New Look Easy Reading

Hehehe lagi pingin ganti wajah. Emang kalo blogger kere ya gini, pokoknya serba cari yang gratisan, dapat theme seadanya aja deh. Namanya juga blogger kere. Semoga gak merusak mata sampeyan… :D

Dari Atas, Dari Bawah, Kau Selalu Mempesona, Sayang [photo essay]

Ah, Sayangku, dilihat dari sisi manapun, kau tetap mempesona...

This gallery contains 13 photos.

Baluran, dulu nama ini sangat asing bagi saya, bahkan ketika pertama kali kaki saya mendarat di atas tanahnya. Sempat melegenda oleh savananya yang menawan dengan satwa-satwa berukuran besar di tengah-tengahnya pada tahun 80an sampai awal 2000an. Lalu kangker Akasia mulai … Continue reading 

Bikin Buku Itu…

Benar-benar bukan perkara mudah ternyata bikin buku itu. Bayangkan, minggu depan buku ini sudah harus naik cetak tapi sampai detik ini kami, tim penulis, masih engkel-engkelan masalah substansi teks. Jangankan menyelesaikan layout, mendefinisikan apa itu savana, hutan musim sampai hutan dataran tinggi saja memerlukan waku berhari-hari. Itu karena ada penulis asing, Richard, yang tentunya dia punya hak yang sama untuk mengambil suara, dan tentunya lagi dia tidak tahu banyak tentang Baluran. Apalagi ekosistem Baluran sangat spesifik menurut saya.

Belum lagi gaya cowboy dia yang ngomong sakpenake dewe. Dalam setiap file-file teks yang berasal dari dia, pasti ada saja ‘hentakan intonasi’ melalui tanda seru berjejeran “!!!” yang pasti siapa saja yang membaca itu akan merasa digertak. La dasarnya saya orang jawa timuran, gak terima digertak, saya balas saja kirim file dengan cara yang sama. Dan itu terjadi berkali-kali. Mungkin dia jengkel kali ya sama orang Asia, Indonesia lagi, kecil, bahasa Inggris pating pletotan, ngeyelan!

Tapi memang pada akhirnya harus diakui kalo saya banyak belajar dari si bule itu. Meskipun pada awalnya jiwa nasionalis garis keras arus kiri gas pol rem pol yang fundamentalis dalam diri saya berkali-kali bertanya, kenapa harus ada orang bule dalam daftar nama buku ini? Australia lagi! Yang notabene adalah antek-anteknya Amerika, negara nomor satu yang pualing mbencekke! Tapi sudahlah, hal itu sudah terjadi, dan saya harus berterima kasih karena ada banyak pelajaran selama proses bikin buku ini.

Pelajaran pertama, bahwa buku itu adalah sesuatu yang akan membuat sampeyan dikenal (bukan terkenal) oleh orang banyak. Bahkan setelah matinya sampeyan, sejarah sampeyan tidak akan ikut mati karena buku sampeyan dibaca dan dibaca oleh banyak orang. Apalagi kalo sampai membawa manfaat keilmuan. Jadi, jangan pernah setengah-setengah dalam menulis buku.

Kedua, buku jika didefinisikan sebagai media untuk menyebarkan informasi maka jangan sekali-kali membuat kebohongan di dalamnya! Bahkan ‘tidak yakin’ pun jangan! Karena kalo sampeyan tidak yakin sehingga informasi yang sampeyan sampaikan dalam buku itu ternyata tidak benar berarti sampeyan sudah berbohong. Lalu sampeyan akan berbohong sebanyak orang yang membaca bukunya sampeyan. Kumpulkan data yang kuat, data lagi, terus data, lalu analisa, analisa, kalo masih bingung kembali lagi ke data lalu analisa lagi, begitu seterusnya sampai sampeyan yakin pada sebuah kebenaran. Rungokno temenan iki lek mbahe ngomong!

Ketiga, pahami audien pembaca. Jangan bikin buku yang isinya tidak bisa diterima oleh pembaca, baik karena gaya bahasanya apalagi substansinya. Ingat, pembaca adalah juri yang akan menentukan kualitas buku sampeyan.

Keempat, mulai dari yang paling sederhana, paling dipahami. Nggak usah berharap bukunya sampeyan akan jadi best seller lalu membuat sampeyan jadi terkenal dan kaya raya. Lebih baik bikin buku yang sederhana, enak dibaca, tapi kita paham betul isinya, daripada muluk-muluk memilih topik yang berat, dengan bahasa setinggi langit tapi kosong. Atau bikin buku yang di luar jangkauan kemampuan sampai akhirnya gak kelar-kelar.

Kelima, jangan pernah merasa orang Indonesia tidak lebih baik dari orang asing! Sekali lagi, jangan pernah merasa orang Indonesia tidak lebih baik dari orang asing. Jika sampeyan merasa benar, dan sampeyan yakin dengan kebenaran itu, pegang erat-erat! Meskipun orang bule, atau bahkan orang sedunia, menentang sampeyan. Ingat, bahwa sampeyan tidak lebih jelek dari orang lain! Tapi sampeyan juga harus legawa kalo ternyata sampeyan salah. Sampeyan harus siap dikritik juga. Jangan kayak Israel. Sudah tahu dan sadar kalo dia salah, masih ngeyel merasa benar lalu bikin propaganda kalo dia tidak salah.

Selamat menulis

Kabinet Gotong Royong BBB

ted

Sejak awal saya memang ingin buku ini adalah hasil dari kerja bersama. Bukan karena sok partisipatif, tapi karena memang dasarnya saya gak tahu apa-apa tentang burung. So, pilihan paling bijak adalah melibatkan para pendekar masuk dalam proses penyelesaian buku. Pendekar-pendekar … Continue reading 

BBB Behind the Scene Eng Ing Enggg…

Ok, jadi ini adalah postingan pertama untuk edisi khusus Birds of Baluran Behind the Scene. Kenapa saya bikin edisi ini? Karena buat menjaga jalur ide saya untuk tetap bikin postingan. Gara-gara metenteng menyelesaikan buku burung Baluran (BBB) versi inggris saya sampe gak sempat nulis. Jangankan nulis, keluar ide nulis aja gak. Jadi ini jelas gak equilibrium. Equilibrium? Kayak pernah dengar…

BBB adalah singkatan dari Buku Burung Baluran atau dibalik juga bisa Birds of Baluran Book. Asik to? Bahasa Inggris atao Indonesia semuanya disingkat BBB. Ncen keramat tenan og singkatan kuwi :D .

Genap dua tahun proyek abal-abal bikin buku ini kami kerjakan. Rencana awalnya sih translet saja dari buku BBB pertama karena banyak yang menanyakan tentang edisi inggris dari buku ini. Setidaknya saya menerima request edisi bahasa inggris dari tidak kurang dari 5.630 orang dari seluruh dunia (itu orang semua bang?). Lebih dari separuh jumlah itu adalah peneliti dengan titel doctor dan professor. Disusul di belakangnya kelompok pelajar, eksekutif muda, adventurer, ibu rumah tangga, dan lain-lain dan sebagainya.

Tapi rencana translet itu akhirnya gagal total karena yang terjadi adalah menulis lagi. Menulis manuskrip lagi meskipun beberapa juga di-copas dari teks lama. Selesai menulis ulang dalam bahasa Indonesia lalu diteruskan dengan translet ke bahasa Inggris. Bagaimanapun juga saya adalah orang Indonesia berdarah Jawa (Timur). Menulis text bahasa Inggris langsung jelas gak mungkin, jadi harus bahasa Indonesia dulu baru ditranslet. Selesai itu kambuhlah penyakit post writing sindrome. Saya jadi jijik lihat burung. Berbulan-bulan moh ngamati burung apalagi motret.

Ok, jadi untuk sementara itu dulu laporan dari saya. Selanjutnya tulisan-tulisan yang nyrempet masalah BBB akan saya masukkan dalam kotak baru Birds of Baluran Behind the Scene. Eng ing engggg…

Nostalgia Trisik, Nostalgia Digiscoping

Birdwatcher Batikers

Trisik adalah salah satu kawah candradimuka saya. Ada banyak ilmu dan kenangan menyenangkan saya di pantai selatan Jogjakarta itu. Berbekal monokuler pinjeman dan Nikon N450 yang pinjeman juga, saya yang hampir selalu ditemani Batak, belajar gimana motret burung menggunakan digiscoping. … Continue reading 

Ketika Alam Liar Memanggil

Ketika Alam Liat Memanggil

Sekarang jam 01:28 pagi, tapi saya harus menulis resensi film ini. Sebagai seorang forester, film ini sangat menginspirasi! Kisah tentang sekelompok volunteer yang prihatin terhadap perburuan liar Tibetan Antelop (Pantholops hodgsonii)-EN. Mereka bukan PNS bergaji tetap seperti saya, atau staff … Continue reading 

210 Pasang Mata di BBC 2011

210 kepala manusia numplek bleg di Bekol. Datang dari penjuru Jawa dan Bali. Mengusung semangat, skill, pengalaman dan insting gambling untuk membawa pulang hadiah yang bisa dibilang terbesar dalam sejarah lomba pengamatan burung di Indonesia. Panitia hilir mudik, sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut mereka. Untung saja persiapan sudah dilakukan sejak jauh hari sehingga kerepotan hari itu sudah terbayar separuh.

5 hari 4 malam saya kira adalah waktu yang sangat panjang untuk ngurusi 210 orang, ditambah ngatur tim panitia. Untungnya, karena sudah pengalaman menggelar event yang sama tahun kemaren, banyak seksi-seksi di kepanitiaan yang bisa menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mereka dengan sangat baik. Saya sendiri lebih banyak nyantai, say hello kepada temen-temen peserta, ngobrol sampe larut malam, atau bahkan ikut-ikutan hunting foto.

Dan ternyata, 5 hari 4 malam itu berlalu begitu cepat. Padahal jadwal sudah dibuat sedemikian longgarnya. Tetap saja saya banyak kelewatan untuk menyapa temen-temen peserta. Padahal saya juga pingin ngobrol-ngobrol lebih intim sama Arimurti, teman yang selama ini cuma kenal lewat dunia maya. Khaleb Jordan, salah satu generasi muda birdwatcher yang konon punya bakat besar itu. Temen-temen dari Karimunjawa yang heboh. Bahkan saya belum kenalan sama sekali dengan beberapa nama kontributor FOBI yang konon juga hadir di kompetisi ini. Ah… ternyata saya belum bisa menjadi tuan rumah yang baik.

***

Malam terakhir seperti menjadi malam paling menyebalkan. Ingin hati menghabiskan waktu bersama banyak orang di lapangan depan sekretariat itu. Tapi apa boleh buat, terjadinya indikasi pelanggaran tata tertib lomba membuat saya mau gak mau harus menganggu waktu istirahat juri untuk menggelar rapat tertutup.

Kejujuran dan fair play adalah dua hal mendasar dan penting yang harus dijunjung dalam kompetisi ini. Berdasarkan review dari dewan juri, tahun ini jauh lebih baik. Tidak banyak peserta yang “mengada-ada” seperti tahun kemaren. Meskipun pada akhirnya masih ada juga peserta yang mbeling demi mengejar hadiah tapi mengorbankan kejujuran dan fair play. Untuk itu tindakan tegas harus segera diambil demi menjaga semangat bertanding di kemudian hari. Jam 3.00 am keputusan sudah diambil.

Besok siangnya, saat pengumuman lomba. Saya pribadi cukup terkesima dengan nama-nama tim yang masuk sebagai juara. Apakah ini subyektif saya? Ya. Tapi saya bisa menjamin bahwa tim-tim yang keluar sebagai juara itu adalah manifestasi dari fair play dan kejujuran. Selamat buat tim Cuk Pecuk yang berhasil merebut juara umum I. Ternyata komposisi personil tim yang dipertahankan sejak BBC 2010 lalu terbukti ampuh untuk mempertahankan tim yang solid. Juara umum II direbut oleh Al Soneta. Yang menarik dari tim ini adalah komposisinya terdiri dari bocah-bocah SMA yang tidak berbeda juga dengan tahun lalu kecuali satu anggota. Bintang dan Suryo adalah Direktur Utama dan General Manager Al Soneta sejak tahun lalu. Sedangkan Izul adalah additional player-nya. Yang terakhir, juara umum II Mudskipper Gelodok Jaya yang diisi oleh wajah baru berasal dari pekerja-pekerja lab biologi ITS. Terus terang saya tidak begitu mengenal mereka dalam kancah perburungan, tapi melihat foto-foto hasil hunting mereka selama dua hari saya sempat memprediksikan kalo mereka adalah kuda hitam. Mereka berhasil dapat foto-foto Serindit Jawa, Rangkong Badak, Elang Tikus dan Kerbau Liar.

Upacara penutupan pun selesai juga. Saatnya para peserta kembali pulang. Meninggalkan Baluran. Ah… lagi-lagi kok saya jadi merasa belum cukup waktu 5 hari untuk berkenalan satu persatu dengan mereka atau sekedar menyapa. Tapi saya tetap harus mengatakan selamat tinggal kepada 210 teman lama dan baru saya.

***

Lalu apakah arti yang sebenarnya dari angka 210 itu? Ada apa dengan 210 pasang mata di BBC 2011 itu?

Saya menganalogikan, BBC 2011 ini kita sedang menebar 210 pasang mata di penjuru Bekol dan sekitarnya. 210 pasang mata yang memandang dengan awas di setiap balik dedaunan, batang, ranting, di balik bebatuan, di antara seresah dan sungai-sungai yang mengering. Secara bersamaan mereka melakukan scanning. Dan bisa dibayangkan apa yang bisa dihasilkan dari mesin scanner itu: new record!

Sangat mencengangkan. Dimulai dari fotonya Febri yang menangkap serindit sama Rangkok Badak di Ketokan kendal. Selama ini Serindit Jawa baru tercatat di sekitar HM 50. Begitu juga dengan Rangkong Badak. Elang Perut Karat yang tertangkap kameranya tim dari Merapi juga menambah catatan baru persebaran mereka yang baru sekali tercatat di savana Bekol. Kerbau Liar yang keluar siang bolong. Luntur Harimau yang ditemukan di sekitar evergreen. Saya masih kurang yakin kalau si luntur bisa nyasar sampai bawah mengingat dia hanya ditemukan di Gunung Baluran dengan habitat yang lebih cocok dengan dirinya. Namun mendengar penuturan tim Haliaster yang mendeskripsikan dengan sangat gamblang ciri-ciri burung, sepertinya saya harus menambahkan daerah jelajah baru buat si luntur. Dan tentunya 2 catatan terpenting selama 5 hari BBC 2011.

Pertama, laporan dari tim Haliaster bahwa melihat Babi Hutan seukuran anak kerbau di utara Bama. Berkali-berkali saya menanyakan ulang kepada mereka, “Yakin kamu, itu Babi Hutan?”, dan berkali-kali pula mereka menjawab “Yakin banget mas!”. Mantab! Setahu saya, Babi Hutan sudah dinyatakan hilang dari wilayah Bekol-Bama.

Kedua, burung yang sampai sekarang saya tidak pernah percaya kalau dia bisa ditemukan di Baluran sampai akhirnya teknologi berbicara tentang kenyataan. Adalah di Petr, peserta dari Kabupaten Ceko bersama pacarnya Katerina yang berhasil memotret burung cantik itu. Raja Udang Punggung-merah (Ceyx rufidorsa) tercatat untuk pertama kalinya dengan sangat meyakinkan di Baluran. Sebenarnya dulu sudah ada petugas yang bilang ke saya kalo mereka menemukan seekor burung sejenis raja udang berwarna merah yang mati akibat menabrak kaca jendela pos Bekol. Tapi saya tetap belum yakin kalo itu adalah R.U. Punggung-merah. Sejauh yang saya pahami, burung ini suka dengan hutan yang rapat dan gelap dan dekat dengan air. Dan itu bukan Baluran banget. Sekali lagi, foto adalah saksi paling jujur yang tidak mungkin dipungkiri siapapun.

Terima kasih untuk anda semua

Karena Musik Tidak Untuk Di-Fanatik-i

Karena Musik Tidak Untuk Di-Fanatik-i

Saya, dari dulu paling gak suka sama grup musik yang menonjolkan keislamannya. Meskipun saya bisa menangis tersedu-sedu saat mengumandangkan sholawat nabi, atau fly saat mendengar alunan musik-musik yang dibawakan Kyai Kanjeng. Tapi tetap saya dari dulu gak pernah tertarik mendengarkan … Continue reading 

Refreshing dengan Bekerja ala PEH Baluran

IMG_0190_resize

Akhirnya, setelah pusing dengan semua yang ada di kantor, ekspedisi Labuhan Merak adalah opsi paling logis untuk melarikan diri dari kepusing-pusingan itu. Salah satu agenda bulanan PEH bulan ini. Tapi bukan berarti kita njuk nyante-nyante lo ya. Karena emang sudah … Continue reading 

Anak Kecil juga Manusia

1276072847_BoyPosterC

Saya adalah penggila film action. Mulai dari action kungfu, tembak-tembakan, adventure, sampai robot-robotan macam Transformer. Pada tingkat kegilaan di bawahnya adalah film drama romantis hehehe… Tapi film Boy yang barusan aku tonton barusan adalah film drama yang bisa nyundul mengalahkan … Continue reading 

Morning Morning Beauty in the Wild Wild East [photo essay]

Bama Sunrise yang Terkenal Itu

This gallery contains 10 photos.

Sudah lama banget saya ingin mosting ini, foto-foto dan sedikit tulisan tentang bagaimana cahaya pagi hari menguasai wilayah imajinasi saya. Atau kadang-kadang nggak cuma menguasai saja, bahkan menyulap. Menyulap kepala yang berat, mata capek dan jiwa yang penuh sesak sehabis … Continue reading 

Rock Climbing: Kematian Adalah Logis

Film ini mengingatkan saya pada film keluaran 11 tahun yang lalu, Vertical Limit. Film-film tentang drama penaklukan puncak-puncak dunia bagi saya selalu menyuguhkan aksi yang menguras energi, emosi dan perbendaharaan istilah pisuhan. Apalagi jika drama penaklukan puncak-puncak dunia itu harus dilalui dengan menaklukkan tebing 90 derajat ratusan sampai ribuan meter tingginya. Ah, salah satu kegilaan yang harus aku hapus dari wish list-ku.

Yang membedakan film ini dengan pendahulunya itu adalah, North Face bukan buatan Hollywood. Artist-nya sama sekali gak aku kenal. Pake bahasa Jerman pula. Dan dia diambil berdasarkan kisah nyata. Itulah sebabnya kenapa dramatisasi film ini tidak se-lebay Vertical Limit.

Adalah Andreas Hinterstoisser dan Toni Kurz dua pemanjat asal Jerman yang melakukan pendakian ke puncak Eiger pada tahun 1936. Mereka adalah tentara Nazi Jerman yang nekat keluar dari satuannya jalaran tidak diijinkan oleh komandan mereka ambil cuti demi menaklukkan puncak pegunungan Alpine itu. Dan kenekadan mereka dilanjutkan dengan mengayuh sepeda, membawa alat-alat climbing yang berat itu, dari Jerman sampai Kleine Scheidegg. Tempat dimana cerita dramatis mereka dimulai.

Equipment panjat tebing pada tahun segitu bisa dibayangkan bagaimana “primitif”-nya. Mulai dari sepatu panjat yang mirip sepatu PDH PNS di kantor saya. Tasnya seperti tas ransel yang dipakai latihan tentara jaman PD II. Nuts, semacam besi panjang yang digunakan untuk mengaitkan carabiner di tebing memang terbuar dari besi yang mereka tempa sendiri. Bayangkan betapa beratnya carier mereka untuk membawa besi sebanyak itu. Tidak ada webbing atau apalagi harness. Talinya pun lebih kelihatan seperti tali tambang kuda daripada tali climbing. Dan mereka harus menaklukkan tebing setinggi itu!

Alur cerita dan perpindahan scene satu ke scene yang lainnya sangat rapih. Penonton seakan benar-benar diajak memahami karakter dan kondisi psikologis seorang pemanjat yang keras dan tegar, di sisi lain ada seorang wanita kota yang bekerja sebagai jurnalis. Penonton digiring untuk memahami betapa benar-benar kerasnya kehidupan seorang pemanjat. Makan malam yang rapi dan licin saja mereka tidak punya.

Menginjak pada adegan pendakian, disinilah kekuatan film itu yang sebenarnya. Pengambilan gambar di atas tebing yang tuinggiii itu, wuihh.. bener-bener bikin bulu ketiakku berdiri semua. Sebenarnya saya malu mengatakan ini, tapi saya tidak mau menutupi kenyataan bahwa saya punya penyakit high phobia. Kelihaian mereka merangkak bahkan berlompatan di atas tebing tegak lurus disajikan dengan sangat lugas dan tidak berlebihan. Sepertinya jalan mereka menuju puncak tidak ada masalah. Cuaca cerah sangat membantu mereka.

Masalah datang ketika kompetitor mereka, Willy Angerer dan Edi Rainer yang dari Austria itu. Kalo gak salah Edi Rainer (sori lupa banget) yang sejak awal pendakian sudah bocor kepalanya karena kena longsoran batu sudah tidak mampu meneruskan pendakian tapi terus memaksakan diri. Jiwa solidaritas pendaki pun teruji di sini. Akhirnya keempat pendaki itu sepakat kembali turun untuk menyelamatkan nyawa rekan mereka. Cita-cita menaklukkan Eiger pun dibatalkan. Namun pada kelanjutannya, masalah demi masalah menghantam mereka. Perjalanan turun ternyata tidak semudah naiknya.

Sepertinya dalam adegan pendakian tidak akan menarik kalo gak ada yang tewas. Ya, dalam drama ini harus ada yang tewas untuk menjaga tradisi keangkeran aktifitas ekstrim ini. Tapi bagaimana drama menyedihkan itu terjadi. Siapa yang mati duluan? Bagaimana detik-detik terakhir sebelum nyawa mereka malayang? Itulah yang harus anda saksikan sendiri. Dan jangan lupa, masih ada satu tokoh lagi yang belum saya ceritakan, si jurnalis kota yang meliput historical moment itu. Apa yang terjadi dengannya, apa hubungannya dengan para pendaki itu? Dan drama apa lagi yang terjadi antara mereka? Saya kira anda harus menyaksikannya sendiri dalam sandiwara radio… Rai Lor! :D

Kupu-kupu Baluran, Keindahan yang Terlewatkan [photo essay]

macro-10_resize

Saya tidak mau membandingkan Baluran dengan Bantimurung. Saya ndak berani. Takut kuwalat. Tapi kalo saya boleh bertanya kepada sodara-sodara semua, adakah tempat indah minimal di Jawa dengan kupu-kupu bertaburan dimana-mana selain di Baluran? Jika sampeyan datang ke Baluran, pada musim … Continue reading 

Mari berbagi dengan sesama, Anda puas, rakyat cerdas!

BI-prev

Apa yang menarik dari majalah digital ini? Bagi saya, terlepas saya adalah salah satu tim di dalamnya, adalah majalah ini lahir murni bermodalkan semangat dari sebuah komunitas kecil orang-orang yang suka ngluyur, motret dengan alat seadanya, lalu menulis cerita mereka … Continue reading 

Canon 50D + Tamron SP AF 90mm f/2.8 Di Macro Final Test

macro24_resize

Ok, jadi inilah akhirnya. Day 4 mencoba senjata baru dengan misil baru juga: Canon 50D + Tamron SP AF 90mm f/2.8 Di Macro. Sempat kebingungan pegang senjata baru karena banyak panel, menu dan fungsi yang sama sekali berbeda dengan D200. … Continue reading 

Aku Tidak Pindah Agama kok, Sayang

New Gear and Lovely Old Stuff

100% foto-foto yang ada di blog ini diambil pake DSLR Nikon D200. Dan memang sejak konon dahulu kala pegangan saya adalah Nikon. Mulai dari kamera pinjeman FM 10 punya teman, lalu kuat beli sendiri FM 4. FM 4 waktu itu … Continue reading 

Palestina Membara Dalam Komik Cerdas

Palestina Membara

Cerdas! Adalah ungkapan yang langsung menyembur dari kepalaku setelah selesai membaca komik ini. Berjudul Palestina Membara, Duka Orang-orang Terusir, komik karya Joe Sacco ini benar-benar membawaku merasakan apa yang sebenarnya terjadi di tanah suci tiga agama itu. Palestina! Cerdas, karena … Continue reading 

Harapan di Dataran Raya Baluran

Harapan di Dataran Raya Baluran

  Itulah halaman dimana pertama kali foto-foto saya nampang di majalah keren macam NG. Meskipun cuma sisipan NGI tapi lumayan juga bisa nongkrong di sana hehe… Adalah si Ayos, bocah traveller yang sangat rajin menulis yang menghubungi saya dan menawarkan … Continue reading 

Petik Laut Masyarakat Nelayan Pandean

featur-petik

“Sialan! Kok cuacanya mendung, Fer?” celetuk saya mau berangkat ke Pandean kemarin pagi. Padahal hari itu pas ada upacara petik laut. Ritual masyarakat pesisir yang mayoritas nelayan sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan yang telah memelihara kehidupan laut asal mata … Continue reading 

Fobi for 11 K

featur-fobi

Sekarang kabar itu datang dari Juragannya Admin, he said “uwis 11.000 Lik, nambah 1.000 visitor kurang dari sebulan ini.. sebenere, sing luwih penting dari sebuah karya adalah manfaatnya.. manfaat positif bagi masyarakat.. lebih baik sedikit audiens namun ada artinya, daripada … Continue reading