Gusti Allah Foundation (II): Ketika Negara Menyuruh Saya Menjadi PEH Baluran


Menjadi PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) sama sekali bukan cita-cita saya. Tidak ada itu istilah PEH dalam angan-angan muluk saya. Dan Baluran? Saya bahkan sudah lewat di depan pintu gerbangnya berkali-kali, tapi baru 4 tahun silam (tepat sebelum menjadi pegawai Baluran) kalau itu gerbangnya Baluran! Atau kalau ditarik agak ke belakang, menjadi PNS itu terlalu berlebihan buat saya. Saya takut menjadi orang malas dan berpenghasilan tidak barokah seperti PNS-PNS di kota saya. Maaf, mungkin ini terlalu skeptis, tapi stigma negatif PNS di Indonesia tidak bisa dipungkiri. Dan saya tidak cukup keberanian menanggung pertanggungjawabannya kelak di hadapan pengadilan akhirat kalau saya ikut-ikutan acaranya.

Sampai akhirnya, pada suatu malam, Bapak berkata kepada saya, “Mosok le, anake bapak gak siji-sijio gak onok sing dadi pegawai (Masak, anak-anaknya bapak satupun tidak ada yang jadi pegawai (negeri)?”

Mak deg! Seketika retaklah gunung es kesombongan saya. Dan perlahan-lahan mulai luruh satu persatu bongkahan logikanya menghujam lautan. Kebetulan kakak saya sama sekali tidak mau menjadi PNS, meskipun sekarang dia menjabat kepala sekolah di sebuah SD di Bogor, tidak pernah dia mau mendaftar jadi PNS, menerima uang dari dinas pun tidak (yang gak jelas akadnya)! Adik saya waktu itu masih SMA.

Akhirnya, demi orang tua, bismillah saya harus menjadi PNS! And here I am! PNS yang diberi jabatan Pengendali Ekosistem Hutan. Di Taman Nasional Baluran. Ngapain saya di sini? Apa yang harus saya lakukan, dan bagaimana? Blank! I had no idea! Padahal di belakang basecamp PEH yang saya tinggali, terhampar pekarangan seluas 25 ribu hektar! Dan seonggok gunung cantik yang berdiri menantang!

Sampai pada suatu titik waktu… Pak Kuspriyadi (bosnya Baluran waktu itu) nyekeli saya seperangkat senjata laras panjang! Benda paling istimewa saya sebagai PEH anyaran waktu itu. Dan mulailah saya blusukan motret burung-burug yang ada di Baluran. Satu per satu. Termasuk mimpi saya lihat dan dapat gambarnya Elang Laut Perut-putih.

Tidak lama kemudian, datang kesempatan memiliki license menyelam A1 (one star diver). Kesempatan untuk melihat langsung keindahan Tuhan yang dititipkan pada makhluk-makhluknya pun berlanjut. Beberapa unit alat selam plus kamera bawah air full facilitated by Baluran office, saya tinggal pake. Dan pertama kali turun ke bawah laut, tidak ada hentinya pisuhan muncrat dari dalam hati. Matane! Uasu! Uedyan! Mbokne… mbokne…! Cuk!

Duh Gusti, sepuntene sing katah, mulut saya tidak mampu mengucap keagungan namaMu untuk memuji kehebatanMu dalam menyusun setiap detil benda-benda mengagumkan itu. Semuanya aneh, semuanya mengagumkan, semuanya luar biasa! Dan ke-Maha PengertianMu lah yang bisa memahami pisuhan itu sebagai kalimat tayyibah dan bendera putih kalau hamba menyerah di depan keindahan-keindahan itu.

Setelah itu lisence A2 (two star diver) pun didapat. Padahal menjadi penyelam adalah salah satu mimpi saya yang sudah terkubur sangat dalam sejak gagal tes masuk UKM Selam UGM 10 tahun silam. Dan sekarang, laut Baluran adalah halaman bermain saya. Jadi, tidak ada pilihan lain kecuali segera merealisasikan buku tentang ikan karang Baluran. Supaya orang lain bisa menikmati pula keindahan makhluk-makhluk bawah laut. Supaya keindahan ini bisa dinikmati bersama.

Baluran bukan hanya burung dan laut. Baluran adalah kupu-kupu yang menggerombol ribuan ekor jumlahnya, rusa-rusa jantan yang memanggil-manggil para betina saat musim kawin, banteng yang gegap gempita, ular-ular sebesar pohon pisang, savana Alas Malang yang menghampar sejauh mata memandang, Bukit Talpat yang syahdu, Lembah Kacip yang misterius, Bekol yang metropolis, atau Bama yang hiruk-pikuk.

Saya membayangkan, kalau saja senjata laras panjang itu harus saya beli sendiri, berapa duit yang harus saya keluarkan? Ratusan jenis burung sudah saya foto, beribu-ribu frame habis sudah memenuhi hard disk. Dua buku terbit. Kalau diuangkan, berapa yang harus saya bayar?

Setiap hari diving dengan alat lengkap tinggal pakai? Mengabadikan kampung air dengan penduduknya yang luar biasa indahnya. Memotret ratusan jenis ikan, moluska, krustasea. Berapa rupiah yang harus saya ganti kalau seandainya saya harus membelinya?

Dan kalau kalau setiap kunjungan saya ke dalam hutan dihargai dengan satu karcis masuk seharga Rp. 2.500,- berapa ribu lembar karcis yang harus saya beli? Dan semua itu bukan hanya gratis, bahkan dibayar!

Gaji saya mungkin hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari keluarga saya, beli rokok, pulsa dan menabung untuk pendidikan anak-anak saya nanti. Rumah belum punya, mobil apalagi. Tapi kekayaan saya tak ternilai harganya. Terhampar dari kedalaman laut sampai puncak Gunung Baluran! Dan Tuhan meminjamkan semuanya dengan sangat gratis karena ke-PEH-an saya.

Setelah beberapa tahun, baru sekarang ucapan bapak saya pahami maksudnya. Menjadi PNS bukan sekedar seragam rapih dan penampilan perlente karena PEH menjadi anti-teori tentang PNS. Menjadi PEH tidak harus ikut-ikutan gaya ortodok PNS yang nunggu kerjaan sambil mbaca koran atau ngopi, trus pulang. Minimal, sebelum pulang, do something meskipun hanya ngecek email, bikin beberapa tulisan, koordinasi sana-sini atau update status :). Pun saya yakin, tidak harus menjadi PEH untuk bisa bekerja semaksimal mungkin di bawah atap rumah PNS. Semua bisa profesional, mulai dari kepala balai, polhut, staff, sampai tenaga honorer, selama kita yakin bahwa gaji atau rejeki tidak lebih dari sekedar konsekuensi logis hukum alam dari bekerja.

Menjadi PEH adalah kemulian tiada tara. Dan rejeki terbesar menjadi PEH adalah seperti ucapan Pak Hariadi mantan Sekditjen PHKA 3 tahun silam, “Kalau kita menjaga hutan, maka semua penghuninya: burung-burung yang berterbangan, mamalia yang merangkak, hewan-hewan yang melata, helai-helai daun pepohonan sampai mikroorganisme akan berdzikir kepada Tuhan mendoakan orang-orang yang ikhlas menjaga mereka”.

Jadi, alasan bodoh macam apa yang membuat saya tidak berterima kasih kepada Tuhan atas keajaiban ini?

About these ads

21 thoughts on “Gusti Allah Foundation (II): Ketika Negara Menyuruh Saya Menjadi PEH Baluran

  1. dan enaknya lagi jadi PEH di Baluran. gak jauh jauh dari rumah di Batu atau Jogja.. Gusti benar-benar TOP.
    **oiyo yo? ket nyadar aku hehehe…

  2. PNS atau ndak, hanya bersyukur yang bisa bikin rejeki kita barokah. matur suwun mas wes berbagi inspirasi. :-)
    **oyi bro, sama2. ndang lulus, ndang nglamar dadi PEH, ato nglamar PEH (wedok) hehehe…

  3. Hahahaha…..Wangun ngene iki. Sik rumongso dadi pegawai (mbuh negeri po swasta) kudune kesenggol karo tulisan sik wangun iki….
    **anda terlalu memuji kisanak! :D

  4. “Kalau kita menjaga hutan, maka semua penghuninya: burung-burung yang berterbangan, mamalia yang merangkak, hewan-hewan yang melata, helai-helai daun pepohonan sampai mikroorganisme akan berdzikir kepada Tuhan mendoakan orang-orang yang ikhlas menjaga mereka”.
    Ah, i really love this sentences :)

    ** tengkyu jeng :)

  5. Kon iku PNS sing luar biasa Ndez, bahkan karyamu selama menjadi PNS sudah jauh melebihi apa yang diberikan negara kepadamu Ndez, bukumu, foto2mu dan semuanya. Semoga Allah memberkahimu, sudah 4 tahun aku ga ketemu awakmu Ndez
    **amiin, matur suwun dungane Yai, iyoe suwe gak ketemu yo Yi? :D

  6. huwaaa.. subhanallah.. Allah selalu tau yang terbaik utk kita y.. #klmt klise tapi hrs sering didengugngkan spya kita gak lupa syukur… :) suka tulisannyaa.. sering berbagi ya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s