Muridku Guruku

DSC00144_resize

Saya masih ingat jurus jitu awet muda Bu Sinto, guru kelas 1 SD saya dulu: Selalu gembira saat melihat anak-anak dengan segala polah tingkahnya. Ya, raut muka guru saya itu memang tidak berubah sejak terakhir bertemu beliau 23 tahun lalu! Lalu apa benar, berurusan dengan tuyul-tuyul itu membuat kita gembira?

Percayalah, demi Tuhan, saya bukan orang yang pandai bergaul dengan anak-anak. Saya adalah orang yang sangat menyanjung logika dengan segala turunan dan rupa jadi-jadiannya. Itu sebabnya saya mudah bosan jika berhadapan dengan anak-anak. Logika saya bosan dengan sesuatu yang ringan dan sepele. Sampai pada suatu ketika saya sadar kalau saya selalu lupa waktu saat ngajar. Beberapa kali istri saya mengamati perilaku saya sebelum berangkat sekolah, “Tadi kayaknya Ayah cemberut terus berangkat ke sekolah, tapi pas di kelas kelihatan ceria banget,” Ohya? Wow! Kok bisa ya?

Bersama dengan anak-anak ternyata memang tidak perlu logika. Bahasa anak-anak adalah bahasa hati. Karena kalau sampeyan menggunakan logika untuk mengajar anak-anak, maka sampeyan akan membenci anak yang bodoh atau sangat menyayangi anak yang pintar. Padahal tidak ada anak bodoh karena yang bodoh adalah gurunya. Padahal setiap anak memang pintar, dan begitulah seharusnya. Pintar dengan cara dan wilayahnya sendiri.

Agus adalah guru terbaik saya untuk hal ini. Dia anak Cak Slamet penjual bakso di kampung kami. Agus adalah anak yang luar biasa ndableg-nya. Mulutnya tidak pernah berhenti berkicau: bertanya yang aneh-aneh, mengomentari ucapan gurunya atau ngledekin temennya. Tangannya banyak acara alias ultra-usil. Tidak jarang dia saya jewer, bahkan saya sampai minta orang tuanya bertemu saya sebelum jam pelajaran dimulai kalau dia ingin ikut balajar lagi. Saking ndableg-nya Agus.

Di setiap pelajaran, tidak sekalipun dia memperhatikan apa yang saya terangkan. Karena kalau dia memperhatikan penjelasan saya, pasti ada saja pertanyaan aneh-aneh yang sering kali gak nyambung. Setiap pelajaran dia tidak pernah bawa buku. Kalaupun tiba-tiba dia pegang buku, kalau bukan punya kakaknya, Dewi, ya kakaknya lah yang membawakan buku Agus dari rumah.

Seperti biasa, Agus selalu bikin ulah. Mengganggu teman-temannya. Tanpa pikir panjang, saya panggil dia ke depan, “Agus, bawa sempoamu ke sini.” Kejadian ini terjadi dua minggu yang lalu.

Bukannya langsung bergerak dia malah bertanya, “Ngapain, Kak?”

Dasar gemblung pikir saya, “Udah, gak usah banyak tanya. Cepat ke depan!” perintah saya dengan nada agak saya naikkan.

“Kaki saya gringgingen (kesemutan), Kak.” Aiihh… masih ada saja alasannya? Akhirnya dengan terpaksa saya raih telinganya. Baru tersentuh daun telinganya langsung dia melompat ke depan. “Siap, Kak! Apa yang bisa saya lakukan?”

Saya pun tanpa banyak kata langsung membacakan soal, “7634+2362-4385 sama dengan? Cepat!”

“Kalo cuma itu gampang, Kak.” celoteh dia sambil langsung menggerakkan telunjuk dan ibu jarinya memainkan manik sempoanya. Dan luar biasa, dalam hitungan kurang dari 8 detik dia sudah mendapatkan jawabannya. “5611, Kak!” Padahal itu adalah soal paling sulit di hari itu. Wow! Bagaimana dia bisa secepat itu? Padahal dari tadi dia guyon melulu? Sepertinya dia bakal menjadi penerus kerajaan bisnis bakso keluarganya.

Mulai saat itu, setiap polah tingkah Agus, kecuali mengganggu temannya, saya biarkan. Saya ingin berdamai dengan karakternya yang spesial itu. Dan siapa sangka, hari ini tadi dia menawarkan diri menjadi asisten saya membawakan papan tulis. Untuk pelajaran bahasa Inggris, saya suka menenteng papan tulis whiteboard itu berkeliaran mendekat kemana anak-anak duduk. Karena itu adalah media paling mudah untuk menjelaskan cara penulisan dalam bahasa Inggris. Dan Agus adalah asisten saya untuk itu mulai sekarang.

***

Jadi bapak-ibu sekalian, pelajaran hari ini adalah, tidak ada anak bodoh. Tidak ada anak bandel karena yang ada adalah kita saja yang tidak paham dengan bahasa isyarat mereka. Semua anak memiliki kecerdasannya masing-masing, dan dengan caranya sendiri mereka akan menemukan permata dalam dirinya. Kebanyakan justru orang tua yang menjadi faktor kegagalan anak menemukan permatanya. Mereka memaksa anak-anak menjadi yang terbaik menurut mereka. Tidak boleh hujan-hujanan, tidak boleh main di luar, belajar yang rajin, ikut les ini ikut kursus itu, dll.

Dan guru? Guru yang seharusnya menjadi jembatan bagi anak untuk mengukir sejarahnya sendiri malah kebanyakan terlibat terlalu jauh dalam cerita. Banyak anak seperti Agus kalau tidak sukses betul ya terpuruk sekalian. Karena di sekolah, anak nakal selalu dihukum dalam perpektif orang dewasa. Karena sering kena hukuman, tabiat anak akan menjadi pemberontak, hatinya keras dan tidak bersahabat. Pemberontakan adalah efek logis dari kurangnya perhatian dan kelembutan. Ok, memang tidak semua guru. InsyaAllah masih banyak guru berkualitas di negeri ini. Berkualitas bukan dalam arti karena dia mengajar di sekolah bonafit dengan gaji mahal.

Lebih komplek, kurikulum pendidikan bahkan menempatkan anak tidak pada titik resultan strategi dan tujuan mendasar apa yang harus dilakukan dengan sekolah. Bapak-bapak dan ibu-ibu penentu kebijakan pendidikan yang digaji sangat tinggi itu malah asyik mengubah-ubah nama SMA jadi SMU, kelas 3 SMP menjadi kelas 9, mengatur bisnis LKS, dan lain sebagainya. Kurikulum pendidikan kita mabok berputar-putar di atas komidi putar. Gemerlap dan hiruk-pikuk tapi tanpa substansi!

Ah, kenapa saya jadi kangen Bu Sinto ya?

DSC00145_resize

Sekolah kami terbuat dari rumput sebagai alasnya, dan tajuk Walikukun sebagai atapnya :)

 

About these ads

7 thoughts on “Muridku Guruku

  1. Reblogged this on Dance With Live and commented:
    Aaahhhh senangnyaa jika melihat semakin banyak orang yang sadar bahwa anak cerdas itu gak hanya pintar di sekolah. Anak pintar itu gak harus anak yg diam, sopan, manis manja dan nurut sama gurunya. hohohoho :D

  2. keren ceritanya,,,, ini agusnya mana ya??
    klu booelh nanya itu lokasi fotonya dimana mas?? bagus pemandanganya,, masih asri sepertinya…
    **kalo dalam foto di atas, barisan depan, do 2 dari kiri, celana ungu bergaris putih 3. itu di belakang visitor center jeng.. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s