudah berkicauan, dengan tingkahnya yang khas membuatku mudah mengenali posisi hinggapnya. Beberapa burung kecil seperti Cikrak Muda, Burungmadu Gunung dan Sikatan Ninon sepertinya sudah nggak alergi lagi lihat kamera, tapi karena keterbatsan memory card yang cuma 3 Gb, kayaknya saya lewatkan saja mereka.

Mencoba mengadu nasib di lokasi air terjun, kesan pertama sudah digoda. Ciungbatu Kecil-lah si genit yang mencoba menggodaku. Nongkrong dengan santainya tepat 5 meter. Disusul Anis Sisik yang juga kayaknya hari ini agak blo’on, gak sadar kalo ada yang motretin dia mulai dari sisi depan, samping, dan belakang., sampek aku sendiri gak sadar sudah mengelilingi pohon hinggapnya berkali-kali. Dan dia tetep blo’on. Seneng aku kalo ketemu burung yang manut gini.

Dan akhirnya yang ditunggu dan diharapkan datang juga: Takur Tohtor. Dalam satu kelompok sekitar 8-10 takur sedang asyik panen buah pohon yang aku gak paham namanya. Never mind, yang penting akhirnya aku dapat foto Takur Tohtor. Brinji Gunung hari ini juga cukup bersahabat, mau hinggap di ranting rendah dan diam kayak sedang tidak terjadi apa-apa. Dan yang tidak disangka, bonus hari ini, Takur Tulung-tumpuk tiba-tiba muncul. Tanpa banyak pikir, meskipun posisi dan cahaya tidak maksimal, jepret aja sebisanya, karena yang penting dia adalah Takur Tulung-tumpuk.

Beberapa jenis burung yang tercatat tanggal 19-20 Juni kemaren:

Cikrak Muda, Cikrak Daun , Burungmadu Gunung, Sikatan Ninon, Sikatan Belang, Sikatan Kepala Abu, Kipasan Bukit, Pelanduk sp, Sepah Gunung, Uncal Loreng, Takur Tohtor, Takur Tulung-tumpuk, Brinji Gunung, Cucak Gunung, Meninting sp, Ciu Besar, Munguk loreng, Elang Hitam, Anis Sisik, Srigunting Kelabu, Opior Jawa.

10
Jun
09

Manohara, TKW Paling Sukses

Sepertinya kita sudah tidak perlu lagi diingatkan bahwa sebenarnya yang menginjak-injak martabat bangsa ini bukan hanya kapal perang Malaysia yang hilir mudik seenaknya di blok Ambalat, atau kebijakan ekonomi-politik kita yang sebegitu mudahnya disetir kekuatan asing, tapi nasib para TKW, pejuang ekonomi Indonesia, yang diperlakukan bahkan lebih rendah dari hewan itu juga sesuatu yang harus dipandang serius sebagai negara yang bermartabat. Sepertinya kita sudah tidak butuh lagi berita-berita tentang nasib TKW muncul di tivi-tivi. Kita perlu sesuatu yang lebih sensasional, yang lebih entertain dari sekedar para wanita-wanita yang secara biologis nggak enak dipandang. Kita butuh Manohara!

Manohara adalah wakil Tuhan yang membawa pesan kepada seluruh umat manusia di Indonesia betapa sedemikian kulitnya kita memandang makhluk terindah sejagad raya yang bernama manusia. Bahwa harga seorang manusia ternyata tidak lebih dari kemulusan kulitnya, keelokan wajahnya atau kemontokan bodinya. Bahwa betapa kita sudah tidak bisa menemukan korelasi positif antara pengorbanan dengan penghormatan.

TKW (seharusnya) adalah miniature manusia Indonesia yang suka bekerja keras, tahan banting, memiliki I’tikad tinggi mencari penghasilan demi keluarganya. Mereka (seharusnya) adalah maket paling simple tentang keberanian orang Indonesia dalam menantang bahaya, disiksa sampe babak belur lalu pulang ke Indonesia, setelah sembuh berangkat lagi ke negeri tetangga dan begitu seterusnya. Meskipun pada akhirnya, jeritan mereka masih belum memiliki alas an strategis untuk menjadi konsumsi industri tivi, pemirsa bahkan calon-calon presiden mendatang.

Dan TKW (seharusnya pula) bisa menjadi senjata perlawanan Indonesia terhadap penjajahan social-budaya dari dunia luar. Kalau saja para TKW dan TKI ini berani menyebarkan sperma-sperma dan bayi-bayinya ke seluruh dunia maka ras melayu Indonesia dalam hitungan dekade akan segera menguasai dunia. Dan Manohara adalah ikon perlawanan ini.

Manohara adalah seorang TKW yang sangat cerdas dengan memilih profesi sebagai istri pengeran. Sebuah terobosan radikal yang harus banyak ditiru oleh TKW-TKW kita mendatang. Meskipun pada akhirnya yang membedakan dia dengan TKW lainnya adalah dia punya nilai strategis untuk menghiasi berita-berita prime time, membuat gregetan masyarakat kita atau menjadi komoditas kampanye salah satu calon presiden. Sama-sama mengalami penyiksaan, Manohara adalah TKW paling sukses dari yang pernah ada.

08
Jun
09

(catatan) Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) Pertama di Baluran

Pertama kali mendengar nama bubut, mungkin hal yang terlintas di pikiran anda adalah seekor burung yang membosankan karena warnanya yang hanya hitam dan coklat kemerahan. Suaranya sama sekali tidak masuk kategori enak didengar, baik di telinga kiri maupun kanan. Dan yang paling menyebalkan adalah sok jual mahal alias susah diamati.

Tapi sejak tanggal 26 April 2009, sepertinya semua anggapan itu harus runtuh. Atau kalau tidak, akan diruntuhkan dengan paksa. Diawali oleh rencana tim burung PEH yang hendak melakukan monitoring sarang Manyar Emas (Ploceus hypoxanthus) dan Manyar Jambul (Ploceus manyar) di blok Gatel yang masuk dalam seksi Karang Tekok.

Perjalanan dimulai pukul 06.45 WIB dari kantor batangan, setelah kira-kira 45 menit perjalanan menggunakan sepeda motor, pukul  07.30 WIB kami sampai di kantor seksi Karang Tekok, sekalian “menculik” salah seorang rekan PEH yang sedang memberi makan ayam-ayam kesayangannya untuk sekalian ikut ke lapangan.

Sesampai di lokasi yang dituju, puluhan ekor manyar emas sudah menunggu kami. Blok Gatel merupakan tempat dimana ratusan Manyar Emas dan Manyar Jambul bersarang pada bulan antara Februari-Juni. Pada lokasi yang tepat berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Baluran ini didominasi oleh vegetasi beluntas, rawa air tawar merupakan tempat yang sangat ideal bagi tumbuhnya rumput tifa dimana ratusan burung manyar bersarang. Tambak ikan yang tidak jauh di utara merupakan salah satu habitat beberapa jenis burung air baik penetap maupun migrant.

Ternyata salah satu daerah penting bagi burung yang ada di Taman Nasional Baluran ini bukan sebuah lokasi angker yang susah dijangkau manusia, bahkan setiap hari orang-orang yang hendak melaut atau mencari rumput selalu lewat lokasi ini. Tidak terlewatkan juga birdwatcher seperti kami.

Selang tidak lebih dari setengah jam, sekitar pukul 08.10 WIB, ketika kami mencoba menyisir ke arah timur, sepasang burung hitam seukuran merpati melompat dan terbang dari ujung pagar bambu masuk ke kerumunan beluntas. Selintas kami menuduh mereka adalah Bubut Jawa berdasarkan dari warna hitam di sekujur tubuh dan warna coklat kemerhan di ujung sayap. Berjemur di pagi hari juga salah satu perilaku burung bubut. Tanpa berpikir panjang, kamipun segera “memburunya”, mencoba menabrak lapisan beluntas tapi terlalu rapat. Akhrinya pilihan paling logis adalah menunggu.
5-10 menit menunggu dengan tenang, masuk menit ke 15 matahari sudah mulai terasa panas. Dapat 20 menit kepala sudah mulai terasa gatal, mungkin kulit kepala sudah mulai mengelupas karena panas. Dan memasuki menit ke 30, saatnya berpikir lebih cerdas: pindah tempat. Kembali ke lokasi semula atau berputar siapa tahu bisa ketemu beberapa jenis burung lainnya.

Tapi beberapa meter melangkah, si Bubut Jawa sudah menunggu. Dia sedang berjalan di atas tanah dalam posisi waspada. Tanpa berpikir panjang, moment penting ini segera kami abadikan dengan “laras panjang” andalan. Jepret…jepret… beberapa frame kami dapat dan terbanglah dia saat itu juga, menyelinap lagi di kerumunan beluntas, menghilang lagi menyisakan rasa puas dan penasaran yang semakin besar. Lain waktu kita berjumpa lagi, kawan…

02
Jun
09

Ciungmungkal Jawa Pertama di Ijen

Bagi semua kegiatan adventuring, nama Kawah Ijen bukanlah nama yang asing. Salah satu kawah paling indah di Indonesia ini memang menyediakan berbagai atraksi wisata terbaik. Hiking, mountainering, camping, dan birdwatching.

Khusus untuk birdwatching, aksesibilitas yang cukup mudah ditempuh sampai ketinggian di atas 2000 mdpl, kawasan ijen bisa menjadi salah satu lokasi terbaik untuk mengamati burung-burung pegunungan.

Pada hari Sabtu, 30 Mei 2009 kemarin, sebenarnya kami tidak sedang berencana hunting burung, hanya rasa kangen melihat kawah Ijen. Berangkat dari rumah agak molor karena bingung cari pinjeman helm, jam setengah 6 meluncur juga kami naik Wiwin (motor baru beli ne hehehe…) dan sampai di pos pendakian hampir  jam 8. Tidak terlalu banyak acara, hanya pipis karena hawa dingin, kami langsung bergerak naik.

Di sepanjang jalur pendakian, dengan kondisi cuaca yang sangat tidak menyenangkan hati, suara-suara burung yang begitu meriahnya seperti sengaja menggoda tanganku yang sudah gatal pingin njepret pake laras lanjang. Yang jelas suara-suara yang masih asing buat kami, hanya sikatanrimba dada coklat saja yang kenal (setelah dibocori sama kang Baskoro) dan kacamata gunung.

Sesampai di puncak kawah, seperti yang sudah diperkirakan, cuaca yang sudah mendung sejak kami datang membuat acara hunting jadi agak berat karena gak dapet cahaya yang bagus buat take. Tapi the show must go on, beberapa frame tetap kami ambil sebelum meluncur ke kawah ijen. Di bawah kawah, frame lebih banyak dihabiskan karena ternyata obyeknya lebih menarik daripada di pinggir bibir kawah.

Setalah puas menghabisi obyek di dasar kawah, kamipun segera naik ke bibir dan dilanjutkan turun kembali area parkir. Si Wiwin sudah lama menunggu.

Sepanjang perjalanan turun tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Kabut masih bergentayangan menggelayuti pohon-pohon. Suara-suara asing di telinga belum juga berhenti menggoda sampai akhirnya seekor burung seukuran jalak agak gemuk sedikit sedang asyik menghajar seekor ulat yang sudah nyangkut di paruhnya, 5 meter di depan kami. Cahaya matahari yang sangat minim, membuat burung itu tampak hitam semua. Tidak terlalu lama berpikir, segera saya keluarkan si laras panjang dan membidiknya.

“Cahayanya nggak ngangkat.” Kata temanku.

“Kapan lagi…” jawabku singkat. Dan cepret…cepret…cepret… Baru dapat 6 frame dia sudah melompat masuk ke dalam semak. Karena rasa penasaran belum selesai, kami coba menunggu sambil terus mengamati kalau saja ada pergerakan. Dan benar juga, ternyata dia tidak terbang terlalu jauh, hanya 5 meter di depan kami dan tertutup beberapa lembar daun. Segera saya cari tempat yang nyaman untuk mengambil gambar. Dalam kondisi pencahyaan yang sangat rendah seperti ini, posisi sangat menentukan hasil jepretan kamera dengan lensa maksimal 500mm. Jika tangan anda tidak bisa menopang kamera dengan pas jangan harap bisa mendapatkan hasil foto yang bagus. Apalagi saya tidak pernah memakai monopot.

Singkat cerita, setelah sampai di kantor segera saya sesuaikan hasil foto burung yang baru saya tangkap dengan kitab suci para birdwatcher: Panduan Lapangan Burung-burung di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan punya McKinon dkk. Dan dari semua deskripsi yang ada semuanya mengarah pada Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) betina.

ciung1 ciung mugkal jawa

Merasa tidak yakin dengan temuan ini, apalagi setelah saya browsing di internet ternyata distribusi paling timur dia hanya sebatas sampai Gunung Slamet, akhirnya saya coba tanyakan kepada kitab suci lainnya: Kang Bas. Dan ternyata postif, Ciung Mungkal Jawa pertama yang ditemukan di Jawa bagian Timur.

**jenis lain yang ditemukan sepanjang perjalanan

Cucak Gunung (Pycnonotus bimaculatus), Cikrak Muda (Seicercus grammiceps), Ceret Gunung (Cettia vulcania), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Cica Koreng Jawa (Megalurus palustris), Sikatan Rimba dada Coklat (Rhynomyias brunneata), Kacamata gunung (Zosterops montanus), Bentet Kelabu (Lanius schach), Pergam X

19
May
09

Aurat Yang…

Apa yang membuat aurat bisa membuat banyak orang sangat penasaran ingin melihat? Meskipun bentuknya juga gitu-gitu aja? Sangat sederhana, karena dia selalu disembunyikan. Saya sedang tidak ingin membenturkan logika ini dengan sumber-sumber hukum dari agama manapun yang juga melarang mempertontonkan aurat.
Semakin tinggi gunung menjulang, semakin tertantang orang untuk menaklukkannya. Seperti hukum termodinamika, semakin besar energi laju benda, semakin besar tenaga yang dibutuhkan untuk menghentikannya (nyambung nggak sih?).

Tapi ada juga logika yang lebih “menggoda”. “Mengapa yang enak-enak itu diharamkan?” begitu dendang Wak Haji Rhoma Irama sambil mengangkat gitar Fender-nya (apa iya Fender? sok tahu!). Jadi logika sederhananya, sesuatu yang dilarang, disembunyikan, bersembunyi atau minimal agak kemalu-maluan, itu pasti enak.

Jadi anda memilih yang mana? Aurat adalah hal yang memang harus disembunyikan, ataukah aurat adalah sesuatu yang enak?

17
May
09

Peta Burung Taman Nasional Baluran

peta burung sedangAkhirnya, setelah hampir 4 bulan. Kalo saja sehari semalam habis 2 bungkus GG inter dan 2 gelas kopi kapal api. Jadi total udah menghabiskan 240 bungkus GG inter dan 1.5 kilo kapal api. Tinggal dihitung aja berapa persen kadar nikotin dan kafein di dalam darah saya, demi sebuah Peta Burung Taman Nasional Baluran. Didahului dengan pengenalan kawasan selama kurang lebih 8 bulan, akhirnya kami Tim PEH memutuskan untuk melakukan survey di seluruh kawasan Baluran (sampling 100%) selama kurang lebih 3 bulan. Dengan menggunakan grid-grid sebagai satuan pengamatan, kami membagi kawasan Baluran menjadi 25 grid pengamatan dikurangi 2 grid yang ternyata berada di luar wilayah taman nasional.

Tujuan survey ini adalah untuk memetakan persebaran jenis-jenis burung yang ada di Taman Nasional Baluran. Biar sekali dayung dapat dua tiga pulau, sekalian kami pakai metode TSCs untuk mengetahui kelimpahan relative burung di masing-masing grid pengamatan.

Dan ini kami persembahkan Peta Burung Taman Nasional Baluran 2009.




Lomba Blog South to South Festival 2010

Ayo ikutan lomba blog lingkungan

keajaiban hari ini

jangan kau pergi. sampai aku titipkan kepadamu. kekaguman kepada para penghuni alam semesta. untuk hari ini. untuk keajaiban hari ini.

Stats

  • 15,733 hits